Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ketakutan dan kebahagiaan


__ADS_3

Tania pun, melanjutkan puisi sesuai yang di perintahkan oleh Bu Dona. Ia meraih buku yang telah di ayunkan Bu Dona kepadanya. Dalam keadaan gugup, ia membuka suara, menatap buku yang telah ia ayunkan setengah ke udara. Ia tatap nanar buku dengan gerakan yang di inginkan oleh Bu Dona.


Perlahan bibirnya, mengucapkan bait demi bait puisi yang ia tulis. Tangan gemetar yang memegang buku, terlihat jelas membuat yang lain tersenyum menatapnya.


Terdengar suara cukup pelan dari salah seorang teman kami, namun, masih bisa terdengar oleh telingaku yang terbawa oleh tiupan angin yang berhembus. "Ternyata dia gemetaran juga."


Aku dan Widia menatap Tania dengan tidak percaya. Kami saling bertemu pandang dan mencerna masing -masing sesuai yang kami inginkan.


Bu Dona masih tetap mendengarkan Tania, meskipun dia sudah mulai sedikit enggan. Ia pun, mulai melihat satu per satu dari yang lain untuk tampil selanjutnya.


Ke gemetaran Tania membuat sedikit suara dan gerakannya kacau, mimik wajah seketika hilang tidak terlihat.


"Sudah...!" pinta Bu Dona. ...."pergilah duduk ke bangkumu!" perintah Bu Dona dengan acuh. Menatap Tania. "Letakan bukumu di sini!" perintahnya kembali. Menepuk meja dengan pelan.


Tania seketika terperanjat, refleks menutup ke dua bibirnya dengan rapat. Ia memutar badan ke arah Bu Dona dan perlahan menghampiri bersama buku yang ia genggam.


"Baik Bu," jawab Tania. Menatap Bu Dona dan meletakan buku.


Dengan pandangan menunduk, Tania berjalan menghampiri bangkunya. Rasanya, ia seperti malu dan ingin menukar wajahnya dengan yang lain.


Sementara, Bu Dona lagi ekstra bekerja menatap murid satu per satu, siapa yang akan tampil selanjutnya. Tatapan tajam yang di penuhi oleh magnet, menatap seakan ingin menarik secara langsung.


Tangan masih terlihat sama, memainkan pena dengan manis di atas meja. Kacamata yang bening masih menggantung di kedua mata.


Tatapannya pun, terhenti di barisan meja kami.


Dawai hatiku yang polos menatap Widia, yang lagi resah dan gelisah, sepertinya, dia tidak tenang duduk di bangkunya sendiri. Serasa duri menusuknya, hahaha! Tawa geli tersirat di hatiku yang polos.


Berkali-kali Widia bergeser, seakan ia ingin pindah ke tempat lain dan bersembunyi.


"Dengar ya, Anak-anak! Jangan pernah ada yang takut dengan tatapan saya, apalagi untuk tampil ke depan. Semakin kalian takut, itu yang akan saya panggil," cetus Bu Dona, setelah memutar tatapannya dari meja kami, seakan Bu Dona mengetahui reaksi dan sikap dari Widia.


Sontak Widia pun, seperti terkena sambaran petir di siang bolong. Terperanjat dan langsung merubah raut wajah dengan sedikit tenang. Diam, menatap buku seakan ia sedang menetralkan ketakutan yang mengikat dengan kuat.


"Widia, kau tenang saja. Engga ada yang perlu di takuti," ucapku dengan datar. Memutar bukuku di meja dengan pelan.


"Liyan, aku takut tampil ke depan," balasnya dengan lirih. Seakan depan kelas, bagaikan momok yang menakutkan bagi Widia, yang kapan saja akan menelannya hingga *****.


"Widia, kenapa kamu takut? Aku saja yang sudah lama libur tidak takut," sambungku. Menatap Widia dengan sendu sambil memberi keyakinan terhadap dirinya.


