
"Eem! Aku suka Liyan," ucap Widia tersimpul manis. Berjalan dengan kencang mengikuti langkahku.
Kemudian aku menyunggingkan senyum bahagia pada Widia. Berjalan menapaki ruas jalan yang ramai, yang di lewati oleh para pengendara.
Bersama tubuh lemah. Aku bergegas agar cepat sampai ke rumah.
"Widia, kau lagi apa?" tanyaku pada Widia yang tertinggal di belakang.
"Aku lagi berjalan, Liyan," jawab Widia. "Kamu terlalu cepat jalannya, sampai-sampai kakiku lelah dan tenggorokanku haus," ucapnya dengan lirih.
Seketika aku terperanjat dan berhenti. "Apa?!" Memutar badan menatap Widia. "Kamu haus. Tapi, Widia di sini tidak ada yang berjualan," berdiri menatap Widia.
Widia begitu lesu. Dia lalu, menjatuhkan tubuhnya setengah di udara. "Liyan, apakah? Kau tidak mau menolongku," dengan lirih Widia menatapku bersama wajah memohonnya.
Menatap Widia yang setengah nyawanya seperti menghilang. Membuatku seperti orang bingung. Kemudian, aku menatap sekeliling, yang tidak lain adalah rumah orang aneh, itu. Orang yang sering menghalangi langkahku, ketika pulang sekolah.
Seketika, detak jantungku berhenti dan jemariku, terasa dingin serta gemetar. Menahan rasa takut yang menghantuiku, setiap aku melintasi jalan ini.
"Widia, kita lanjut saja berjalannya. Mungkin, di sana ada orang berjualan," seruku dengan lembut mengajak Widia.
"Kau yakin, Liyan?!" sahutnya. Berjalan.
"Iya, aku yakin. Ayolah cepat," ajakku sambil melirik rumah orang aneh itu.
"Ya tunggu! Tapi kamu betulkan," teriak Widia berjalan kencang menghampiriku, yang berhenti cukup jauh darinya.
Hm! Aku menggelengkan kepala memberi jawaban kepada Widia.
Widia akhirnya, menghampiriku dan kami kembali berjalan, mencari tempat penjual minuman dan menghindari rumah orang aneh itu.
"Widia, kita tidak baik lama-lama berdiri di tengah jalan," kata ayahku. Berjalan secepat mungkin, menuruni tanjakan yang berdekatan dengan rumah orang aneh itu. Kata ayahku, "Banyak penculik. Kapan saja mereka bisa menculik kita," menatap Widia sekilas yang berjalan mengikuti langkahku.
"Kamu benar Liyan. Ayahku pun, demikian. Kalau aku pergi ke luar untuk bermain, pasti dia mengingatkan aku untuk hati-hati. Katanya, "Nanti ada culik Anak," berjalan dengan serius menapaki tepian jalan yang terik.
Aku dan Widia terus berjalan. Mencari tempat penjualan minum.
"Widia, bagaimana kalau penjualnya tidak ada?" tanyaku pelan menatap Widia. "Kau minum di rumah saja, ya," saranku. Melihat- lihat sekeliling yang aku lewati.
"Jangan Liyan," ucap Widia mendadak. Mengayunkan tangan ke udara, sebagai isyarat penolakan.
"Kenapa?" tanyaku penuh keheranan. "Bukankah di rumahmu ada air minum?" tanyaku kembali. Menatap Widia, kenapa? Dia mengatakan demikian.
"Aku nanti lupa," tandasnya.
Ha! Aku terperangah terkejut. Seketika aku memutar kepala ke arah yang berbeda sambil tertawa, hahaha ! "Kau ini aneh. Masa minum saja kau bisa lupa," ledekku dengan candaan.
"Iya Liyan. Karena sampai rumah, aku langsung bekerja," jawabnya dengan suara getir. Menunduk, seperti orang yang tersipu malu.
Seketika aku diam dan menatap Widia yang berjalan bersamaku. Wajah pucatku begitu tertegun menatapnya, yang begitu kuat menghadapi semua.
"Widia, kita sama. Sama-sama kena tekanan, ketika sampai di rumah," jawabku dengan rintih.
Widia yang terus berjalan, hanya diam mendengar apa yang aku katakan. Dia menghela napas sebagai isyarat, kalau dia dan aku berbeda.
Dia pun menunduk, menetralkan kepedihan hati, yang dia rasakan. "Liyan, kita tidak sama. Ayahmu masih sayang dengan mu. Meskipun, kau tidak di kasih keluar. Seperti, yang aku ketahui dan aku lihat, Ayahmu mau mengerjakan semua pekerjaan rumah, asalkan kalian tidak keluyuran," ucapnya, menahan sedikit kesedihan yang mengisi relung hatinya yang dalam.
