Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mengambil jambu


__ADS_3

" Kak itu jambunya!" Adikku sedikit


" Ia," mengambil gala. " Tangkap dek!" Sambil menjolok jambu hingga jatuh.


Kedua mataku terasa silau akibat biasan matahari yang menyinari bumi. Pohon jambu yang berdiri tegak dengan buah yang rimbun membuat ku geram ingin mengambilnya semua.


" Kak," panggil adikku kepada ku yang lagi menjolok jambu. " Cepat, nanti dia marah lagi," dengan sedikit pelan.


" Liyan!" Teriak wanita itu dari dalam rumah. " Ngapain kamu disitu!" Dengan suara kerasnya.


" Heh!" Tegurannya yang kini suaranya terdengar begitu dekat.


Gala yang menjolok jambu pun terjatuh dengan lepas. Hampir saja mengenai wajahku dan adikku.


" Main-main kalian disitu ya!" Dengan penuh penekanan.


Aku yang berdiri membelakangi pintu tetap menatap lurus kedepan. Sementara, adikku yang berada di sampingku terlihat begitu gugup dan gemetar.


" Liyan, kau bilang kau sakit. Ngapain kau di panasan itu! Mencari penyakit aja kerja kalian." Suaranya semakin melengking terdengar sampai burung pun terbang aku lihat dari atas pohon.


Suaranya yang terus mendayu-dayu memecahkan gendang telinga. Membuat tubuhku yang lemah tidak mau memutarkan badanku kebelakang di tempat dia berdiri. Adikku yang tadinya begitu strong menghadapi wanita itu kini menciut lemah.


Wajahnya yang pucat dengan meremas jemari tangannya kuat.


" Ngapain kau disini, dek! " Sambil melihat adikku yang berjalan perlahan mendekatiku.


" Kak, Ayah dimana?" Berbisik ditelingaku.


" Untuk apa kamu Ayah,hah!" Sambil menganggukkan sedikit kepalaku dan menaikan alisku sebagai isyarat kekesalan aku sedikit.


" Nanti dia marah sama kita kak, aku takut!" Dengan getir.


Hahaha! Melihat adikku aku tertawa geli di dalam hati sambil mengejeknya dengan mengerjitkan bibirku.


" Kak, suruh dia diam!" Adikku dengan nada suara pelan dan wajahnya terlihat begitu memohon belas kasihan yang amat mendalam.


Seketika, aku Manarik napasku dalam melirik kebelakang. Ternyata, dia masih berdiri tegak di depan pintu. Menatap kami dengan sorot mata yang tajam.


" Liyan, apalagi, kenapa kau enggak memutarkan badanmu?" Tanyanya dengan nada suara yang sedikit kesal.


Hatiku yang begitu gemetar dibalut dengan tubuhku yang panas dan kedinginan. Harus menghadapi amarah yang memuncak dari wanita yang ada di belakangku saat ini.


Kaki lemahku pun aku putar dengan perlahan. Tangan mungilku yang lemah terasa gemetaran. Ingin menghadapi yang ada di belakangku.

__ADS_1


Adikku yang berdiri juga di dekatku bergeser semakin jauh seakan dia mau pergi lari. Wajahnya sedikit masam melemparkan pandangan nya di segala arah.


" Liyan, kau mau melawan,ya?!" Emosi jiwanya begitu tersulut panas.


"E-engga!" Dengan terbata menunduk.


" Jadi, kenapa dari tadi kau diam saja di situ?" Dia menanyakan kembali.


Aku pun hanya menggelengkan kepalaku dengan pelan.


" Engga, engga," sorot matanya pun menatapku dengan sinis.


Adikku masih bergeming berdiri sedikit jauh dariku. Aku yang melihat adikku seakan dia kesal akan ibu sambung kami dengan sorot matanya juga yang tajam. Wajahnya yang begitu ketat tergambar dengan jelas kini.


Ibu sambung kami yang tadi berdiri setelah memarahi kami. Kini memutar badannya sambil melihat adikku.


Kedua mataku yang melihat itu seakan mengkhawatirkan semuanya. Dari wajah adikku yang bisa aku lihat pasti dia akan mengadukan ini kepada ayahku.


Wajah kesalnya kini semakin membungkus dirinya yang polos. Bibir yang dia tutup rapat seakan mendatangkan badai yang besar yang akan memporak -porandakan semuanya.


Setelah ibu sambung kami menghilang dari depan pintu. Segera mungkin aku menghampiri adikku yang terlihat geregetan. " Dek," dengan hati-hati dan pelan. " Jangan bilang sama Ayah, ya!" Pintaku dengan memohon.


