
Dia tidak lagi mau berkata-kata. Melihat wajahku dengan nanar menatap diriku yang memutar badan kembali sambil membawa baju ganti.
"Kak," panggil adikku.
Aku kembali memutar badan. Melihat adikku yang memanggilku lagi. Berdiri tegak lurus sambil menahan rasa dingin yang menyerang tubuh mungil.
"Kak, aku gak mau lihat Kakak marah lagi samaku," harap adikku memohon. Berdiri dan merasa bersalah.
"Iya, Kakak juga gak mau marah samamu," sambungku serius, melirik baju yang kupegang.
"Kak, berarti Kakak udah sayang samaku lagi ya?" tanya adikku memelukku erat sambil menatapku yang berdiri lebih tinggi darinya.
"Iya," kataku tulus. "Kakak 'kan selama ini juga sayang samamu," ucapku mengatakan yang sejujurnya.
"Horeee! Aku punya Kakak yang baik," teriak adikku dengan senang, melompat kegirangan dengan kedua tangan masih memeluk erat pahaku.
Aku langsung menarik bibir tersenyum melihat adikku yang belum pernah merasa sebahagia ini. Pagi ini aku, seperti bukan melihat sosok adikku. Adik yang berdiri dihadapanku kini adalah adik yang jauh berbeda dari sebelumnya. Namun, sifat manjanya masih melekat dalam pada dirinya.
"Kalau begitu. Kakak ganti baju dulu, ya!" pintaku memohon harap pada adikku yang sudah berubah total.
"Iya, Kak. Aku akan jaga di sini," ucap adikku dengan suara manjanya yang polos. Melepaskan pelukannya dengan senang hati. "Kak, kalau nanti Ayah datang aku baru mandi," cetusnya.
Kaki yang melangkah masuk kamar terhenti. Di ikuti oleh tangan sebelah kanan membuka tirai seraya menarik kepala menoleh ke arah adikku yang berdiri di belakangku.
"Iya, tapi jangan lama-lama, ya!" pintaku dengan lembut memohon.
"Iya Kak. Aku gak akan lama-lama," sahut adikku, menatapku dengan wajah manjanya yang imut dan sumringah.
Dengan senang hati aku meninggalkan adikku sendiri. Di dalam kamar yang selalu menjadi tempat bermain kami. Aku mengganti pakaianku dengan pakaian yang baru.
"Kak, kita lihat orang lewat dari jendela saja, ya!" pinta adikku meminta izin dengan suara yang lembut.
"Iya, terserahmu aja, Dik," sahutku dari dalam kamar sambil mengancing pakaian terusan setengah lutut.
"Kak, aku mau melihatnya dari jendela luar," kata adikku berterus terang.
Deg!
__ADS_1
Sedikit aku terkejut. Tangan yang mengancing baju berhenti seketika. "Ana, kau mana bisa melihat dari situ!" teriakku keras melarang adikku yang mulai membuatku lagi berkecamuk.
"Kak, aku naik ini," balas adikku dari luar mengiba.
Bergegas dengan cepat aku keluar dari dalam kamar. " Naik Apa?" tanyaku panik.
"Naik ini, Kak," kata adikku menunjuk meja.
"Jangan, Dik!" ucapku spontan langsung melarang adikku. "Nanti mejanya patah," terangku panik.
Ini kembali lagi adikku seperti yang dulu. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin naik ke atas meja yang sudah lama. Aku kembali memeras otak mencari jalan keluar untuk menghentikan adikku.
Adikku langsung menunduk melihat kaki meja. "Engga, Kak. Ini kuat, sini lah!" panggil adikku melambaikan tangan sebelah kanan, di ikuti oleh tangan sebelah kiri memeriksa bawah meja.
Napasku rasanya mau berhenti. Kepalaku kembali kusut, seperti benang. Ide adikku yang selalu mengalahkan ketenangan tiada henti-hentinya menyerang.
"Ana, mejanya gak kuat, Dik. Nanti kalau kau naik, bisa patah dan kakimu terluka," kataku dengan keras melarang adikku. Berdiri cemas menghampiri meja.
"Kak, aku bisa pelan-pelan. Jadi, aku gak akan jatuh. Kakak percaya samaku," bujuknya dengan rayuan gombal yang melemahkan ketegasanku.