"Bukan begitu Widia," timpalku. Berjalan dan berusaha menenangkan hati Widia. "Ayahku tidak mau, menyuruh kami bekerja karena katanya, tidak bersih dan masih bau," ucapku memotong pembicaraan Widia. Ingin sekali rasanya aku bercanda. Namun, aku terpaksa mengurungkannya, melihat Widia yang begitu memilukan.
"Berarti Ayahmu, sayang dong kepada kalian," cetusnya membenarkan. Berjalan sambil melihat penjual minuman.
"Sayang!" bisikku pelan. "Kalau Ayahku sayang, dia tidak mungkin mengurungku di rumah dan pasti dia memberiku izin untuk bermain. Namun, ini tidak. Ayahku hanya tahu, kalau aku pulang sekolah harus tiba di rumah, sebelum dia," Menatap nanar lurus terik matahari.
"Kenapa kau bilang seperti itu, Liyan? Yang jelas. Aku lihat Ayahmu begitu sayang dengan mu," imbuhnya. Menatapku.
"Entahlah Widia. Aku tidak tahu yang sebenarnya. Yang jelas. Ayahku tidak pernah memberiku izin untuk keluar rumah, walaupun hanya sebentar," jelasku. Berjalan hampir mendekati jalan yang teduh.
"Aku tidak mengerti denganmu, Liyan. Kenapa? Ayahmu tidak memberimu izin, walau hanya sebentar, apa penyebabnya?" tanya Widia dengan jelas. "Apa kau pernah berbuat kesalahan, sebelumnya?" menatapku mencari kebenaran.
Sejenak, aku merasa terpukau dengan temanku Widia, yang begitu senang menaruh hati dan perhatiannya untuk mendengarkan curahan hatiku.Namun, aku tetap sedih, dia lebih tertekan dari pada diriku.
Aku masih jauh berbanding dengannya, kalau aku ketika pulang sekolah. Aku tidak pernah bekerja apa pun, seperti Widia. Terkadang hidup ini, ada yang kita miliki, tapi tidak di miliki oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya, ada yang dimiliki orang lain, tapi tidak kita miliki.
Begitu malang nasibku, tapi lebih malang lagi nasib temanku Widia.
"Widia, tapi kamu kuat juga, ya 'kan?" kataku, bertanya pada Widia. "Kau tidak pernah sakit."
"Apa?!" Widia menatapku dengan aneh, seakan dia berpikir, kalau aku meledeknya secara langsung. "Liyan, kau ini," teriaknya. "Apa kau pikir aku tidak pernah sakit?!" gerutunya dengan kesal.
"Maaf. Aku asal tebak saja," kilahku. Menatap Widia. Lanjut berjalan.
__ADS_1
Seketika aku bergeming menatap Widia. Dia begitu sebal hari ini melihatku.
Langkah gontaiku, seketika ingin terhenti dan terjerembab ke jalan. Terpaksa aku mengajak tubuh lemah ini untuk tetap kuat. Agar aku terlihat baik-baik saja. Terutama untuk Widia, aku tidak mau, kalau Widia kepikiran dan mengkhawatirkan diriku. Sementara, dia saja terlihat memikul beban yang berat. Wajahnya yang ceria kini terlihat lesu dan murung, seperti orang yang mempunyai beribu masalah.
"Widia, kamu jangan sedih. Nanti aku jadi, sedih melihatmu," Mengayunkan tangan merangkul Widia memberikan dukungan semangat.
"Liyan, terimakasih. Kamu temanku yang paling baik," Widia tersenyum.
"Widia, sudah seharusnya kita sesama teman saling sayang menyayangi," ucapku. Mengembangkan kedua pipi dan menarik bibirku hingga melengkung.
Widia, hanya menyimpulkan senyum manis membalasku. Menatapku dengan bahagianya hari ini, sampai- sampai dia melupakan penyakitku.
"Liyan, bagaimana sakitmu? Apa makin..." Widia terdiam, dia seakan tidak berani untuk melanjutkan ke khawatirannya.
"Sakitku tidak apa-apa, Widia. Kamu jangan panik. Aku masih kuat, kok ," ucapku menenangkan. "Kalau aku tidak melatihnya, nanti sampai di rumah. Aku pasti di marahi oleh Ayahku," menunduk dan sedih.
"Kenapa kamu sedih, Liyan?" tanya Widia dengan penasaran. Menatapku yang tertunduk.
"Kau tahu. Kalau aku sakit. Ayahku pasti marah dan tidak akan mengizinkanku lagi sekolah," tandasku dengan kekecewaan yang terpendam.
"Liyan. Apa Ayahmu benar mengatakan, seperti itu?" tanya Widia. Menatap dengan serius.
"Iya," mengangguk sambil mengerjitkan kedua mata. Menatap langit.
"Kasihan sekali kau, Liyan," kata Widia pelan.
