Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bermain kelereng part 2


__ADS_3

"Kenapa tidak jadi? Padahal kita telah senang tadi ingin bermain dengan mu." Kata mereka. Berdiri di dekat aku dan adikku.


Wajah adikku begitu sedih terlihat duduk tertunduk. Suaranya tidak terdengar sedikit pun memenuhi ruang hampa.


"Ana bagaimana? Jadi tidak! Kalau memang tidak jadi biar kami pulang." Desak mereka.


Perlahan adikku memalingkan pandangannya ke arah ku dengan wajah penuh harap kalau aku harus ikut bermain kelereng dengan nya. Lirikan matanya seakan berbicara mengajak ku.


"Ya,sudahlah Ana, kami pulang saja.Lain kali saja kita bermain kelereng nya." Lanjut mereka.


Jemari adikku terlihat meremas kotak kecil bening dengan keras dan wajahnya seakan mengatakan "kalian jangan pulang kita jadi, bermain kelereng nya kok". Namun, sangat di sayangkan bibir adikku tidak bisa berucap.


Dia hanya memberikan isyarat mengikuti langkah mereka yang akan menghilang dengan gerakan kedua matanya.


"Kak Liyan!" Teriak seseorang memanggil namaku.


Aku yang duduk dengan pandangan kosong sontak terperanjat dan memutarkan kepalaku menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Andrini." Sahut adikku. Menoleh lebih dulu.


Tubuhku yang kurang sehat tidak begitu respect mendengarnya, tidak seperti adikku yang berdiri langsung menghampirinya.


"Kak Andrini." Teriak adikku kembali. Berjalan. "Kakak ngapain ke sini?!" Tanya adikku menghampirinya.


Sedikit pun Andrini tidak menghiraukan pertanyaan adikku. Dia terus berjalan mendekati ku, di ikuti oleh adikku dari belakang.


"Kak sudah lama aku tidak melihat kakak." Kata Andrini menatapku.


"Ia, kak Liyan sakit." Sahut adikku berdiri di belakang Andrini.


Mendengar sahutan adikku seketika Andrini memutarkan kepalanya melihat adikku dengan datar seketika dia teringat atas pertanyaan adikku tadi kepada nya dan langsung menjawab. "Ia dek kakak tadi lagi membeli jajan." Kata Andrini dengan senyum.


Keadaan ku yang lemah. Aku tak begitu banyak bicara. Andrini melihat ku tidak semangat. Dia pun segera beranjak menghampiri adikku yang berdiri sedikit jauh dariku dengan wajah yang di tekuk.


"Ana,kamu kenapa?" Tanya Andrini penasaran.


Wajah adikku terlihat begitu menyimpan sebuah masalah.


"Aku pengen main kelereng, tapi kak Liyan tidak mau." Jawab adikku dengan datar menatap Andrini. Mendekap kotak kecil bening.


"Oh! Jadi kamu pengen main kelereng." Lanjut Andrini. Memakan jajannya.


"Kenapa kak Liyan tidak mau?" Tanya Andrini pelan. Berdiri disamping adikku.


"Kata kak Liyan, dia sakit." Sambut adikku kembali.


Andrini pun terdiam dan melihat ke bawah seakan dia ikut merasakan apa yang dirasakan adikku sambil menghabiskan jajan yang di belinya.


Spontan dia pun mengangkat kepalanya tiba-tiba menatap adikku dan menatap ku.


"Bagaimana kalau kita saja yang bermain kelereng." Ajak Andrini dengan spontan.


"Mana seru kalau cuman kita berdua yang bermain kelereng." Seru adikku dengan wajah datar sambil menatap Andrini.


"Ia, ya Ana." Lanjut Andrini. Berpikir dan melihat di sekitar. "Ha,Ana coba lihat! Itu ada anak-anak sebaya kita.Kita ajak mereka bermain sama." Lanjut Andrini dengan tegas.


"Aku takut kalau mereka tidak mau lagi." Sungut adikku sedih. Menatap diriku.


"Kenapa?" Tanya Andrini. Menatapku juga.


Rona wajah Andrini seakan penuh tanda tanya ketika melihatku dengan mengikuti lirikan adikku. Kami yang bertemu pandang pun saling menyimpan sebuah pertanyaan masing-masing.


