
"Ana nanti kalau sampai di rumah jangan bilang sama Ayah kalau kita bermain kelereng di panasan,nanti Ayah marah." Harap ku, menatap adikku. "Karena Ayah kan engga pernah ngasih kita main kelereng." Lanjut ku.
"Ia kak." Sahut adikku. "Tapi kak! Aku takut Ayah tahu dari orang lain." Lanjut adikku. Berjalan.
"Emang kenapa kak? Kalau Ayah kakak tahu." Tanya Andrini penasaran. Berjalan.
"Ia kak! Ayah kami tidak suka kalau kami bermain kelereng." Jawab adikku. Menatap Andrini.
Kami pun melanjutkan perjalanan di tengah panas yang terik. Aku,adikku dan Andrini berjalan perlahan seakan kami menikmati panas yang menyengat.
Siang ini membuat hari ku begitu kacau. Masalah besar pasti akan datang menghampiri ku. Pikiranku pun membuat separuh napasku terbang menari-nari di udara yang penat terbungkus bersama tubuhku yang lemah.
Langkah gontai ku yang lemah pun, ku ayun kembali ke rumah. Angin yang berhembus di siang ini menyapa kami menjadi teman dalam perjalanan.
Tanpa sadar aku melihat tawa adikku dan Andrini terlihat begitu renyah menembus ke dua netraku, canda mereka juga terlihat menjadi penetral gerah ku.
"Kak, kita sebentar lagi sampai." Kata adikku pelan. Melihat kotak kecil bening yang berisi kelereng.
Aku yang berjalan disamping mereka menarik bibirku menatap adikku memberikan jawaban. Aku pun terus berjalan lurus sambil melihat kaki kecilku yang melangkah seakan aku menghitungnya.
Tubuh mungilku yang lemah seakan terhipnotis dengan hembusan angin yang menerpa dan membuat rambut ku berserakan.
"Dek cepat!" Kataku dengan nada suara yang berat. Menarik lengan adikku dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Ia kak sabar." Bisik adikku. Memegang kelerengnya. "Kelereng ku mau jatuh." Lanjut adikku. Menepis tanganku.
Refleks aku terkejut dan langsung melepaskan tanganku. Spontan wajahku berubah panik.
Tidak berapa lama kami berjalan, tiba-tiba adikku dan Andrini berhenti. Adikku yang berhenti dikarenakan kelerengnya yang mau jatuh sementara Andrini rumahnya sudah terlihat.
"Kak rumahku sudah terlihat itu!" Kata Andrini sambil menunjuk dengan kedua matanya.
"Ia rumah kakak juga itu!" Balas ku menatap Andrini.
Sementara adikku terlihat asyik dengan kelerengnya. Dia tidak menyadari kalau kaki kecilnya telah memasuki pekarangan rumah kami. Aku melihatnya begitu sumringah menatap kelerengnya dengan warna yang berbeda.
"Dek kita sudah sampai di rumah." Bisik ku pelan di telinga adikku.
Sontak adikku terkejut dengan sedikit kecemasan, seakan adikku mengatakan kenapa baru sekarang di beri tahu. Dia pun mengangkat kepalanya melihat ku yang menjauh darinya. Adikku terdiam di selimuti rasa ketakutan ketika aku menatapnya.
Tubuh mungilku yang lemah seketika gemetar rasanya ingin terhempas dengan keras. Tungkai kakiku yang menopang tubuhku yang lemah,lemas dan tak berdaya.
Mataku seakan mengecil menatap adikku. Secepat mungkin aku memutarkan pandangan ku melihat pintu rumah kami. Aku melihat ayahku telah berdiri menatap kami dengan sorot mata yang tajam yang membuat ku terperanjat menyambut kami.
Tubuhku diam membeku seperti es. Bibir kecilku tertutup rapat membuat jemari kecilku meremas pakaian ku untuk menghilangkan rasa takutku.
"Dari mana saja kalian?" Tanya ayahku dengan datar. Berdiri.
"Dari sana Ayah." Jawab adikku dengan wajah sedikit takut. Mengayunkan jari telunjuk menatap lurus ke bawah.
"Dari sana mana?" Tanya ayahku kembali menatap ku.
Melihat sorot mata ayahku yang menatapku tajam aku langsung diam dan menunduk melihat jemari kakiku.
