
"Ayah nanti malam ayah mau engga dongengin kita berdua," pintaku sembari berdiri di dekat ayahku.
"Iya, Ayah. Ayah sudah lama tidak mendongengkan kami. Ana jadi pengen mendengarkan kembali dongeng Ayah," pinta adikku sambil mengunyah.
"Maafkan Ayah. Ayah selama ini lagi sibuk," ungkap ayahku menemani adikku makan.
"Jadi, nanti malam Ayah bisa 'kan mendongengkan kami lagi," pintaku berkata lembut pada ayahku.
"Nanti malam akan Ayah usahakan waktu Ayah untuk mendongengkan kalian," lanjut ayahku melirik ke ibu sambung kami.
"Masa setiap malam Ayah selalu sibuk," rintih adikku dengan cemberut.
"Kadang Ayah mengantuk, Nak. Pagi Ayah sudah bangun menyiapkan semuanya. Belum lagi Ayah mengantarmu sekolah," tutur ayahku melihat adikku yang menikmati makanannya.
" 'Kan ada Kakak. Ana bisa pergi sekolah dengan Kakak." Adikku melihatku. "Iya ' kan Kak?!" lanjut adikku bertanya dengan ku.
Aku yang berada di dekat adikku langsung tersenyum. "Iya Ayah," jawabku berharap ayahku akan mendongengkan kami kembali.
"Tapi, kau akan terlambat Liyan, kalau pergi dengan adikmu ini," cetus ayahku sedikit hati-hati pada adikku agar dia tidak terlihat kesal.
"Huuuh, Ayah! Ana itu cepat, ya Ayah pergi sekolah," tutur adikku. Sok imut.
Sementara dari tempat lain terlihat ibu sambung kami yang berdiri sedang melihat kami. Ketika aku melihatnya hatiku terasa begitu sedih. Dia sama sekali tidak mendapatkan pengakuan ibu dari adikku meski dia sekarang telah menjadi ibu sambung bagi kami. Ketika aku melihatnya betapa miris hati ini melihat ada seseorang di dalam keluarga ini yang masih terlihat, seperti orang asing.
Di tengah keberadaan kami yang bergurau, dia terlihat tidak berani memajukan dirinya untuk bergabung bersama kami. Senyumnya hanya terlihat dari jauh meramaikan candaan kami.
Wajah dan senyumannya begitu terlihat dengan malu seakan dia, seperti orang asing yang baru berkenalan dengan kami ketika melihatku. Sembari senyum pun terlihat dari sudut bibirku yang masih pucat membalas senyumannya.
"Ayah, Ayah! Telingaku masih mendengar suara adikku yang memanggil ayahku dengan kemanjaannya.
Namun, kedua mataku yang sayu ini masih berputar melihat sekeliling dengan pandangan kosong mencari - cari sesuatu yang pernah singgah di hidupku dan memberi kesan yang seakan masih membekas memasuki benakku yang dalam.
"Ayah, nanti malam jangan lupa," rengek adikku yang manja. "Dongengkan kami, ya Ayah," pinta adikku yang tidak menghiraukan ibu sambung kami yang berdiri memperhatikan dia .
"Habiskan dulu makananmu! Tidak boleh makan sambil bicara," kata ayahku beranjak meninggalkan adikku.
Puk! Adikku memukul bahuku sampai aku tersadar dari lamunan. Aku langsung memutar kepala melihatnya sambil menaikkan alis sebagai isyarat bertanya padanya.
"Kak, nanti malam Kakak mau di dongengkan apa sama Ayah?" tanya adikku semakin ingin tahu.
"Ana, makan dulu nasimu. Baru bicara," tegur ibu sambung kami ketika melewati aku dan adikku. "Tidak baik menghadapi makanan sambil bicara."
__ADS_1
"Itukan yang di katakan Ayah, Kak. Masa dia mencontoh yang di bilang Ayah," cetus adikku dengan ketus. "Itu ' kan tidak boleh Kak," katanya kembali menatapku sambil mengunyah dengan sok tahunnya yang dalam.
"Itu boleh Dek," balasku. Yang tidak boleh itu, kalau kita mencontoh jawaban teman di sekolahan, apalagi di waktu ujian."
"Engga ya Kak. Kalau temannya mengasih kita untuk mencontoh, bagaimana?" dalih adikku melemparkan pertanyaan berat untukku.
Sontak bibir pucatku terdiam dan tidak bisa berkutik lagi. Perasaanku langsung bercampur aduk setelah mendengarnya.
"Masih sekolah dasar sudah banyak tahumu," cibir ibu sambung kami dari belakang. "Makan saja yang benar! Baru bicara," tegur ibu sambung kami selanjutnya sembari merapikan barang-barang yang berantakan.
Adikku pun langsung terdiam. Dia pun mengunci mulutnya dengan rapat. Wajah piasnya terlihat secara mendadak. Sementara, aku yang selalu menjadi bayangan di tengah-tengah mereka panik.