"Liyan, sebaiknya kita berdo'a saja, agar kita cepat pulang," ajak Widia dengan rasa ketakutan yang dalam.


Aku tersenyum tipis. Rasanya, aku seperti orang bodoh, mendengar permintaan Widia yang tidak masuk akal. Berdo'a untuk pulang, itu rasanya tidak mungkin, karena Bu Dona jika, ia mengatakan sesuatu, itu harus di selesaikan hingga tuntas.


Bergulat dengan Widia dan rasa takut yang luar biasa bersemayam di hatinya, membuatku jenuh dan menunduk. Dari ekor mata, aku menatap Bu Dona memutar kembali pandangan menatap, "Widia, silahkan maju!" perintah Bu Dona dengan tegas seketika.


"Liyan!" Teriak Widia. Menatapku seakan ia di lempar oleh undian yang membuat ia tidak bisa berucap.


Seketika wajah kepiting rebusnya pun, terlihat memerah dan berasap. Ia terdiam, seperti terkena lemparan keras. Tangannya bagaikan getaran gempa yang mengguncang bumi dengan skala Richter yang besar, yang bisa menghancurkan porak poranda, seperti itulah Widia yang malang saat ini.


Aku hanya diam. Ingin sekali rasanya aku tertawa di hadapannya dengan lepas. Namun, aku tidak kuasa melakukan itu, biar bagaimanapun, Widia adalah teman terbaikku yang selalu menjagaku di sekolah.


"Widia, ayo cepat!" desakku mendorong tubuh Widia pelan dengan memberi senyum semangat.


"Liyan, kau ini!" rintih Widia. Berdiri menatapku dan meraih buku di atas meja. Pergi bersama rasa kecewa dan takut.


"Biar kita cepat pulang, Widia," cetusku. Melengkungkan bibir kecilku yang pucat.


"Kalau sudah kayak gini, mendingan kita engga usah jadi pulang, besok saja!" ucap Widia dengan kesal.


"Widia, apalagi!" teriak Bu Dona sedikit keras. "Kenapa kalian semua berulah, hari ini?" tanya Bu Dona dengan kekesalan yang penuh tanda tanya. "Tidak ada satu pun, yang sigap dari kalian untuk maju ke depan selain, Liyan!" lanjut Bu Dona dengan nada suara yang di penuhi kekesalan.


"Enak! Dengar itu namamu di puji," ucap Widia dengan menggerutu penuh di wajahnya menatap buku tulis yang sudah berisi coretan puisi. Bersiap untuk melangkah.


"Enak ya, namanya di puji," ucap Fikri. "Memang engga salah jadi murid teladan," canda Fikri dengan menggoda.


"Udah Widia cepat sana!" desak Fikri. "Biar kiat cepat pulang," lanjutnya dengan tertawa kecil.


"Widia!" panggil Bu Dona kembali dengan sedikit keras.


Dengan tergopoh-gopoh, Widia pun menyeret kedua kakinya yang berat. Memaksa tubuh gemetar untuk tampil di depan dengan sigap.


"Liyan, kau lihat Widia! Pasti dia jadi, Tania kedua, hahaha!" ucap Fikri dengan candaan. Tertawa puas.


Widia pun, telah sampai di meja Bu Dona dan menyerahkan buku yang ia bawa.


Bu Dona terlihat begitu sungkan menerima buku Widia. Ia menatap dengan wajah yang di liputi dengan pertanyaan yang besar. "Widia kamu hapal?" tanya Bu Dona. Menatap Widia dan buku yang menggantung di udara.


Sejenak Widia diam, seakan ia sedang berperang melakukan tanya jawab kepada dirinya sendiri menatap nanar. "I-ia Bu, sepertinya saya hapal," jawab Widia menunduk sedikit terbata.


