Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kekesalan Ku


__ADS_3

Mendengar apa yang di katakan Rahmadani. Wajahku pun seketika ku tekuk. Aku diam melihat adikku yang kebingungan untuk memutuskan "lanjut bermain atau pulang" dia begitu gusar melihat disatu sisi dia ingin bermain selagi ayahku pergi ke pengajian sementara disisi lain dia ketakutan kalau nanti ayahku tiba dirumah tidak melihat dia dan aku.


Adikku diam berdiri mematung. Wajah bingungnya terlihat mencari-cari jalan keluar,apa yang harus dia lakukan?!


" Rahmadani, Ayah mu satu pengajian tidak dengan Ayahku?!" Tanya adikku ingin tahu.


" Aku gak tahu Ana." Kata Rahmadani dengan wajah polosnya. " Tapi,Ana kakak kamu kan sakit?!" Rahmadani menatapku dengan sedih.


"Ia, teman kakak ku gak ada dirumah." Adikku sambil menatapku. " Ibu sambung kami pergi ntah, kemana aku gak tahu." Kata adikku dengan datar.


" Kasihan! Kakak mu itu kedinginan." Rahmadani Menunjukku dengan kedua matanya.


" Makanya aku mau kerumah mu main-main." Dengan wajah datar adikku berpikir, bagaimana? Caranya dia agar bisa bermain tapi tidak tahu ayah kami.


Selama berdiri adikku memutarkan kepalanya melihat sekeliling.


" Ana kau lihat apa?" Tanya Rahmadani ingin tahu.


"Aku lagi melihat Ayahku." Kata adikku sambil mengatur pandangannya agar tidak kecolongan oleh ayahku.


Rahmadani yang begitu memberikan perhatiannya yang besar terhadapku. Menarik tanganku untuk duduk disebuah batu.


"Kak, duduk disini aja. Capek kakak berdiri." Kata Rahmadani dengan datar.


Adikku masih saja berdiri menghadap badan jalan melihat ayahku. Sesekali wajah adikku terlihat sumringah karena sampai saat ini ayahku belum pulang.


Rahmadani memanggil adikku dan menghampirinya. "Ana." Adikku pun menolah melihat Rahmadani." Ia." Jawab adikku kembali melihat ruas jalan.


" Apa kau gak takut? Kalau Ibu mu melihat kalian disini." Rahmadani dengan wajah sedikit cemas.


Aku diam mendengar ucapan Rahmadani. Sementara,adikku sedikit takut terlihat dari wajahnya. Tapi, adikku begitu pandai untuk menetralkan semuanya terlihat dari wajahnya yang menggambarkan kalau adikku punya rencana jitu untuk mengahadapi semuanya.


" Nanti dia mengadu pada Ayah mu." Rahmadani begitu waspada mengingatkan adikku yang terlalu berani. " Kalau nanti kalian ribut kasihan kakak mu! Diakan lagi sakit." Ucap Rahmadani dengan tandas.


Adikku masih bergeming dengan pikirannya yang begitu cerdik. Sesekali dia menunjukkan wajah yang menyimpan begitu banyak akal.

__ADS_1


Aku yang duduk semakin kedinginan. Tubuhku rasanya mengajakku ingin berbaring. Obat yang baru aku minum tak ada reaksi sedikitpun malam ini. Lemas yang berkepanjangan membuatku terlihat seperti orang bodoh. Tak ada semangat sedikitpun terlihat memancar dari wajah ku. Apalagi untuk memaksa tubuhku untuk bergerak bebas.


Ingin sekali aku menarik adikku pulang kerumah. Tulang punggung belakangku yang menopang tubuhku duduk terasa semakin nyeri. Kabut malam dengan angin berhembus begitu dingin menutup mataku yang sayu.


" Ana, ayo lah kita pulang!" Ajak ku pada adikku yang masih terobsesi bermain. " Ini sudah jam berapa?" Aku mengajak adikku dengan suara lirih dan wajah yang lesu.


Rahmadani yang berdiri dekat adikku diam dan menatapku dengan kasihan. Dia pun menatapku dengan lekat dan mengalihkan tatapannya kembali pada adikku.


" Ana, pulang saja! Kasihan kakak mu." Dengan suara yang pelan.


Seketika adikku pun memalingkan wajahnya melihat ku. Adikku yang manja dan egonya yang begitu kuat. Akhirnya, dia mendengarkan Rahmadani dan mengurungkan keinginannya untuk bermain. Wajahnya tiba-tiba berubah sedih melihat ku.


" Ya, sudahlah!" Dengan pasrah adikku merelakan untuk pulang kerumah. " Ayo kak! Kita pulang." Adikku menarik tanganku membawaku pulang dengan sedikit wajah yang kecewa. " Kak, kenapa kakak belum sembuh?" Tanya adikku penasaran. Dia pun mengayunkan kakinya dengan perlahan.


