Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terbongkarnya rahasia


__ADS_3

"Assalamualaikum." Aku masuk sambil membuka sepatu.


"Wa'alaikumussalam," jawab Ayah dan ibu sambungku melihat kami dari pintu tengah.


"Tumben kalian berdua pulang bersama," kata ayahku dengan senang.


"Iya, Yah. Hari ini, Anak Ayah yang ini baik budi ," kataku menunjuk adikku dengan tatapanku sambil menurunkan tas.


"Baik budi?" tanya ayahku dengan penuh tanda tanya. "Baik Budi, seperti apa? Coba kasih tahu Ayah contohnya," kata ayahku ingin tahu.


"Iya, entah kenapa? Tiba -tiba Ana tidak mau bermain." Aku menatap adikku yang menggerutu menyuruhku diam.


"Baguslah, Ayah senang mendengarnya. Berarti Anak Ayah sudah mulai besar," tukas Ayahku.


"Dia 'kan, sudah kelas dua dan sebentar lagi akan naik kelas tiga," sambung ibu sambung kami melihat adikku yang diam saja.


"Iya Ayah. Ibu dan Ayah benar. Ana 'kan sudah mulai besar. Iya 'kan, Dik." Aku melirik adikku sambil tersenyum.


"Kalau di ikuti kemauannya baru senyum-senyum," ledek adikku cemberut. "Huh" Kakak jahat!" cibirnya gemas.


"Hahahahihihi!" Aku tertawa geli. ' Kan lumayan Kakak bisa tersenyum." Aku menatap wajah adikku yang cemberut.


Tidak berapa lama aku dan adikku meninggalkan ayah dan ibu sambung kami. Masuk kedalam kamar sambil menukar seragam sekolah dengan baju rumahan dan juga menggantungkan tas pada tempatnya.


"Lumayan, kenapa?" tanya adikku keheranan sambil melihat tas yang digantungnya.


"Itung-itung, kau dapat pahala... ." Aku diam sejenak melihat aksi adikku yang masih keheranan. "Karena telah berhasil membuat Kakakmu ini tersenyum setelah dari sekolah... ." Aku pun diam kembali melihat kakiku yang lemah mengingat kejadian tadi di sekolah.


"Mmm! Jadi, itu!" Adikku langsung mendehem.


"Liyaaan!" teriak ayahku sedikit pelan.


"I- i... ." Tiba -tiba aku menghentikan ucapanku pada adikku.


"Liyan, Ana! Tadi Ayah ada mendengar kalau kau di sekolahan di lempar bola kasti." kata ayahku sedikit keras dari dapur. "Kalian berdua sudah mulai merahasiakan, ya?!" lanjut ayahku memberi teguran. "Dari mana kalian berdua belajar sikap seperti itu, ha?" tanya ayahku.kembali.


Deg!


Aku seketika lemas dan jantungku rasanya mau copot. Aku dan adikku yang tersentak di dalam kamar bertemu pandang dengan cemas karena ayahku mengetahui kejadian itu dan juga adikku begitu terperangah mendengarnya. "Kak," panggil adikku.


"Ssssttttt!" Aku menyuruh adikku diam. "Jangan berisik. Ayah lagi marah sepertinya," bisikku pada adikku.


"Liyan, siapa yang mengajarimu menyembunyikan kejadian itu dari Ayah, ha?" tanya ayahku untuk yang kedua kalinya.


"'Kan jadi, shock Ayahmu mendengarnya!" kata Ibu sambung kami yang terkejut juga. "Kau itu lagi sakit." Dan kalau kau semakin sakit lagi, uang kita bakalan habis untuk berobatmu saja," sindirnya. "Tolong keluar sekarang, kalian!" pintanya. "Jangan bersembunyi!"


"Kak 'kan, kita jadi, di marahi sama Ayah ?! Kakak sih tidak mau membilangnya pada Ayah," sesal adikku meremas jemarinya.


"Kakak lupa," sesalku juga. " Kita pasti akan di hukum oleh Ayah?!" kataku sedikit panik.


"Apa lag... ." Adikku langsung terdiam karena teriakan ayahku.


"Liyaaaan!!!" Ayahku kembali berteriak memanggil.


"Apalagi! cepat keluar." Ibu sambung kami pun ikut menjerit menambah kebisingan.