"Emang kenapa dengan kak Liyan?" Tanya Andrini kembali memalingkan pandangannya dari ku menatap adikku.


"Ia tadi aku ngajak mereka bermain kelereng tapi..." Adikku mengehentikan ucapan nya diam menatap kelereng nya dengan lirih.


"Ana,....tapi kenapa?" Tanya Andrini dengan penasaran. Menatap adikku.


"Kak Liyan tidak mau ikut bermain." Kata adikku dengan pelan.


Andrini pun menghentikan keinginannya untuk bertanya kembali. Dia memutarkan sedikit kepalanya melemparkan pandangan ke udara bebas. Seketika dia mengikuti adikku memasang wajah di tekuk.


Rasanya aku ingin segera menghilang pergi jauh dari keinginan adikku yang membuatku kesal sampai ke ubun-ubun.


"Atasan yang tak bisa di bantah" itulah kata yang ku sematkan untuk adikku saat ini.


"Ana jangan sedih,kita coba saja mengajak mereka bermain." Tukas Andrini.Menenangkan adikku.


"Tapi kalau kita bermain,kakak ku engga ikut aku mana berani." Kata adikku kembali.


"Kenapa gitu Ana?" Tanya Andrini semakin penasaran. Berjongkok.


"Aku tidak begitu pandai main kelereng. Kak Liyan yang pandai." Jawab adikku memberi penjelasan.


"Coba kamu bilang kembali sama kak Liyan siapa tahu dia mau." Desak Andrini ke pada adikku. Mengerjapkan matanya sebagai isyarat agar adikku mencoba kembali mengajak ku.


Mendengar saran dari Andrini adikku spontan mengangkat kepalanya menoleh ke arah ku yang duduk diam mematung di bawah pohon.

__ADS_1


Aku melihat dari ekor mataku mereka seakan dorong-dorongan untuk menghampiri ku dengan menggerakkan kepala sesekali menatap ku.


Mereka bersuara meskipun jarak nya cukup jauh dariku. Aku masih mendengar apa yang di katakan oleh mereka.


"Cepat Ana!" Desak Andrini. Mendorong adikku.


Langkah kaki adikku berjalan terdengar semakin mendekat.


"Kak!" Panggil adikku dengan sedikit hati-hati.


"Kakak mau ya, bermain dengan kami." Menatap ku dengan wajah memohon. "Selagi kakak di kasih keluar bermain." Lanjut adikku seakan menggodaku.


Melihat adikku begitu sedih karena terancam bermain akibat aku tidak mau ikut, membuatku begitu sedikit terpukul. Wajah polosnya yang ceria kini memelas seperti daun yang layu.


Akan tetapi Jika, aku ikut bermain apa yang akan terjadi dengan tubuh lemahku nanti. Pasti aku akan merasakan sakit yang lebih dari ini.


Belum lagi mengingat Ayahku yang telah menggantungkan harapannya pada ku atas kesembuhan ku, agar aku menjaga kesehatan ku supaya aku bisa kembali sekolah layaknya seperti anak yang lain semakin membuat aku terbelenggu.


Oleh karena itu aku harus pandai-pandai dalam mengatur segala gerak ku. Lagi pula jika,aku terus menerus sakit, apa yang akan terjadi pada Ayahku dan juga diriku.


Ibu sambungku yang telah menjagaku akan membuatku semakin frustasi dan depresi yang panjang bagi diriku sendiri.


Saat ini tak banyak yang bisa ku lakukan untuk diriku yang malang. Hanya harapan yang besar yang bisa ku gantungkan. Melihat adikku yang begitu antusias dengan keinginan nya semakin mendesak ku ingin kembali kerumah.


"Nanti kakak sakit lagi, bagaimana?" Tanya ku menatap adikku. Berdiri.


Mendengar ucapan ku,adikku seketika bimbang terlihat begitu goresan keraguan di wajahnya.


"Bagaimana Ana?" Tanya Andrini.


Adikku hanya diam dengan wajah berpikir, menarik napas dalam sambil menarik bibirnya dengan cemberut.


"Kakak engga sayang sama aku." Pekik adikku kesal.


Hatiku begitu rapuh semakin terkulai melihat adikku seperti orang yang lagi putus asa.


"Hai,ayo kemari kita bermain!" Ajak Andrini sedikit berteriak.


Mendengar ajakan dari Andrini mereka pun berjalan kencang menghampiri.


"Main apa?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Bermain kelereng." Jawab adikku.


"Tapi tadi kamu bilang engga jadi." Kata mereka.


Aku yang mendengarnya spontan mengangkat kepalaku melihat adikku sedang tersenyum menatapku. Senyum smrik nya begitu sinis melihatku sehingga membuat darahku mendidih. Sorot matanya seakan menertawakan aku.


"Ayo kita bermain." Ajak Andrini kembali dengan senang.


"Ayo!" Teriak adikku menarik lenganku dengan kencang.


Braugh!


Kelereng itu pun berserakan dengan bebas menggelinding ke sana dan ke sini. Senyum sumringah pun terlihat jelas di wajah mereka terkhusus, di wajah adikku. Dia begitu terpana melihat kelereng yang berserakan. Imajinasinya pun keluar seketika, menghanyutkan dirinya yang polos.


Aku yang berdiri begitu terperangah. Pikiranku yang lemah pun membawa diriku ikut dalam gelombang permainan adikku.


"Bagaimana cara bermainnya." Tanya salah seorang dari mereka.


"Kita bagi kelompok." Jawab adikku yang terhipnotis dengan kelerengnya. "Kalian bertiga dan kami bertiga." Lanjut adikku.


"Baiklah,siapa yang pertama main?" Tanya mereka kembali.


"Kita mainnya suit aja." Jawabku spontan. Menatap mereka.


Dari hasil suit dan keputusannya bahwa kami lah yang berhak bermain duluan, aku,adikku dan Andrini.


Adikku terlihat begitu menaruh harapan kemenangan yang besar pada diriku. Mereka begitu kewalahan melihat ku yang begitu lihai dalam permainan ini.


Seketika wajah dari mereka pun begitu pias melihat kami begitu banyak memenangkan permainan ini. Sesekali mereka ingin bermain curang namun, sayang semua itu gagal.


Adikku terlihat begitu sumringah melihat kelerengnya bertambah banyak. Lompatan kecilnya pun terdengar menghentak di bumi.


Horee! Sesekali teriakan kesenangannya terlihat begitu cerah.


Andrini pun demikian, ia juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan oleh adikku, melompat kecil,tertawa sumringah dengan ceria.


Betapa bahagianya hati mereka terlihat.Begitu juga dengan adikku seakan masalahnya hilang menjauh darinya.Tak terlihat lagi rona wajah cemberut dan di tekuk. Namun, diriku berkata lain,aku tak terlihat seperti mereka yang ceria. Aku terlihat malah sebaliknya lemah dan tidak berdaya sedangkan mereka terlihat gembira sambil melakukan lompatan kecil namun,aku berdiri diam menahan tungkai kakiku yang lemah dan ingin terhempas ke tanah.


Aku hanya bisa mengepal jariku dengan kuat untuk menahan tubuhku yang ingin menjerit. Panas terik matahari begitu menguras energi ku hari ini dan ke dua netraku ingin segera tertutup, beristirahat.


"Kak kita menang hari ini." Melihat kelerengnya. "Kakak memang hebat bisa mengalahkan mereka semau. Hahaha!" Tawa kecil adikku terlihat begitu menenteramkan jiwaku.


"Ia Kak, kakak memang hebat." Lanjut Andrini. Berdiri disamping ku.


Seketika hatiku rasanya begitu mengembang mendengar pujian dari adikku dan Andrini. Senyum manis langsung terukir di bibir Kecilku yang pucat.

__ADS_1


Wajah polosku yang pucat terlihat berwarna karena tertutupi oleh senyum manisku yang memukau.


Jemari kecilku yang lemah seketika ku tatap dengan senyum.


"Kak mereka ngajak bermain lagi." Kata Andrini menatap ku.


Adikku yang tadi menatap kelerengnya dengan senyuman seketika menarik bibirnya dengan refleks. Perlahan kelereng yang di genggamnya terlepas spontan kedalam kotak bening kecil.


"Mau ngapain lagi mereka ngajak kita bermain." Sambut adikku dengan penuh tanda tanya. Menghampiri Andrini.


"Kak emang kakak masih kuat lagi untuk bermain?" Tanya adikku ingin tahu.


" Tidak." Jawabku tegas.


