
Ayahku duduk di kursi mendengarkan semua yang kusampaikan.
"Ayah! Liyan pulang terlambat bukan karena bermain. Tapi karena jam tambahan, Yah," Menatap ayahku, menjelaskan.
"Ayah begitu kecewa terhadapmu, Liyan," rintih ayahku. "Berkali-kali, Ayah telah memberimu peringatan," Mendengus kasar. "Apa kau pikir? Ayah selama ini pilih kasih antara kau dan Adikku. Semua yang Ayah lakukan itu hanya untuk mu, bukan untuk siapa-siapa. Apalagi menghalangimu untuk bermain. Kamu salah, Nak."
Aku hanya diam dan merasa bersalah. Menunduk sambil mendengar nasihat ayahku.
"Ini saja, Adikmu pergi entah kemana, iya 'kan?!" Menatap penuh selidik. "Adikmu selalu pergi keluar. Setiap di tanya, pasti ada saja jawabannya," Mengepal tangan kuat.
"Ayah! Kalau Ayah takut , Ana pergi sendiri. Bagaimana kalau pergi berdua sama Kakak?" sambung adikku tiba-tiba. Melemparkan pertanyaan pada ayah.
Aku dan Ayahku tersentak dan menoleh ke arah sumber suara.
"Ana!" gumamku pelan. Menatap adikku berjalan masuk dan menghampiriku.
"Kak! Ayah sudah lama marah, ya?!" Mengerjitkan alis.
"Iya," jawabku singkat. "Kau ini, kenapa kau bilang seperti itu pada Ayah?" gerutuku pelan.
"Kakak nangis, tidak?!" dalih adikku. Menatapku sambil meledek.
"Engga," jawabku spontan.
"Ana, kau dari mana?" tanya ayahku.
"Ya, bermain la. Masa dari mana lagi," timpal ibu sambungku.
Kami bertiga memutar kepala ke arahnya. Ibu sambungku berdiri dan melihat kami satu per satu.
"Anakmu, itu 'kan suka bermain. Apalagi kalau kau tidak ada. Dia langsung keluar, membawa mainannya yang di dalam plastik itu!" Menunjuk plastik dengan kedua mata.
Ayahku mendengus kesal. "Kau masih belum mengerti juga! Harus berapa kali, aku bilang padamu. Jangan sela aku, ketika aku memarahi Anakku!" bentak ayahku kembali.
Ibu sambungku terdiam. Menghela napas dan kembali keluar.
Ayahku memutar kepalanya kembali, melihat kami satu per satu. Sorot mata yang tajam, memerah melihat adikku.
"Ana! Kau tahu ini, apa?!" tanya ayahku menatap ke luar.
"Tidak Ayah," jawab adikku singkat.
"Itu panas!" sambung ayahku sambil melirik keluar. "Kalau kau keluar bermain. Kau nanti sakit," lanjutnya.
"Ayah..." Terdiam melirikku. "...lagian kami bermain di rumah, kok, Yah," balas adikku.
"Di rumah siapa?" tanya ayahku menyelidik.
Aku mendengarkan mereka yang saling tuding. Tawa geli kini menggelitik hatiku.
Adikku begitu lihai, mencari jalan agar dia tidak di marahi oleh ayahku.
"Ayah, lagian 'kan. Ana, bermain cuman sebentar. Lagi pula Ayah. Kami bermainnya di dalam rumah Rahmadani, kok," balas adikku. Memberi penjelasan untuk menyelamatkan dirinya.
"Rahmadani?! Siapa?" tanya ayahku semakin tidak mengerti.
"Temannya, Kak Liyan," cetusnnya. Melirikku sambil memohon.
"Apa?!" Terperanjat. Ayahku memutar kepala. "Benar Liyan?!" Menatapku mendelik. "Benar yang di bilang adikmu?!" tanya ayahku kembali.
Aku meremas jemari melemparkan lirikan tajam pada adikku. "Tidak, Yah," jawabku takut.
