Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Balas dendam adikku


__ADS_3

Aku langsung frustasi mendengarnya. Anak Bp yang tersusun rapi dihadapan kedua mataku segera aku susun tanpa sisa.


"Ingat ya! Jangan buat -buat lagi kayak gini, ngerti !" katanya dengan pedas.


"Iya Bu," jawabku dengan gugup sambil menyusun mainan dengan rapi.


"Dengar Liyan! Ingat 'kan Adikmu itu! Jangan berani-beraninya menyentuh barang milik Ibu!" tegur ibu sambung kami dengan keras.


"Iya Bu," jawabku menunduk pelan.


"Besok entah apa lagi yang dimainkannya?!" sesal ibu sambung kami. Pergi menghilang.


"Kak," panggil adikku dengan nada suara pelan bercampur takut.


Aku yang melirik kakinya melangkah. "Makanya, Dik. Jangan suka ngambil barang siapa pun. Gak baik," kataku. Menyusun mainan yang berserakan entah kemana dibuat oleh adikku.


Adikku seketika menunduk. "Kak, kalau Ayah gak menahan bonekaku. Aku pasti gak ngambil itu?!" sambungnya polos, menunjukkan wajah imutnya yang menggemaskan itu.


Aku yang meliriknya sekilas langsung menunduk kembali. "Ana, tapi itu bukan untuk mainanmu!" kataku menaikkan kepala melihat adikku sekilas dengan menyeret tungkai kaki dan tubuh mungil yang lemah ini sedikit berjongkok mencari mainan yang masih berserakan.


"Aku tau Kak. Tapi aku suka main itu," sambung adikku kembali ngeselin.


Huh!


Sejenak aku berhenti menghela napas . "Ana, jangan suka memainkan yang aneh-aneh! Nanti Kakak jadi takut," kataku panik.


Adikku sontak menarik bajuku dari belakang. "Kak, Kakak takut sama siapa ?" tanya adikku kembali dengan kejahilannya.


"Augh!" Teriakku dan terjungkal langsung terhempas ke lantai. "Iiih, Ana, 'kan sakit!" jeritku sambil melihat bajuku.


"Baju Kakak gak ada yang koyak kok," ujar adikku. "Aku juga tau, kalau baju Kakak nanti koyak, pasti Ibu kesayangan Kakak itu marah-marah lagi dan bilang, kalau uang abis beli baju Kakak terus!" cibirnya menarik bibir kebencian.


"Iya, tapi jangan tarik-tarik baju," ucapku sebal.


"Mana mungkin aku gak narik baju Kakak. Kakak bilang Kaka takut," timpal adikku. "Pasti Kakak takut samaku, 'kan?! Elaaah, ayo ngaku!" goda adikku yang jahil.


"Ana, udah! Bantu Kakak nyusun ini," ajakku. Menyeret tubuh mungil lemah ini lagi mencari semua mainan.


"Gak! Aku malas!" tolak adikku langsung menjauh dariku. "Kakak bilang, Kakak takut kok samaku," lanjutnya.


"Kakak bukan takut samamu," cetusku. Berjongkok menyeret tubuh mungil ini sambil mengutipi mainan milikku yang berserakan.


"Alah. Bohong! tampik adikku semakin membelakangiku.


"Engga, Dik," kataku dengan lembut. Berjongkok sambil terus mencari mainan.


"Liyan, Ayahmu tadi bilang apa?" tanya ibu sambung tiba-tiba berdiri dan membuka tirai.

__ADS_1


Aku terkejut. "Engga ada, Bu," jawabku, memutar tubuh mungil yang lemah ini menatap ke arahnya.


"Jadi, Ayahmu gak ada bilang apa-apa?" tanya ibu sambung kembali. Berdiri dibalik tirai.


"Engga Bu," jawabku pelan, menjatuhkan kepala melihat mainan yang kuambil.


"Marah? Apa Ayahmu marah?" tanya ibu sambung kami lagi ingin tahu.


Aku langsung memutar sorot mata melihatnya. "Engga Bu," jawabku tenang.


Saat ini adik yang duduk membelakangiku masih tetap membisu dan diam. Mainan yang terjepit di sudut kaki tempat tidur pun kuambil dan kusimpan di dalam tempatnya.


"Benar Ayahmu sama sekali tidak marah?" tanya ibu sambung kami. "Kalau memang itu benar, berarti semuanya baik," katanya. Memutar badan dan melepaskan tirai pintu kamar yang dipegangnya.


Aku kembali menatapnya yang mencari tahu semuanya. "Ana, kau diam- diam saja?" ledekku bertanya pada adikku.


