
Aku dan adikku kembali terperanjat sambil menghapus dada.
Huh! Menghembuskan napas
"Kakak pikir entah siapa, Dek?" Menatap adikku.
"Dia ngagetin aja, Kak." Berdiri menatap ke tirai sambil memegang bola kasti.
Aku juga panik lalu menatap nanar adikku yang berdiri tepat di dekatku. Menggeleng kepala pelan, namun, sesekali aku melempar pandangan ke segala arah dengan acuh.
Sementara adikku terlihat masih mengintai dari balik tirai dengan hati-hati sambil mendekatkan wajahnya merapat sedikit ke tirai.
"Kak, ada bayangan yang jalan-jalan," ujar adikku. Meras takut.
"Coba buka dan tanya. Siapa dia?" ancamku dengan lembut.
"Kakak, nakutin aku, ya," celetuk adikku.
"Hahaha! Bukannya kau pemberani, ha?" Menatap adikku dengan tawa kecil.
Seketika wajah adikku berubah pias. Dia memutar badan sedikit bersandar tepat di dekat jendela dan menatap nanar keluar.
Hatiku begitu menderu melihat adikku yang memalingkan wajah polosnya dariku.
"Dek, jangan marah. Kakak minta maaf, ya," pintaku sambil memegang ke dua telinga sebagai isyarat menghukum diriku sendiri.
"Kita baru sebentar bermainnya, dia malah membuat aku kesal," rintih adikku. Menatap keluar melihat udara panas yang menyengat.
"Liyan! Suara apa tadi, itu." pekik ibu sambungku dari balik tirai.
Keringat dinginku kembali membasahi keningku dengan bahagia. "Tidak ada suara apa-apa, Bu," jawabku. Sedikit menjauh dari tirai.
Suara nyaringnya kini tiba-tiba mendadak sepi sehingga menggeser tubuhku sedikit mencari tahu. "Ternyata, dia sudah menghilang," bisikku mendekatkan bibir di telinga adikku.
Dia begitu panik dan tersentak. "Apanya yang sudah menghilang, Kak?" tanya adikku. Memutar kepala menoleh ke arahku.
"Ibumu," ledekku pada adikku. Melirik tirai yang tergerai.
Wajahnya begitu aneh terlihat, seperti kena sambar sesuatu yang menggelitik hatinya, sehingga membuat dia kembali menyeludup ke dalam lubang amarah yang memuncak. Aku begitu cemas melihatnya.
Adikku semakin meriang melihatku yang mencoba untuk menggodanya. Dia sesekali menunjukan wajah piasnya yang merona karena amarah.
Aku seketika mengeluarkan kejahilanku untuk membuatnya keluar dari amarahnya, meskipun tubuhku semakin tidak bisa lagi untuk bersahabat. Aku semakin lemah dan ingin sesekali tidur dengan lelap untuk melupakan sejenak sakit yang kuderita.
Adikku begitu egois sampai dia lebih menginginkan permainannya terus berlanjut untuk menghilangkan kejenuhannya dari pada melihat kondisiku.
"Kakak lagi apa?" tanya adikku pura-pura lupa.
Aku menoleh ke arah adikku sambil menatap dengan heran. "Tidak ada apa-apa," jawabku sedikit bertanya di dalam hati.
__ADS_1
"Aku mau melihat tangan kakak. Boleh tidak?!" Melangkah sedikit maju dan tersenyum licik.
"Tangan?!" Aku mengerutkan kening dengan penuh tanda tanya. "Kenapa bertanya tentang tangan Kakak?" Melihat adikku yang aneh.
"Kakak tidak perlu seperti itu melihatku! Berikan saja tangan Kakak, sesuai permintaanku," kata adikku memaksa.
"Kakak tidak mau!" tolakku spontan. Sedikit menjauh dari adikku.
"Kenapa Kakak tidak mau?" tanya adikku dengan kesal. "Kakak mau, kalau aku pergi." Adikku tersenyum smrik padaku mengeluarkan ancaman.
Aku kembali menghela napas sambil menelan kekesalan dengan kasar. "Emang kau mau pergi kemana lagi?" tanyaku.
"Keluar!" jawab adikku singkat.
"Kenapa harus keluar sih, Dek! Kalau Ayah sampai mengetahuimu pergi keluar, bisa tamat riwayat Kakak disini," rintihku semakin dalam.
"Ya, mau gimana lagi?! Kakak tidak mau memberikan tangan Kakak padaku. Terus aku bisa apa, Kak," balas adikku dengan suara manjanya. "Aku bosan di rumah terus," rengeknya.
"Jangan 'kan kau, Dek! Kakak saja bosan di rumah," keluhku dengan kesal.
