Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
keadaanku


__ADS_3

Setelah sekian tahun lamanya aku bersekolah. Aku baru merasakan nikmat keceriaan layaknya bersekolah dan bermain.Meskipun tak selayak anak-anak pada umumnya.Keceriaan ku harus berjalan sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Ayahku.


Terkadang aku merasa sedih jika dilihat ayahku yang begitu pro ke adikku dan kontra ke diriku.Terutama dalam kasih sayang. Memang secara harpiah ayahku mungkin mengajariku untuk menjadi anak yang lebih disiplin lagi. Ditambah lagi orang-orang diluar sana ada yang mengincar ku.Kalau ayahku mengingat slide masa lalu ku.Ada beberapa orang yang ingin mengambilku dari ayahku tanpa sepengetahuannya.


Aku yang duduk disamping ayahku sambil menatap adikku yang pergi bermain diusianya yang masih kanak-kanak. "Ayah,Liyan ingin sekali pergi bermain,sekali ini saja Ayah!" Aku memohon kepada ayahku dengan suaraku yang manja."Tidak,nak, nanti kamu hilang diluar sana! Ayah mau kemana nanti mencari kamu?!Dimana, nanti Ayah akan bertanya tentang kamu? Kalau kamu tidak pulang!" Sambil memakai sepatu.Aku pun langsung mengurungkan niatku untuk mengatakan selanjutnya.


Tapi hari ini dimana saatnya aku memasuki ketiga tahun. Tahun ajaran baru! Sudah sewajarnya aku menjadi salah satu anak yang paling beruntung dan bahagia. Karena telah menjalani pendidikan ku tanpa rintangan selama dua tahun.Namun, lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak padaku.Masa kanak-kanakku yang begitu ceria telah direbut oleh sakit yang ku derita.


Bertahun-tahun lamanya aku merasakan apa yang tak pernah aku bayangkan.Peluh kesah derita yang ku alami begitu menyiksaku.


Rintihan tangis yang hanya bisa kini kurasakan.Jerit rintihan hanya bisa ku luapkan dalam hati.Masa kecilku yang indah kini tak lagi dapat ku nikmati dengan leluasa.


Baru hendak ayahku ingin melihat sedikit senyum di wajah kecilku.Kini harus menelan pil pahit dengan melihat derita ku yang sakit tak kunjung sembuh. Setiap saat orang tuaku harus berjuang demi kesembuhanku. Rasa putus asa hampir saja merasuki ayahku yang lemah. Mata lelahnya yang setiap hari selalu menemaninya mencari nafkah. Kini harus beralih dengan melihat keadaanku yang tak berdaya.Rasa takut dalam dirinya akan diriku menjadi temannya.


Senyuman yang begitu jarang terlihat diwajahnya kini semakin menipis.Keoptimisan akan diriku semakin hari semakin menghilang.Kini hanya kesedihan yang ada didalam benaknya, air mata hanya bisa dia curahkan didalam hatinya. Sementara, keadaanku semakin hari semakin berkurang.

__ADS_1


Semakin hari tubuh mungilku semakin melemah.Tawa senyum ceria yang biasa menghiasi wajah polos ku kini hilang berlalu bagai ditelan bumi. Wajah polos ku semakin hari semakin terlukis kepucatan. Hanya semangat yang bisa kusematkan untuk menguatkan diriku.


Jalanan pagi yang ku nikmati setiap hari. Kalau aku berangkat sekolah kini tak pernah kurasakan lagi.Orang -orang yang bersilewaran setiap pagi kulihat yang mewarnai jalanku kini tak lagi terlihat.Hari-hariku kini aku habiskan hanya didalam rumah.Sepanjang hari,setiap menit dan waktu hanya tatapan kosong yang bisa kupancarkan.Tak lagi ku dengar suara riuh tawa anak-anak sekolah.Bahkan,untuk melihat langit saja aku harus butuh perjuangan.


Matahari yang bersinar saat pagi hari yang menemaniku kini menjauh dariku.Seakan tidak mau berteman. Dengan segala upaya telah ku lalui.Segala tipu daya telah diupayakan ayahku demi kesembuhanku. Apa yang dia bisa lakukan. Dia melakukannya dengan sepenuh hati. Asalkan lelahnya terbayar dengan kesembuhanku.


