
" Liyan, dimana Ayahmu?" Tanya ibu sambungku yang melangkah masuk.
" Dikamar Bu." Kataku yang teronggok dilantai menatap ibu sambungku.
Adikku yang masih berdiri menggantungkan tasnya melirik wanita itu dengan sinis. Adikku sesekali ngedumel kecil menatap lurus ke tas sekolah yang dia gantungkan. Adikku yang aku lihat dia hanya diam.
Ibu sambungku terus berjalan perlahan melihat ayahku yang berada didalam kamar menunggu waktu sholat sebentar lagi akan tiba. Aku yang teronggok dilantai didekat lemari pakaian kami mendengar suara dari kamar ayahku. Sesekali suara itu meninggi.
Ibu sambungku pun tidak berapa lama keluar dari kamar dengan wajah yang kesal. Kedua mata ibu sambungku melihat aku yang teronggok dilantai. Mata sinisnya menatapku tajam. Langkah kakinya pun dengan kuat dia ayunkan sehingga membuat tubuh mungil lemahku yang teronggok dilantai seakan berguncang.
Napasku yang terasa panas dan sesak membuat tubuhku yang lemah ingin jatuh terhempas.
Dengan tatapan tajamnya ibu sambungku menatapku seakan dia menerkam ku saat itu juga.
" Ana, kau jangan..."
Aku melihat ibu sambungku tidak melanjutkan perkataannya kepada adikku. Adikku yang masih berdiri didepan tas yang dia gantungkan berhenti mendengar kan ibu sambungku yang berbicara dengan sedikit emosi.
Wajah polos adikku yang manis kini berubah seketika menjadi pias. Wajah ketatnya kini menyeruak dengan mengatupkan bibirnya sekuat mungkin.
Diriku pun mulai gemetar kembali melihat adik dan ibu sambungku kembali bersitegang. Adikku yang tidak pernah menyukai ibu pengganti kami semakin membuat amarahnya memuncak.
Adikku yang masih kecil dia hanya bisa melemparkan amarahnya kepada ibu pengganti kami dengan sorot matanya yang tajam dan wajah piasnya.
" Ana!" Teriak ayahku dari dalam kamar.
Adikku yang tadi amarahnya meledak segera menghampiri ayahku dengan menetralkan raut wajahnya menghadap ayahku.
"Ia, Ayah." Kata adikku melangkah masuk kekamar ayahku.
" Malam ini kamu, mulai mengaji!" Kata ayahku dengan tegas.
" Tapi,ayah!" Dengan suara manjanya adikku protes.
" Tidak ada tapi,tapian! Cepat ambil I'ROQ mu!" Kata ayahku dengan tegas.
Keheningan pun terjadi seketika. Tidak berapa lama aku yang teronggok melihat adikku keluar dari kamar dengan wajah yang masam. Adikku berjalan dengan kuat sementara ibu sambungku lagi sibuk dengan dapurnya malam ini.
__ADS_1
" Ana!" Teriak ayahku dengan keras. Sontak membuat aku terperanjat. Napasku pun rasanya seperti terhenyak. Sementara adikku begitu tenang mendengar suara ayahku yang keras.
Adikku terlihat begitu rileks dengan wajah yang tenang karena sebesar apa pun ayahku marah. Ayahku selalu tak kuasa melihat adikku menangis. Jadi, adikku tak pernah merasa takut walau sebesar apapun ayahku marah.
" Ana, cepat, nak!" Ayahku Kemabli berteriak dari dalam kamarnya.
Adikku berjalan begitu perlahan. Dia berjalan sambil memegang I'ROQ ditangan kecilnya.
"Ia,Ayah!"
Aku pun mendengar adikku mengaji diajari oleh ayahku dari balik dinding kamar. Pintu kamar yang terbuka lebar. Sesekali aku beranjak dan berdiri dengan memajukan sedikit kepalaku melihat adikku mengaji.
Wajah pucat ku seketika bersinar terpancar kerinduan yang mendalam akan diriku bisa mengaji kembali. Selama aku sakit aku belum pernah mengaji kembali sampai detik ini. Harapan besar seketika muncul dari dalam diriku kalau aku harus segera sembuh.
" Liyan!" Panggil ibu sambungku dari dapur.
"Ia,Bu." Aku berjalan menghampiri dia yang lagi sibuk.
" Ini!" Kata ibu sambungku sambil menyerahkan piring yang berisi makanan untuk ku. " Cepat makan biar kau minum obat!" Katanya dengan wajah yang datar.
