Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Jujur dan Kesal


__ADS_3

"Kenapa kau bilang sekarang Nak?" tanya ayahku dengan nada suara khawatir bercampur shock.


"Maaf 'kan aku Ayah. Aku takut bohong," ungkap adikku lirih.


Dapur yang hening kini semakin melilit tubuh mungil ini. Rasa nyeri di lutut semakin terasa sakit seakan ia terkejut setelah mendengar pernyataan adikku. Makanya tubuh ini semakin merintih ingin segera pergi berlari jauh.


"Ana kalau kau tau Kakakmu sakit. Kenapa baru di bilang sekarang?" tanya ayahku sebal.


"Aku takut Ayah marah dan menghukum kami," jawab adikku dengan merendahkan suaranya.


"Apa sekarang kalian yakin akan selamat dari Ayah?" lanjut ayahku bertanya pada adikku.


Aku semakin kalut dan menutup wajah ini dengan tangan sekuat-kuatnya hingga geraham pun aku gigit dengan kuat.


"Ayah jangan hukum aku ya," pinta adikku dengan lembut membujuk ayahku agar dia tidak menghukumnya. Aku semakin mendengar obrolan mereka.


"Ayah belum tau," balas ayahku singkat.


Ketakutan semakin menganak di dalam diri ini sehingga menutup semua pintu keberanianku. Harapan ingin terlepas dari cengkraman ayahku sepertinya sangat menipis .


"Liyan!" panggil ayahku dengan suara keras.


Deg!


Jantungku semakin berhenti berdetak rasanya. Suara teriakkan ayahku begitu terdengar mengisi ruangan rumah ini. Pikiranku pun semakin tersendat untuk berpikir. Keberanian langsung terlilit oleh rasa yang sulit.


"I-iya Ayah," jawabku. Perlahan bangun dan berdiri. "Aku di sini, Yah," lanjutku. Berdiri dan menunduk di tengah pintu antara dapur dan ruang tamu. Melihat lantai yang aku injak sambil meremas baju dengan kuat.


"Kata adikmu kau sakit, iya?" tanya ayahku dengan suara datar bercampur keras.


Aku semakin menutup mulut rapat dan semakin tidak bisa menatap wajah ayahku lagi. Kesalahanku saat ini lebih besar terlihat dari pada kesehatanku sampai-sampai kebisuan ini membuat diri ini semakin jelas terlihat tidak berdaya.


"Iya Ayah," jawabku. Mengangguk, diikuti oleh kedua mata melihat lantai serta kedua lengan yang gemetar.


"Sakit lagi?!" bisik suara dari balik pintu dapur yang terbuka, tepat berada tidak jauh dari pintu tempat aku berdiri.


"Kenapa kau bisa sakit lagi?" tanya suara yang terdengar dari balik pintu dapur, tepatnya di luar.


"Kenapa kau tidak membilangnya pada Ayah?" tanya ayahku.


"Ayah, Kakak takut di marahi," potong adikku langsung menjawabnya. Mendongak melihat ayahku.

__ADS_1


Ayahku dan aku terdiam di tempat kami masing-masing. Aku semakin terkepung dengan rasa takut dan sedih. Sementara ayahku terlihat panik bercampur wajah yang tegang. Aku melihat lantai untuk menetralkan rasa takut dari sorot mata ayahku. Namun, aku sedikit melihatnya juga dari ekor mata. Betapa sedih bercampur khawatir dan bingung wajahnya terlihat saat ini. Hingga adikku pun tidak lagi duduk di atas pangkuannya.


"Liyan, apa Ibumu tau kau sakit ?" tanya ayahku ingin tahu.


Aku semakin frustrasi mendengarnya bercampur kebingungan yang melilit sekarang. Kata -kata yang ingin aku ucapkan tidak tahu lagi entah apa.


Aku hanya menggelengkan kepala memberi jawaban untuk ayahku bercampur dengan wajah yang pucat dan tubuh dingin yang gemetar setelah mendengar nama itu.


"Ayah, Kakak gak berani membilangnya," ucap adikku memberitahu.


"Liyan kalau kau sakit. Kenapa tidak kau bilang sama Ayah?" keluh ayahku melayangkan pertanyaan padaku.


Aku semakin takut sehingga air mata pun jatuh menetes membasahi kedua pipi yang menunduk seakan malu.


"Aku gak berani , Yah," jawabku.


"Marilah ke sini, Nak!" pinta ayahku memanggil dengan lembut.


"Baik Yah," balasku berjalan menghampiri ayahku dengan sedikit terseok-seok menahan tungkai kaki yang sakit dan tubuh yang lemas.


"Liyan, kau 'kan tau Nak. Ayah paling tidak bisa melihatmu sakit lagi. Jadi, kenapa kau tidak memberitahukannya pada Ayah?" lanjut ayahku panik bertanya.