"Ayo, Ana cepat !" ajakku sambil bergegas dengan cepat merapikan seragam kami dan memakai baju biasa.


Aku pun jadi gusar sebab teriakkan ayah dan ibu sambung kami semakin memenuhi ruangan rumah yang kecil ini. Suara keras itu pun menuntutku untuk mengakui kesalahan menyimpan rahasia tentang bola kasti itu di dalam tumpukan kebohongan. Segera mungkin aku keluar dari kamar bersama dengan adikku.

__ADS_1


"Ana, cepat!" desakku.


"Aku tidak berani Kak," kata adikku berjalan bersamaku.


"Apa yang kau takutkan, ha?" tanyaku sambil menghampiri ayahku.


"Banyak Kak," jawab adikku spontan.


"Iiihhh!" Aku pun langsung memelas mendengar jawaban adikku.


"Kak," panggil adikku. Berhenti.


"Ya," jawabku spontan.


"Kita sampai di sini aja," kata adikku.


"Kenapa?" tanyaku heran.


"Ya begitulah," jawab adikku.


Akhirnya, aku dan adikku pun berhenti di tempat yang semestinya. Khawatir pun langsung terasa di dalam diriku. Aku yang berdiri seperti patung hanya bisa menelan ludah kepanikan.


"Liyan, bantu dulu taruh piring ini di atas meja Ayahmu sana!" kata ibu sambungku.


"Baik , Bu," jawabku mengambil piring.


Aku pun kemudian berjalan meletakkan piring . Sementara adikku yang kutinggal sendiri masih terlihat berdiri menunggu ayahku.


"Ana, kenapa kau diam saja?" tanya ayahku." "Siapa yang melempar Kakakmu dengan bola kasti itu?" tanya ayahku menatap adikku mendelik.


Dari meja aku mendengarnya. Akan tetapi, jika aku langsung menjawabnya ayahku tidak bakalan senang karena bukan aku yang di tanya.


Jadi, aku terpaksa diam dan melihat apa yang akan terjadi. "Aaaa iiiiii, aaaaa iiiiii," Adikku kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.


"Iya," jawab adikku pilu.


Kejujuran adalah aturan yang di terapkan oleh ayahku untuk kedua putrinya. Ayahku tidak menyukai seseorang yang tidak jujur. Dia sangat membenci perbuatan itu. Bagi ayahku jujur adalah kunci kebahagiaan untuk langkah awal.


Makanya dia kerap kali mendidik kami untuk berkata jujur. Bertindak yang benar saat di rumah maupun di sekolah, bahkan terhadap diri sendiri kejujuran itu sangatlah penting . Segala hal bagi ayahku semuanya harus jujur.


Aku begitu tegang dengan kelalaian rahasia yang selama ini aku tutupi, sekarang sudah terbongkar. Bola kasti yang menyerangku pada saat itu. Memacu adrenalinku untuk berkata jujur.


"Ayah." Aku memberanikan diri membuka mulut. "Sebenarnya bola kasti itu di lempar oleh temanku. Dia mungkin tidak sengaja, Ayah," jawabku menunduk sambil meremas jemari menahan kepanikan yang menyelubungi diri ini.


Ayahku langsung terdiam. Dia seakan terkejut kalau anak yang di banggakannya telah berani berbohong. "Liyan, berapa kali Ayah katakan padamu." Ayahku telah duduk di bangku sambil menatapku tajam. "Ayah selalu bilang beri contoh yang baik. Kau itu Anak paling besar," kata ayahku dengan nada suara kesal. "Kau tahu, kau punya adik, 'kan?!" Ayahku semakin pias.


Aku yang membeku di hadapan ayahku. "I-iya Ayah," jawabku dengan nada suara parau.


Tiba-tiba langkah kaki datang menghampiri ayahku. Aku yang masih menunduk tidak melihat ataupun meliriknya. Aku tetap menunduk karena kesalahanku.


"Ayah, jangan marahi Kakak lagi. Ana akan mencari tahu siapa yang telah berani melempar Kakak pakai bola kasti," tutur adikku. "Kasihan Kakak Ayah." Adikku menatap nanar dengan sendu. " Tadi Kakak pulang sendiri. Untung saja orang gila yang aneh itu tidak menculik Kakak," kata adikku meredakan kekesalan ayahku. Sok dewasa.


