Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Bertengkar dengan Diriku Sendiri


__ADS_3

Setelah lama aku berdiri memperhatikan dia. Sedikitpun dia tidak menyadari akan diriku yang berdiri di dekatnya. Ibu sambungku masih terlihat sibuk dengan aktivitas yang di lakukan nya hari ini.


Panas yang terasa di pagi hari menembus kulit tubuhku yang pucat bagaikan diselimuti bara api. Pelipis ku yang kecil mengalirkan air keringat yang membasahi pipiku.


Ibu sambungku terlihat begitu rileks dengan pakaian yang mendominasi tubuh nya terlihat dengan nyaman. Tak ada prahara yang terpancar dari wajah nya yang hampir senja. Dia terlihat begitu tenang menikmati geraknya yang bebas berkebun.


Tubuhku yang mungil berjalan dengan terseok-seok menghampirinya. Meskipun, keadaan ku sekarang ini masih sakit. Aku tidak pernah larut dengan sakitku. Aku kerap kali memaksa tubuh mungilku yang lemah untuk bergerak. Mengisi hari -hari ku dengan semangat baru ku. Mencari sesuatu yang bisa menjadi penyemangat untuk diriku sendiri. Tanpa ada yang aku bebani.


Seketika aku telah menyambangi ibu sambungku yang sibuk dengan kesendiriannya berkebun. Aku yang berdiri mematung hanya bisa menutup bibir kecilku dengan rapat. Melihat dia yang begitu tekun menanam tanaman yang dia tanam.


Suasana yang kini sudah membosankan bagiku. Segera mungkin aku harus meninggalkannya, pikirku pun memerintahkan dengan seketika. Aku pun memutar badanku untuk kembali masuk ke dalam rumah. Dimana, pada saat ini rumah telah menjadi istana penyekat untuk kebebasan ku.


Langkahku semakin memaksaku untuk masuk ke dalam rumah ku yang sepi. Seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Kasih sayang yang gersang lah yang bersemayam didalamnya. Tidak berapa lama setelah ayahku menikahi ibu pengganti kami. Warna kehidupan pun semakin banyak yang hadir. Lukisan wajah emosional pun semakin hari semakin banyak terlihat.


Setengah meter aku berjalan. Tiba-tiba suara panggilan terdengar dari belakangku menghentikan langkahku.


"Liyan!" Teriak ibu sambungku.


Sontak aku menghentikan langkahku. Memutar badanku menoleh kebelakang. Aku kembali melangkahkan kakiku yang lemah perlahan.


"Ia, Bu." Aku menghampirinya dengan wajah ku yang begitu datar.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya nya sambil merapikan tanaman nya.


" Engga ada." Kata ku dengan sedikit malu.


" Sudah makan kau?" Tanya nya dengan memberikan perhatian yang serius.

__ADS_1


" Sudah!" Jawabku dengan sedikit memalingkan wajahku dari terik matahari.


" Ya, sudah lah! Kalau kau sudah makan, nya! Ngapain lagi kau disini. Sudah lama kau tadi berdiri disini." Dengan ingin tahu.


Hm! Aku mengeram kecil di dalam hati. Sambil mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan nya. Agar dia tidak memarahi ku.


Wajah memelas ku pun kini seakan menjadi sebuah jawaban kalau aku tidak mau menjawab pertanyaan nya. Karena aku yang tidak tahu jawaban apa yang akan aku berikan untuk pertanyaan yang terus menyerang ku.


Dia terlihat menatap ku dengan tajam menunggu jawaban yang akan aku berikan. Lama dengan diamnya kini dia mulai mendengus kesal. " Ya, sudah lah! Di tanya kau tidak mau menjawab. Dengan kesal dia memutar tubuhnya kembali. " Kalau kau mau disini. Duduk saja disitu! Karena disitu tidak panas.Kalau kau tidak berani di rumah sendiri." Menunjuk sebuah pohon yang berada di dekat kami.


Aku masih saja diam hanya mendengar kan apa yang dia ucapkan kepada aku. Aku tidak sedikit pun bergerak. Aku masih diam mematung bertengkar dengan diriku sendiri. Aku harus duduk atau masuk kedalam rumah yang tadi ingin aku masuki.


