Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Malam Hari Part 3


__ADS_3

Setelah aku selesai mengaji dan menyusun semuanya dengan rapi ke tempatnya. Jam malam pun, berlalu dengan perlahan.Angin semilir malam berhembus dingin ke tubuh mungilku. Menembus kulit tubuhku yang mungil masuk melalui pintu dan celah kecil dari dinding papan rumah kami.


Malam yang mencekam membuatku berpacu dengan kegiatan ku selanjutnya.Makan malam yang telah selesai juga membuatku bergegas dengan cepat menaruh piring kotor ku dan membersihkan bekas makanan ku yang terjatuh dilantai.


Sementara dari arah dapur kulihat ibu sambung dan Ayahku duduk berdua menikmati hidangan yang terletak dihadapan mereka.Dengan penuh hikmat mereka menikmatinya dengan tenang.


Tidak berapa lama dari dudukku yang membersihkan bekas makanan ku. Mendengar canda tawa mereka dari belakangku.Aku yang diam kini beranjak menaruh piring kotor ditempatnya berjalan dengan mengalihkan pandangan dari mereka.


Piring kotor yang tersusun rapi ditempatnya kulihat begitu banyak. Aku pun, menyusun piringku tadi ditempat itu dengan rapi.


Ruangan dapur yang tadi terlihat mereka berdua makan dengan tenang kini beranjak. Ibu sambung kami pun pergi masuk kekamar setelah dia membersihkan tangannya. Sedangkan, ayahku menuju adikku yang duduk di kursi yang sering digunakan ayahku untuk makan.


Ayahku berhenti ketika dia melihatku keluar dari ruangan dapur.


"Liyan! Setelah ini kamu dan adik mu langsung tidur karena adikmu besok mau sekolah."Kata ayahku dengan tegas.


"Ia ,Ayah." Aku menunduk menjawab Ayahku.


Ayahku pun, memutarkan badannya kembali menghampiri adikku yang duduk di kursi makan dia. Sementara, aku yang berdiri disamping ayahku mendengarkan semua apa yang dikatakan ayahku kepadaku. Dengan diam aku menatap ayahku sesekali mencoba mengangkat kepalaku.


"Ya, sudahlah!" Kata Ayahku sambil mengayunkan tangannya sebagai isyarat. Aku boleh meninggalkannya dan masuk kedalam kamarku.


Sementara dari belakangku. Sambil berjalan terdengar suara manja adikku yang manis lagi bicara kepada ayahku. Setelah, beberapa menit aku pergi berlalu dari mereka.


"Ayah, Ana tidur sama Ayah lagi, ya!" Kata adikku kepada Ayahku dengan rayuan manjanya. Aku yang berjalan menuju kamar mendengarnya dari belakangku.


Dengan penuh penekanan Ayahku."Untuk malam ini. Anak Ayah tidur sama kakak,ya!" Kata ayahku kepada adikku yang kudengar dari belakangku.


"Liyan."Teriak Ayahku dengan pelan.Mendengar panggilan Ayahku sontak aku menghentikan langkahku memutar badanku menatap ayahku.

__ADS_1


"Ia,Ayah." Aku pun, berjalan dengan cepat menghampiri Ayahku.


Dengan lekat ayahku menatapku." Malam ini adikmu tidur bersama mu. Besok pagi bangunin dia!" Kata ayahku dengan membelakangi ku kembali sambil membersihkan meja makan yang berserakan karena bekas makan adikku.


Aku berdiri dibelakang ayahku hanya diam mendengar apa yang dikatakan ayahku. Seketika, aku memalingkan wajahku menatap adikku yang berdiri merapat kepada ayahku. Dengan wajahnya yang seakan tidak mau tidur denganku.


Aku melihat adikku yang berputar kemana ayahku bergerak dia pasti ikut. Dia begitu berat melepaskan tangannya dari ayahku. Dan memegang tangan ayahku erat seakan, dia tidak mau dilepas oleh ayahku. Sementara, aku yang masih berdiri mendengar ibu sambung kami membersihkan tempat tidur.


Aku pun memberanikan diri untuk berbicara kepada ayahku.


"Ayah aku tidur duluan,ya!" Dengan mengangkat kepalaku yang tadi menunduk sebentar melihat ayahku.


"Ia."Kata Ayahku yang masih merapikan meja. Masih ada beberapa peralatan sekolah adikku berserakan diatas meja.


Aku pun masih berdiri sebentar menunggu adikku.Namun, dia yang rewel masih belum mau melepaskan genggamannya dari Ayahku.


