Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Rindu Ibu


__ADS_3

Aku sontak terdiam mengulum udara kosong di dalam mulut. Menelan ludah keterkejutan.


"Orang jahat itu Kak ada di mana-mana," ungkap adikku dengan lembut seakan menyindirku.


Aku langsung terhenyak dan menghembuskan napas dengan kasar. Piring kotor dan gelas yang telah kosong pun aku letakkan di dalam ember.


"Kak, kalau di mana-mana itu ada orang jahat. Aku benar 'kan, Kak?" tanya adikku. Berdiri tiba-tiba di sampingku.


Sontak aku terperanjat dan langsung memutar badan melihat adikku yang mendadak berdiri di dekatku. Wajahnya begitu menorehkan kebencian yang mendalam ketika aku menatapnya. Tanpa berpikir lagi aku sudah bisa menebak kalau adikku memang dengan sengaja seolah menyindirku.


Sorot mata yang kulayangkan menatap wajah adikku refleks menunduk seperti orang yang menahan malu.


"Itu harus Kakak tahu. Kalau di mana-mana pasti ada orang jahat," cetusnya. Memajukan sedikit bibirnya mendekat ke telingaku, di ikuti oleh kedua tangannya meletakkan piring kotor.


Aku semakin diam membeku seperti tersiram oleh air es. Tungkai kaki yang nyeri pun tidak lagi mengusik ketenanganku. Sekarang hanya perkataan adikku lah yang mengusiknya.


"Jadi, Kakak kenapa harus takut sama orang jahat? Di rumah kita aja ada orang jahat. Kalau yang jahat berteman dengan yang jahat 'kan tidak apa-apa. Karena mereka sama-sama jahat," tandas adikku langsung.


🌵🌵🌵


"Kak Liyan," teriak suara dari balik daun jendela memanggil.


Aku langsung berlari menghampiri jendela yang terbuka tepat di dekat meja yang di gunakan adikku tadi untuk makan.


"Andrini," kataku dengan sumringah. Menghampiri jendela yang terbuka dari jauh.


"Kak, ayo bermain, Yuk!" ajaknya dengan nada suara ringan mengiba.


Aku seketika menunduk lesu. "Kakak gak bisa bermain," balasku dengan nada suara pelan bercampur sesal.


"Kak, kami di kunci dari luar. Jadi, kami gak bisa keluar," sambut adikku langsung. Berdiri di belakangku.


"Kalau begitu lain kali saja," ucap Andrini acuh . Dia pun langsung pergi menghilang.


"Iya udah," sahutku dengan nada suara yang lesu seperti orang yang baru kalah bertanding.


Huh!


Adikku menghela napas. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas bangku. "Ayah, hari ini lama kali pulang," gerutunya dengan nada suara lirih. Menatap ke arah pintu yang masih tertutup.


Aku yang berdiri lalu memutar badan berjalan ke arah jendela kamar. Mainan anak Bp yang terletak di atas tempat tidur kini masih berserakan dengan sembarang.


Tubuh mungil ini belum juga terasa membaik. Tungkai kaki pun terpaksa tertatih membawa kedua kaki ini melangkah dan dengan kuat menopang tubuh mungil ini hingga aku lelah berdiri di depan jendela melihat keluar.

__ADS_1


"Kak, Ayah belum juga pulang," rintih adikku. Menyingkap tirai jendela masuk kamar. "Aku mau main keluar," rengeknya dari belakangku.


Sekilas aku memutar kepala ke samping kiri melirik adikku yang merengek itu. "Tapi Ayah 'kan katanya cari uang banyak," paparku . Berdiri sambil melirik dari balik tirai kamar di mana tempat adikku duduk di luar. "'Kan kau minta sendal baru," ujarku. Memutar kepala kembali melihat keluar jendela.


"Assalamualaikum," ucap suara dari luar pintu.


Baugh! Adikku pun langsung berlari kencang seperti dikejar setan dan langsung menjatuhkan tubuhnya duduk di atas tempat tidur.


Jeglek ! Pintu pun dengan keras terbuka.


Aku langsung tersentak dan refleks melihat ke belakang. Ana," kataku dengan pelan melihat adikku yang aneh.


"Wa'alaikumussalam," kata aku dan adikku dengan pelan menjawab salam ibu sambung kami.


"Kak, Ibu kesayangan Kakak datang. Aku takut," bisiknya pelan.


