Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tempat tidur dan Boneka


__ADS_3

Ayahku memutar kepala melihat adikku setelah mendengar permintaannya. "Engga bisa," kata ayahku dengan tegas.


Adikku seketika menunduk seakan dia menyesal setelah mendengar penolakan dari ayahku. Dia pun langsung menunduk lesu. "Kak... ." Dia melirik memanggilku.


"Ada apa, Dik? Aku berjalan melihatnya. "Ayah tidak mengabulkan permintaanmu, ya." Aku masih menatapnya tergelitik.


"Ayah sekarang sudah tidak aku kenal lagi. Ayah semakin seenaknya memberi keputusan." Adikku sedikit kecewa menatap lantai yang dilaluinya.


"Ayahmu itu benar. Sesekali kau menjaga Kakakmu. Biar kau menjadi Anak yang baik," timpal ibu sambungku.


Suara adikku seketika menghilang. Dia sekan terperanjat dengan suara yang terdengar menyalahkannya. Aku pun yang ikut tersentak juga ikut terpukul dalam suara yang menyalahkan adikku itu.


Siang hari yang telah jauh berlalu yang telah lama menemani. Kini sudah menghilang bersama langkah yang mengayun. Aku yang telah menyelesaikan semua tanpa ada arti kata kecewa yang tersisa sedikit pun bersarang di dalam benakku. Menatap lurus dengan kepercayaan diri kalau semaunya akan membaik. Tidak ada lagi perbincangan yang membahas mengenai ini.


Jam dinding yang berdenting yang tergantung. Aku tatap dengan mulut yang membisu. Hati ini masih saja gelisah akan esok hari yang menantiku. Keheningan yang keluar dari dalam diri ini masih saja menyelubungi kerisauan yang menyelimuti hati.


Tidak semudah itu untuk membuang semuanya, pikirku. Semua pastilah membutuhkan jalan keluar.


Ruangan kamar yang hening dimana, terdapat tempat tidur yang menjadi sarana untuk aku dan adikku melemparkan kelelahan sepulang dari sekolah. Aku tatap sambil menghampirinya. Bukan itu saja ini juga terkadang kami jadikan tempat kami tertawa menyenangkan diri ini. Bermain jikalau, ayahku tidak mengizinkan kami keluar dan juga tempat aku menceritakan semua sakit yang aku alami. Sakit yang dengan setia menemani langkah hingga saat ini.


Aku yang membuka tirai melangkahkan kaki sambil masuk. Kini langsung menatap ke tempat tidur yang dimana aku tadi duduk menutup diri ini dengan kain yang menjauhkan pendengaranku tadi dari suara keras ayahku.


Aku pun langsung menghampiri dan duduk sambil mengambil kain yang tadi melindungiku, agar aku tidak mendengar teriakkan yang menyerang. Jemari lemah ini menopang tubuhku agar kokoh duduk dengan tegak.


Adikku yang tadinya di beri ayahku beberapa pesan untuk menjaga diriku yang tidak berdaya ini. Terlihat mengambil bonekanya yang setia mendengarkan semua ceritanya. Dia dan boneka itu terlihat, seperti teman yang saling mendukung untuk menghilangkan kesedihan.

__ADS_1


"Kau tahu tidak! Aku hari ini di marahi oleh ayahku." Adikku menatap bonekanya. "Ayahku bilang, kalau aku kenapa tidak menjaga Kakakku?" Adikku mengelus rambut bonekanya dengan lembut. "Ayahku sudah tidak seperti dulu lagi. Yang selalu menyanyangiku yang tidak pernah memarahiku sekalipun aku melakukan kesalahan. Tapi sekarang Ayahku memarahiku hanya gara-gara, Kakakku." Adikku begitu pilu bersandar di sudut dinding kamar.


Aku yang melihatnya semakin sedih. Adikku sangat terpukul dengan hempasan yang tiba-tiba datang. Rasa semangat pun kini tidak lagi terlihat. Sekarang yang tertoreh hanya awan mendung yang menutupi sinar mentari yang cerah.


Aku sepertinya terkena dampak awan mendung itu. Aku tak pernah menyangka setiap kali kebahagiaan datang selalu menghilang. Kebahagiaan hilang dengan sekejap mata menyiksa diri sendiri. Aku tak perlu bahasa apapun itu untuk menceritakan semuanya. Aku tak pernah beristirahat membangun kebahagiaan diriku sendiri.