"Iya Kak. Ibu kesayangan Kakak itu memang suka memarahi kita," ucap adikku sedih.


Perlahan aku memutar badan. "Dik, mungkin Ibu capek," balasku, melihat adikku sambil memegang anak Bp milikku.


"Siapa suruh dia pergi? Pulangnya lama lagi!" tandas adikku sebal mendengarnya. "Tapi Kak, kenapa Ibu kesayangan Kakak itu balik lagi?" tanyanya terheran dan tidak suka.


"Mana Kakak tau," jawabku tercengang. Duduk menyusun kotak -kotak bekas mainan milikku dengan rapi.


Seketika adikku sedikit mendekatkan wajahnya dihadapanku. "Ana," kataku menjauhkan mukanya dari ku.


Kotak-kotak telah tersusun dengan rapi. "Kenapa kau paksa Kakak untuk tau?" tanyaku keberatan.


"Karena itu 'kan, Ibu kesayangannya Kakak. Jadi, maunya Kakak harus tau semua," sahut adikku dengan enteng.


"Ada-ada aja kau, Dik! Kau mau buat Kakak dimarahi Ayah," serangku sebal menahan suara agar tidak terdengar keluar.


"Kak, Ayah gak mungkin menghukum Kakak," papar adikku. "Karena sekarang 'kan, Kakak Anak kesayangan Ayah," lanjutnya, menatap dengan lekat.


Kedua netra terkejut dan menatapnya. "Dari mana kau tahu? Kakak Anak kesayangannya Ayah?" tanyaku ingin tahu, menatap sorot mata adikku yang mulai menjauh.


"Tadi lah Kak," jawabnya sedikit kecewa. Memutar duduknya kembali.


Kini mainan anak Bp pun sudah tersusun rapi di sudut dinding kamar. "Karena kau yang dihukum Ayah?" tanyaku balik pada adikku, meliriknya sekilas.


Kini dia diam sepertinya perkataanku mengenai dirinya. Duduk dan membelakangiku.


"Mungkin Ayah udah tau," balasku ingin membuat adikku sadar.


"Tau kenapa ?" tanya adikku, refleks memutar badannya langsung.


"Tau kalau... ." Aku menggantungkan omonganku sambil melihat adikku dengan gurat wajah lucu bercampur jahil.

__ADS_1


Sontak adikku langsung menarik selimut dari tempat tidur. "Tau apa?" tanya adikku menantang. Memegang selimut yang lebar.


"Tau, kalau... ." Aku kembali terdiam.


"Kalau aku nakal, gitu Kak!" sambung adikku memotong pembicaraanku.


Wajah licik nakalku pun mulai tertoreh ingin membuat adikku kesal dan malu. "Ptff!" Aku menahan tawa.


"Kakaaak!" teriak adikku sebal melayangkan selimut yang diambilnya menutup mukaku. "Kakak mengejekku ya, haaa!" teriaknya sambil membekap mukaku dengan kain sekuat tenaganya.


"Ana, kau paling kecil. Jadi, jangan coba-coba melawan ya!" jeritku dari dalam kain.


"Kakak duluan yang mengejekku, 'kan," sambung adikku dengan suara manjanya yang imut.


Plak!


Baugh !


Adikku pun langsung terjatuh dan terkejut. "Ahahaha !" Tawaku pecah melihat adikku yang melongo.


"Kak, punggungku jadi sakit!" jerit adikku dengan wajah manjanya yang imut dan cemberut. Mengelus punggungnya dengan pelan sambil manahan sakit.


"Itu masih pelan Ana. Kalau Kakak dorong kuat, kau pasti nangis," terangku membela diri.


Wajah adikku semakin cemberut dan sebal. "Kakak udah jahat !" teriaknya dengan suara manja.


"Eh, gak ada yang jahat, ya!" bantahku, meledek adikku dengan wajah nakal bercampur candaan.


Push!


Kain selimut langsung terlempar dengan kasar ke atas tempat tidur. "Kak, punggungku," rengek adikku manja.


"Engga yakin!" bantahku, memutar duduk melihat kotak-kotak bekas yang berserakan. " 'Kan kotaknya jadi peot, Dik," keluhku, melihat kotak yang terjepit.


"Itu salah Kakak. Bukan salahku. Makannya, jangan bilang aku nakal" sungut adikku tidak terima.


"Tapi, kenapa kau balaskan ke kotak ini?" sesalku bertanya lirih.


"Siapa yang membalasnya ke kotak Kak?" jawab adikku bertanya sebal padaku.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2