
"Kalian 'kan orang baik," teriak mereka berlari meninggalkan kami bersama dengan Andrini.
Aku yang menyapu kelopak bunga yang berserakan berdiri menatap mereka yang telah menjauh meninggalkan aku dan adikku.
Sorotan mataku begitu lekat menatap mereka yang berlari dengan tawa gembira.
"Kak, cepat! Sampahnya di sapu!" seru adikku mendesakku.
Aku pun langsung memalingkan pandangan dari mereka dan kembali melihat sampah yang berserakan di atas tanah . Aku kemudian menyapunya hingga bersih.
"Kak, padahal kita sudah di suruh Ayah untuk tidak keluar," kata adikku berjongkok mengutip sampah yang basah. Lalu tidak berapa lama adikku pun menaikkan kepala melihatku dan aku pun melihatnya juga.
"Jadi, kau takut, kalau Ayah keluar memarahi kita." Tatapku pada adikku yang berjongkok di atas tanah.
"Mmm," sahut adikku mengangguk dengan bibirnya yang sedikit kerucut menggemaskan.
Aku yang masih menyapu. "Ana, Ayah 'kan, masih tidur," ucapku melihat adikku sambil menyapu.
"Kak, tapi aku masih takut juga." Adikku yang melihatku kemudian menjatuhkan pandangannya kembali melihat tanah.
Adikku ada benarnya juga. Apabila ayahku melihat kami sudah sampai diluar bermain hujan, pasti dia akan marah besar. Aku yang terus menyapu menatap adikku yang asyik dengan kutipan sampahnya. Semakin membuka pikiranku dengan lebar melayang ke ayahku yang memberi kami larangan keras untuk bermain.
Sampah semakin kusapu terus hingga bersih dan angin yang berembus pun semakin terasa dingin merasuk kulit tubuhku yang telah di balut dengan hoodie yang tebal. Semilir angin yang berembus semakin menyeruak menerpa wajah dan membuat rambutku berantakan.
Adikku yang takut akan ultimatum ayahku bergegas dengan cepat sambil berjalan jongkok mengutip sampah. Daun yang basah pun semakin membasahi celanaku hingga kakiku terasa dingin. Tanah yang aku sapu kini sudah menempel di sandalku sehingga tapak sandalku semakin berat kuangkat.
Halaman yang tersiram hujan pun terlihat berair membasahi tanah hingga bergenang. Aku sangat kewalahan dan sukar sekali untuk menyapunya.
"Ana! Jadi, kau takut kalau Ayah melihat kita di sini!" kataku memutar badan menyapu halaman mendekati adikku.
"Iya Kak." Tatap adikku dengan sorot matanya yang takut. "Kak, tadi 'kan Ayah mengatakan, kalau kita tidak boleh keluar." Adikku mendongak ke atas menatapku dengan gurat wajah yang sendu.
Aku seketika menghentikan sapuanku dan mengingat yang di katakan oleh ayahku tadi. "Iya, Dik. Kau benar. Ayah tadi memang melarang kita supaya tidak keluar." Aku berdiri sedikit jauh dari adikku menatapnya dan kembali menatap tanah.
"Lalu Kak, bagaimana?" tanya adikku mencari jalan keluarnya dari ku.
Aku semakin dilema dan bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Baju hoodieku pun juga telah kotor dan basah. Jadinya, aku semakin panik dan menyeret kaki ini dengan lesu menyapu halaman kembali.
Sapu lidi yang aku seret untuk membersihkan halaman kini tidak terasa telah hampir mau selesai. Sampah yang tadi berserakan pun kini telah bersih tersapu dan sebagian dikutip oleh adikku dan aku juga. Sesekali aku menjatuhkan tubuhku setengah di udara mengambil sampah yang sangat sulit untuk disapu.
__ADS_1
"Kak, apalagi kalau Ibu kesayangan Kakak itu melihat kita berdiri dan bermain di sini!" papar adikku kembali teringat dengan ibu sambung kami yang julit. "... kalau dia melihat kita, suaranya pasti akan berteriak dengan keras memarahi kita berdua, Kak," ungkap adikku yang merasa cemas dan khawatir.
Sontak aku yang menyapu pun berhenti setelah mendengarnya lalu menarik napas dengan panjang dan kemudian menghembuskannya dengan kasar sambil mengulum kepanikan yang besar di dalam kepalaku ini.
Refleks dengan sesaat aku memutar sedikit badan melihat adikku yang telah berdiri sambil memegang sampah di tangannya. "Ana, jangan membuat Kakak takut!" kataku dengan lirih berdiri sambil memegang sapu.
"Aku juga sama, Kak. Aku juga tidak mau ketakutan... apalagi sama dengan Ibu kesayangan Kakak itu!" rintih adikku.
Aku lalu kembali menyapu. "...kalau begitu kita harus cepat menyelesaikan ini. Agar kuat tidak ketahuan keluar rumah," dengan nada suara getir aku mengatakannya kepada adikku.
"Aku setuju, Kak," balas adikku dengan lantang. Adikku pun langsung mendaratkan tangannya ke tempat sampah. Aku juga semakin menyapu halaman dengan kencang dan terus menerus tanpa menoleh dan memperhatikan jalan, apalagi adikku yang tadi bersama dengan ku.
Srek ! Srek! Srek!