"Aaaaagh!" Jeritan pun terdengar berteriak dengan keras di dalam hatiku. Pikiranku pun bagaikan tersetrum sengatan listrik yang menghempaskanku ke dalam lembah frustrasi.
Baugh!
Adikku pun bangun dari duduknya dengan kasar. Dia berjalan kencang sambil membawa piring bekas makannya ke dapur. Wajah piasnya yang ketat kini meronta - ronta, seperti habis terkena pukulan yang mematikan.
Baugh!
Aku pun mengikuti adikku bangun dari dudukku dan berpura -pura berjalan, seperti mencari sesuatu. Memegang sapu, mendekati lemari yang tidak lain tempat obatku tersimpan. Mengambil gelas ayahku yang terletak di atas meja.
"Kaak!" panggil adikku dari belakang mengagetkan. "Ayah di mana?" tanya adikku.
Aku memutar kepala langsung melihat adikku sambil menetralkan jantung yang mau copot karena suaranya yang berteriak tiba-tiba dari belakang memanggilku.
"Kakak tidak tahu," jawabku menaikkan bahu.
"Tadi, sewaktu aku makan, Kakak tidak melihat Ayah kemana?" tanya adikku melemparkan kekesalannya padaku.
"Engga!" jawabku spontan.
Wajah piasnya semakin puas terlihat. Gejolak hatinya mungkin saat ini lagi bergelombang dengan keras.
Huuh!
Aku pun menghembuskan napas melihat adikku. Hari ini dia sedang tidak baik. Hatinya kini, seperti serpihan kaca yang mengenai dan menusuk hingga berdarah dan membiru.
Kelembutan suara yang memanggilnya pun tidak lagi direspon olehnya. Hanya tumpukan kekesalan yang cukup mengenyangkan perutnya saat ini.
"Untuk apa mu mencari Ayahmu? Biarkan Ayahmu pergi kerja dengan tenang," tukas ibu sambung kami sembari berjalan ke sana kemari dengan sibuk.
__ADS_1
Adikku yang berdiri melihat ayahku dari pintu kamar perlahan aku menghampirinya agar meredakan rasa sebalnya yang mendalam.
"Dek, kali ini jangan seperti itu, ya!" pintaku dengan lembut memohon.
"Jadi, Kakak memarahi aku, hanya gara-gara itu! Kak, aku engga ada menjawab. Aku cuman diam aja. Kakak lihat sendiri 'kan?" gerutu adikku.
Aku langsung diam memalingkan pandanganku menjauh dari mata adikku yang tajam. Benaknya sekarang bagaikan terkena benturan keras yang menghantam tanpa pengampunan sedikit pun.
Itulah yang tergaris dari raut wajahnya yang kulihat. Betapa sedih mungkin hatinya mendengar ibu baru kami mengatakan itu.
"Kalau aku menjawabnya, wajar kalau Kakak marah padaku. Aku juga tahu Kak! Dia itu siapa ?!" rintih adikku.
Semakin lama aku semakin pusing. Dimana lagi, aku juga harus menjaga kesehatanku agar aku sembuh supaya bisa mengikuti ujian.
Dari ekor mata aku melihat ibu sambungku sedang bekerja melanjutkan sisa dari pekerjaan ayahku tadi yang belum selesai. Dia terlihat menyusun semua yang berserakan dengan rapi.
"Ayahmu sudah lelah, maunya kalian jangan lagi mengganggunya," gumam ibu sambung kami. "Ini tidak! Ada saja yang kalian buat, supaya bisa mengganggunya." Semakin lama ibu sambung kami semakin mengomel. Ocehannya terdengar mengusik telingaku yang tenteram. "Sudah besar, tapi masih saja manja," lanjut ibu sambung kami seakan menyindir adikku.
"Puas Kakak, 'kan," pekik adikku pergi.
"Puas kenapa Dek?" tanyaku heran dengan nada suara lembut .
"Alah! Jangan pura-pura bohong, lah Kak. Ana tahu kok, Kakak sama dia 'kan sengaja mau membuat Ana menangis," sungut adikku berjalan meninggalkanku dengan wajah kecut.
Aku tidak bisa beradu mulut dengan adikku karena adikku begitu cerewet. Suaranya saja dengan suaraku berbanding terbalik, kalau suaraku, seperti semut dan suara adikku, seperti toak yang menggema di udara.
Huh! Adikku mendengus dengan kesal.
Aku langsung terlempar ke sudut bersama embusan napas yang tersengal. Kakiku kembali berdiri dengan gemetar setelah kejadian ini. Obat yang tadi aku minum setelah makan tidak lagi bereaksi dengan sempurna. Tubuhku semakin panas dingin. Udara segar yang berembus kini terasa bagaikan bara api yang membakar. Panas yang mendelik seakan tertawa puas melihatku yang depresi.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🥰
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Mampir ke novel teman aku, ya !!!🙏