
"Duududu!" Adikku menina bobokan bonekanya yang selalu menjadi pendampingnya ketika bersedih.
Wajah berserinya memenuhi ruangan kamar. Setiap sudut ruangan hanya senyumannya yang terlihat menempel.
Senyumku pun terlepas terbawa kebahagiaan adikku. Lega rasanya hati ini karena dia sudah tidak menangis lagi. Tawa kecil pun terbersit ketika kulihat dia menatap bonekanya.
Aku yang tetap berdiri semakin menatapnya dengan lekat. Riuh kisruh yang berlangsung tadi kini senyap. Aku tidak lagi mengingat punggungku yang sakit. Senyum itu ternyata telah menjadi obat bagi punggungku. Boneka yang imut itu pun menjadi penyambung kebahagiaan aku dan adikku.
Lelah letih sudah aku lalui hari ini. Sekolah yang menjadi jembatan masa depan untukku telah kulalui tanpa beban sedikit pun. Berbagai hujatan yang menampikku pun telah aku lalui tanpa menghujat siapapun. Pelajaran yang berawal di ujung pena dengan senang hati telah aku selesaikan dengan lepas. Tak ada lagi keluhan yang dapat menyeret tubuh lemah ini ke dalam lembah celaka.
Sekarang aku tinggal menuntun diri ini agar menjadi anak yang berguna dan menjadi kebanggaan untuk Ayahku. Tak jarang aku melihat langit ketika berjalan maupun duduk. Langit yang berjalan bersamaku ketika aku berjalan menjadi obat ketenteraman bagi diriku sendiri. Di saat diri ini berkecamuk, hati pun menjadi kusut hanya langitlah yang mampu untuk mengobatinya.
Dan sekarang disaat hal yang serupa terjadi aku pun berdiri tepat di depan jendela menatap langit sambil menyerahkan kesedihan yang membelenggu. Langit yang terbentang luas seakan dia mengetahui. Ia pun langsung mengambil kesedihanku dan memberikan ketenangan untukku.
Kehangatan yang terpancar dari sinar matahari yang menempel padanya pun memberikan kehangatannya seolah dekapan seorang ibu yang menyanyangi anaknya. Sebagaimana seorang ibu yang mampu menelan kepedihan anaknya, begitulah ia ketika kulihat. Ia mengambil rasa sedihku dan menggantikannya dengan senyuman bahagia yang tulus di tengah kepahitan hidup yang kujalani. Tidak banyak ungkapan yang bisa kuceritakan saat ini sebab semuanya telah mengelilingiku dengan kasih sayang yang bertubi-tubi, yaitu dari Ayah dan temanku.
"Cah,cah,cah,cah,cah!" Suara adikku pun terdengar bermain dengan boneka imutnya. Betapa dia bahagia hari ini. Aku pikir dia menangis akan lama setelah aku melihat jam yang berdenting. "Eh, ternyata, dia bisa diam juga," gumamku melihat adikku.
Sedekap aku maju menghampiri adikku. Dan aku mulai hanyut dalam kebahagiaannya. Segelintir angan melayang di angkasa, seandainya ibuku ada dia pasti akan melakukan, seperti ini pada kami. Menina bobokan, memeluk ketika kami bersedih dan membujuk ketika kami ngambek. Pada akhirnya aku akan tidur pulas di pangkuan ibuku.
Mataku yang berbinar masih terus lekat melihat adikku dan boneka lucunya. Aku mendekatinya dan mengatakan, "Dik, boneka itu imut, ya." Melihat boneka yang di gendong adikku.
"Kakak suka?" tanya adikku.
"Iya," jawabku langsung.
"Kalau Kakak suka. Suruh saja Ayah membelinya untuk Kakak. Biar kita bisa main boneka. 'Kan seru Kak. Kita berdua main boneka. Ada Kakak dan Adiknya," ujar adikku.
Aku yang berdiri melihat boneka adikku. "Ayah engga akan mau membelikannya," imbuhku.
__ADS_1
Adikku yang masih menggendong bonekanya termangu berdiri melihat wajahku yang sendu. "Kenapa Ayah tidak mau, Kak?" tanya adikku penasaran.
"Iya. Ayah 'kan selalu menuntut Kakak untuk tidak banyak bermain, seperti mu." Aku memutar kepala melihat langit.
Aku yang melihat langit melirik adikku yang memandangiku, seperti orang yang baru mengetahuinya. "Kenapa Ayah tidak mengasih Kakak bermain boneka?" Pandangan adikku masih seakan terkejut.
"Entah! Kakak tidak tahu." Melihat adikku dengan perasaan kalau ayahku pilih kasih. "Kakak sudah lama pengeeen sekali main boneka," ungkapku menatap nanar keluar.
Mataku yang lara pun melihat boneka adikku yang sampai sekarang masih menyimpan rasa ingin memiliki di hatiku. Aku yang sering menganggap diriku sebagai orang asing di kediamanku sendiri mulai menyetarakan suasana hati agar aku tidak larut dalam kepiluan yang mendalam.