"Makanya, Nak! Jaga Kakakmu." Ayahku yang duduk di bangku menatap aku dan adikku dengan lirih.


"Liyan, kalau ada yang menyakitimu seharusnya kau bilang pada Ayahmu atau tidak bilang pada Ibu," ucap ibu sambungku berjalan di sampingku.


"Iya, Nak! Biar Ayah tahu," kata ayahku.


"Apa ada yang sakit, Liyan?" tanya ibu sambungku.

__ADS_1


"Tidak Bu," jawabku sambil duduk di depan makanan ringan yang telah di masak oleh ayahku. "Bubur jagung," gumamku pelan.


Aku dan adikku pun langsung beranjak mengambilnya. "Ayah ini punya aku, 'kan?" tanya adikku sok imut pada ayahku.


" Iya, ini untuk Anak Ayah yang manja ini," kata ayahku dengan tersenyum.


"Terimakasih Ayah," jawab adikku.


Adikku begitu senang sekali karena ayahku memasak makanan kesukaan kami berdua. Aku pun refleks melengkungkan bibir dengan manis melihat adikku yang bahagia.


Bubur jagung yang terhidang di hadapanku masih kutatap dengan sedikit senyum menutupi hatiku yang bercampur aduk. Perlahan tangan yang lemah ini pun menyuapnya sedikit demi sedikit.


"Liyan, kenapa?" Ibu sambungku melihat. "Kau tidak suka, ya?" tanya ibu sambungku.


"Suka," jawabku singkat.


"Lalu?" tanya ibu sambungku penasaran.


"Aku tidak berani memakannya," jawabku.


"Kenapa?" tanya ayahku menyelidiki.


"'Kan, dokter bilang aku tidak boleh memakan ini kalau mau sembuh, jawabku sambil menatap bubur jagung.


Ayah dan ibu sambungku lalu diam menatap nanar diriku seakan mereka turut bersedih dengan penyakit yang ku alami.


Adikku yang masih polos dan belum sepenuhnya mengerti. "Kak, kalau begitu untuk aku saja. Ya, Ayah," menatap ayahku dengan sorot mata datar.


"Sekarang mari, makan buburnya," kata ibu sambungku. "Sementara Liyan akan makan sup wortel bersama dengan nasi dan sup ikan juga," tandas ibu sambungku yang semakin perhatian.


"Iya, biar Kakak cepat sembuh. Sebentar lagi kita mau ujian," sambut adikku sambil mengunyah bubur di mulutnya.


"Liyan, Ayah begitu terkejut mendengar berita kalau kau kemaren pernah di lempar bola kasti oleh temanku." Ayahku menatap bubur yang akan dia suap ke dalam mulutnya sendiri. "Ayah tidak bisa menerima kalau Anak Ayah di perlakukan seperti itu," tandas ayahku dengan sendu.


"Tapi Ayah mereka tidak sengaja," kataku .


"Sudah Ayah. Jangan di pikirkan, besok akan Ana cari tahu sendiri," sambung adikku.


Deg!


Glek!


Seketika aku langsung mengangkat kepala sambil menelan ludah. Jantungku rasanya berhenti setelah mendengar ucapan adikku. Jeritan pun kini berteriak di hatiku dengan keras menyalahkan diri ini sendiri yang tidak bisa melindungi dari serangan yang menghadang.


Bibirku kini terkatup dengan rapat. Wajah panik pun langsung tertoreh pucat dengan jelas. Jemariku terasa dingin kembali dan gemetar. Sendok yang aku pegang pun tidak bisa tertahan dengan kuat.


"Ayah, sekarang mulai mencurigaimu," kata ayahku memecah keheningan. "Semenjak kabar ini. Ayah rasa, kau selalu menutupi yang kau alami di luar sana, 'kan?!" Ayahku menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya.


"Bisa jadi. Karena Anakmu yang satu ini sangat pandai," celetuk ibu sambungku.


"Ana rasa, kayak gitu juga Ayah. Karena Kakak belakangan ini 'kan, sudah masuk sekolah," jawab adikku seenaknya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya! 🙏🥰



__ADS_2