Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Candaan ayahku pada adikku


__ADS_3

Suara adikku masih saja terdengar hingga ayahku lelah mendengarnya. Sesekali ayahku memutar pandangan ingin menjauh dari rengekan adikku.


Aku sedikit gelisah, melihat adikku yang terus mengganggu ketenangan ayahku. Kekhawatiran, sekarang tergambar di wajahku yang pucat. Nasi yang aku kunyah pun aku telan langsung dengan kasar.


"Liyan! Pelan -pelan saja makannya," kata ibu sambungku seakan dia mengetahui, kalau aku makan terburu-buru. "Nanti kau tersedak."


"Iya Kak," sahut adikku. "Jangan buru-buru nanti, duri ikannya termakan oleh Kakak. Ya, 'kan, Yah." Adikku kemudian memutar kepalanya ke arah ayahku.


"Iya, Liyan adik dan Ibumu benar. Pelan-pelan saja makannya. Jangan terburu-buru." Ayahku melihatku dan melihat nasiku.


"Baik, Ayah." Menatap nasi yang kupegang sambil menelan nasi dengan pelan dan sorot mataku pun, kembali berputar menatap dengan nanar sambil memikirkan, setelah kami selesai makan, apa yang akan terjadi?


Ibu sambungku yang duduk tepat di depanku. Perlahan dia meletakan gelas dan menatap kami satu per satu. "Emangnya, kamu ingin bermain di luar, Liyan?!" tanya ibu sambungku karena melihat cara makanku yang terburu- buru.


"Ha! Sontak aku menaikan sedikit kepala menatap ibuku yang duduk tepat di depanku dengan bingung.


"Iya, Liyan. Pertanyaan Ibumu benar. Apa kau ingin bermain di luar ?" tanya ayahku ingin tahu. "Sehingga kau makan terburu-buru."


"Tidak Ayah." Menunduk.


"Ayah tidak melarangmu untuk bermain di luar tapi, setelah kamu sembuh dan berita culik Anak itu hilang." Ayahku langsung mencuci tangannya dengan bersih.


"Ayah! Mau sampai kapan berita culik Anak itu akan hilang?" Adikku langsung bertanya memotong perkataan yang ingin kusampaikan. "Apa sebentar lagi?" tanya adikku dengan polos. Adikku kembali melanjutkan makannya setelah melihat ayahku diam dan mengambil mangkuk kecil yang berisi setengah dengan air. Adikku yang terlalu pintar dan ingin tahu melirik ayahku yang tepat duduk di sampingnya. " Ayah sudah selesai makan?" Menatap tangan ayahku.


"Iya. Kalau ingin seperti Ayah. Harus cepat selesai makan," canda ayahku kepada adikku.


"Iya. Ayah benar, sekarang mari kita makan berlomba ,Kak! Siapa yang lebih dulu selesai makan?" seru adikku dengan riang.


"Ana. Jangan ajak Kakakmu untuk lomba makan, nanti bisa tersedak," sela ibu sambung kami. "Dia 'kan, masih sakit. Belum sepenuhnya sembuh," lanjutnya.


Seketika adikku diam dan memutar wajah tidak menyenangkan kepada ayahku. "Ayah...". Adikku menatap ayahku seakan dia mengadu kepada ayahku.


"Iya, Nak!" sahut ayahku. "Ibumu benar, nanti Kakakmu tersedak. Makanlah yang benar," titah ayahku sedikit menenangkan adikku.


Aku diam sambil menelan nasiku mendengarkan mereka. Wajah adikku yang pias langsung berputar sambil menelan kesedihannya karena tidak mendapat respon yang baik dari ayahku, kini berusaha ditutupinya agar ibu sambung kami tidak melihat kekesalannya.


"Ayah! Kalau Liyan, sudah selesai. Apa Liyan boleh masuk kamar duluan?" Aku membuka suara memberanikan diri bertanya sambil menelan air yang melewati tenggorokanku.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Nak! Kita 'kan makan seperti ini, berkumpul bersama, 'kan jarang sekali. Jadi, di saat ini ada momen yang tepat jangan dulu langsung masuk kamar," pinta ayahku dengan tegas sambil mengilap tangannya.


"Iya, 'kan." Ayahku mengangkat kepala dengan tegak menatap ibu sambung kami dengan sorot mata seakan mengatakan bahwa yang di ucapkannya adalah benar.


"Iya, Nak! Ayahmu benar, selama ini kita selalu berselisih paham dan juga Ayahmu terlalu sibuk mencari nafkah sehingga Ayahmu terkadang istirahat lebih dulu, baru makan." Menatapku dengan isyarat menahan diriku agar tetap duduk bersama mereka.


"Tapi Ayah, kalau Kakak tetap di sini. Takutnya nanti akan sakit lagi," ujar adikku dengan toleransinya yang besar.


