Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Pembayaran rumah kontrakan


__ADS_3

" Baik, Ayah!" Dengan langkah sedikit gontai aku memaksa kakiku menyeret.


Aku pun masuk bersama bayanganku yang lemah. Kini mataku yang sayu tak berdaya tak kuasa menatap lagi. Segera mungkin aku menarik selimutku dan menutupi tubuhku yang panas dingin. Gemetar terasa seluruh tubuhku melihat wajahku yang semakin pucat.


Dari luar aku mendengar ada keributan yang terjadi. Aku yang terjaga dalam tidurku terbangun dan melihat. Tubuh mungilku yang lemah berdiri di balik pintu kamar. Aku melihat ayahku, adikku dan juga ibu sambung kami. Mereka berdiri di belakang ayahku yang berbicara dengan seseorang diluar.


" Ia, Pak! Saya tau." Kata ayahku dengan wajah cemas.


Sementara, ibu sambung kami diam. Terlihat dari wajahnya yang seperti ketakutan. Begitu ketat menatap sesosok yang berbicara dengan sedikit meninggi kepada ayahku.


" Kenapa segini?" Dengan suara meninggi orang itu bicara kepada ayahku.


" Maaf, Pak uangnya yang ada terkumpul baru ini, Pak." Dengan sedikit suara ayahku merendah. " Anak saya lagi sakit ,Pak. Saya mohon kasih saya waktu untuk melunasinya, Pak." Kata ayahku dengan lirih.


Aku yang masih berdiri sambil mendengarkan menutup mulutku dengan rapat agar tidak ada yang mengetahui ku kalau aku lagi menguping.


Suara batukku yang kini aku tahan hampir membuat ku ketahuan kini aku tutup rapat dengan tanganku. Hari ini tingkahku memang aneh. Berdiri di balik pintu kamar secara diam-diam seperti pencuri.


Tawa kecil pun kini menggelitik hatiku yang dibalut oleh tubuhku yang lemah.


" Aku tidak mau tau! Dalam waktu dekat ini, kau harus mendapatkan uang nya, secepatnya! Enak aja kau menempati rumahku membayarnya seperti ini!" Suaranya semakin keras dan meninggi hingga terdengar seantro dunia.


" I-ia, Pak!" Kata ayahku terbata.


Adikku yang berdiri di sudut meja makan ayahku diam dan ketakutan. Wajah adikku kini terlihat pucat menatap lirih ayahku yang dimarahi oleh orang itu.


" Pak, saya minta maaf, karena putri saya lagi sakit, Pak. Saya mohon kasih saya tenggang waktu, Pak. Saya janji, saya akan menutupi kekurangannya." Dengan suara lirih ayahku memohon dengan penuh harap.

__ADS_1


Sorot mata laki-laki itu begitu tajam melihat ayahku. Wajah sinis nya kini terlihat jelas sangat benci melihat ayahku yang tidak bisa memberi uangnya dengan utuh.


" Kamu tau rumah ini, banyak yang menginginkannya! Hari ini rumahku ini kosong. Hari ini juga ada yang mau mengontraknya." Nada suaranya masih saja begitu keras terdengar.


Bibir kecilku pun seketika diam tertutup rapat. Wajahku pun begitu lirih melihat ayahku yang tak berdaya. Tubuhnya yang terlihat sudah mulai ringkih berdiri diam menghadapi masalahnya yang pahit.


Seketika ayahku diam dan menatap nanar kebawah dengan wajah yang sedih. Ia tak kuasa menatap laki-laki paruh baya yang ada dihadapannya. Ia juga tak bisa pergi meninggalkan lelaki itu. Kerena ayahku harus menunjukkan keberaniannya menghadapi masalah dan tanggung jawabnya akan keluarganya. Sekali lagi ayahku hanya bisa mengatakan.


" Tolonglah Pak kasih saya waktu, saya berjanji saya akan menutupi kekurangannya. Saya mohon Pak pengertian dari Bapak. Bahwa sekarang ini putri saya lagi sakit,Pak." Ayahku mengatupkan kedua tangannya dengan suara lirih memohon.


" Aku tidak mau tau, mau anakmu hidup atau mati. Yang aku mau tau, kau harus melunasi pembayaran rumah kontrakan yang kau tempati ini!" Dengan penuh penekan lelaki itu berteriak keras kepada ayahku.


Sekali lagi aku hanya bisa diam mendengar dari kamar. Hanya bisa menyaksikan mereka seperti melihat pertunjukan pameran.


Wajah lelah ayahku yang kini terlihat keriputan halus yang semakin bertambah terlihat sangat membutuhkan pertolongan. Namun, tak satu pun dari kami yang mendengar dan melihat mampu menolong ayahku.


Kami hanya bisa menonton dan mengikuti sampai dimana alurnya akan selesai. Ketidak berdayaan aku membuat aku begitu sedih.


Wajah ayahku terlihat seperti orang yang bingung dan ragu. Keraguan akan waktu satu minggu membuat ia berpikir begitu keras untuk mencari uang tambahan pelunasan atau mencari kontrakan baru. Itu membuat ia semakin frustasi sehingga ia masih saja menatap kosong ke bawah.


" Bagaimana? Kamu sanggup tidak! Kalau memang tidak! Engga perlu tunggu lama-lama. Hari ini juga kalian angkat kaki dari sini. Saya tidak mau tunggu lama-lama. Enak aja!" Dengan wajah sinis nya.


Ayahku masih saja diam. Seakan ia lagi bergulat dengan pikirannya yang ingin mencari jalan keluar untuk semua ini.


Tangannya yang telah terlihat lemah dan keriput kini terkulai tak berdaya. Matanya yang terlihat menahan sedih menatap dengan pandangan kosong.


Ayahku masih berdiri menghadapi lelaki itu. Aku terus mengintip kini, dari jendela kamarku.

__ADS_1


" Insyaallah Pak akan saya usahakan dalam waktu satu minggu." Kata ayahku dengan sedikit keraguan.


" Ya, segera mungkin anda harus melunasinya. Kalau bisa besok itu lebih baik." Kata lelaki itu dengan sedikit keras.


Mendengar kata "besok" ayahku semakin panik. Kepanikan terlihat begitu kuat dari dalam dirinya. Bibir pucatnya yang telah menua kini tertutup rapat. Ia hanya, bisa diam mendengar lelaki itu bicara tanpa henti. Teriakannya yang keras membuat ayahku kadang terkejut.


" Saya kasih kamu tempo. Kamu harus lunasi secepatnya. Jangan kasih alasan apapun saya tidak suka." Lelaki itu pergi dan menghilang dari hadapan ayahku.


Ayahku memutar badannya dengan perlahan yang kelihatan begitu lemas. Wajah sedih berpikir kini terlihat menghiasai rumah kami.


Dengan langkah terkulai ia berjalan begitu perlahan dengan membawa beban yang begitu berat di pundaknya. Ia dengan sigap memaksa kakinya untuk melangkah meskipun, terlihat sedikit gontai.


" Ayah!" Teriak adikku menghampiri ayahku dengan ketakutan. " Ayah, orang itu galak sekali ayah." Menatap ayahku dengan takutnya yang manja.


Wajah polos adikku begitu ketakutan.


Ibu sambung kami terlihat sedih juga. Ia yang tadi di dapur segera melangkahkan kakinya menghampiri ayahku.


" Kau tidak usah takut. Aku akan membantumu." Katanya dengan pelan.


Aku yang mendengar semuanya hanya diam membeku seperti es di dalam kamar sendiri. Tungkai kakiku yang lemah kini ingin jatuh ke lantai. Gemetar karena mendengar keributan masalah uang kontrakan rumah yang belum di bayar ayahku dengan penuh.


Tubuhku yang masih sakit. Tersentak seketika mendengar semuanya . Kata-katanya yang keras membuat aku lemas.


" Kau engga perlu membantuku karena ini tanggung jawab ku." Ayahku menegaskan.


" Tapi, mana mungkin kau mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu satu minggu." Kata ibu sambung kami dengan datar. " Belum lagi kau harus membawa Liyan besok berobat." Katanya kembali mengingatkan.

__ADS_1


Ayahku tak bersuara. Ia hanya diam aku dengar. Hanya rengekan adikku yang manja yang terdengar keras.


Bersambung.....


__ADS_2