Ayahku pun, seketika diam dan melihat adikku yang merengek dengan wajah kasihan. Ayahku pun diam setelah melihat wajah adikku yang bersedih. Dia pun seketika mengalihkan pandangannya ke meja. Aku terus berjalan melihatnya dari ekor mataku.


"Ayah aku tidur duluan, ya!" Kataku kembali mengulang perkataan yang sama kepada ayahku. Berhenti sejenak memutar sedikit kepala menghadap ayahku.


"Ia."Kata ayahku tegas."Tunggu!" Aku pun menghentikan langkahku."Tolong, taruh dulu piring kotor adikmu ini ke dapur!" Aku memutar badan melihat ayahku dan mengambil piring yang di ulurkan ayahku kepadaku.


"Baik,Ayah!" Mengambil piring dari tangan Ayahku berjalan memasuki ruangan dapur meletakkan piring kotor.


Setelah aku meletakkan piring kotor.Aku langsung pergi ke kamar untuk tidur. Sambil berjalan aku melihat dari ekor mataku. Ayahku masih terlihat bingung dengan adikku. Sementara, adikku masih terus duduk menempel sama ayahku.


Dengan diam membisu seribu bahasa. Aku melangkah menuju kamar dan meninggalkan mereka berdua, Ayah dan adikku.


Malam yang semakin larut. Jam dinding pun terus berputar dengan semaunya. Dentingan nya pun, terus terdengar dengan keras menunjuk pukul yang semakin larut. Mataku yang lelah kerena mengantuk dan tubuhku yang sudah gemulai membuatku ingin segera tidur.

__ADS_1


Malam ini adalah malam dimana aku harus tidur dengan adikku yang manja dan bawel.


Aku yang berjalan terus memasuki kamar tidak mendengar suara berisik ibu sambung kami yang membersihkan tempat tidur kamar ayahku.


Sementara, aku mendengar dari kamar.Suara adikku masih asyik mengajak Ayahku bermain. Aku yang sudah masuk dan naik ketempat tidur mendengar mereka yang berada diruang tamu begitu berisik. Aku pun, merebahkan badan dan menarik selimut.Tidak berapa lama dari kamar aku mendengar ayahku bernyanyi. Didalam kamar aku yang berusaha memejamkan mataku mendengar lagu yang keluar dari mulut ayahku. Lagu itu adalah lagu yang sering dinyanyikan dia ketika, mengayun adikku,kalau tidur diayun!


"Ayah besok Ana, kan mau sekolah."Kata Adikku."Siapa yang mengantarkan Ana kesekolah besok pagi Ayah."Dari dalam kamar aku masih mendengar perbincangan mereka berdua. Dengan suara adikku yang manja dia mengutarakan isi hatinya kepada Ayahku.


"Ana,kamu besok pergi sekolah bersama dengan kakak mu!" Kata Ayahku.


"Engga mau Ayah."Kata adikku kesal."Ana maunya diantar sama Ayah besok." Kata adikku protes.


"Ana, kenapa kamu tidak mau pergi bersama kakakmu? Kakakmu pergi sekolah juga tidak ada yang mengantar." Kata Ayahku.


"Mm! Ana tidak mau Ayah. Ana maunya diantar sama Ayah besok. Kalau Ayah tidak mau mengantar Ana,ya sudah. Ana besok tidak sekolah!" Kata adikku dengan suara ngambek.


Dari dalam kamar dengan mata yang sudah melemah aku mendengar mereka berdua terus berdebat. Tidak berapa lama aku membuka mataku kembali. Berusaha membesarkan pendengaran ku. Hanya kesunyian yang ku dengar. Mereka yang tadi berdebat kini sudah senyap dan diam.Tidak ada suara sama sekali. Hanya suara gesekan tali ayunan yang terdengar di telingaku.


Suara Ibu sambungku pun, tidak ada terdengar sama sekali.Begitu, juga dengan Ayahku. Dia hanya diam. Hanya terdengar suara gesekan kakinya dilantai dan suara batuknya sesekali.


Sementara, suara jam dinding masih terus ribut dengan putarannya.


Aku yang berada diatas tempat tidur masih menatap lurus kedinding kamarku dengan samar-samar. Aku menatap dalam penglihatan ku yang samar. Yang tidak lain, aku melihat tas sekolahku yang tergantung.


Didalam hati aku terus menghitung jumlah paku yang tertancap didinding kamarku.Paku yang sering ku gunakan untuk menggantung tas,pakaian sekolahku dan pakaian harian ku.


Sementara dari luar kamarku. Aku masih mendengar Ayahku bernyanyi dengan suara yang begitu pelan tapi masih terdengar di telingaku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2