"Ayah rasa tidak, Nak! 'Kan Kakakmu masih ada obat. Iya, 'kan Nak?" tanya ayahku menatapku.


"Iya, Yah," jawabku dengan singkat. Aku segera bangun dan mengambil obat.


Tatapan mata ayahku yang mengikuti langkahku begitu tajam terlihat dari ekor mataku. "Apa obatnya masih ada?" tanya ayahku melihat obat yang aku pegang.


"Masih Ayah," jawabku. Aku langsung duduk mengambil gelas dan meminum obat yang ada di tanganku.


"Liyan minum yang banyak. Biar kamu tidak kepahitan," kata ibu sambung kami yang mengambil gelas di dekatnya juga. Dia pun meneguk air minum, terdengar jelas di tenggorokannya.


"Iya, Kak. Biar Kakak tidak muntah. Nanti Kakak muntah lagi di sini!" Adikku mengambil kembali ayam goreng.


"Apa Kakakmu pernah muntah?" tanya ayahku yang ingin mengajak adikku bercanda.


"Kakakmu tidak akan muntah. Ibu sudah sering memperhatikannya meminum obat," kata ibu sambung kami.


"Iya, Nak. Mana mungkin Kakakmu muntah di sini," cetus ayahku.


"Apa Ayah yakin?!" Adikku kembali memasukan ayam goreng ke dalam mulutnya.


"Yakin. Apa Anak Ayah tidak yakin?" tanya ayahku menggoda adikku yang manja.


Seketika adikku langsung memutar sorot matanya melihatku dengan penuh tanda tanya sambil berpikir. Tangannya yang memegang ayam pun mengayun masuk ke dalam mulutnya sambil mengigit ayam goreng.


"Kenapa melihat Kakak seperti itu?" tanyaku spontan mengagetkan adikku.


"Ti-tidak, Kak. Aku tidak bermaksud mengejek Kakak." Adikku menunduk bersalah.


"Ayah! Aku tidak bermaksud mengejek Kakak," Adikku langsung menunjukan wajah sedihnya kepada ayahku seakan dia mengadu, kalau dia tidak seperti yang kupikirkan.

__ADS_1


Aku yang duduk bersama mereka begitu puas karena telah berhasil membuat adikku merasa bersalah, meskipun dia tidak mau mengakuinya.


"Sudah Ana. Jangan di teruskan. Kakakmu itu tidak akan marah dengan mu. Selama ini 'kan, Kakakmu selalu mengalahkan untukmu. Untuk masalah ini, mana mungkin Kakakmu marah," kata ibu sambung kami yang baik hati hari ini membelaku.


"Ana! Belajarlah untuk tidak cengeng mulai dari sekarang. Kamu itu sudah besar. Mau sampai kapan kamu cengeng seperti ini!" kata ayahku menyadarkan adikku sambil memijat bahu adikku yang kesal.


Wajah adikku semakin cemberut sehingga dia tidak sanggup lagi untuk menghabiskan ayam goreng yang ada di piringnya. Air mata aktingnya segera jatuh membasahi pipinya.


"Ana. cepat habiskan ayamnya. Nanti ada yang ngambil," ledekku tersenyum jahil.


"Ana! Coba dengar kata Kakakmu," ledek ayahku kembali hingga membuat adikku gerah.


"Jangan menangis. Makan saja ayam gorengmu . Biar piringnya segera di susun," pinta ibu sambung kami dengan lembut melihat adikku.


Adikku langsung mengilap air matanya dan melihat kembali ayam goreng yang bisa menghilangkan sedihnya, sambil menarik napas dia pun mengambil dan menggigitnya dengan kasar, lalu dia mengunyahnya sambil mengeram dengan kesal, seolah dia menggerutu di dalam hati.


"Ana! Makannya pelan -pelan saja," kata ibu sambung kami yang sedikit lucu melihat adikku kalau marah.


Ayahku dan aku seketika melihat adikku yang tidak sengaja telah membuat kami tersenyum.


"Ana! Apa ada? Ayam goreng bisa mendengar," ledek ayahku dengan menggelengkan kepalanya, melihat tingkah anaknya yang lucu.


"Jangan bicara sama ayam goreng. Kalau mau bicara sama Ayah saja atau sama Kakak." Aku refleks menyunggingkan senyum dan membuang penyakitku sementara.


"Iya! Ana lucu sekali hari ini, ya," timpal ibu sambung kami sedikit berhati-hati.


Wajah cemberut adikku langsung menghentikan kunyahannya segera. Dia mendengus karena mendengar dengan jelas yang di katakan oleh ibu sambung kami. Sekilas tangannya yang memegang ayam, dia putar memegang gelas lalu meminumnya untuk menenangkan jiwanya yang pilu.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2