"Saya tidak mau mendengar jawaban, 'sepertinya' ," balas Bu Dona. "Kalau kamu belum hapal, bawa saja bukumu!" ucap Bu Dona. Memutar duduknya dengan acuh. "Jangan sampai seperti Tania," sambungnya.


Widia pun hanya menunduk dan diam, kemudian ia memutar badan perlahan sambil berjalan membawa buku yang tidak di terima oleh Bu Dona. Wajahnya terlihat begitu sedikit sedih. Namun, ia berusaha untuk menegarkan dirinya sendiri.


Ia berdiri di depan seperti yang lain, namun, Bu Dona tidak sedikit pun, mengikuti langkah Widia. Bu Dona masih tetap menatap lurus ke arah murid yang duduk di depannya.


Keheningan dari sikap yang di tunjukan oleh Bu Dona, sebagi isyarat, bahwa Widia harus segera memulai membaca puisinya.


Sikap yang telah sigap. Widia pun, memulai pertarungannya bersama puisi yang ia hapal. Namun, Widia tetaplah Widia, meskipun ia penakut, ia tidak pernah sekalipun, melihat buku yang ia pegang untuk membacanya.


Takut


Bukan aku tak berani melangkah maju


Bukan aku tak mampu menguasai diri ini

__ADS_1


Kala rasa takut menghampiriku


Membuatku penuh lika liku


Langit yang terang


Menerangi bumi yang gelap


Kicauan burung bernyanyi


Bersama jiwa yang terkekang


Kadang aku risau


Kadang aku gelisah


Aku bingung menatap kegundahan


Yang tak kumengerti dengan semua


Resah yang menemani


Semakin hari semakin tak berujung


Gelombang datang tak berhati


Menyapu semua semangat yang ada


"Sudah Bu," ucap Widia. Berdiri memutar kepala menatap Bu Dona. Memegang buku dengan sebelah tangan.


"Sudah?" tanya Bu Dona. Memutar kepala menatap Widia dengan penuh tanda tanya.


"Bawa kemari bukumu!" pinta Bu Dona. Memutar sedikit badan sambil menunggu Widia menyerahkan buku.


Widia pun, berjalan dengan wajah tidak bersemangat. Menatap dengan segala ke kosongan. Ia meletakan buku di atas meja Bu Dona.


"Kamu melihat buku?" tanya Bu Dona, seakan ia tidak mengetahuinya dengan menyelidik. Mengambil buku dari tangan Widia.


"Tidak Bu," jawab Widia dengan lesu.


"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Bu Dona ingin tahu. Menatap Widia sambil membaca puisi yang tertulis di buku Widia. Bu Dona masih menahan Widia berdiri. Seakan ia ingin bertanya kembali.


Di saat Widia membaca puisi, sebenarnya Bu Dona tahu, kalau Widia tidak melihat buku. Namun, Bu Dona ingin mendengar kejujuran dari Widia sendiri. Ia memang seperti itu, selalu menguji muridnya, apakah jujur atau tidak?


"Tidak Bu. Saya tidak sakit," jawab Widia.


"Itu, suara kamu! Kenapa seperti itu?" tanya Bu Dona. Memutar kepala sedikit menatap Widia. "Kenapa? Atau kamu takut? Sama seperti puisimu!" lanjut Bu Dona. Menggeleng sedikit. "Siapa yang menyuruhmu? Membuat puisi seperti ini?" tanya Bu Dona. Menatap Widia dan kemudian memutar kedua bola mata menatap aku dan Fikri.


Melihat bola mata Bu Dona, kami bertemu pandang dengan tidak sengaja. Aku langsung menunduk. Diam dan menatap meja dengan tanda tanya yang besar, ketika aku bertemu pandang dengan Bu Dona, seakan Bu Dona mengira aku yang telah mengajari Widia.


"Tidak ada Bu," jawab Widia menaikan kepala sedikit. Diam tegak lurus menghadap ke depan, seluruh murid.