"Ssttt!" Aku menempelkan telunjuk menyuruh adikku diam. "Jangan berisik!" kataku. Berjalan dengan mengendap-endap mengintip dari balik tirai.


"Kak," panggil adikku menepuk pundakku pelan dari belakang.


"Ana, ssttt!" kataku memutar sedikit kepala ke samping kiri meliriknya, di ikuti oleh telunjuk yang masih menempel di bibirku.


Suara langkah kaki ibu sambung kami pun terdengar dengan keras melangkah. Dia masuk tanpa sepatah kata pun. Aku mengintip dari balik tirai kamar mengikuti langkah kakinya dengan kedua sorot mata yang tajam bersama dengan adikku yang terjepit di belakangku ingin mengintip juga.


Deg!


Aku langsung terkejut dan melebarkan kedua bola mata. "Ana," kataku dengan panik. Refleks memutar badan dan melepaskan tanganku dari tirai.


Adikku pun menaikkan pandangan dengan tubuh yang masih setengah membungkuk di udara. "Kenapa Kakak panik gitu?" tanyanya langsung. "Aku 'kan cuma nanya aja," cetusnya.


"Mmm." Aku tergugup setelah mendengar pertanyaan adikku.


"Liyan," panggil ibu sambung kami dengan keras berteriak.


Mulut yang menganga ingin memberi jawaban berikutnya untuk adikku langsung aku tutup. "Iya Bu," sahutku. Memalingkan muka dari adikku. Berlari keluar menghampirinya.


"Kenapa jendela terbuka?" tanyanya.


Aku seketika gugup dan jantung pun berdebar dengan kencang membuat telapak tanganku kedinginan.


"Kami kegelapan Bu," jawabku pelan dengan wajah yang pucat.


"Gelap, gelap. Siapa yang membukanya?" tanyanya dengan nada suara meninggi.

__ADS_1


"Aku Bu," jawabku. Menunduk melihat lantai.


"Kayak mana kau membukanya, ha?" tanyanya ingin tahu dengan nada suara yang memekik.


Aku diam beberapa saat kemudian. "M-manjat Bu," jawabku terbata. Meremas jemari.


"Kau 'kan udah tau. Tidak ada orang di rumah ini," teriaknya. Berdiri tegak lurus di hadapanku.


Aku hanya diam saja sambil meremas jemari semakin kuat menahan rasa takut yang menyerang.


"Kalau ada orang masuk ke dalam rumah ini dari jendela itu, bagaimana ?" lanjutnya dengan keras bertanya kepada aku. "Pasti aku yang akan di salahkan Ayahmu," ungkapnya.


Aku semakin gemetar menghadapi serangannya yang tiba-tiba dia layangkan ke arahku begitu saja.


"Kau selalu buat ulah. Gak pernah semenit saja kau diam dan jangan bertingkah," gerutunya. "Bisa-bisanya kau membuka jendela. Pasti kau naik ke atas meja ini 'kan?" tanyanya dengan penuh penekanan ingin tahu.


"I-iya," jawabku. Mengangguk.


"Itulah pintarnya kau. Sampai ke situ pikiranmu, ha? Naik ke atas meja dan membukanya!" katanya semakin mengisi ruangan ini dengan penuh.


Aku semakin takut diam dan mematung hanya itulah satu-satunya yang bisa aku lakukan ketika berhadapan dengannya. Tidak banyak yang aku harapkan selain menutup mata sambil mengingat wajah ibuku yang aku rindukan.


Ibu yang bisa menjadi penenang bagiku. Ibu yang tidak mudah memarahi begitu saja. Sekilas wajah ibu yang aku lihat di dalam Foto terlintas di hadapanku. Sosok seorang wanita yang memiliki wajah yang teduh dan penuh dengan kasih sayang itu hadir menjamah aku yang sedang dililit ketakutan.


"Kau memang membuatku kesal Liyan," katanya dengan keras.


Aku tetap menutup kedua mata ini dengan kuat. Berdiri tegak layaknya seorang penjaga pintu.


"Yang kau lakukan selalu ceroboh," sambungnya dengan nada suara yang terdengar dari jarak yang jauh.


Setelah mendengar suara itu aku merasa kalau dia sudah tidak lagi berdiri di hadapanku. Perlahan aku mengerjitkan mata dan membukanya perlahan demi perlahan dengan lebar.


Huh! Aku langsung menghembuskan napas lega.


"Ibu aku tidak mau tinggal di sini," gumamku langsung setelah semuanya selesai.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2