"Bermain Ayah." Jawab ku pelan dengan wajah menyimpan kecemasan.
"Ayah kami tadi bermainnya cuman sebentar kok." Potong adikku spontan.
Menghampiri ayahku.
"Ayah tidak bertanya pada mu.Ayah bertanya pada kakak mu. Jangan biasakan memotong pembicaraan orang apalagi yang bicara orang tua." Kata ayahku dengan penuh penekanan menatap adikku.
Setelah itu ayahku mengembalikan pandangannya kembali menatapku seakan dia menunggu jawaban dariku untuk menjawab pertanyaannya.
"Dari bermain Ayah." Jawabku pelan dengan menyimpan sedikit ketakutan.
"Ayah tahu kalian bermain.Tapi bermain apa?" Sambung ayahku mendelik. Mengayunkan tangan di pinggang.
Seketika bibir Kecilku gugup untuk bersuara apalagi menatap ayahku yang sedikit emosi.
"Ayah jangan marahi kakak. Ini semua salah ku." Kata adikku dengan lirih menatap ayahku. "Ana tadi yang mengajak kakak Ayah." Lanjut adikku kembali.
"Liyan, Ayah tadi memang mengizinkan mu untuk keluar bermain bersama adik mu tapi bukan berarti kamu dengan bebas keluar sampai sekarang baru pulang!" Bentak ayahku sedikit meninggi.
"Kamu ini masih sakit. Baru hari ini minum obat dan berobat kerumah sakit lagi." Sambut ibu sambungku dengan wajah kesal. "Baru tadi kau periksa darah sehingga menangis kau di sana karena melihat jarum suntik itu." Lanjut ibu sambungku. Berdiri.
"Liyan sudah berapa kali ayah bilang,kamu itu harus bisa mengendalikan adikmu. Adikmu ini terlalu suka bermain dan berlama-lama di luar. Kalau bisa adikmu ini diluar saja, engga usah lagi pulang ke rumah." Kata ayahku dengan penuh penekanan. "Itu yang mau kau ikuti,kalau kau mengikuti dia kau akan karam." Lanjut ayahku, mendelik.
Mendengar amukan ayahku tubuh lemahku gemetar. Rasanya aku bagaikan tersambar petir yang keras yang dapat melemparkan tubuhku.
__ADS_1
Nyaliku seketika menghilang.
"Kau juga masih sakit, tapi mau saja mengikuti kemauan adikmu yang nakal itu." Pekik ibu sambungku menatapku dengan sorot mata tajam.
Butiran kristal pun jatuh membasahi pipi kecilku. Suara mereka yang keras begitu membuatku terhimpit. Tungkai kakiku rasanya ingin lepas. Wajah ceriaku yang tadi menghiasai perjalanan ku kini terbang terbawa badai.
"Liyan, kamu itu baru minum obat sudah langsung keluar." Kata ayahku menatapku. Pergi.
"Kau juga suka kali membuat masalah." Pekik ibu sambung kami menatap adikku.
Mendengar pekikan nya bibir kecil adikku terlihat bergetar menahan tangis yang ingin keluar. Tapi dia terlihat begitu tegar, diam memegang erat kotak kecil bening dengan menutupi pakai tangannya agar ayahku tidak mengetahui kelereng itu. Sorot matanya yang berkaca-kaca mengikuti langkah ibu sambung kami dengan kebencian.
"Liyan,Ana! Apalagi,masuk, cepat!" Panggil ayah ku dari dalam. Menatap kami.
Mendengar suara ayahku ibu sambung kami langsung meninggalkan kami, masuk lebih dulu.
"Kak." Panggil adikku lirih dengan wajah merasa bersalah. Berdiri.
Melihat adikku yang menghampiri, aku pun seketika memalingkan pandangan ku menatap nya yang berdiri gemetar terlihat begitu gugup.
"Ayo dek kita masuk." Ajak ku dengan pelan. Menghampiri adikku dengan melingkarkan tanganku di bahunya.
Kami pun masuk dengan melangkahkan kaki perlahan sambil menunduk, berjalan ke kamar tanpa menghiraukan apapun bersama adikku yang masih memegang erat kotak kecilnya.
