
"Kak! Kata Ayah, 'kan tidak apa-apa," kata adikku dengan lembut. "Aku hanya pengen bermain, Kak," Mentapku dengan meminta belas kasihan.
Huh! Aku menghembuskan napas letih. Melihat adikku yang begitu keras kepala. Rasanya, aku tidak bisa lagi untuk berucap.
"Ngapain, kalian di situ?!" pekik ibu sambung kami. Masuk.
Kami terperanjat seketika dan langsung memutar kepala perlahan melihatnya. Sepintas kami berdua terhenyak dan bertemu pandang dengan wajah panik.
"Tidak ngapa-ngapain, Bu," jawabku singkat. Sedikit takut.
"Lalu, ngapain kalian berdiri di depan pintu kamar Ayah kalian?!" tanya ibu sambung kami menyelidik dengan menggebu-gebu.
Aku dan adikku hanya bisa diam menelan ludah ketakutan. Gemetar dan ingin terjerembab ke lantai. Rasanya, petir dan bongkahan es menimpa secara bersamaan hingga membuat kami berdua tidak bisa bergerak.
Sorot matanya begitu tajam dan melebar, seperti ingin menyambar. Wajahnya semakin memerah dan ketat. Terlihat menggebu-gebu seakan ingin menelan kami bulat-bulat. Bibirnya terus mengomel tiada henti sampai mengeluarkan semuanya dengan puas.
Secara perlahan, kami menggeser tubuh selangkah demi selangkah hingga aku dan adikku bertemu pandang.
"Kak! Kenapa dia bisa sampai ke sini?" bisik adikku. Menjentik jemariku.
"Kakak tidak tahu!" bisikku pelan. Menggerutu sedikit kesal.
"Dia begitu seram, Kak! Aku semakin takut rasanya, di sini!" rintih adikku. Sedikit memohon pertolonganku.
"Apa yang bisa Kakak perbuat , Dek," balasku. Sedikit merelakan.
"Apa yang kalian bisikan disitu?!" tanya ibu sambungku sedikit keras. Menelan ludah dengan kasar.
Kini kami terlihat semakin panik, sementara ibu sambungku terlihat tenang, meskipun emosinya semakin tersulut hingga membuat aku dan adikku terpaksa membuka suara, sekali pun dalam keadaan terkekang.
"Aku cuman, mau melihat Ayah," jawab adikku. Sedikit acuh.
"Iya, Bu! Kami cuman, mau melihat Ayah. Hanya itu saja!" timpalku.
"Oh! Jadi, itu alasan kalian," serangnya dengan singkat. "Kalau boleh aku tahu?! Mau ngapain kalian melihat Ayah kalian?!" Menatap dengan tajam ke arahku.
Seketika aku terhenyak melihat sorot matanya, seakan dia dengan sengaja menyindirku. Mungkin dia berpikir, kalau aku mengadukan kejadian sewaktu dia memarahiku tadi, pada Ayahku.
Aku hanya bisa diam, menelan ke salah pahaman dan menunduk dengan hati yang kuat. Menatap lirih lantai yang bisu yang menatapku dengan tawa mengejek.
Suara pekikan ibu sambungku semakin mengiris hati dan menguras emosi ke jiwaanku.
"Kami cuman, mau minat izin pada Ayah," potong adikku memberi jawaban.
"Apa?!" tanya ibu sambung kami terperanjat. "Meminta izin untuk apa?" tanyanya semakin penasaran. Sedikit menantang.
"Untuk bermain," jawab adikku.
"Oh! Jadi, kenapa masih di sini?!" Menatap kami dengan pias.
"Kami bermainnya di rumah," sahut adikku. Sedikit takut.
"Benar itu, Liyan?!" Menatapku dengan penuh tanda tanya. Mendelik.
__ADS_1
Tubuh lemahku yang gemetar dan masih ketakutan, menunduk membuka suara. "Iya Bu," Sambil mengangkat kepala perlahan.
"Iya!" sambungnya. Sedikit kaget. "Jadi, mulailah kau bermain, ya," cecarnya. Sedikit memberiku ancaman. Mendelik menatapku.
"Ibu! Kami hanya bermain di dalam rumah
saja!" ujar adikku. Sedikit menyelamatkanku.
Keningnya langsung berkerut dengan rapat. "Bermain apa kalian di rumah, ini?" tanya ibu sambung kami kembali. Seperti seorang penyelidik.
"Kak! Dia semakin ngeselin," gerutu adikku pelan di telinga. "Dari tadi. Dia terus bertanya hingga membuat aku bosan mendengarnya," Menatap lurus ke ibu sambung kami sambil mendekatkan bibirnya di telingaku.
"Kau diam saja! Tidak usah banyak bicara!" pintaku menutup mulut adikku. "Kalau dia sampai semakin ribut. Ayah bakalan bangun dan menyerang kita berdua. Kau mau!" pekikku dengan penuh penekanan.
"Tidak, Kak!" tolak adikku dengan lembut.
"Makanya, kita jangan banyak bicara. Biar dia jenuh dan pergi," tandasku.
Sementara Ibu sambung kami masih berdiri dengan sejuta amarah yang menumpuk. Menatap kami berdua dengan muka masam.
"Rumah ini kecil ! Jadi, mau di mana kalian bermain, hm?" Menatap kami sambil menaikan alis. Mendehem.
"Di kamar Bu," jawabku singkat.
"Oh! Dikamar!" Mengangguk pelan sambil memonyongkan sedikit bibir. "Tapi, aku takut kalau kalian bermain di rumah! Bisa -bisa, seisi rumah ini hancur!" lanjutnya dengan lantang.
Adikku semakin mendengus gelisah. Sesekali dia menaikan alis keresahan. Menggeser tubuhnya sedikit menyenggolku.
"Kak, ayolah kita bermain. Nanti keburu sore," ajak adikku sedikit cemas.
"Kakak pura-pura sakit saja," usul adikku. Bersemangat.
"Kakak tidak pandai, kalau harus berpura-pura," balasku. Sedikit resah.
"Ya sudahlah! Biar aku saja yang menjawabnya," Mengangkat kepala.
Adikku pun langsung menegakan kepala lurus ke depan, menatap ibu sambung kami dengan segenap keberanian yang matang.
"Kalau begitu, kami pergi ke kamar dulu," pamit adikku. Berjalan dengan acuh.
"Ya sudah, pergilah!" balasnya menatapku dengan tajam.
Aku langsung terdiam dan membuka kedua bola mata dengan lebar melihat adikku yang begitu berani, seperti orang cerdik.
"Ayo, Kak!" Menarik lenganku dengan tenang.
"Apa yang kau lakukan, Dek?!" tanyaku dengan bengong. Berjalan.
"Yang aku lakukan, sudah tepat, Kak," katanya tanpa rasa bersalah.
"Tepat dari mana?" pekikku. "Kalau sampai dia melihatmu nanti atau pun besok! Dia pasti akan memarahimu?!" timpalku dengan cemas.
"Kakak tenang saja! Dia tidak akan berani memarahiku," kata adikku begitu percaya diri.
__ADS_1
Huh!
Aku semakin tidak tahu lagi tentang adikku ini. Dia begitu berani melakukan semua sesuka hatinya. Dia tidak memperdulikan, siapa yang di hadapinya.
Kami yang berjalan meninggalkan ibu sambung kami telah sampai di dalam kamar. Sementara itu, ibu sambung kami masih menatap kami sampai menghilang.
"Dek, tadi Ibu itu, melirik kita," ucapku. Sedikit takut.
"Iya, Kak!" sahut adikku. "Dari mana Kakak tahu?" tanya adikku kembali ingin tahu. Menatap dengan penuh tanda tanya.
"Tadi Kakak meliriknya," jawabku.
"Jadi, apakah dia masih marah atau tidak, Kak?" tanya adikku ingin tahu. Memutar kepala sedikit melirik tirai.
"Sepertinya tidak," sambungku dengan singkat.
"Tidak!" kata adikku dengan tidak percaya. "Hahahaha!" Menahan tawa. "Mana mungkin dia tidak marah, Kak," kilah adikku. Menolak pendapatku. Menyusun batu untuk bermain.
"Seharusnya, kau itu senang dan bersyukur!" gerutuku sedikit kesal. Melihat adikku melempar bola.
"Kak! Garisnya ini, ya," potong adikku. Menggaris lantai dengan spidol.
Aku yang berdiri menatap adikku hanya mendengar sambil melihat dia memberi pembatas di lantai.
"Kenapa aku harus bersyukur?" tanya adikku sedikit bingung. "Apa selama ini, aku tidak bersyukur, Kak?!" Menatapku sambil melempar bola.
Sedikit aku berteriak melihat adikku yang hampir mengenai dinding. "Kau ini! Bagaimana kalau sampai dindingnya kena?" teriakku melihat adikku.
"Iya! Kakak benar," Menarik bola dan diam sejenak.
"Liyan! Suara apa itu?" teriak Ayahku dari dalam kamarnya.
Aku begitu gugup. "Ti-tidak ada suara apa-apa Ayah!" jawabku berteriak. Sedikit keras.
"Mana mungkin tidak ada?!" sela ibu sambung kami berdiri di balik tirai. "Kalian, ada- ada saja! Kenapa harus bermain di dalam kamar," pekiknya.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Blurb
Berkisah tentang Janela Arsana dan Keenan Sanjaya, karena berada pada situasi yang tidak sengaja dan disaksikan oleh orangtua masing-masing, akhirnya harus menikah. Juga nasib Kyra Sanjaya adik dari Keenan Sanjaya, yang melakukan one night stand bersama Jeff karena mabuk.
__ADS_1
“Aku harus tanggung jawab?” tanya Jeff lalu terbahak. “Kyra sendiri yang datang padaku dengan keadaan mabuk dan merayu layaknya perempuan jal*ng. Lalu kalian berharap aku akan bertanggung jawab? Tidak akan pernah.”
Bagaimanakah kisah pernikahan Keenan dan Janela dan sedramatis apa hubungan Jeff juga Kyra?