Aku masih menatap lekat adikku yang bergeming dengan seribu bahasa. Tatapan tajamnya begitu terlihat mengerikan seakan ia ingin menerkam ibu sambung kami.


" Kak," cairan kristal bening pun kini terjatuh spontan dari bola matanya yang kecil.


Aku begitu lirih berdiri disamping adikku yang menangis. Aku begitu tak kuasa melihatnya.


Ingin sekali aku mengatakan, berhenti menangis.


Namun, mulut kecilku yang lemah begitu tak kuasa untuk membuka mulutku.


" Kak, Ayah," seketika ia mengembangkan pipinya tersenyum sambil menghapus air matanya yang mengalir.


" Ayaah, Ayah dari mana?" Tanya adikku sambil menggenggam tangan ayahku.


Sementara, diriku diam dalam kesepian ku bersama sakit yang masih bersemayam begitu lamanya. Tawa adikku yang kini terlihat begitu ambigu oleh kedua mataku.


" Ayah, Liyan masuk ke dalam duluan ya Ayah," pintaku dengan sedikit menopang tubuhku yang semakin melemah.


" "Kak, tapi kita mau ngambil jambu lagi," adikku yang kini sudah ceria kembali.


" Dek, kita ngambil jambunya cukup sampai disini aja,ya," kataku dengan memohon agar adikku mau mengurungkan niatnya esok hari.

__ADS_1


" Tapi, kak besok aku tidak tau, aku dirumah atau bermain," jawab adikku dengan merengek


manja.


" Liyan, Ana ayo masuk, jangan ribut, kalian ini kak adik," dengan penuh penegasan ayahku menarik lengan adikku untuk masuk dan aku ikuti dari belakang.


" Tapi Ayah," adikku belum bisa menerima keputusan ayahku.


"Jangan membantah Ayah," dengan penuh penekanan dan berjalan begitu cepat.


" Tapi, Ayah Ana bosan dirumah," dengan menutupi semuanya. Adikku berusaha menolak ajakan ayahku untuk kedalam rumah. Ia begitu erat dengan menggenggam tangan ayahku menahan kakinya untuk tidak melangkah dengan kuat.


Aku berdiri sempurna melihat adikku memasang wajah sedikit takut. " Ayah," dengan wajah sedikit memohon kepada ayahku.


" Ana, mau tetap disini Ayah, " pinta adikku dengan tulus.


" Ayah, Liyan duluan masuk," dengan sedikit langkah gontai aku menyeret kakiku untuk keluar dari lingkaran yang mencekam ku saat ini.


" Liyan," aku yang berjalan seketika berhenti. "Kenapa adikmu?" Tanya ayahku ingin tahu.


Seakan ayahku tahu kalau adikku itu ketakutan karena ada tekanan yang menimpanya.


Aku yang menopang tubuh lemahku diam tanpa menoleh kebelakang. Langkah gontai ku pun kini semakin aku seret dengan perlahan.


Sambil memutar otak ku untuk berpikir jawaban apa yang akan aku berikan atas pertanyaan ayahku.


" Kak, kita ngambil jambu, kan?" Tanya adikku dengan menaruh harapan kalau aku akan menyelamatkannya.


" Liyan," ayahku kembali menekan aku.


" Ia," aku terpaksa menjawab pertanyaan ayahku. "Ayah tadi kami mengambil jambu, lalu ibu itu memarahi kami." Kataku dengan tandas sambil memutar badanku perlahan dengan wajah sedih. Wajahku kini tidak berani menatap ayahku. Aku hanya menunduk.


" Kenapa kalian dimarahinya?" Ayahku menatap adikku.


Seketika adikku. "Tidak Ayah, tidak," dengan mengayunkan tangannya ke udara. Setelah ia melihat wajah ayahku menatapnya tajam. seakan ayahku mengetahui kalau adikku membuat masalah.


Aku yang mendengar adikku dia menutupi kemarahan ibu sambung kami dari ayahku saat ini.


Langkahku kini terhenti kembali. Keinginan ku untuk masuk terpaksa aku urungkan demi adikku dan pertanyaan ayahku.


Semakin lama aku semakin mau jatuh. Kakiku rasanya tidak kuat lagi menopang. Tapi aku tetap dengan kukuh mempertahankan diriku yang lemah demi ayahku.


" Liyan, kamu tadi mau masuk kan, pergilah!" Ayahku berjalan menarik lengan adikku masuk.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2