"Bukan itu Ayah. Aku juga takut kalau Ayah melarang aku dan Kakak bermain," sambung adikku memotong pembicaraanku dan ayahku.


"Ana, mau sampai kapan pun kalian tidak Ayah izinkan lagi untuk bermain!" titah ayahku dengan tegas. "Coba lihat ini! Kakakmu sudah sakit, kau baru memberi tahukannya sekarang pada Ayah!" keluh ayahku kesal.


"Ayah... ," kataku langsung menghentikan omongan ayahku dan sesekali melirik adikku.


"Ayah, Kakak yang melarang aku untuk gak memberitahukannya pada Ayah," terang adikku. Melirikku dengan tajam. "Aku dari tadi sudah mau memberitahu Ayah. Tapi Kakak selalu melarangku," ungkapnya.


"Kau juga Liyan, kalau sakit itu Nak di beritahu," saran ayahku. Berjalan mengambil kotak obat. "Kalau kau sudah sakit. Ayah pasti sedih," sambungnya. "Dan kau pasti tidak akan sekolah," singgungnya. Membuka kotak obat dan menempelkan tangannya di keningku. "Badanmu hangat," ungkapnya.


Aku hanya diam saja mendengarkan omelan ayahku dan sedikit melirik adikku yang memasang muka masam membalas lirikkanku.


"Anak Ayah cuma kalian berdua. Kalian lah harta Ayah yang paling berharga. Bagi Ayah kalian itu adalah penyemangat Ayah. Jadi, mana mungkin Ayah bisa tenang melihat kalian menyembunyikan sesuatu dari Ayah. Apalagi mengenai sakit," lanjut ayahku terus menerus berkata, seperti seorang wanita yang cerewet.


"Ayah, aku cuma demam aja kok," kataku dengan suara datar.


"Ayah tau Nak. Tapi kau pernah sakit parah dan sakit yang serupa dengan ini. Demam dan kedinginan sampai kau di bawa ke rumah sakit," terang ayahku.


Air mataku sedikit mengalir dan di ikuti oleh tangan kecil ini menyekanya.

__ADS_1


"Sakitnya kau ternyata?" tanya suara dari belakangku seakan terkejut dengan penuh penekanan.


Deg!


Aku langsung terkejut. Isak tangis pun tiba-tiba terhenti lalu menutup kedua bibir ini dengan rapat. Ayahku yang membuka obat pun menghentikannya seketika.


"Sudah ! Jangan bicara lagi," tegur ayahku langsung. Melihat obat yang kembali di bukanya. "Ini Nak. Minumlah dulu obat ini! Supaya panasmu turun," pinta ayahku dengan lembut. Mengambil gelas.


"Iya Ayah," jawabku. Berjalan dan mengambil gelas serta obat yang di sodorkan olehnya di hadapanku.


Glek!


Aku lalu meminum obat yang diberikannya. Ayahku yang berjongkok di atas lantai pun perlahan menarik lengan dan ingin memangkuku setelah aku selesai meminumnya. Namun, sayang aku menepisnya pelan.


"Mari sini Nak!" Ayahku melambaikan tangan. Di ikuti oleh kedua tangannya mengambil gelas yang aku pegang dan kembali meletakkan di atas meja.


Aku lalu berjalan mendekatinya. Sekilas tanpa sengaja aku melirik adikku yang berdiri tegak di dekat pintu dan sementara ibu sambungku yang sudah tau tentangku berdiri tegak lurus di belakang tepat bersandar di depan pintu kamar dia dan ayahku.


"Ayah, aku bawakan ini untuk Ayah," kata adikku. Menyerahkan plastik kepadanya.


Refleks kedua kaki yang melangkah mendekati ayahku pun terhenti ketika melihatnya yang lebih cepat dariku menghampiri ayah yang paling kami sayangi.


"Oh, iya Nak. Ayah hampir lupa," balas ayahku mengambil plastik yang di sodorkan adikku.


"Ayah sekarang sudah mau malam. Ayah mandi saja!" titah adikku. Melirikku sinis dari atas ke bawah dan berhenti di kedua kaki yang membeku.


"Baru saja Anakmu sembuh. Ini sudah sakit lagi. Jangan -jangan sakit malaria anakmu kambuh lagi," gerutunya.


Aku sedikit tersinggung mendengar kata-kata yang keluar begitu saja. Di ikuti oleh kedua bola mata melihat ayahku yang sedikit tidak senang setelah mendengarnya.


Dengan tenang ayahku. "Itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan merawat Anakku agar sembuh," balasnya dengan kepala dingin.


"Mau berapa uang lagi habis untuk mengobatinya ?" tanya ibu sambung kami seakan menuntut.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2