Suara sapu yang aku seret pun semakin kencang. Sampah yang tadi lengket di atas tanah yang basah sesekali aku ambil menggunakan tanganku dan membuangnya ke tanah yang kering.
"Kak, aku pergi duluan ke sana, ya!" teriak adikku berlari .
"Iya," jawabku sambil melanjutkan sapuanku.
"Ooooh! Jadi, ternyata kalian berdua di sini, ha?" pekik ibu sambungku bertanya dengan meninggi. "Hari masih hujan! Kalian sudah keluar, ya!" bentaknya semakin keras.
Aku yang sedikit lagi menyelesaikan sapuanku menghentikannya seketika dan memutar kedua bola mata melirik tanah. Pekikkan dan bentakkan suara yang keras kini singgah dengan sekejap.
"Liyan, Ana...cepat masuk! Jangan ada lagi kalian nampak Ibu masih di situ!" teriak ibu sambungku berdiri dengan tegak di depan pintu. Sorot matanya yang tajam dan mendelik sambil mengayunkan kedua tangannya di pinggang. "Apalagi Liyan, Ana...kalian tidak mendengar yang Ibu suruh!" jerit ibu sambungku dengan lantang.
Aku yang membeku seperti tersiram es memutar kedua bola mata melebar menatap adikku. Seakan aku memberi isyarat dengan sorot mataku yang menatap adikku dengan gurat wajah meminta pertolongan.
Adikku yang berdiri tepat di koridor rumah yang bersinggungan dengan tempat ibu sambungku berdiri hanya diam membisu, seperti patung. Dia yang pada dasarnya sering bersuara namun, kini tidak sedikit pun membuka mulutnya.
Adikku hanya diam saja bersitegang dengan dirinya sendiri. Gurat wajahnya yang tadi datar kini terlihat ketat sambil meremas ujung hoodienya dengan kuat. Tatapannya nanar melihat ke bawah.
Melihat adikku yang mematung. Aku langsung berjalan menunduk sambil menyeret sapu lidi yang kupegang.
"Kalian berdua sudah berani sekarang, ya!" Ibu sambungku semakin menyerang dengan penuh. "...di suruh tidur siang. Ini malah lari keluar," cecarnya dengan lirikan mata yang mengikuti langkahku.
Hari ini memang hari yang begitu buruk buatku dan adikku. Hujan yang tadi menjadi tawa gembira kini menjadi malapetaka bagi kami berdua.
"Coba lihat! Halaman itu...sudah penuh sampah! Iya, 'kan?" serang ibu sambungku semakin kuat bertanya kepada kami seakan dia tidak mengetahuinya dengan penuh penekanan. "Anak yang seharusnya menjadi contoh untuk adiknya. Ini malah mengajari yang tidak -tidak!" hardiknya mendelik menatapku.
__ADS_1
Aku tetap diam membawa sapu lidi yang besar. Ocehan ibu sambungku yang menyerang langkahku tidak lagi aku pedulikan. Aku sekarang hanya mempedulikan diriku sendiri dari amukan ayahku dan juga adikku yang berdiri ketakutan, seperti patung.
Aku yang meletakkan sapu. "Ana, kau tidak menangis 'kan?" tanyaku dengan jahil meledek adikku.
"Kak, jangan bicara apapun lagi. Aku sudah lama berdiri di sini!" tutur adikku dengan gurat wajah yang kusut.
"Ayo masuk!" ajak ibu sambungku.
Aku yang meletakkan sapu dan menyandarkannya di dinding. "Ba-baik Bu," jawabku dengan nada suara pelan sambil melihat ke kakiku.
"Baik, baik, baik!" Ibu sambungku mendelik mengulangi perkataanku dengan kekesalan yang memanas.
Aku yang telah tiba sekarang berdiri di koridor rumah kami. Tepatnya berdiri di samping adikku sambil menunduk. "Ana, ini semua gara-garamu," timpalku.
"Mana pula gara-gara aku, Kak," dalih adikku langsung membela dirinya sendiri.
"Kau ini!" Aku langsung menatap adikku dengan geram sambil menggigit kedua gerahamku dengan kuat.
Ibu sambungku yang telah berjalan lebih dulu dengan langkah yang kencang berhenti. "Liyan, Ana!" panggilnya.
Aku dan adikku yang masih bertengkar. "Iya ini memang bukan gara-gara aku, Kak," sela adikku menutup kedua bola matanya dari aku.
"Iiy.. ." Aku langsung terdiam setelah mendengar ibu sambung kami memanggil.
"Liyan, kalian belum masuk!" Ibu sambungku memutar badan ke arah kami.
Aku dan adikku pun langsung masuk dengan pakaian hoodie yang tebal dan kotor. "Ana, ini semua gara-garamu! Baju Kakak ini kotor," ucapku. Berjalan masuk dan menatap hoodieku yang bercampur dengan tanah sedikit.
"Itu bukan salah aku, Kakak," sahut adikku dengan nada suaranya yang manja.
"Jangan bertengkar!" Ibu sambungku menatap dengan sorot mata yang dingin. "Ayahmu sebentar lagi akan bangun," tandasnya sambil berjalan menyeret kedua kaki.
Aku dan adikku pun berjalan mengikuti ibu sambungku dengan gontai. Kami berjalan sambil bergandengan tangan meskipun kami dalam keadaan bertengkar.
"Kalau Ayah bertanya siapa yang mengajak keluar... ." Aku langsung melirik adikku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...