"Sudah sewajarnya, Kakak di rumah." Melihat bola yang di pegangnya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Kakak 'kan sakit," cetusnya tanpa berpikir.
Aku ingin sekali menyela adikku dan mengatakan kalau aku tidak sakit, namun itu hanya sekedar ilusi yang menjadi penyemangat untuk diriku sendiri.
Adikku semakin gemilang menatap bola dan batu kecil yang dia susun dengan rapi di atas lantai. Dia pun, sesekali memutar kedua bola matanya menatapku dengan sedikit malu sambil menggerakan bibir seakan dia ingin berbicara padaku.
"Kenapa Kakak menunduk?" tanya adikku dengan santai.
Aku hanya diam dan masih menatap lantai dengan lirih seakan mengadukan semua isi hatiku dan menunjukan air mataku padanya. Bibir bisu pun, terasa begitu pahit ingin berucap.
"Kak, kenapa Kakak sebenarnya?" tanya adikku berusaha membuka mulutku.
"Tidak kenapa-kenapa. Sudahlah, kalau Kakak boleh tahu, emang untuk apa mu tangan Kakak?" Menatap adikku sambil menahan kesedihan.
"Untuk ini!" Menarik tanganku sambil meletakan bola kasti.
Aku begitu terperanjat ketika melihat bola kasti yang di letakan adikku di tanganku, rasanya aku ingin menjerit dengan sekuatnya.
"Kenapa kau memberi ini pada Kakak?" tanyaku dengan sedih.
"Ya, untuk bermain lah, Kak," jawab adikku tanpa beban.
"Kau 'kan tahu Dek, kalau Kakak tidak pandai main ini." Menatap bola kasti.
"Aku tidak yakin kalau Kakak tidak pandai. Kakak pasti berbohong untuk menghindar bermain bersama ku 'kan?!" Mengerutkan kening dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Tidak Dek, untuk apa Kakak berbohong." Menatap lantai.
"Ya, aku tidak tahu Kakak berbohong untuk apa?" Memutar badan sambil menatap keluar jendela.
Huh! Aku menghela napas kasar.
"Bagaimana sih, Dek? Menjelaskannya padamu, kalau Kakak sama sekali tidak berbohong," balasku.
"Lalu, kenapa Kakak menolaknya?" gerutu adikku semakin kesal.
"Karena Kakak takut." Menunduk. "Kalau nanti. Kakak melempar bolanya terkena dinding, bagaimana? Pasti Ayah nanti akan bangun?!" Menatap dinding kamar ayahku.
"Huh! Ayolah Kak! Ayah tidak akan bangun. Kakak melemparnya jangan kuat," usul adikku.
Aku semakin terkekang oleh adikku, keinginannya yang ambigu untuk bermain bola di dalam kamar membuatku semakin depresi.
Bola yang terletak di atas telapak tanganku membuat jantungku semakin deg-degan, keringat dingin di tubuh mungilku semakin menyeruak membasahi keningku.
Kedua bola mataku tiada henti mantap dinding kamar ayahku hingga mematahkan semangatku untuk bermain. Sementara adikku, dia masih diam, tanpa sepatah kata pun dan berkutat dengan egonya yang menguasai pikirannya.
Kaki lemahku perlahan aku ayun menghampiri garis yang tertera di lantai, menatap batu yang tersusun sedikit menjulang ke atas.
"Kakak akan mengikuti keinginanmu. Tapi ingat, kalau sampai mengenai dinding. Kau harus membantu Kakak untuk menghadap Ayah," kataku dengan tegas.
"Apa?!" Adikku terperanjat. "Membantu Kakak?!" Memutar kedua bola matanya seakan memikirkan yang kukatakan. "Tunggu dulu, Kak! Bagaimana mungkin aku bisa membantu Kakak?" tanya adikku kembali padaku. "Kakak 'kan tahu, kalau Ayah sudah marah." Mengingat tentang Ayahku. "Dia tidak bisa di redakan, Kak. Terlalu sulit untukku." Memutar badan dengan acuh membelakangiku.
"Itulah yang Kakak takut 'kan. Kalau kau tidak bisa membantu Kakak," keluhku.
"Makanya, melempar bolanya pelan, Kak." Mengambil bola kasti dari tanganku. "Begini caranya, Kak." Melempar bola.
Puk!
Wajahnya begitu tersenyum sumringah melihat bola yang menggelinding dan batu yang berserakan.
"Kakak sudah lihat, 'kan." Tersenyum melihatku.
Dia terlihat senang karena telah memperaktekan cara melempar yang benar, bak seorang artis yang sedang berakting.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1