"Apa?!" Mantap kami dengan bingung. "Liyan!" teriak ayahku sedikit keras. Sorot mata tajam ayahku seakan menelanku.
Ayahku kembali memutar menatap adikku. Sementara, adikku berdiri di sampingku, dia terlihat santai.
"Kak, maaf," bisiknya di telingaku.
"Kau memang keterlaluan," bisikku kembali.
Ayahku masih berkutat dengan kebingungan yang mengesalkan.
"Apa kau punya teman baru, Liyan?" tanya ayahku. Mengangguk sebagai isyarat ingin tahu.
Jemariku semakin menjerit meminta pertolongan. Lidahku rasanya terkena perekat hingga membuat aku terbata.
"Ra-Rahmadani. Adiknya Widia, Ayah," jawabku.
"Widia?! Itu siapa?" tanya ayahku dengan singkat.
"Widia itu teman Li..." Aku langsung terdiam.
"Widia itu. Teman Kak Liyan, Ayah," potong adikku . Sok hebat.
"Jadi, kalian, Kakak beradik berteman dengan Kakak beradik, juga?!" serang ayahku, seakan tidak percaya.
"Bagaimana lagi Ayah?!" sambung adikku acuh.
"Di tempat tinggal kita, 'kan Anak-anaknya cuman sedikit," Menatap lantai dengan lesu. "Ada pun yang lain, Ayah. Semuanya Anak orang kaya. Mana mungkin, mau berteman dengan kami," ucap adikku sedikit kecewa.
Aku kemudian menoleh adikku dan menatap lurus ke depan dengan lirih.
Ayahku bergeming seketika. Menatap adikku yang mengadukan kesedihannya. Dia diam seribu bahasa, seperti terkena sambaran petir.
Raut wajahnya langsung terguncang oleh ombak yang keras.
"Benar Nak! Yang kau bilang?!" Menatap adikku dengan sendu.
"Iya, Ayah," jawab adikku. Sok imut melirikku menaikan alis.
Melihat lirikan adikku. Aku langsung menghela napas. Lagi-lagi adikku melakukan yang tidak terduga.
"Liyan! Siapa tadi yang di bilang adikmu, temanmu itu?" tanya ayahku berusaha mengingat.
"Widia Ayah," potong adikku spontan.
"Ya, itu! Widia, temanmu dari mana?" tanya ayahku menyelidik.
"Teman sekolah Ayah," jawabku.
"Tidak Ayah," kilah adikku langsung.
__ADS_1
Dadaku begitu terhenyak, memutar kepala menatap adikku tajam, ketika melihat wajah ayahku terperanjat dan memerah.
"Tidak!" sambung ayahku dengan penuh keheranan. "Tidak bagaimana?!" Wajah herannya, memerah menatapku.
"Tidak teman sekolah saja, Ayah. Kak Widia juga teman Kak Liyan satu permainan di sini juga," ujar adikku memberi penjelasan penuh penekanan. "Iya 'kan, Kak," Melirikku dengan smrik.
"I-iya Ayah," jawabku sedikit terbata.
"Pantesan, kau pulang sesuka hatimu!" cecar ayahku dengan acuh.
Bibir pucatku hanya bisa bergetar dan telinga hanya bisa mendengar.
Adikku terus saja menjebak menyampaikan apa yang dia inginkan.
"Ayah, itu tidak jadi masalah, kalau mereka berteman. Emang kenapa ?" sambung adikku . Menatapku yang jengah.
"Ayah bukan tidak mengizinkan, Kakakmu bermain. Tapi Ayah masih takut untuk melepasnya," ujar ayahku. "Di tambah lagi, Kakakmu terlambat pulang hari ini! Ayah semakin panik. Rasanya jantung Ayah mau copot."
"Tapi 'kan, teman Kak Liyan, orang terpercaya. Iya 'kan, Kak?!" Menatapku. "Ayah tahu tidak?! Kak Widia, itu Anaknya baik, kok Yah. Mana mungkin, dia mengajak Kak Liyan bermain jauh-jauh."