"Lalu bagaimana dengan mereka." Lanjut Andrini seakan dia ingin mendapatkan Jawaban dari pertanyaan nya.


"Biarkan saja dek! Yang penting sekarang kita pulang." Bisik ku sedikit keras.


"Kak!" Panggil adikku dengan memelas.


Jiwaku yang sudah meronta dan menjerit karena tubuh mungilku yang semakin down, membuat ku menatap adikku dengan sorot mata yang tajam yang di penuhi dengan kekesalan.


Ingin rasanya aku meremas adikku dengan jemari lemahku agar ia berhenti merengek dan memaksa ku. Bibir kecilku begitu ku tutup rapat dengan menggigit geraham ku.


" Kita pulang saja! Pintaku. "Besok kita bermain lagi." Lanjut ku menatap adikku.


" Ia Ana kita pulang saja." Seru Andrini dengan lembut.


Kami bertiga pun mengayunkan kaki untuk kembali pulang.


"Ana!" Panggil salah seorang dari belakang kami.


Refleks kaki kami pun berhenti dan memutarkan badan kebelakang melihat siapa yang memanggil.


"Ada apa?" Tanya adikku. Berjalan menghampiri nya.


"Ayo kita bermain kelereng lagi!" Ajaknya. Berdiri menatap adikku.


Rasanya aku ingin menghampiri adikku yang berdiri sedikit jauh dariku, menarik lengannya dan membatalkan semua ke inginnya. Tapi spontan aku mengurungkan niatku karena melihat adikku yang masih mau bermain kelereng.


Emosional ku pun seketika menguasai jiwaku sehingga aku menaruh simpati untuk adikku. Seketika kaki lemahku kemabli melangkah masuk kedalam lingkaran permainan yang di inginkan oleh adikku.


Permainan pun terjadi kembali di mana, kelereng berserakan memenuhi sebagian tanah yang kosong.


Tubuh mungilku pun ku jatuhkan dan terjongkok di atas tanah yang panas dengan terpaksa.


Kelereng yang terkumpul rapi di tengah kotak yang telah tergaris di atas tanah membuatku antusias ingin segera mendapatkan nya.


" Kak,itu Kak!" Teriak adikku dan Andrini beriringan mensuport Ku.


Hari ini aku begitu terhipnotis dengan keinginan adikku yang terlalu mengekang ku. Keringat telah tercurah habis membasahi pakaianku. Kepalaku rasanya ingin pecah.


"Kakak sudah lelah, ya?" Tanya adikku tiba-tiba berdiri.


"Ia dek,kita pulang saja, ya.Lagian mereka sudah kalah." Pinta ku dengan wajah memohon.


Melihat wajahku yang semakin pucat. " Ya sudah! Kita pulang saja." Kata adikku pelan. Mengambil kelerengnya.


" Ana besok kita main lagi,ya." Ajak mereka kembali.


"Kalau kakak ku tidak sakit ya." Sahut adikku pelan.


Mendengar itu seketika hati ku begitu lega seakan belenggu yang mengekang ku telah pergi.


" Kak, wajah kakak pucat. Aku takut,kita nanti di marahi Ayah." Kata adikku.


"Ia kak, sebaiknya kakak duduk saja di sana." Kata Andrini. Menunjuk pohon.


"Ia." Kataku. Berjalan dengan menyeret kakiku yang lemah dan langsung menjatuhkan tubuh mungilku yang lemah. Napasku begitu berat rasanya ingin ku tarik.


Sementara adikku masih asyik dengan kelereng nya seakan, dia menghitung kelerengnya satu persatu sambil memasukkan ke dalam kotak kecil yang bening.


Dari tempat ku, aku begitu jengah melihat adikku yang menatap ku dengan tawa jenaka nya. Sementara Andrini dia terlihat rileks menemani adikku mengambil kelereng dari tanah.


Mereka terlihat akrab hari ini. Tak ada perdebatan antara mereka terlihat. Mereka begitu enjoy menikmati pertemanan mereka dalam permainan kelereng ini.


" Ana ayo pulang, nanti Ayah marah." Panggilku dengan sedikit berteriak.


.


.


.


Terimakasih buat teman-teman yang sudah mendukung cerita ini yang telah memberikan like,komentar, favorit dan votenya.🤗🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2