Aku hanya menyunggingkan senyum tipis, menatap Widia, sebagai rasa empatiku karena Widia telah mau mendengarkan keluhanku.
"Tapi Liyan. Apa Ibu sambungmu tidak mau membelamu?" tanya Widia ingin tahu. Berjalan terus menuju tempat penjual minuman.
Aku hanya tersimpul tipis mendengarnya. "Ayahku tidak suka, kalau ada orang yang ikut campur. Apalagi Ibu sambungku. Ayahku tidak pernah mengizinkannya untuk membela kami," ucapku. Menatap ke bawah melihat langkah kakiku yang lemah.
"Kenapa Liyan?" tanya Widia. "Dia 'kan Ibumu juga," tutur Widia membenarkan.
"Karena aku Anaknya," jawabku. "Aku tidak tahu tentang itu Widia," keluhku. "Aku jadi, bingung. Sebaiknya, kita jangan membahas itu," ucapku dengan penuh penolakan. Berjalan.
"Ya sudahlah. Kalau kau tidak mau. Tapi, Aku ingin tahu sebenarnya, Liyan," Berhenti.
Setelah sekian lama, kami berjalan sambil bercerita tentang keluhan kami. Akhirnya, kami sampai di warung yang kami tuju.
"Widia, itu minumannya!" seruku menunjuk sebuah botol minum. Berdiri.
"Tidak usah Widia. Kamu saja. 'Kan kamu yang haus," ucapku dengan penolakan lembut.
"Kenapa begitu, Liyan? Aku tahu, kau juga haus, 'kan?" ucap Widia, mengetahui apa yang aku rasakan saat ini.
"Tidak Widia. Minum saja. Aku tidak haus," tolakku kembali, memalingkan wajah menatap yang lain.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau," ucap Widia acuh. Menatap botol minuman yang mengayun di udara . "Liyan! Aku ingin tahu. Apa Ayahmu juga melarangmu untuk menerima pemberian dari orang lain," menatapku lekat penuh tanda tanya.
Seketika aku terkejut mendengarnya. "Mm..." berpikir, apa yang akan aku sampaikan. "...Tidak Widia," jawabku menunduk dengan nada suara berdalih.
Widia yang duduk, seketika menatapku dengan setengah keyakinan. "Kau bohong, Liyan. Aku tahu, kalau kau berbohong, kau pasti menunduk," jawabnya ketus.
Seketika, aku mangalihkan pembicaraan. "Widia, sebaiknya kamu duduk, kalau minum," saranku. Menarik Widia duduk di bangku. "Bu, kami boleh duduk di sini, 'kan?" tanyaku meminta izin.
"Boleh, Nak! Duduk saja, kalau kalian mau," jawabnya tersenyum.
Widia begitu ribut hari ini. Huh! Mendengus. Membuatku tidak bisa melakukan apa pun untuk berpikir, sebentar.
"Widia, minumnya sedikit cepat. Nanti Ibumu marah," ucapku mengingatkan. Duduk menatap Widia dengan sebal.
"Iya! Liyan, kita sudah lama sepertinya di sini," ucap Widia bergegas berdiri. "Ini, Bu. Bayarannya," menyerahkan uang.
"Kita harus cepat sampai rumah, Widia. Aku takut, kalau kita kena marahi, oleh Ibumu dan Ayahku," ucapku menatap Widia. "Kau tahu, 'kan , kalau Ayahku marah seperti, apa?" keluhku memberitahu.
"Iya Liyan. Orang tua kita sama. Sama-sama suka marah-marah," sambungnya. Mendengus melepaskan ke penatan hati.
"Iya," jawabku tegas. Berserah melepaskan segala pikiran yang menggunung.
Widia pun, bergegas dan aku langsung membenahi tas yang kusandang dengan benar. Agar aku tidak kewalahan membawanya sampai ke rumah. Aku berdiri dari bangku yang kami duduki. Membersihkan seragam dari kotoran yang menempel.
"Liyan, kau terlihat rapi sekali. Padahal 'kan kita mau pulang," ucap Widia sepintas.
"Iya. Nanti kalau pakaianku terlalu kotor. Ayahku capek mencucinya," balasku. Menatap Widia sambil memperhatikan sekitar pakaianku.
"Ya sudah. Mari sini, biar aku bantu," ucap Widia memberi tawaran.
"Baiklah, kalau kau tidak ke Beratan," lanjutku menghampiri Widia.
__ADS_1
Widia berjalan mengikuti putaran tubuhku. Membersihkan pakaian yang terkena kotoran.
"Liyan! Ayahmu baik juga, ya. Tidak pernah memberi kalian pekerjaan di rumah," ucap Widia. Membersihkan rok sekolah.
"Bukan begitu Widia. Kata Ayahku itu adalah tugasnya. Jadi, setiap tugas itu tidak boleh di berikan kepada siapa pun," jawabku. Membersihkan rok bagian depan.
"Tugas?" tanya Widia dengan penasaran. "Tugas apa maksudnya?" tanyanya kembali dengan kebingungan yang memenuhi pikirannya.
"Tugas rumah," jawabku.
"Tugas apa, tugas rumah?" sambil berpikir. "Hahaha ! Seperti sekolah saja," celetuk Widia.
Widia terus tertawa, sementara aku masih fokus memperhatikan pakaian sekolahku dan tidak merespon tanggapannya sedikitpun. Sesekali aku melihat Widia kembali yang masih mengoceh dengan pendapatnya sendiri.
Hanya simpulan senyum yang aku berikan sebagai responnya. Dia terlihat berputar mengelilingiku dengan serius, mencari noda yang menempel di pakai dan rokku.
"Sudah Liyan. Sudah bersih. Aku yakin, pasti Ayahmu tidak akan marah lagi dengan mu," cetusnnya dengan tersenyum, seakan menertawai diriku yang resah.
"Kau menertawaiku, ya," sindirku. Melirik Widia sekilas. "Kau tidak tahu, Widia..."menatap nanar sambil merapikan pakaian seragam kembali.
"Siapa yang engga tahu? Aku tahu, kok. Kau takut sama Ayahmu, Hahaha!" ledek Widia dengan tawa candaan renyah.
"Widia, aku masih sakit. Jangan mengejekku melulu," ucapku dengan rengekan kecil. Menatap Widia dengan cemberut.
"Iya Liyan, maaf. Aku lupa kalau kau sakit," ucap Widia merasa bersalah. Mengatupkan kedua tangan ke udara.
Wajah lirihnya, seketika menatapku sehingga membuatku begitu iba terhadapnya.
"Jangan menangis Widia. Nanti kita di lihatin orang," ucapku. Menatap Widia dan menurunkan kedua tangannya. "Mari kita pulang," ajakku menarik lengan Widia.
Hahaha! Seketika tawa nakal candaannya keluar memecah gendang telingaku.
"Widia!" teriakku pelan.
Dia pun tertawa dengan sejadi-jadinya, sampai merasa puas. Mengayun kaki berjalan. Meninggalkan tempat penjual minuman tadi.
Dengan langkah sigap. Widia bergegas secepat mungkin mengayun kaki dengan kencang. "Liyan, ayo!" serunya, sambil mengayun tangan dengan ringan ke udara. Memutar kepala menolah ke arahku.
"Kamu duluan saja Widia," jawabku dengan sedikit berteriak. Mengingat tali sepatu dengan kuat.
Widia terlihat begitu kencang. Dia melangkah, seakan di tinggalkan oleh angkutan umum. Tanpa menghiraukan kiri dan kanan.
Aku begitu tersenyum simpul melihatnya. Dia yang di temani rasa ketakutan berjalan, seperti orang yang sedang di kejar.
Seketika aku mengayun kembali kaki yang lemah. Memaksa tubuh mungil ini untuk tetap bersahabat walau, hanya sebentar.
Aku berjalan seorang diri, sambil melihat bayanganku yang setia menemaniku. Bayangan yang malang. Dia begitu kasihan sekali terlihat, selalu menemani tuannya tanpa lelah dan henti. Baik dalam keadaan terkekang maupun tidak.
Aku kembali menatap tubuh lemahku yang rasanya, semakin memuncak. Ingin sekali aku beristirahat di mana saja. Asalkan aku bisa menetralkan kembali staminaku.
Sekeliling ruas jalan aku perhatikan tanpa letih dengan menatap serius tempat yang teduh untuk berlindung. Dari kanan sampai kiri. Aku terus memutar kepala, melihat dengan antusias, pohon maupun tapakan kecil yang bisa untuk melepaskan sejenak letih.
Aku yang risau dengan penyakit yang kembali bersarang di tubuh ini. Membuatku mengurungkan niat untuk berteduh. Dengan segenap ke risauan yang melanda. Aku meluruskan langkah untuk lanjut sampai ke rumah.
.
.
.
Terimakasih teman-teman yang telah memberikan like, komentar dan favoritnya. 🥰
Bersambung...
Sambil menunggu Author untuk Update!
Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!
Pasti engga nyesel deh, bacanya!
Cinta akan menemukan pemiliknya. Sebuah ketidaksengajaan, keterpaksaan, dan perjodohan, bisa menjadi jalan untuk menyatukan dua hati yang berbeda.
Seorang gadis SMA bernama Aira, terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang duda bernama Affan yang merupakan ayah sahabatnya, Faya.
Mengapa pernikahan itu bisa terjadi?
Akankah pasangan beda usia itu bisa saling mencintai?
__ADS_1