
"Ayah, kalau begitu kami langsung tidur?" tanya adikku seakan tidak percaya dengan ucapan ibu sambung kami.
"Iya, Nak. Sekarang kalian tidur, ya!" pinta ayahku memohon dengan lembut.
"Ayah, tapi aku mau main ini!" rengekku menganyunkan mainan anak Bp ke udara tepatnya di hadapan ayahku.
"Liy... ."Ayahku menutup mulutnya langsung.
"Liyan, kalau sudah di suruh tidur. Ya tidur!" pekik ibu sambungku langsung. Menatapku dan adikku.
Ayahku yang berjongkok masih di depan pintu. "Nak, kalau Ibumu menyuruh tidur, ya tidur, Ya!" pinta ayahku dengan lembut mengelus kepalaku.
Aku langsung memonyongkan bibirku cemberut dengan kerutan tebal di keningku.
"Kau kalau sudah nampak mainan Anak Bp harus malam ini juga di mainkan! Apa gak ada hari esok, Liyan?" pekik ibu sambungku bertanya padaku.
"Ayaaaah," rengekku.
Ayahku langsung bangun dan memijat keningnya, mendengar keributan dari awal mau berangkat sampai saat ini belum juga kelar.
Huh! Ayahku menghela napas.
"Liyan, jangan buat Ayah malam ini menghukummu dan menyimpan mainanmu itu, seperti yang itu!" ucap ayahku dengan tegas. Menunjuk kotak bekas yang berisi mainan Anak BP juga yang sudah lama teronggok di bawah kolong lemari.
Aku seketika diam menunduk menatap lantai dengan lirih karena ayahku malam ini memarahiku lagi, di ikuti oleh tangan sebelah kananku memegang anak Bp.
Adikku yang mendengar dan melihatnya langsung memutar badan. "Ayah, aku tidur dulu, ya," ucapnya dengan nada suara getir.
"Iya, jangan lagi bermain kalian berdua di kamar itu, ya," kata ibu sambungku.
"Iya, Bu," jawabku. Menunduk malu lalu memutar badan masuk kamar.
Adikku yang terlebih dulu masuk. Tiba-tiba aku terkejut mendadak.
Deg!
"Ana ini apa?" tanyaku terkejut.
"Mainan," jawabnya langsung. Menggunting- gunting anak Bp.
"Nanti Ibu melihatnya. Dan dia marah lagi," kataku dengan lirih. Melihat potongan kertas yang berserakan di atas tempat tidur.
"Aku mau bermain. Aku belum ngantuk," terang adikku.
Aku langsung shock histeris melihat tempat tidur seperti lobang sampah.
"Lalu ini apa, Ana? Kenapa semua buku tulismu keluar ?" tanyaku mengambil tas dan meraba isinya.
"Kak, aku cuma mengoyaknya sedikit," ucapnya dengan nada suara santai.
Aku semakin terkejut mendengarnya.
"Nanti bukumu cepat habis," sambungku. Di ikuti oleh tangan sebelah kananku masih memegang anak Bp.
"Ana kalau sam... ." Aku langsung menutup mulut dan bergegas naik .
"Liyan, kalian ngapain lagi belum tidur?" tanya ibu sambungku. Menyingkap tirai kamar lekas.
__ADS_1
Aku pun menjatuhkan tubuh refleks berbaring ke tempat tidur dan berpura-pura menutup kedua mata. Menarik selimut dan perlahan mengerjitkan kedua mata melihat ibu sambung kami yang masuk dan berjalan dengan diam-diam seperti maling.
Aku yang melihatnya dari erjitan mata. Perlahan memutar kepala miring ke sebelah kiri melihat adikku. Adikku yang sangat bagus dalam akting berbaring. Dia terlihat sangat tenang tanpa bergerak ke sana kemari sedikit pun.
Dia memang handal, pikirku. Melihat dia yang berpura tidur, seperti orang yang sudah nyenyak.
"Kalian rupanya sudah tidur," katanya. Memutar kepala melihat sekeliling lalu pergi keluar.
Tirai kamar yang benar-benar telah tertutup kulihat dan bayangannya pun tidak lagi terlihat membuatku membuka kedua mata dengan lega dan mengurut dada karena selamat dari cengkramannya.
"Dia sudah pergi," gumamku lega. Menepiskan selimut dan bangun.
"Kenapa Ibu ke sayangan Kakak itu masuk?" tanya adikku. Bangun dan membuang selimutnya jauh darinya.
Plak!
Selimut pun terlempar dengan sembarang ke sudut dinding kamar.
"Ana, kau memang cerdik. Kau bisa secepat itu menutupi potongan kertas yang berserakan," kataku. Mengagumi dirinya.
"Namanya selimutnya selebar sprei," kata adikku. Mengeluarkan kembali gunting dan mainan tadi. "Mainan Kakak mana? Biar aku guntingkan!" pinta adikku dengan lembut.
"Ini," kataku. Menyerahkan anak Bp yang kupegang pada adikku.
"Sini Kak," ucap adikku langsung mengambilnya.
"Hahaha !" Aku dan adikku lalu tertawa pelan.
"Liyaaan, Anaaaa!" panggil ibu sambungku dengan berteriak dari luar kamar.
Ups! Aku langsung menutup mulut spontan melihat bayangan tiba-tiba melintas dari dalam kamar.
Aku dan adikku pun langsung menguap. Aku menutup mulut dengan telapak tangan menahan kantuk.
Sementara adikku. "Aku sudah mengantuk Kak," katanya. Menutup mulutnya juga dan meletakkan gunting.
"Kakak mau tidur. Karena Kakak sudah mengantuk," kataku. Menjatuhkan tubuh mungilku dengan lembut berbaring di tempat tidur.
Aku dan adikku pun tidur dengan lelap tanpa sebuah suara pun yang mengusik.
π΅π΅π΅
"Kak, bangun!" teriak adikku memekik di telinga. "Sudah pagi Kak," jeritnya dengan keras. Menarik-narik lenganku dengan kasar.
"Ana, Kakak masih ngantuk," keluhku. Menepis tangan adikku.
"Kenapa Kakak masih ngantuk? 'Kan semalam kita tidurnya sama," keluh adikku dengan sesal.
Aku terus menerus menepis tangan adikku.
"Ana, ini 'kan libur," kataku dengan nada suara parau dan kedua mata masih tertutup.
"Liyan, Ana!" teriak ibu sambung dan ayahku dari luar.
"Kak, Ayah sudah memanggil kita," rintih adikku dengan gusar. "Iya Ayah," jawab adikku setengah gemetar.
"Ayo cepat sarapan sebelum Ayah pergi kerja, Nak," teriak ayahku dari luar.
__ADS_1
"Iya Ayah," jawabku langsung. Bangun dan membuka kedua mata dengan perlahan. "Ana, kenapa kau cepat kali bangun, ha? Ini 'kan hari libur," ucapku dengan nada suara parau dan setengah kesadaran yang belum sempurna.
"Kita bermain, Kak," ajak adikku.
"Bermain apa?" tanyaku.
"Liyaaan!" teriak ayahku kembali memanggil.
"Iya Ayah," sahutku langsung menepis selimut dengan kasar.
Plak! Kain pun teronggok entah kemana.
"Iya Ayah," ulangku kembali. Turun dan menetralkan diri ini yang sedikit sempoyongan.
"Cepat mandi dan sarapan!" pinta ayahku.
"Ayah, kita sarapan apa?" tanya adikku.
Aku yang terpaksa menyeret kaki ini berdiri tepat di sebelah adikku menahan lutut yang masih nyeri.
"Itu sendal barumu, Nak," kata ayahku dengan senang.
"Mana Ayah?" tanya adikku langsung.
"Sendal baru?" gumamku bertanya. Membelalak dengan lebar melihat ke arah sendal baru yang terletak.
"Ayah sendalnya di mana?" tanyaku dan adikku bersamaan.
"Itu Nak! Di depan pintu," cetus ayahku. Bersiap-siap untuk berangkat kerja.
"Jangan sampai rusak lagi, ya," kata ibu sambung kami dengan tegas. Berjalan dan bersiap menyisir rambut.
"Ini Ayah!" kata adikku. Menganyunkannya setengah di udara.
"Haaah, iya Nak," balas ayahku dengan sumringah.
"Waaaaah, Ayah bisa bagus lagi, ya sendalnya," ucapku dengan senang.
"Ayah, aku minta sendal baru bukan yang ini!" gerutu adikku. Meletakkan sendal di atas lantai.
Deg!
Aku langsung terpelongo mendengar adikku dan ayahku pun langsung memutar badannya perlahan berdiri tegak lurus di hadapan adikku.
Wajah senja ayahku yang lesu itu pun menatap adikku dengan sendu. "Ana, tapi 'kan sendalnya bisa di pakai," kata ayahku mengiba.
"Aku tidak mau Ayah," rintih adikku menolaknya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Tapi itu 'kan masih bagus. Kenapa harus beli yang baru?" kata ibu sambungku bertanya. Melirik ke arah adikku dan menghentikan sisirannya di atas kepala. "Kalau tidak mau kau tidak usah pakai sendal," cetusnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...