"Dik. Siapa saja yang sudah bermain boneka dengan mu?" tanyaku menyelidiki.
"Eemmm! Belum banyak Kak." Adikku berpikir mengingat-ingat kebelakang. "Kok, tiba-tiba Kakak bertanya kayak gitu?!" tanya adikku mencari tahu.
"Karena Kakak tidak pernah kau kasih memegang bonekamu," jawabku memendam kepiluan.
Ungkapan adikku dengan entengnya terucap. Aku pun merasa yang tidak memiliki, seperti yang dimilikinya hanya diam mendengarkan sentilan darinya. Lalu aku kembali melihat awan yang cerah yang dilewati oleh burung- burung yang berterbangan mencari makan ke sana kemari.
Mereka terlihat begitu rapi dan juga terlihat akur. Sementara dari belakangku, aku tidak mendengar nyanyian adikku menidurkan bonekanya. Senyap tanpa gemericik sedikit pun.
Aku khawatir dan cemas. Perlahan aku memutar kedua bola mata menyelidiki adikku,l kembali, kenapa diam saja?
"Ooh, ternyata adikku... ." Aku tercengang melihat adikku. "Haaa!" Aku melongo. "Dia tertunduk?!" Aku berjalan mendekatinya. "Dia kenapa? Apa tidur?" tanyaku mengintipnya yang menunduk. "Ooh, jadi dia menangis," gumamku.
Suara lirihnya yang terdengar sedih itu membuatku menyesal merasa bersalah. Perasaan ini terus saja berteriak menyalahkanku atas apa yang terjadi pada adikku.
Hix, hix, hix! Suara itu begitu menyayat hati. "Kenapa Kakak bilang kalau aku tidak mengasih Kakak bermain dengan boneka ini?" rintihnya dalam tangisan. " ' Kan aku cuman menjaga bonekaku, supaya tidak rusak. Karena kalau rusak aku tidak punya mainan lagi. Huhuhu!" Dia pun menahan tangisannya agar tidak ketahuan olehku. "Kakak tidak tahu, kalau Ayah pernah bilang ini adalah mainanku yang terakhir. Hix, hix, hix!" Dia menangis lagi sambil bergumam pelan yang masih terdengar olehku.
Aku jadinya sedih melihat adikku duduk membelakangi aku. "Kalau saja aku mengatakannya pada Kakakku, mungkin dia tidak percaya karena Kakakku selalu bilang kalau aku adalah anak kesayangan ayahku."
__ADS_1
Lelah rasanya hidup ini kalau setiap hari aku harus melihat air mata manja adikku yang menetes. Kepenatan di dalam kepala pun semakin membuatku memijat keningku.
Air mata adikku kini mengguncang jiwaku yang telah membaik. Aku pun kembali mendekati adikku yang bersedih itu. "Kenapa kau menangis lagi?" tanyaku menghampirinya. "Kakak cuman bercanda, kok. Jangan anggap serius!" bisikku.
"Ta- tapi, kenapa Kakak bilang aku tidak pernah mengasih bonekaku pada, Kakak?" Adikku melempar pertanyaan dengan sedih padaku.
Aku kini terkepung tidak bisa lagi mengelak walaupun sebentar. Suaraku langsung tertutup dengan rapat. "Huh! Kalau aku membenarkan yang kubilang, dia pasti akan menangis lagi. Dan pasti Ayahku akan mendengarnya?! Lalu kami berdua akan kena marah. Apalagi aku pasti akan dimarahi, kalau sampai adikku mengatakan yang kubilang pada Ayahku." Jemari pun kuremas bersama gumamku.
Aku rasanya serba salah sekarang. Jika aku diam, ayahku akan marah dan jika aku mengatakannya, ayahku akan lebih marah lagi.
Haduuuh! Kepalaku semakin pusing rasanya. Andai saja aku tadi tidak mengatakan itu. Pasti sekarang akan baik-baik saja. Sudah begini mau diapain lagi. Semua sudah terlambat. Tangisan adikku kembali mengusik kamar yang tadi telah adem. Padahal aku tahu kalau adikku lebih di perioritaskan oleh ayahku. Mengingat ibu kami berpulang dulu. Ibu kami berpulang ketika kami masih terlalu kecil dan adikku masih menyusu dan belum bisa berjalan dibandingkan dengan ku yang sudah bisa berjalan dan tidak menyusu lagi, bahkan usiaku jauh lebih di atas adikku.
Ayahku sering bilang. 'Liyan, kalau kau dan adikmu bertengkar, Ayah harap kau harus mengalah karena kau lebih besar dari pada adikmu dan kau adalah Anak pertama.' Itulah yang kuingat ketika aku dan adikku mulai bersiteru.
Seperti ini aku pun kembali melakukan hal yang serupa. "Dik, Kakak minta maaf, ya," ucapku pada adikku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1