Seketika hatiku terhenyak mendengar pertanyaan adikku. Adikku bertanya dengan celetuk tanpa memikirkan hati orang yang berada disampingnya.


Aku hanya diam seribu bahasa tak ada kata yang bisa aku ungkapkan. Hanya rasa kecewa dan harapan palsu yang menemaniku saat ini.


Berkali-kali aku dihempas oleh harapanku sendiri.


" Kak, Ibu kesayangan kakak belum pulang." Kata adikku melihat ku.


Aku diam mendengar celetuk adikku pada ku. Aku hanya fokus pada tubuh lemah ku yang tiba -tiba membuatku setengah sadar. Seketika kesadaran ku akan kembali normal.


Adikku hari ini. Dia begitu terlihat seperti orang yang baru tak seperti biasa. Kami berjalan begitu menikmati suasana malam yang hening. Angin yang berhembus pun begitu membuatku tenang seakan pikiran ku terhipnotis terbang melayang.


Saat ini aku begitu merindukan bangku sekolah ku yang telah lama aku tinggalkan. Kerinduan yang ntah, kapan? Bisa terobati. Sakit yang mendera ku kini sudah hampir memasuki satu bulan lamanya. Namun, tak belum ada penawar yang bisa menyembuhkan demamku yang tinggi.


Perjalanan telah aku lalui bersama ayahku untuk kesembuhan ku. Namun, lagi-lagi belum membuahkan hasil. Hingga saat ini aku harus mendekam didalam rumah sepanjang hari.


Terkadang aku sempat tersulut emosi melihat diriku yang tak kunjung tiba untuk sembuh. Tapi, apalah dayaku semua itu kembali lagi kepada yang Maha Kuasa. Hanya Allah yang tahu. Apakah? Aku sembuh atau tidak.


"Kak, Ayo masuk!" Adikku menarik tanganku.


Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega. Tubuhku yang tadi terasa dingin akibat terkena hembusan angin kini berangsur menghilang.

__ADS_1


Mataku yang panas mulai terlelap rasanya.


Adikku begitu takut terlihat dari wajahnya. Dia berulang kali melihat jam dan melihat keluar. Berjalan memutari ruangan kami yang kecil. Aku yang duduk di kursi ayahku melihatnya tidak tenang.


"Ana, kau kenapa?" Tanyaku ingin tahu menatap adikku yang masih saja tidak tenang.


"Kak,aku takut Ayah tahu kalau kita tadi keluar." Tergambar jelas dari wajah adikku begitu frustasi. " Kalau ada nanti yang mengadu sama Ayah,bisa kenak marahi kita." Adikku begitu depresi.


" Tadi kan, cuman kita bertiga, Kakak, kau dan Rahmadani." Menatap adikku dengan lekat. " Apa ada yang lain yang melihat kita?!" Aku bertanya kembali dengan penasaran.


Adikku terlihat murung." Aku gak lihat!" Dengan membuang pandangan nya secara bebas.


Malam pun semakin larut. Jam dinding pun semakin berputar. Namun, ibu sambung kami belum juga kembali. Ayahku pun demikian, tak biasanya ayahku pulang selama ini!


"Ibu kesayangan kakak kemana?" Tanya adikku menimbulkan kekesalanku.


"Gak tahu!" Dengan ketus aku menjawab pertanyaan adikku.


Aku pun menatap nanar keluar. Hamparan luas yang gelap lebih menenangkan jiwaku dari pada mendengarkan omongan adikku yang menyebalkan.


" Kak, kakak lihat apa diluar?" Adikku yang ngemil melihat ku dengan ingin tahu.


Aku memalingkan pandangan ku ke arahnya.


" Gak ada!" Jawabku dengan kesal sambil melihat dia terus menghabiskan jajan yang ada ditangannya.


"Kalau gak ada, ngapain kakak melihat keluar?" Tanya adikku yang ingin tahu tentang diriku. Adikku terus ngoceh dengan makanan yang memenuhi mulut kecilnya.


Ntah, apa lah mimpi ku? Sampai aku mempunyai adik sebawel ini. Dia harus tahu semuanya tentangku.


Terkadang aku sudah ingin menyerah menghadapi adikku yang begitu over. Aku lemah tak berdaya menghadapi sikap adikku yang lebih mengutamakan egonya.


"Kak, jangan diam lo!" Adikku terus bersuara membuyarkan ketenangan jiwaku yang baru sebentar saja singgah.


Setiap detik,menit dia terus membuatku ikut dalam aksinya yang terus keluyuran. Adikku tak pernah mau mendengarkan siapapun saat ini. Hanya, keinginannya yang paling bertahta dalam hidupnya kini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2