" Kenapa kau masih berdiri di situ. Kan, panas! Nanti kau makin sakit engga sembuh-sembuh. Makin marah nanti Ayah mu sama mu. Ayah mu itu kalau sudah marah kau pasti ketakutan."


Sambil dia melirikku.


" Liyan, ini harinya panas. Kalau ibu masih lama lagi siap." Kata nya yang begitu kasihan melihat ku.


Aku yang masih yang masih tetap bersikukuh dengan keras kepalaku menatapnya dengan sedikit kesal dan bercampur dengan kebingungan.


Pikiranku pun semakin memikirkan yang tidak ada titik akhirnya dengan keras. Keras kepalaku membuat diriku saat ini semakin terpuruk.


Angin yang berhembus di dampingi oleh terik matahari membuat tubuhku ingin terkulai. Dari tadi ibu sambungku telah memerintahkan aku untuk masuk ke dalam rumah, jangan menemani dia.


Tidak berapa lama aku berdiri ibu sambungku pun terlihat mengakhiri kegiatannya dengan kebunnya.


" Ayo kita masuk!" Dia berjalan di depan ku. Menuntun langkahku perlahan.

__ADS_1


" Ini jam berapa? Kau sudah minum obat? Jangan sempat kau tidak meminum obatmu. Nanti kau tidak sembuh-sembuh. Marah nanti dokter nya kalau kau tidak meminum obat nya."


Segera aku melangkahkan kakiku duduk di pinggiran pembatas dapur dengan halaman.


Sambil melihat ibu sambungku membersihkan pekarangan dapur.


Aku melihat dengan tertegun hari ini begitu aneh bagiku. Dia tidak terlihat seperti biasanya, yang keluyuran tak menentu. Membuat ayahku kesal dengan sikap nya yang seperti, tidak menghiraukan aturan yang di buat oleh ayahku.


" Liyan, kamu kan tidak pernah sekolah sudah lama. Jadi, kayak mana! Apa gurumu nanti tidak marah. Apalagi kan, nanti kalau ujian." Dia menatapku lekat.


Napas yang aku tarik dengan dalam kini aku keluarkan dengan kasar. Mendengar ucapan ibu sambungku yang kembali membuka memori ku akan sekolah ku. Wajah polos ku pun terlihat sedih dengan beribu kekecewaan yang berkubang di dalam diriku. Keinginan untuk sekolah kembali menari-nari di kepalaku.


Sambil menatap lurus dengan pandangan kosong. Aku kembali bertengkar dengan diriku mengingat penyakit ku yang belum sembuh.


" Liyan, kalau kamu bisa sekolah. Sekolah saja! Engga usah libur. Nanti kau tidak tahu kapan menerima rapor." Hari ini ibu sambungku begitu terlihat cerdas. Dia begitu banyak bicara karena ayahku tidak ada di rumah. Dia terus menyirami ku dengan kata -kata penyemangat untuk menguatkan diriku.


Seketika keinginan ku untuk sekolah kini tumbuh dengan segala bentuk pertimbangan yang telah aku buat dalam diriku sendiri. Pertimbangan yang aku dapatkan karena telah bertengkar dengan diriku sendiri.


" Liyan, penyakit mu jangan terlalu di bawakan. Itu kan cuman demam." Kata nya tanpa melihatku.


Aku langsung diam mendengar dan melihat dirinya yang berjalan dengan tatapan kalau dia tidak tahu dan tidak merasakan seperti yang aku rasakan. Siapa yang tidak ingin sekolah sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri. Aku saja kalau di ijinkan oleh ayahku sekolah. Aku pasti sudah pergi pikirku melihat ibu sambungku yang tidak mengetahui apa-apa.


" Liyan bilang sama Ayah mu. Jangan kau diam saja. Nanti kau yang rugi kalau kau tinggal kelas. Nanti di bilang orang kau bodoh. Memang seperti itu kan, kalau anak yang tinggal kelas itu adalah anak yang bodoh." Kata nya dengan spontan.


Kata-kata nya bagi ku itu adalah tamparan yang sangat keras dengan wajah kesal dan hati ku di penuhi oleh amarah. Aku menatapnya dengan masam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2