"Dari mana kamu tahu, Nak?! Kalau dia itu Anaknya baik. Dia 'kan bisa berbohong," Menatap nanar keluar sambil berpikir.
"Tidak Ayah. Kak Widia itu baik. Ana tahu, kok," kata adikku penuh keyakinan. "Biar Ayah tahu. Kak Widia itu sangat takut dengan Ibunya."
"Ana, itu bisa saja. Apa yang kita lihat tidak bisa langsung kita simpulkan, dia itu Anaknya baik," sambung ayahku tidak percaya.
"Ayah. Kalau Ayah melihatnya. Ayah pasti percaya dengan yang Ana bilang?!" lanjut adikku.
Mendengar adikku yang ngotot. Membuat ayahku menggeleng kepala menyerah.
"Anak Ayah terlalu polos," menatapku dan adikku. "Kalian begitu mudah percaya sama orang."
"Tidak juga Ayah," kata adikku. Menolak yang di bilang ayahku. "Ana tidak mudah percaya sama orang lain," Menatapku, seakan dia mengatakan kalau aku yang mudah percaya sama orang lain.
Ayahku semakin tanda tanya, melihat adikku yang menatapku.
"Kenapa Ana?" tanya ayahku penuh keheranan.
"Ha! Tidak Ayah," Adikku terperanjat.
"Kenapa kau menatap Kakakmu?" tanya ayahku ingin tahu . "Apa Kakak mu..." Menatap adikku.
"Tidak Ayah! Tidak ada apa-apa," jawab adikku seketika memotong pertanyaan ayahku.
Aku menyandarkan tubuh yang lemah sambil menahan suara parauku yang ingin keluar.
Mengepal tangan kuat, menahan amarah.
Tidak berapa lama keramaian yang bergemuruh terjadi. Aku menyeret kaki meninggalkan semuanya.
"Ayah! Liyan mau izin ke kamar," Menundukkan kepala pada ayahku.
"Pergilah!" Izin Ayahku dengan lembut.
"Ayah, kalau begitu Ana ikut, ya sama Kakak," Tersenyum manis.
"Iya! Tapi ingat jangan kalian bertengkar, ya," pinta ayahku memohon lembut.
Adikku pun tersenyum. "Iya Ayah," Berlari menghampiri diriku di dalam kamar.
Aku yang berdiri sambil merapikan pakaian seragamku yang terletak di tempat tidur.
"Kenapa kau bertanya seperti, itu?" tanyaku.
"Karena Kakak tadi diam saja," balas adikku.
"Apa pedulimu?! Kau 'kan, hanya menceritakan apa yang kau inginkan," sindirku menatap adikku lembut.
"Jangan seperti itu, Kak ! Jangan marahi Ana. Ana tahu, tadi salah," sesal adikku dengan lirih.
"Kau 'kan tahu, Dek! Kalau yang kau lakukan tadi itu salah," Menatap adikku lembut.
"Tapi, tadi maksud Ana lain ,Kak," sambungnya.
"Lain bagaimana ?" tanyaku ingin tahu.
Adikku yang berdiri tepat di dekatku mencengkram mainan di tangannya. Wajah lirihnya terlihat bersalah menunduk.
Menatap nanar lantai yang bisu mengadukan kelancangannya. Butiran kristal pun membasahi pipi dan palstik yang dia cengkeram.
Tubuh kecilnya gemetar mengeluarkan segugukan yang jelas di telingaku. Rasa bersalah terlihat dengan jelas dari raut wajahnya.
Hatiku sedih mendengar segugukan adikku yang manja. Perlahan aku memutar kepala menatapnya sendu.
"Sudah kamu jangan menangis! Nanti Ayah mendengar," pintaku. Memegang bahu adikku lembut. "Kalau Ayah sampai dengar dia pasti akan marah?!" lanjutku. "Jadi, Kakak mohon! Diam lah, Dek. Tolong," harapku dengan lembut.
"Makanya, tadi aku bilang kayak gitu, Kak. Biar Ayah mengizinkan Kakak keluar," sahut adikku.