Kini wajah manjanya yang minta dikasih hani berpaling dariku. "Kakak, 'kan tau aku sayang sama Kakak," keluh adikku. "Tapi, Kakak gak sayang samaku," lanjutnya lirih. Berdiri tegak melihat ujung kakinya yang bergerak.
"Kak, aku mau lihat dari sini. Aku gak mau lihat dari pintu kamar," tolak adikku protes.
"Kenapa? 'Kan jendela kamar lebih enak, Dik. Bisa langsung melihat keluar," bujukku pada adikku dengan nada suara datar.
"Tapi, kalau kita lihat dari jendela kamar, orang itu datang lagi," terang adikku dengan pikiran kacau.
"Takut kenapa ?" tanyaku hampir berputus asa.
"Orang itu jahat, Kak. Suka ngejek," jawab adikku sedih.
Memang rengekan adikku bagaikan masalah besar yang melilit tubuh mungil ini. Kepala yang tadi dingin sekarang sudah panas lagi. Gara-gara adikku yang setiap saat tiada henti berulah.
"Ana, itu hanya semalam. Hari ini gak bakalan ada, Dik," bujuk adikku dengan lembut menasihati adikku.
Berat sekali rasa adikku ingin beranjak dari depan jendela. Meja yang terpajang di bawah jendela terus diperiksa olehnya. Perasaan dewasanya kembali terlihat menarik simpati. Aku kadang terkesima melihatnya dan terkadang jengah. Itu semua berawal dari adikku yang selalu ngotot kemauannya harus diikuti dan tidak mau mengalah.
__ADS_1
"Kak, mejanya bagus. Gak ada yang rusak," kata adikku, menarik bajuku.
"Ana, itu mejanya memang bagus, Dik. Tapi kakinya gak kuat. Nanti kalau kau naik mejanya patah," tuturku lemah lembut.
"Mana?" tanya adikku. Sok tahu. Memegang kaki meja kembali. Dia kembali berlagak sok dewasa seolah dia adalah yang paling tahu.
"Ana, dengarin Kakak. Nanti kalau Ayah tiba-tiba pulang. Ayah pasti marah?!" cetusku mencegah adikku agar mengurungkan niatnya.
Spontan adikku yang membungkuk langsung berdiri tegak. Menatap nanar dengan wajah terkejut. Melongo setelah mendengar omelanku.
Aku sedikit lagi berhasil membujuk adikku agar dia mau melunakkan hatinya sejenak. Diam dan bergeming menatap adikku yang masih berselimut tanda tanya.
"Belum Kak," sambung adikku. "Jam aja, baru jam segitu," ucap adikku yang hapal jama pulang sang ayah, menunjuk jam dinding dengan kedua bola mata yang lekat.
"Dik, 'kan Ayah pulangnya gak menentu," ujarku yang lelah mengahadapi adikku yang cerdik.
"Kakak salah. Kalau hari ini 'kan hari jumat. Jadi, Ayah pulangnya jam segitu," balas adikku yang terlalu banyak tahu. Berdiri menunjuk jam angka jam dinding.
Lagi-lagi aku kalah cerdik dari adikku. Semua kecerdikan milikku telah ku keluarkan. Namun, semua masih sia-sia. Berdiri mematung sambil memutar otak memperhatikan sekeliling yang bisa kuandalkan untuk mengalahkan kecerdikannya.
"Kak, kalau aku naiknya pelan-pelan pasti gak rusak?!" ungkap adikku yang tidak mau menyerah.
Setiap pagi dan selepas bangun tidur. Adikku selalu menguji kesabaranku. Dia terus menerus ingin melakukan hal belum pernah dia coba. Lelah dan letih sudah kulalui demi menghadapinya.
"Coba saja! Tapi kalau mejanya patah. Kakak gak mau dihukum," tolakku kasar dan pergi meninggalkannya yang menjengkelkan.
"Kak!" panggil adikku mengiba. "Jangan tinggalkan aku di sini!" pintanya dengan sedih. "Aku takut," katanya menatapku lirih.
Kaki yang sudah melangkah ingin masuk kamar terhenti begitu saja. "Takut kenapa?" tanyaku memutar badan, melihat adik yang sudah bersedih.
"Aku gak mau punya Kakak baru," jawabnya menggelitik hati.
"Ptfff!" Aku langsung menahan tawa melihatnya yang sudah mulai jinak dengan ku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...