"Pergilah duduk! Nanti pingsan pula kamu di sini," tandas Bu Dona dengan acuh.


"Baik Bu," balas Widia. Ia pun memutar badan dan berjalan menyeret kedua kaki, seperti orang yang lagi terserang penyakit, lemas tidak berdaya.


"Widia, kamu kenapa?" tanyaku. Menatap Widia yang diam, melangkahkan kaki menggeser bangku sedikit, lalu kemudian menjatuhkan tubuhnya di bangku.


"Liyan, jantungku berdegup kencang. Tubuhku rasanya gemetar, ketika aku sampai di depan," jawabnya dengan lirih. "Aku rasanya mau menangis, Liyan," sambungnya.


Hahaha! Tawa Fikri pun, terdengar dari belakang menusuk gendang telinga.


"Widia, kalau kau menangis kita tidak ada permen," bisik Fikri pelan.


Demi ketenangan jiwa, aku menyandarkan tubuh mungil yang lemah ke bangku dan menggeser sedikit kepala. "Fikri, diam! Jangan ejek Widia!" ucapku dengan memberikan Fikri larangan yang keras.


"Ia Liyan, maaf! Aku tidak mengejek Widia," jawabanya.


Kemudian aku yang meluruskan tubuh, tiba- tiba Bu Dona terdengar memanggil nama Septiani yang membuat kami tersentak. Tanpa basa basi dan pemanasan, seperti yang di lakukan oleh Bu Dona kepada kami, selama ini.


"Septiani, cepat!" perintah Bu Dona. "Hapal tidak hapal, maju! Biar puisi ini, selesai semua hari ini!" ucap Bu Dona dengan penuh penegasan.


"Baik Bu," jawab Septiani dari bangkunya. Berdiri dengan wajah yang rileks, seakan panggilan Bu Dona tidak menjadi beban yang menimpa mentalnya.


Septiani menghampiri Bu Dona, bersama buku yang telah lama, ia dirikan di atas meja sambil menghapal.


Wajah sumringahnya begitu terlihat gemilang, seakan menerangi semau jalan yang gelap. Dengan percaya diri yang mengawal langkahnya, menjadi pukulan keras rasanya, bagi Tania dan Ecy.


Dari bangkuku, yang berjarak jauh dari mereka, aku menatap Tania, yang memasang wajah sedikit penuh kebencian terhadap Septiani. Tarikan bibir licik, kini terlihat mengiringi langkah Septiani.


Septiani yang terlihat acuh tidak acuh, tidak pernah menghiraukan siapa pun, apalagi, orang seperti Tania.


" Ini Bu," ucap Widia. Menatap Bu Dona sambil meletakan buku di atas meja.


Seketika, aku dan Widia bertemu pandang dan saling memberi pertanyaan, pada diri kami sendiri.


"Liyan, bukannya tadi Septiani mengatakan, kalau dia tidak suka dengan puisi?" ucap Widia dengan penuh tanda tanya yang menyelimuti dirinya.


"Ia, kalian jadi, terbalik," balasku dengan kebingungan. "Padahal tadi ' kan, Septiani yang tidak suka puisi," lanjutku menghela napas, melepaskan segala penat yang singgah di dalam diri.


"Widia, kalian terbalik," celetuk Fikri dari belakang.


Widia hanya diam dan memberikan sedikit reaksi gerakan tubuh yang menggeser kursi, sebagai jawaban kekesalan Widia untuk Fikri.


"Ayo, cepat Widia, mulai!" perintah Bu Dona. Mengagetkan kami.

__ADS_1


Septiani pun, melakukan hal yang sama, seperti yang kami lakukan, namun, kali ini Septiani berbeda. Dia meminta izin kepada ketua kelas untuk mendengarkan puisinya. Sontak seluruh murid terdiam dan tertawa juga, Begitu juga Bu Dona, ia begitu terkena hempasan yang keras, hingga membuat wajahnya terperangah.