"Mau ngapain Kakak keluar?!" tanyaku. Menatap gantungan baju.
"Bermain," jawab adikku singkat.
"Hahaha!" Tertawa geli. "Kau itu lucu sekali," Menatap adikku dengan gemas.
"Kenapa Kak?" tanya adikku.
"Kau jebak Kakak. Kau pula yang menangis," tandasku. Menggeleng pelan. Mengalihkan pembicaraan.
Adikku mengangkat kepala. "Aku bukan menjebak Kakak," menghapus air mata.
"Aku cuman sedikit pengen melihat Kakak terkejut," Menatapku dengan mata yang merah.
"Itu sama saja. Apa bedanya, ha?" Memutar kepala melirik adikku.
Adikku diam menatap lurus ke bawah dengan kosong. Berdiri mematung mendengar ocehanku. Mainan yang dia genggam di taruhnya di tempat tidur.
Tanpa sengaja aku melirik adikku tepat di samping hingga merenggangkan hati yang kesal.
Wajah sendunya kini terduduk di tepi tempat tidur. Manggantungkan kedua kaki sambil memangku penyesalan.
Kaki lemahku menyeret tubuh mendekati adikku yang sepi.
__ADS_1
"Kau kenapa bersedih?" tanyaku.
"Siapa yang sedih?" sahut adikku menutupi. "Aku engga sedih. Aku cuman kepikiran sama, Kak Widia," dalih adikku.
Aku duduk dan menghela napas. "Kenapa kau sedih mengingat Widia?" tanyaku ingin tahu.
"Apa Kakak tidak sedih?" Memutar kepala menatapku yang duduk di sampingnya.
"Tidak," jawabku tidak mengerti. Menggeleng.
Adikku kemudian memutar kepala sambil menghela napas. Dia begitu jengah melihatku.
"Kalau sampai Ayah mencari Kak Widia dan bertemu. Bisa gawat, Kak," ujar adikku. "Ayah bisa memarahi Kak Widia karena telah membawa, Kakak," timpal adikku penuh keyakinan. Menarik bibirnya.
Sepertinya yang di ucapakan oleh adikku itu benar. Ayahku 'kan seperti itu. Dia selalu mencari orang yang selalu dekat dengan ku. Kali ini, dia pasti akan mencari Widia sampai ketemu.
Jantungku rasanya berhenti dan tanganku langsung keringat dingin. Memutar kepala menunduk dan menutup mulut rapat.
Adikku begitu yakin dengan pemikirannya. Sampai dia begitu mengkhawatirkan Widia.
"Kalau sampai Ayah memarahinya. Dia pasti akan menjauhi Kakak?!" cetus adikku. Menatapku dengan penuh keyakinan.
Jantungku semakin deg-degan. Aku begitu syok mendengarnya. Napas yang aku hirup tidak lagi bisa keluar dengan sempurna.
Ocehan adikku mengenai Widia masih terus terurai mengisi alun-alun kamar kami.
"Bagaimana Kak? Kalau sampai Kak Wadia menjauhi Kakak," lanjut adikku kembali menatapku ingin tahu.
Kebisuan pun langsung menjawab adikku. "Mau bagaimana lagi?!" Menatap adikku berpasrah. "Kalau memang itu kemauan Ayah. Kakak bisa bilang, apa?" Menatap adikku dengan wajah menyerah.
"Kalau sampai itu terjadi. Siapa lagi nanti yang akan jadi teman, Kakak ?" Menatapku dengan khawatir.
"Mungkin, Kakak akan di rumah saja," jawabku dengan acuh.
Gumpalan udara berkumpul sehingga membuat napas kami sesak. Memijat pikiran hingga menimbulkan kebekuan.
Ke salah pahaman mengingat kembali memori tentang adikku yang tiba -tiba hadir di tengah aku dan ayahku.
"Kalau, Kakak boleh tahu? Kenapa tadi kau bisa berdiri dan tiba-tiba datang?! Kemudian, kau memotong pembicaraan Ayah?!" tanyaku dengan penasaran.