Wajahnya masih terlihat pucat akibat suara ayahku yang mengejutkan nya. Dia begitu terlihat histeris dan gemetar ketika menjatuhkan tubuhnya teronggok di lantai. Menatap dengan pandangan kosong.
Aku yang berada di sampingnya pun merasakan hal yang sama bahkan,jauh lebih daripada adikku. Aku yang sudah lemah dengan sakitku menatap ke dinding kamar sambil menjatuhkan tubuhku di lantai di samping adikku. Aku rasanya semakin lelah dengan suara ayahku yang begitu ramai menghampiri ku dan adikku sehingga membuatku terdiam dan bengong.
Akan tetapi semua ini tidak menjadi hambatan untuk ku. Aku harus tetap kuat dan semangat untuk menguatkan diriku hari ini begitu, banyak beban yang mengisi setiap napasku.
"Liyan,Ana apalagi, mandi!" Seru ayahku.
"Ia Ayah." Jawabku dengan lembut. Duduk menenangkan adikku.
"Kak, Ayah pasti marah besar karena kita lama diluar." Kata adikku dengan pelan. "Kak,kayak mana caranya agar Ayah tidak marah lagi." Sambung adikku dengan wajah berpikir.
Mendengar ucapan adikku rasanya aku lemas mengingat ayahku yang sulit di taklukkan emosinya.
"Dek mari kita berpikir bersama agar Ayah tidak marah lagi sama kita." Kataku dengan nada suara datar. "Belum lagi kakak ingin sekolah." Lanjut ku dengan tatapan kosong.
"Tapi kak, ini kan segera malam." Kata adikku melirik ku. "Kita engga mandi?" Tanya adikku. "Nanti Ayah marah kak sama kita belum lagi, wanita itu dia pasti akan mencerca kita sampai dia puas." Sambung adikku.
"Aku engga berani keluar kak, nanti Ayah marah lagi melihat wajahku,kan aku yang mengajak kakak bermain tadi, sampai kakak dimarahi oleh ayah." Kata adikku pelan dengan wajah di tekuk.
"Ayah engga bakalan marah lagi.Ayah itu engga bisa marah terlalu lama sama mu." Kata ku dengan tegas.
"Masa ia kak." Sambut adikku kembali.
Aku mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan adikku.
Adikku pun menatap ku dengan wajah menyesal. "Kak,Ana minta maaf ya kak." Kata adikku dengan lirih. "Gara-gara aku kakak dimarahi oleh Ayah." Dengan penuh penyesalan .
Melihat adikku, aku begitu terharu dan menarik bibirku dengan melepaskan sejenak beban yang bersarang di wajah polosku.
"Liyan apalagi kalian tidak keluar dari kamar ini." Pekik ibu sambung kami. Berdiri di depan tirai.
"Dari tadi kalian di panggil untuk mandi satu orang pun, tidak ada yang keluar dari sini." Lanjut ibu sambung kami.
Aku yang berdiri menghadap adikku. Sontak terkejut mendengar suaranya yang tiba-tiba terdengar dari belakang ku dengan nada meninggi.
Aku dan adikku terdiam mendengarnya sambil melihat satu sama lain.
"Ia Bu." Kataku tanpa memalingkan pandanganku dari adikku.
Kedua mataku menatap nanar adikku yang ketakutan melihat ku.
"Cepat kalian keluar sebentar lagi malam. Nanti marah lagi Ayahmu." Lanjut nya dengan kesal. Meninggalkan kami.
Seketika tubuh lemahku semakin terhempas dan napasku semakin berat tertarik.
"Ayo!" Ajak ku dengan menarik tangan adikku. Berdiri dan menyeret kaki kami keluar.
Ayahku yang tadinya ingin keluar mencari nafkah kini terlihat menukar pakaiannya dengan pakaian yang sering dia pakai di rumah. Dia pun langsung beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Mau kemana kalian ?" Tanya Ayahku menatap kami.
"Mau mandi Ayah." Jawabku dengan sedikit takut.
Sementara adikku yang berjalan di sampingku terlihat begitu gusar, diam tanpa melihat ayahku yang menatap kami.
__ADS_1
"Setelah mandi siap-siap mengaji." Sambut ayahku menatap adikku.
Adikku seketika terperanjat dan wajahnya pun berubah pucat menatap ku.