Aku yang masih mengingat akan kejadian tadi. Mengambil piring dari genggamannya dengan gemetar. Aku yang berdiri dihadapannya tidak melihat wajahnya sedikitpun.
Sebanyak apapun dia mengatakan sesuatu kepadaku. Aku hanya diam dan tetap diam. Ketakutan akan kejadian tadi masih terasa hingga saat ini. Ibu sambungku terlihat begitu enjoy seakan dia tidak melakukan perbuatan yang menakutkan.
Aku berjalan duduk dilantai depan. Piring yang aku pegang aku letakkan diatas pangkuanku. Segelas air minum pun kini telah terletak di sampingku.
Mulutku yang kaku dan ludah ku yang pahit kini aku paksa untuk menelan makanan yang aku kunyah. Perlahan aku menghabiskan semua makanan ku dari ekor mataku aku melihat ibu sambungku melihatku.
"Sudah!" Kata ibu sambungku sambil menghidangkan makanan ayahku diatas meja.
" Belum Bu." Sambil aku menggelengkan kepalaku pelan.
" Kak, kakak makan,ya?" Tanya adikku sambil berjalan menyimpan I'ROQ." Siapa yang mengambilkan nasi kakak?" Tanya adikku melirik ku sambil menggantungkan mukena yang dia pakai.
Melihat adikku yang begitu antusias ingin tahu. Aku menatapnya tanpa mengalihkan pandanganku seakan memberikan isyarat kepada adikku bahwa yang mengambil nasi ku adalah ibu sambungku sebagai jawaban atas pertanyaannya.
Adikku pun diam seribu bahasa. Dia masih menatap lekat aku yang teronggok dengan makanan yang ada di hadapanku.
__ADS_1
Adikku pun berjalan ke dapur berpapasan dengan ibu sambung kami yang masih sibuk.
" Mau makan?" Tanya ibu sambung kami.
Adikku hanya diam saja melihatnya sekilas. Hanya anggukan kepala yang diberikan sebagai jawaban kepada ibu sambung kami.
Ayahku yang telah selesai mengajari adikku. Duduk di kursi yang sering dia gunakan untuk makan.
Suasana malam ini masih dalam keadaan tenang. Keributan yang beberapa menit tadi seakan diabaikan malam ini. Semuanya sibuk dengan dirinya sendiri. Adikku yang masih di dapur tetap diam sampai selesai makan.
Sementara Ayahku masih melihat kami satu persatu. Sesekali dia mengalihkan pandangannya melihatku,adikku dan ibu sambung kami yang duduk bersebelahan.
Aku yang belum bisa menghilangkan kejadian tadi. Duduk dengan menyilakan kakiku diam menatap dengan pandangan kosong.
Ibu sambungku yang duduk bersebelahan dengan ku melihat aku dan ayahku.
" Liyan, mana obat mu?" Tanyanya memecah kesunyian." Kamu belum minum obat, kan?" Tanyanya dengan penuh penekanan.
Aku yang lemah hanya mengangguk kan kepalaku sebagai jawaban kalau aku belum minum obat.
" Dimana,kamu simpan obatnya?" Tanya ayahku dengan menatapku dengan datar.
Aku pun beranjak mencari obat yang tadi siang aku simpan.
" Ayah! Ana bermain,ya?" Tanya adikku yang menghabiskan makanannya sedikit lagi.
"Tidak,tidak boleh! Kata ibu sambung kami dengan suara sedikit meninggi." Baru tadi, kau bermain satu harian, ini mau bermain lagi,huh!" Kata ibu sambung kami dengan wajah yang pias. " Besok angkat saja bantal mu keluar sana!" Ibu sambung kami langsung pergi dengan membawa piringnya.
Aku yang mendengar sambil mencari obat, gemetar dan ketakutan. Ayahku yang duduk di kursinya hanya diam.
Sementara, adikku yang duduknya tidak jauh dari tempat ku mencari obat. Menatap ibu sambungku dengan wajah yang memerah tanpa berkedip. Wajah piasnya kini terlihat begitu menakutkan. Tangannya yang menyuapkan nasi kedalam mulutnya berhenti.
Sementara ayahku terlihat menahan amarahnya dengan wajahnya yang ditekuk. Kali ini adikku hanya diam saja tanpa membalasnya sedikitpun.
" Ana, besok saja bermain,ya? Ini sudah malam." Pinta ayahku dengan tegas.
Adikku menggerutu beranjak dengan membawa piring kotor nya.
__ADS_1
Bersambung.....