Nasihat serta teguran ayahku masih saja mengiringi langkahku bersama di setiap waktu yang bergulir.Nasihat itu tidak pernah lekang dimakan oleh waktu. Ia masih saja mengiringi langkahku yang setia mendampingi demi menguatkan ketegaran diri ini.


Aku tak ingin sedikit pun mengecewakan ayahku. Makanya dari nasihat yang diberikan ayahku terhadapku selalu aku simpan untuk menjadi benteng kekuatanku.


Saat ini aku tidak bisa berbohong pada siang. Aku masih ingin menyembunyikan peristiwa pelemparan bola kasti itu. Aku tidak pernah main-main dengan apa yang aku inginkan. Di dalam dudukku yang hening yang ditemani kain penutup telingaku tadi berpikir mencari jalan keluar yang terbaik. Aku berharap jangan pernah ada perasaan yang tidak baik diantara keluarga Tania dan Ayahku. Jadi, sebisa mungkin aku harus mendramatisir keadaan menjadi lebih baik.


Ayahku selalu mengajarkan kalau aku harus menjadi anak yang bisa menyelesaikan masalah. Jadi, saat ini aku harus membuktikannya pada diriku sendiri. Tidak ada kata menyerah pada diriku mulai hari ini dan seterusnya. Seperti itulah yang kuingat yang dibilang ayahku kepada ku. Kalau aku harus bisa menjaga kesehatanku.


Kamar yang masih dipenuhi oleh suara curahan hati adikku dan khayalanku akan menyelesaikan ini hingga tuntas. Memenuhi ruangan kamar ini.


Adikku yang mengangkat kepala seketika. "Iya," jawab adikku kembali menunduk. "Ayah tidak adil. Teman Kakak yang melempar, Kakak. Masa aku yang dimarahi," ucap adikku kurang senang.


Aku hanya bisa diam. Aku juga berpikir hal yang sama seperti adikku. Ayahku yang terlalu over dalam memperhatikan aku sekarang, malah menyeret adikku yang tidak tahu apa-apa.


Penyesalan pun hadir rasanya saat ini. Aku yang duduk pun hanya bisa memberi jawaban dengan tatapan kosong ke depan. Sekali tahu ayahku akan terus menjagaku dan adikku akan semakin sempit ruangnya untuk bisa menikmati waktunya dengan leluasa.


"Ana, kau tidak usah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayah." Aku masih saja menatapnya dan bonekanya. "Ayah mengatakan itu karena Ayah lagi dalam keadaan marah," tandasku.


"Kak, kita sudah lama jadi Anak Ayah. Setiap kali Ayah menyuruh. Ayah pasti akan menagihnya?!" Adikku langsung menatapku.

__ADS_1


"Tapi 'kan, Ayah cuman ... ." Aku terdiam.


"Cuman apa, Kak?" Adikku mendongak. "Cuman bercanda ?!" Adikku menunduk. "Ayah tidak pernah main-main, Kak dengan ucapannya. Maknanya, aku selalu berhati-hati di luar," tutur adikku.


"Kakak juga sudah berhati-hati," jawabku. "Tapi... ." Aku mengingat bola kasti yang mengejutkan itu.


"Tapi, apa Kak?!" Adikku semakin pias.


"... tapi Kakak tiba-tiba langsung kena lemparan itu," kataku terkulai melihat lantai.


Aku pun sedikit merasakan penyesalan atas kejadian itu. Seandainya, aku kemarin langsung beranjak dari lapangan mungkin ini tidak akan terjadi, pikirku. Tapi kebaikan tidak berpihak. Seketika bola itu langsung saja mengenai tubuh mungilku dengan keras.


Aku pun sontak terkejut sebenarnya. Suaraku pun langsung tertahan. Rasanya begitu berat aku untuk bersuara dan menarik napas. Hanya jemari lemah yang bisa merasakan sakit itu.


"Jadi, aku besok sudah mulai untuk menjaga Kakak," kata adikku. "Jadi, Kakak besok jangan coba-coba menjauh dariku," pinta adikku dengan tegas.


"Hahaha !" Sontak aku tiba-tiba tertawa. "Menjauh?!" kataku bertanya pada adikku dengan penuh penekanan. " 'Kan kita beda kelas," kataku.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya !🙏🥰



__ADS_2