
"Iya, asyik dong, Yah. Berarti kami akan pergi jalan-jalan naik becak ini," kata adikku tersenyum sumringah.
"Huft"
Adikku begitu senang sekali terlihat. Sementara aku begitu lirih melihat ayahku yang begitu besar perjuangan terhadap kami, anak-anaknya. Ayahku yang bela-belain datang ke sekolah kami hanya untuk menjemput kami yaitu, kedua putri ke sayangannya. Berdiri di sudut ruas jalan terlebih dahulu.
"Sudah, Nak," kata ayahku naik ke atas becak sambil melihat kami.
"Sudah Ayah," jawabku.
"Ayah, kita mau kemana?" tanya adikku yang duduk tepat di sampingku.
"Temani Ayah ke pasar dulu, ya!" pinta ayahku sambil menggoet becak yang di bawanya.
Sejenak aku diam menatap nanar ayahku teringat yang di katakan oleh Tania dan Ecy. "Hahaha , nanti ke pasar beli sepatu , ya ! Jangan beli ikan !" Sontak aku langsung menunduk setelah mengingatnya dan melihat sepatuku yang sobek. Tawa mereka berdua masih terdengar di telingaku hingga saat ini. Tawa yang menertawaiku dengan celaan yang dengan sengaja di lontarkan kepada 'ku masih melengking terdengar.
Adikku yang tidak pernah menghadapi perlakuan buruk seperti diriku. Dia begitu senang menikmati perjalanan dengan becak ini. Adikku sama sekali tidak menaruh kecurigaan atas diriku yang diam melihat dengan pandangan kosong ke depan.
"Horeee, aku suka naik becak ini, Kak." Adikku melihatku sambil berdiri menjerit. "Kita jadi, bisa melihat semuanya dengan jelas," pekik adikku di tengah udara yang kosong. "Coba lihat, Kak! Itu di sana banyak orang yang berjalan." Adikku semakin mengaum dengan senang seolah dia tidak pernah bahagia.
"Ana, duduk! Nanti kau terjatuh." Aku menarik rok adikku menyuruhnya duduk.
"Sebentar lagi, Kak. Aku belum pernah naik becak ini," ungkap adikku dengan polos. "Ayah, ternyata naik becak ini asyik juga, ya," cetus adikku dengan senang. "Aku jadi, bisa melihat semuanya dan bisa berdiri juga,' cetus adikku dengan sumringah.
Aku yang berdiri mengikuti adikku. "Emang naik becak Ayah yang selama ini tidak bisa berdiri?" tanyaku pada adikku.
"Bisa Kak, tapi tidak selebar ini. Kita bisa berjalan. Kita bisa berputar-putar," ucap adikku sambil berputar memperagakan dengan senang.
Sementara ayahku terus saja mengayuh becak dengan tenaga yang terkuras habis. Wajah senja ayahku terlihat sangat letih menatap jalan lurus yang di lalui di bawah awan mendung yang menutupi matahari. Dia semakin kencang mengayuh becaknya agar segera sampai dan tidak terkena hujan.
"Ana, hati-hati! Awas jatuh!" kata ayahku sambil mengayuh becak dan melihat lurus ke depan.
"Ayah, tidak usah terlalu kencang membawa becaknya," tegur adikku. Sok dewasa.
Aku yang berdiri bersama adikku masih tetap saja diam dan melihatnya yang berbicara dengan wajah yang terlalu senang.
"Ayah, kalau hujan, tidak apa-apa," lanjut adikku yang menggemari hujan. "Na-na-na-na-na." Adikku pun terus berputar-putar menari dengan senang seakan dia seolah -olah sedang bermain hujan.
"Ana, coba lihat!" Aku menunjuk ke atas langit tepatnya menunjuk awan yang mendung. "Pasti asyik, Dik." Aku pun berputar, seperti yang dilakukan adikku dengan nada irama, seperti yang dinyanyikan oleh adikku. "Na-na-na-na-na, Hahaha!" Kami berdua pun menyanyi bersama sambil tertawa riang.
Becak yang di kayuh ayahku pun terdengar sangat ramai karena nyanyian kecil kami yang begitu ceria. Awan mendung yang semakin pekat membuat aku dan adikku semakin bahagia.
"Kak, sebentar lagi akan turun hujan," kata adikku.
"...dan sebentar lagi kita akan mandi hujan." Aku melompat-lompat kecil di atas becak dengan senang menyambut turunnya hujan dan melupakan sejenak sepatuku yang sobek.
Sepatu sobek pun semakin berputar dengan gembiranya. Ia seperti terlihat baik-baik saja. Ia sama sekali seakan tidak pernah sobek.
"Tidak, Nak. Nanti kalau hujan kalian berdua akan basah dan sakit," ucap ayahku meminggirkan becaknya di tempat parkiran.
Sontak aku dan adikku terhenti dan diam. Kami saling bertemu pandang dengan sorot mata yang penuh tanda tanya. Kami terhenti seakan telah melakukan kesalahan.
" 'Kan enak, kalau basah, ya 'kan, Kak?"bisik adikku di telingaku bertanya.
"Ayah benar, Ana. Nanti kita akan sakit," jawabku menyela omongan adikku.
"Kita 'kan bermain hujan cuman sekali ini saja." Adikku menatapku dengan melebarkan bola matanya.
"Kakak tahu, Ana. Tapi yang dikatakan Ayah tidak salah juga," cetusku membalas tatapan adikku.
"Uuaaghhh!" Adikku cemberut kesal.
Aku yang tetap diam saja menjatuhkan tubuh duduk sambil menutupi sepatu yang sobek agar tidak terlihat oleh ayahku dan menatap ayahku yang turun dari becak. "Nak, sebentar ya. Ayah belanja dulu, membeli ikan,' terang ayahku berdiri melihat ke arah kami berdua.
"Iya Ayah. Jangan lama-lama, Yah. Karena aku takut di sini!" sahutku melihat sekeliling pasar yang di penuhi oleh para pedagang dan pembeli yang berkeliaran ke sana kemari.
"Kenapa Kakak takut? Di sini 'kan, ramai," tanya adikku sambil memutar kepala melihat orang -orang yang berjalan.
"Ayah tahu, kalian takut," jawab ayahku. "Ayah tidak akan lama kok. Cuman sebentar, ya Nak," kata ayahku dengan lembut.
"Iya Ayah," jawab adikku dengan nada suara manjanya.
Ayahku pun memutar badan melangkah lurus menelusuri jalan raya yang sesak. Aku dan adikku yang di tinggalkan ayahku duduk di atas becak membuka kedua bola mata melihatnya yang terus berjalan sampai menghilang.
Awan mendung yang semakin gelap dan angin yang dingin berembus menerpa wajah hingga membuat tubuh ini sedikit dingin dan rambut ini berantakan semakin kencang berembus.
Aku yang masih sedih dengan diriku yang malang. Menatap sepatuku yang sebelah kanan yang sobek dengan lirih. 'Hari ini aku akan menikmati sepatu yang sobek ini,' gumamku memegang sepatu dengan lembut. Aku terus saja menutupinya dengan tanganku agar adikku yang duduk di samping dan melihat ke arahku tidak melihat sepatu yang sobek ini.
"Kak," panggil adikku melihat ke bawah tempatnya ke arah sepatu.
"Iya," jawabku sambil meletakkan jemariku di atas sepatu.
Adikku yang polos tidak menyadari dan sedikit pun tidak merasa curiga. "Kakak malu tidak kita naik becak ini?" tanya adikku.
Glek!
Sontak aku terkejut menatap adikku dan menelan ludah. Pertanyaan ini membuatku sangat terhenyak karena harus mengatakan apa kepada adikku. Aku pun diam melihat adikku yang spontan menanyakan itu.
"Ana, Kakak tidak malu," jawabku dengan polos.
Adikku sejenak diam menatap nanar ke depan. "Aku juga sama, Kak tidak malu." Adikku menatap lurus ke depan sambil bermain-main memutar jemarinya. "Tapi... kalau temanku melihat... ." Adikku sedikit diam dengan gurat wajah pilu.
__ADS_1
"Kenapa? Kau malu kalau temanmu melihatmu naik becak ini?" tanyaku dengan penuh tanda tanya kepada adikku. "Apa temanmu ada yang mengejekmu?" tanyaku kembali.
Adikku mengangguk pelan dan diam. Melihat ke bawah tempatnya ke lantai becak yang kami duduki.
Deg!
Aku sontak diam membisu mendengar ucapan adikku. Aku diam menatap nanar ke depan sambil teringat oleh temanku Tania dan Ecy. Sebenarnya yang di elakkan adikku itu, pantasnya untukku karena temanku lah yang suka mengejek, seperti itu. Darahku rasanya mau turun dan nadiku terhenti ketika mengetahui kenyataan.
"Temanmu yang mana, Dik?" tanyaku menghampiri adikku yang duduk di sampingku.
"Kak, Kakak tidak akan mengenalnya," ucap adikku menatapku dengan sendu.
"Kalau kau memberitahunya, pasti Kakak akan mengenalinya?!" Aku menatap lekat adikku yang tiba-tiba bersedih.
Adikku langsung melihatku kembali. "Kakak itu penakut. Mana mungkin, Kakak berani menghadapi temanku?! Sedangkan Ayah saja menyuruhku untuk menjaga Kakak di sekolahan," ungkap adikku.
Aku pun langsung diam melempar pandangan ke segala arah. "Iya, iya kau benar," balasku dengan kesal.
"Jadi, Kakak marah." Adikku kembali menatapku. "Kenapa Kakak marah dengan 'ku?" tanya adikku kurang senang.
"Kakak tidak marah padamu," jawabku.
"Lalu, itu apa?" lanjut adikku bertanya.
"Tidak ada apa-apa," jawabku merajuk.
Pertengkaran kecil pun layaknya, pertengkaran anak-anak terjadi di atas becak yang berhenti. Aku dan adikku semakin saling tuding antar aku yang penakut dan dia yang pemberani.
"...biar Kakak tahu. Aku jauh lebih berani dari pada Kakak," ungkap adikku.
"Engga juga! Kakak juga berani sama seperti mu!" tandasku.
"...Kakak masih ingat tidak? Waktu itu teman Kakak yang menyerang Kakak di lapangan sekolah." Adikku menatapku.
Aku langsung memutar otak untuk mengingatnya. Kejadian yang telah terjadi beberapa bulan yang lalu yaitu, pertengkaran antara temanku dan Tania juga Ecy yang sengaja ingin mengejekku. Memaksa memori ini untuk membuka slide masa lalu yang kelam itu. "Iya, Kakak masih ingat." Aku menunduk menjawabnya.
"Nah, ingatkan? Siapa coba yang membela Kakak dan ingin menghajar teman Kakak itu?" Adikku dengan penuh penekanan bertanya dan menatapku lekat.
Aku langsung menaikkan kepala dengan lembut. "Kau." Menatap adikku.
Adikku langsung memalingkan pandangan dariku melihat ke depan. "Jadi... ." Adikku berkata. "...aku tidak takut 'kan, Kak," ujar adikku dengan nada suara lembut. "Hanya Kakak yang takut," imbuhnya.
Aku pun langsung menepis dugaan yang di ucapkan adikku terhadapku. "Engga! Kakak bukan takut. Tapi... ." Aku sedikit diam.
"Tapi... apa, Kak?" tanya adikku langsung menatapku.
"Tapi Kakak takut kalau sampai guru Kakak mendengar Kakak bertengkar... ." Aku menunduk. "...Ibu itu akan mengadukannya pada Ayah," cetusku.
"Dan... ," sambung adikku.
"Hahaha!" Adikku langsung tertawa lebar seakan dia geli mendengar ketakutanku akan kemarahan ayahku. "Aku jadi heran melihat Kakak." Adikku sambil tertawa. "Kakak itu sangat takut dengan Ayah, hihihi!" Tawanya semakin geli.
Aku yang melongo melihat adikku begitu bingung. Dia begitu senang menertawakan aku. Padahal yang aku lakukan tidaklah salah. Ayahku memang sangat kami takuti di rumah terkhusus untuk diriku.
Aku yang sering di tuntut sebagai anak pertama sering mendapat perlakuan yang tidak adil dari sekelilingku. Terutama dari kedua temanku yang sering membuly dan mencela dengan sepuasnya.
Aku ingin sekali melawan mereka atas bulyan dan celaan yang mereka lontarkan dengan jelas. Namun, semua itu harus kutahan demi nama baik ayahku. Aku yang sering mendapat peringatan dari ayahku sebagai anak pertama harus berhati-hati dalam bertindak dan bersikap di luar.
Ayahku yang sering menyuruhku untuk menjadi contoh yang baik terhadap adikku membautku sangat dilema sebenarnya. Di mana aku harus menjaga sikap agar terlihat baik-baik saja demi masa depan keluarga kami yang miskin.
Aku yang duduk tepat di samping adikku menatap lurus dengan segelintir gerutuan kecil di dalam hati. Aku begitu tidak terima kalau adikku mengatakan, kalau aku takut dengan Tania dan Ecy. Tapi apa dayaku semua tidak bisa kulakukan sesuai keinginanku.
Aku yang terduduk di atas becak pun semakin lama rasanya semakin ingin terpuruk. Lontaran kata-kata penakut yang ditudingkan adikku terhadapku semakin membuat sebal.
"Hahaha!" Adikku kembali tertawa melihatku. "Kak, jangan terlalu di pikirkan. Nanti Kakak sedih," tegur adikku menahan tawa.
"Iiisss, Kakak engga mengingat itu!" dalihku menutupi dari adikku.
"Yang benaaar," goda adikku sedikit memancing agar aku membuka mulut.
Aku semakin kesal di buat adikku yang sengaja ingin memancing amarah. Tatapanku yang sinis pun meliriknya dengan tajam. Namun, sayang adikku tidak begitu menghiraukannya. Dia tetap saja berlagak, seperti orang yang tidak membuat kesalahan. Ketenangan dan keteduhan adikku begitu sumringah terlihat. Sama sekali adikku tidak merasa terbebani dengan apa yang dikatakannya terhadapku.
"Kak, becak ini sangat adem, ya?" Adikku bergeming sambil memutar balikkan suasana seakan menjadi tenang.
Aku yang merasa tersindir sedikit oleh adikku. Memutar badan melihat ke arah samping kiriku yang tidak sengaja aku melihat ayahku yang berdiri dengan bungkusan pelastik yang dipegangnya dengan erat.
"Ana." Aku menarik lengan adikku dengan tatapan yang masih melihat ke arah ayahku.
Ayahku yang bergulat dengan kerumunan orang-orang yang sedang berbelanja juga. Terlihat berdesakan ingin berjongkok sambil memilih sayuran yang terletak.
Ayahku yang telah ringkih seakan ingin terjerembab ke bawah akibat dorongan dari beberapa pembeli yang sibuk ingin segera pergi karena awan mendung yang sudah tebal menutupi bumi.
"Ada apa, Kak?" tanya adikku.
"Ana, itu Ayah." Aku menunjuk dengan pandangan masih mengarah ke arah penjual sayuran.
"Ayah! Dimana Kak?" tanya adikku penasaran.
"Itu!" Tunjukku dengan mengayunkan telunjuk ke udara.
Adikku pun langsung bergeser mendekat dengan 'ku. Mana Kak?" tanya adikku.
__ADS_1
Seketika adikku mengikuti arah telunjukku yang bergerak di udara menunjuk ayahku.
Dengan nada suara yang pelan. "Iya Kak. Itu Ayah," ucap adikku.
"Ayo kita turun, yuk!" ajakku bergegas.
"Kak, itu terlalu padat. Nanti Kakak hilang," cetus adikku refleks.
"Ana, Kenapa kau do'akan Kakak hilang?" Aku menggerutu melihat adikku bertanya dengan kesal.
"Upss! Hehehe!" Adikku nyengir. "Maaf Kak." Adikku langsung memegang kedua telinganya sebagai isyarat kalau dia telah bersalah.
Baugh!
Aku langsung melompat dari atas becak menghampiri ayahku.
"Kaaak," teriak adikku dari atas becak.
Aku yang telah berjalan memutar sedikit kepala melihat adikku. "Kak, awas Kakak hilang," ulang adikku sekali lagi. "...dan awas juga, teman Kakak melihat Kakak, si Tania itu!" jerit adikku kembali dari atas becak.
Aku yang setengah langkah maju menghampiri ayahku berhenti. Memutar badan kembali berjalan ke belakang tepatnya ke tempat adikku yang sekarang berada.
"Ana, mereka tidak akan ada di sini!" tandasku berdiri di hadapan adikku.
"Aku hanya mengingatkan Kakak saja," sambung adikku dengan tenang.
"Terimakasih." Aku langsung memutar badan kembali menemui ayahku.
Sebenarnya aku bingung antara malu dan tidak. Akan tetapi, aku yang tidak mungkin bersikap kurang ajar kepada ayahku dan aku harus bersikap baik-baik saja karena ayahku adalah pahlawan untuk 'ku. Tidak ada yang bisa menggantikan ayahku, apalagi harus menjauhi ayahku dari kekurangannya.
Ayahku adalah orang tuaku satu-satunya yang tersisa saat ini. Setelah kepergian ibuku dia telah menjadi seorang ibu bagiku dan telah banyak berkorban demiku juga.
Jerih payahnya dalam memperjuangkan dan membesarkan kami itu tidak bisa di bayar dengan apapun, apalagi itu hanya dari cakap seorang anak yang tidak pantas untuk di dengar.
"Ayah." Aku menghampiri ayahku.
"Liyan, kenapa datang ke sini, Nak," tegur ayahku dengan lembut. Menolah ke arahku.
"Ayah lagi apa di sini?" tanyaku menyelidiki.
"Ayah lagi membeli sayur," jawab ayahku sambil memilih sayuran yang bagus.
"Ayah, tapi kami 'kan tidak suka makan sayur." Aku mengikuti ayahku berjalan ke sana ke sini.
Wajah letih ayahku yang telah setengah menua. "Tapi Ibumu, kan suka sayuran," tukas ayahku.
Aku sesaat diam. Berdiri melihat ayahku yang terlalu perhatian. "...dan kalian juga harus belajar makan sayur," imbuh ayahku.
Aku tetap diam dan menemani ayahku yang sibuk. Suara kebisingan dari kendaraan yang bersiliweran mendengung ke telinga sehingga menipiskan langkah ini untuk berlanjut. "Ayah, kita pulang saja," desakku.
"Sabar sebentar, Nak. Ayah membayar sayur ini dulu." Ayahku merogoh kantongnya dan mengambil uang .
Aku yang melangkah mundur. Menunggu ayahku keluar dari kerumunan orang-orang. Terus melihat awan yang telah menggelap dan melihat adikku yang sekarang lagi duduk di atas becak.
Becak yang teronggok di sudut ruas jalan masih berdiri di tengah -tengah kendaraan yang terparkir dengan padat. Lulu lalang dari para pejalan kaki terlihat sesak masih memadati para pedagang yang menjajakan barang dagangannya.
"Kak." Terlihat gerakan bibir adikku ketika setengah kepalaku memutar menatapnya. Isyarat dari gerakan tangan adikku terlihat seakan dia bertanya, kapan pulang?
Aku yang mengetahuinya hanya menjawab dengan menaikkan sedikit bahuku sebagai isyarat aku tidak tahu.
Wajah adikku pun cemberut dengan kesal. Aku hanya menyimpulkan senyuman tipis melihatnya yang sudah gerah.
Sementara ayahku terlihat begitu tergopoh-gopoh membawa barang belanjaannya. Tubuhnya yang sudah ringkih pun seakan sesak keluar dari kerumunan para pembeli dengan bungkusan pelastik yang dibawanya.
Aku begitu tidak tega melihat ayahku yang sudah tidak berdaya. "Ayah, aku akan membantu Ayah." Aku mengulurkan bantuan mengambil sebagian belanjaan dari tangan ayahku.
"Nak, ini berat," kata ayahku terus berjalan mempertahankan dirinya di tengah kerumunan.
Kreeek!
Aku tersenggol hingga ingin terpelanting. "Ayaaah," teriakku dengan menangis.
Kerumunan yang padat seakan membuatku semakin terbenam. Tubuhku yang kecil mungil membaut aku tidak bisa menahan mereka yang bertubuh besar. Aku semakin terjepit diantara mereka yang bertubuh besar. Kakiku yang kecil kini terinjak dengan kuat oleh ibu-ibu yang bertubuh besar.
"Huhuhuhu!" Suara tangisan pun langsung keluar di tengah kerumunan yang membuat diriku semakin shock. Aku yang tidak bisa melihat dengan lurus ke depan. Melihat uluran tangan yang mengayun tepat di hadapanku. Aku yang masih tertunduk melihat kakiku yang melangkah. Tiba-tiba terkejut melihatnya. "Liyan, ayo cepat, Nak!" Suara ayahku dengan lembut terdengar dan berdiri di hadapanku.
"Ayah," gumamku pelan dengan kedua mata berkaca-kaca menatap ayahku.
Rasanya aku seakan tidak dapat hidup lagi sehingga trauma pun menghantuiku dan membuatku diam membisu seperti orang yang baru mengalami kejadian yang buruk.
"Ayah aku takut," ungkapku dengan suara yang getir sambil melawan rasa takutku.
"Ayah 'kan sudah bilang. Tunggu di atas becak saja." Ayahku begitu sedih melihatku. "Untung saja kamu tidak hilang," tutur ayahku semakin pilu.
"Naiklah Nak!" pinta ayahku. Sambil menaikkan aku ke atas becak. "Sudah Nak. Tidak ada yang tinggal lagi 'kan?" Ayahku langsung mendorong becaknya keluar dari tempat parkiran.
Tidak begitu lama setelah aku naik ke atas becak. Ayahku pun mengayuh becaknya dengan kencang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...