"Kak siapa yang mengaji aku atau kakak?" Tanya adikku dengan pelan di telinga ku ingin tahu.
Mendengar pertanyaan aku kembali bertanya kepada ayahku.
"Ayah nanti malam siapa yang mengaji?" Tanya ku kembali ingin tahu.
"Ana." Kata ayahku dengan tegas.
Adikku yang berdiri di sampingku seketika memutar kepalanya melihat ayahku dengan lemas dan menjatuhkan pandangannya kembali menunduk.
"Jadi, kakak ngajinya kapan?" Tanya adikku. Berjalan.
"Engga tahu,coba tanya nanti sama Ayah." Pintaku menatap adikku.
Kami pun berjalan ke kamar mandi dengan memikirkan masalah kami masing-masing.
Sepanjang kami menyiram tubuh kami, pikiran kami pun berjalan ke sana kemari. Tidak berapa lama adikku lebih dulu siap dan beranjak meninggalkan aku.
Adikku yang lebih dulu siap membuat ku terburu - buru berlari mengejar nya dengan menyeret kakiku yang lemah. Perlahan aku melangkah dan kami pun akhirnya sampai di depan pintu dapur. Tiba -tiba langkah kami pun terhenti seketika melihat ujung jari tepat di depan pintu. Aku pun seketika mengangakat kepalaku perlahan.
"Cepat masuk." Seru ibu sambung kami. Beranjak dari depan pintu.
Aku dan adikku saling melempar pandang dengan sedikit kecemasan dan penuh tanda tanya berjalan perlahan masuk kamar.
"Kak,ngapain tadi ibu kesayangan kakak berdiri disitu?" Tanya adikku dengan ketus. Memakai pakaian rapi.
Jemari ku yang lemah menggenggam baju yang akan kupakai seketika terkulai, diam berdiri mendengarkan ocehan adikku yang tak henti.
"Ana sekarang kita mengaji." Panggil ayahku dari balik tirai.
Seketika adikku beranjak menghampiri ayahku dengan membawa I'ROQ.
Sementara aku dan ibu sambung kami sedang berkutat dengan kesibukannya masing-masing.
Aku pun mengayunkan kakiku keluar, duduk di kursi makan ayahku yang bersebalahan dengan pintu dan tidak jauh dari tempat adikku mengaji menatap ke luar seorang diri.
Angin yang berhembus masuk dari celah pintu yang terbuka sedikit menembus kulitku yang pucat. Udara malam yang dingin begitu ramah menyapa ku sehingga membuat ku menghilang kan sedikit rasa sakit di tubuh mungilku dan melupakan amarah ayahku yang menyerang ku tadi dengan tiba-tiba.
Sementara ibu sambung kami yang tidak bisa di mengerti terlihat berjalan dengan piring yang di genggamnya menghampiri ku.
"Liyan makan setelah itu minum obat mu." Kata ibu sambung kami. Meletakkan piring.
"Ia Bu." Sahut ku pelan.
Aku yang duduk diam menatap adikku kagum melihat dia malam ini begitu rileks dengan kajiannya. Sesekali dia melemparkan pandangannya menatapku seakan memberikan isyarat kalau dia sudah gelisah dan ingin segera berhenti.
Kedua bola matanya terus saja mengincar ku dengan melihat piring yang ada di hadapanku.
"Ana apa yang kau lihat." Tegur ayahku menatap adikku.
"Tidak Ayah." Kata adikku dengan pelan. Menunduk.
Ayahku seketika memutarkan kepalanya ke arah ku dan menatapku dengan tajam sambil bergumam dan melihat adikku kembali.
"Sudah! Tutup!" Perintah ayahku.
"Sudah Ayah." Kata adikku tersenyum.
Adikku pun segera beranjak dan menghampiri ku.
"Kak aku laper." Bisik adikku pelan. Berdiri.
"Ana jangan ganggu kakak mu,biarkan dia makan." Sahut ayahku. Berdiri di dapur. "Kemari, ambil ini piringmu." Perintah ayahku.
Dia pun segera bergegas menghampiri ayahku dengan melayangkan senyum seakan dia telah melupakan apa yang terjadi tadi.
.
.
.
Buat teman-teman yang telah memberikan like, favorit, komentar dan votenya,aku ucapakan terimakasih,🤗🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung....