Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ketakutanku


__ADS_3

" Siapa yang diam!" Jawabku dengan ketus.


" Itu buktinya kakak diam aja! Melihat keluar aja." Kata adikku sambil membuka jajan yang kesekian dihadapannya.


Melihat adikku yang menyebalkan aku menarik bibirku dengan cemberut. Aku yang bertahan dari sakitku malam ini membuat adikku semakin puas meledek ku. Adikku dengan tingkahnya yang terkadang membuat emosi tersulut begitu sumringah dengan kemauannya yang egois.


" Kak, Ibu itu kalau tidak kembali sebelum Ayah. Bakalan ribut kak." Kata adikku dengan tandas menatapku yang duduk lemah di kursi makan ayahku. " Ibu itu kak, kenapa suka kali diluar?" Adikku terus mengoceh tentang ibu sambung kami sambil membuka jajannya yang banyak.


Aku hanya diam mendengar adikku bersuara. Saat ini aku tidak begitu menghiraukan apa yang adikku katakan. Aku hanya menghiraukan diriku sendiri. Sampai kapan? Aku terlihat lemah seperti ini merasakan sakit yang membuat ku harus mendekam didalam rumah. Sudah satu bulan lamanya. Hari-hari ku kini hanya ditemani dengan penyakit ku.


Adikku yang menjadi temanku malam ini. Tiba-tiba diam dan menatapku dengan ketat.


" Kak, kakak kenapa? Kakak melamun,ya?" Tanya adikku yang kini menggeser sedikit duduknya didekat aku.


Aku yang diam. "Ia." Melihat adikku yang wajahnya penuh tanda tanya. " Kakak pingin sekolah." Dengan wajah sedih aku menatap adikku.


Adikku pun kini menganggukkan kepalanya pelan dengan mengkerucutkan bibir kecilnya sedikit kedepan dengan wajahnya yang sendu.


" Kak, kalau begitu kakak sekolah saja besok!" Kata adikku yang memberiku semangat. " Besok kita berangkat sama kak, ke sekolah." Adikku seakan menganggap diriku baik-baik saja.


Mendengar adikku yang ambigu. Aku hanya tersenyum tipis didalam hati. Adikku yang menganggap semuanya datar terlihat begitu tenang dengan sikapnya yang tidak mempedulikan siapa pun. Hari-harinya hanya dia ukir dengan senyum meskipun, dia dimarahi akibat ulahnya yang sering keluyuran tidak mengenal waktu.


Aku terus melihat adikku yang begitu ceria dan tidak ada beban terlihat dari wajahnya yang polos. Adikku yang sering bermain dan sering bertengkar dengan ibu pengganti kami. Tapi adikku tetap berjiwa lugas terhadap ibu sambung kami. Adikku tidak pernah mempermasalahkan semuanya dengan besar.


Malam yang mencekam Ayahku belum juga kembali dari pengajiannya. Sudah dua jam ayahku pergi ke pengajian dan hingga kini belum juga kembali. Kami yang berdua saat ini saling mengisi kesunyian. Ibu sambung kami yang biasanya keluar tidak terlalu lama. Membuat aku dan adikku bertanya -tanya! Apa yang terjadi ataupun yang sedang dia lakukan?


Pikiranku pun tidak berhenti mengingat ibu sambung kami yang berada diluar rumah sampai saat ini.


Aku pun berjalan meninggalkan kursi makan ayahku dan berdiri didepan pintu melihat tajam kearah jalan yang redum. Gambaran akan ayahku akan pulang tidak ada memberikan tanda -tanda. Begitu, juga dengan ibu sambung kami. Sedikit pun tidak ada memberikan tanda apapun yang membuat kami tidak mengkhawatir kan mereka.


" Kak, ngapain kakak berdiri di pintu?" Tanya adikku dengan protes.


"Melihat Ayah dan Ibu." Kataku dengan datar dan terus menatap lurus kejalan yang redum.

__ADS_1


"Ngapain mesti kakak berdiri di depan pintu! Nantikan, kalau Ayah pulang, kan kita tahu." Adikku dengan tegas yang duduk di belakangku.


Adikku malam ini begitu cerewet dia selalu mengoceh hal-hal yang membuatku harus mengikuti kemauan nya. Dia tak pernah puas kalau melihatku tenang.


" Kak, Ayah sama Ibu itu kan sudah besar. Jadi, gak perlu di khawatir kan. Seharusnya yang dikhawatirkan diri kakak! Bukan orang itu." Kata adikku dengan tandas.


Aku pun begitu malu mendengar ucapan adikku. Selangkah kakiku mundur dengan teratur setelah mendengar apa yang dibilang oleh adikku.


Kedua mataku pun tak sanggup menatap adikku yang berpikir aku sok perhatian kepada orang yang lebih tua dari pada diriku sendiri.


" Orang itu kan sudah besar kak! Sudah tahu mau apa?! Dan melakukan apa?!" Adikku dengan sikap dinginnya berbicara.


Mendengar kan adikku aku mundur sambil berjalan perlahan kembali duduk di kursi ayahku.


Malam pun kini tampak semakin larut. Suara langkah kaki terdengar melangkah mendekati rumah kami. Aku spontan membuka mataku dengan lebar. Menatap tajam kedepan pintu yang terbuka lebar. Aku terus menatap hingga langkah kakiku itu berhenti tepat didepan pintu.


Adikku yang menemaniku. Menatap ku dengan wajah ingin tahu dan penuh tanda tanya. Kedua pupil mata adikku terlihat begitu membesar.


" Kak! Itu siapa?" Tanya adikku ingin tahu.


Kami berdua pun kini bertemu pandang dengan wajah yang datar.


"Kak, coba aku lihat." Adikku berjalan mendekati pintu.


Setiba adikku akan mendekati pintu. Tiba-tiba, suara pun masuk menembus pintu rumah kami.


"Assalamualaikum."


Adikku langsung berhenti dan terkejut. Raut wajahnya yang pucat menggambarkan dia kaget.


"Ayah!" Kata adikku dengan kaget. "Wa'alaikumussalam." Jawab kami berdua.


Ayahku melangkah masuk melewati adikku yang berdiri didekat pintu. Adikku yang terkejut kini diam sambil mengatur kembali napasnya yang hampir lepas.

__ADS_1


Aku yang melihat adikku tergagap dengan kedatangan ayahku. Selangkah mundur kebelakang dan berdiri didekat ayahku yang melepaskan sendalnya. " Ayah, Ayah dari mana? Kenapa jam segini baru pulang?" Tanya adikku ingin tahu.


Ayahku menatap adikku. " Tadi pengajiannya sedikit lama dimulai." Memalingkan dan melihat kembali sandal yang dilepasnya. "Kalian takut dirumah,ya?" Tanya ayahku yang meletakkan sebuah bungkusan.


"Ia, Ayah! Kami kan cuman berdua dirumah." Kata adikku dengan lirih.


Ayahku seketika terhenti. " Kalian berdua dirumah?" Tanya ayahku dengan heran sambil menatap adikku dan aku dengan tajam.


"Eemm!" Adikku sambil menganggukkan kepalanya pelan dengan wajahnya yang ditekuk.


Dengan mata yang mendelik ayahku terlihat begitu geram. " Dimana Ibu mu?" Tanya ayahku melihat aku dan adikku. " Apa dari tadi dia gak ada dirumah?" Tanya ayahku dengan menyelidik.


Aku hanya diam saja. Sementara adikku yang begitu jutek dia hanya menunjukkan wajahnya dengan memelas.


"Liyan!" Teriak ayahku sedikit melihat ku yang duduk termangu.


Ayahku terus menatapku dengan tajam. " Sudah mulai kapan dia pergi?" Tanya ayahku kembali dengan sedikit tersulut emosi.


" Sebelum Ayah pergi!" Kata adikku dengan polos yang masih berdiri diam mematung.


" Betul Liyan?!" Tanya ayahku dengan penuh penekanan.


Aku yang gugup menghadapi ayah dan adikku menjawab dengan sedikit keraguan. " Ia, Ayah." Aku masih saja melihat kebawah tepat dihadapan kakiku yang menggantung.


" Jangan ia,ia saja! Betul tidak!" Bentak sedikit ayahku padaku dengan kesal.


Aku yang bingung dan ketakutan menutup mulutku dengan kuat. Adikku melihat ku begitu kasihan.


" Ayah jangan marah-marah sama kami." Protes adikku kesal melihat ayahku." Ayah pulak lucu! Masa marah-marah sama kami. Sama dia la,yah!" Gerutu adikku dengan pelan.


Ayahku dengan mendengus kesal meninggalkan aku dan adikku masuk kedalam kamarnya.


Adikku pun kini terlihat begitu kesal dengan wajahnya yang memerah karena di hardik oleh ayahku. Adikku pun berjalan dengan menghentakkan kakinya kuat menuju kamar.

__ADS_1


" Kak, kakak tidak tidur?! Ayo cepat tidur! Nanti dimarahi Ayah lagi. Gara-gara wanita itu." Dengan mendengus kesal adikku melemparkan pandangan yang di penuhi dengan api yang menyala-nyala.


Bersambung.....


__ADS_2