Dengan keberanian yang luar biasa, ternyata Septiani menyimpan rasa malu juga, ia memutar kepala menatap Bu Dona dengan wajah memerah dan menunduk.


"Septiani, jangan banyak candaanmu! Fikri kamu ketua kelas, diam dan dengarkan Septiani!" perintah Bu Dona dengan tegas.


"Baik Bu," jawab Fikri dengan suara setengah memenuhi ruangan kelas.


Septiani pun, memulai debut puisinya yang menggemparkan kami semua, terkhusus Bu Dona dan Fikri.


"Sungguh, Widia pemberani," cetusku dengan masih belum percaya.


"Liyan, Septiani memang seperti itu," sambung Widia. Menatap Septiani seperti orang yang baru di kenal.


Pertengkaran


Dentuman keras mengisi langit


Menghancurkan seluruh cakrawala


Kau menghilangkan kedamaian


Kau tutup semua celah dengan begitu rapat


Aku takut tahu salahku apa ?


Kau begitu tega melukaiku


Kau buat semua menjadi kacau


Kau tinggalkan puing duka


Kau tutupi semua dengan dusta


Hingga menipu hati yang suci


Kau tertawa dengan semua


Kau anggap itu hanya sebuah permainan


Septiani pun, begitu lihai menghayati puisinya. Gerakan dari gestur tubuhnya, membuat semua terpana.


Ruangan kelas yang biasanya memecah


gendang telinga, kini hening bagaikan kesunyian malam yang gelap.


Hanya suara indah Septiani yang terdengar sebagai pengisi kesunyian yang menyelimuti.


Tanpa kami sadari karena terbawa suasana dari alunan puisi Septiani, ternyata telah berakhir.


"Bagaimana Anak-anak!" seri Bu Dona dari setengah kebahagiaan yang menyelimuti.


"Bagus sekali, Bu," jawab seluruh murid yang tergabung dariku.


Setelah Bu Dona selesai dengan buku Septiani, ia memutar kepala dan memiringkan setengah derajat tubuhnya, menghadap Septiani. "Kamu itu cukup bagus juga," ucap Bu Dona. Mengangguk pelan.


"Terimakasih Bu," jawab Septiani dengan sumringah.


Ia pun, seketika berjalan menghampiri bangku yang telah lama menantinya. Wajah gemilang yang ideal pun, terlihat sempurna menyinari langkah kaki yang telah lama berdiri.


Meja yang menyambutnya dengan senyum, berdiri tegak mempersilahkan ia masuk.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah bersedia memberikan like, komentar dan favoritnya.


🥰🤗🙏


❤️❤️❤️


Bersambung....


Sambil nunggu Author update!


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti engga nyesel deh, bacanya! 🥰



Blurb : Cinta Terlarang. Begitulah dia menyebut perasaannya ini.


Bercerita tentang seorang anak berusia 10 tahun yang mengalami nasib malang. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan maut. Namun, ada seseorang berhati malaikat yang mau mengadopsinya sebagai anak.


Waktu berlalu, hingga si anak ini beranjak dewasa. Reina, tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Banyak pria yang mengincarnya untuk menjadikannya pacar.  Namun, perasaan cintanya telah terpaut pada satu orang. Reina mencintai ayah angkatnya sendiri. Namun, dia cukup pandai memendam perasaannya karena dia tahu jika perasaannya adalah cinta terlarang.


Namun sepertinya, Reina tidak bisa terus-menerus memendam perasaannya selama itu. Apalagi setelah sang Ayah telah mengenalkannya dengan calon istrinya yang di pilihkan oleh Neneknya, Ibu dari Ayah angkatnya.


Dia akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada sang Ayah angkat, meski dia tidak tahu bagaimana nanti respon Ayah angkatnya itu. Tidak peduli dengan apa jawabannya nanti.


Apa cinta Reina akan di terima?

__ADS_1


__ADS_2