Adikku menarik bibirnya seketika sambil mengingat dengan malu.
"Tadi aku berdiri di balik dinding," kata adikku.
"Apa?! Bukannya kau tadi sudah pergi?!" tanyaku semakin penasaran.
"Iya Kak," jawab adikku membenarkan.
"Lalu, kenapa kau bisa di balik dinding?" Menatap adikku yang terlihat aneh.
"Tadi sewaktu berjalan, aku melihat Ayah. Makanya, aku balik pulang ke rumah," balasnya.
"Kenapa kau tidak langsung masuk?" tanyaku.
"Aku tidak berani, Kak, ketika aku sampai. Aku mendengar Ayah sedang memarahi Kakak," Menatap dengan suara lirih. "Jadi, aku tidak berani masuk,"
Helaan napas dengan refleks terdengar.
"Masa?!" Tatapku dengan tidak percaya. "Kalau kau takut masuk. Lalu, kenapa tadi kau masuk?" tanyaku semakin bingung.
Kepala adikku berputar ke sana kemari mendengar pertanyaanku yang bertubi-tubi. Dia menghela napas lelah sambil menggaruk kepalanya.
"Aku tadi pengen melindungi Kakak dari amukan, Ayah," Menatapku. "Makanya, aku ajak tadi Ayah terus bicara dengan ku," Melempar pandangan.
Senyumku seketika hadir. Wajah bangga pun, aku tunjukan demi menghargai usaha adikku yang cemerlang. Berdiri di depan membelaku tanpa sepengetahuanku, meskipun, dia memojokanku dengan sesukanya.
"Kau memang Adik Kakak yang baik," Ucapku. Menepuk pundak adikku sambil tersenyum menahan sedikit kesal.
Adikku langsung memutar kepala menyungging senyum kebanggaan atas dirinya. Wajahnya begitu berbinar dengan kesenangan hati.
"Bagaimana, Kak?" tanya adikku. Tersenyum dengan bangga. "Aku pintar 'kan," Melempar wajah licik.
"Kau memang pintar. Tapi, kenapa kau tiba-tiba membela Kakak?!" Menatap adikku dengan kecurigaan. "Kau tidak biasanya, mau membela Kakak seperti tadi," ujarku.
Bibir adikku pun, tertarik dengan wajah tersenyum licik. "Kakak mau tahu, kenapa?" tanya adikku. Membuatku semakin bingung
"Iya, kenapa?" Menatap adikku lekat.
"Aku pengen, Kakak menemani aku bermain," cetusnnya.
"Bermain?!" sambungku dengan kaget.
Wajah pias pucat langsung keluar seketika. Gemuruh hati yang tidak rela meluap dengan sejadinya. Gejolak jiwa semakin kusut. Dunia ini begitu hampa rasanya.
Wajah adikku terus menatapku dengan wajah menggodanya yang membuat kakiku ingin menghilang dengan refleks.
Keluhan lidah yang bisu semakin bertahan. Kebekuan kini menahan ragaku untuk memberontak. Wajah adikku yang penuh harapan semakin menatapku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Dan ini Blurb nya.
Indah adalah seorang gadis yang tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari keramaian kota.
Dia tinggal bersama Ibu tiri dan kakak tirinya, awalnya hidup Indah biasa saja. Sama seperti keluarga pada umumnya, Ibu tirinya Indah menyayangi Indah sama seperti dirinya sayang kepada anak kandungnya. Namun, setelah Ayahnya Indah meninggal, Ibu tirinya menjadi jahat dan memperlakukan Indah layaknya seorang pembantu di rumahnya sendiri.
Indah pernah dijual oleh Ibu tirinya kepada laki-laki hidung belang, untungnya dia bisa melarikan diri dari laki-laki itu dan akhirnya Indah ditolong oleh seorang laki-laki yang bernama Feri.
Siapakah Feri?
__ADS_1
Akankah Indah menemukan kebahagiaannya?
Ikuti terus kisahnya!