Wajahnya yang lelah karena capek bekerja kini semakin terlihat beban yang berat.Pundak yang kokoh bisa menopang semuanya kini mulai terlihat ambruk .Sinar matanya yang lelah kini mulai meredup.Lambat laun terlihat bagai tertimbun dedaunan yang layu.


Senyum yang selalu terpahat di bibirnya kini mulai mengerut. Dalam duka ku. Membuat hatiku kelabu meringis mengenang semuanya. Sehatku yang dulu. Telah hilang begitu saja. Membuat masa depan ku semakin penuh dengan tanda tanya. Sampai kapan? Aku harus menanggung semua beban ini.Belum lagi sekolah ku harus bisa aku netralkan dengan kondisi kesehatanku.Diriku yang malang harus menghadapi semua ini.Dia datang kepadaku tanpa bertanya dan begitu enggan untuk pergi dari tubuhku. Semakin hari dia semakin menunjukkan siapa dia? Dan siapa aku? Aku adalah seorang anak manusia yang lemah dan tak berdaya.Dia begitu kuat hinggap di tubuhku sehingga betah untuk berlama-lama.


Denting jarum jam yang selalu terdengar ditelingaku.Terkadang menyadarkan aku dari angan panjang ku yang terus berharap.Kapan aku bisa sembuh? Hari-hari terus kuingat sepanjang waktu berlalu. Menit pun, menghapus jejak langkahku yang optimis akan kesembuhan ku. Mataku rasanya enggan terpejam mengingat hari esok! Apakah? Aku bisa sembuh seperti semula. Pikirku pun melayang diatas tempat tidur.Mengingat seakan waktu yang pernah aku lalui dengan ceria dan tawa.


"Ia,anak ku sedang sakit.Aku sudah membawa dia berobat kesana kemari! Tapi aku tidak menemukan hasil yang maksimal yang dapat membuat hatiku lega.Aku bingung ntah, kemana lagi aku membawa anakku berobat.


Dengan lirih Ayahku menatap lengah ruang hampa yang kosong.

__ADS_1


Ayahku sesekali melihat ku yang lemah.Duduk di sampingku sambil membelai kepalaku dengan lembut.Aku yang terbaring dengan lemah tak kuasa kadang melihat wajah lirih ayahku yang menatapku lemah dengan lekat. Helaan napasnya yang dalam seakan menunjukkan keadaan yang sedang frustasi.Terkadang, sesekali aku berbicara kepada ayahku ingin melepaskan jenuhku didalam rumah yang terlalu lama.


"Ayah,apakah besok Liyan boleh bersekolah."Ayahku yang menatap dengan sedih."Nak,bagaimana kamu besok bisa bersekolah. Sementara, kodisi kamu lagi seperti ini!"Ayahku melihatku dengan wajah yang sendu."Ayah itu kepingin sekali melihat kamu sekolah nak.Tapi apa yang bisa kita lakukan. Semua usaha telah kita lakukan untuk kesembuhan kamu.Tapi Allah masih berkehendak yang lain,nak! Bahkan, guru kamu pun tidak mengizinkan kamu untuk bersekolah.Mereka menolak, nak! Kamu masuk sekolah.Mereka sudah bilang sama Ayah,tunggu kamu sembuh baru masuk sekolah.


"Tapi Ayah, terkadang Liyan kan, sembuh." Ayahku terus berkata memberikan pandangan kepadaku."Ia,nak Ayah tahu tapi kan sembuh kamu itu tidak bertahan lama. Jadi,bagaimana? Mungkin kamu bisa sekolah. Ayahku terus menjagaku.Duduk disamping ku.


Keadaanku yang naik turun begitu memperihatinkan. Ketika semangat ku tumbuh. Keyakinan ku terlihat begitu kuat. Akan tetapi, ketika, harapan ku tidak sesuai dengan kenyataan. Aku pun, tak bisa menetralkan semua kondisiku.Harapanku yang tadi sudah terbangun kini hancur berantakan.


Keinginanku kini jadi berantakan.Luluh lantak semuanya tanpa sisa.Hitungan hari yang terus berjalan membuat tubuhku bertanya,kapan? Aku akan bisa beraktivitas seperti sediakala. Kakiku yang sudah mulai terkulai layu.Ntah, kapan? Terakhir kali aku menginjakkan kakiku ketanah.


Tawa riuh adikku semakin hari. Semakin tidak kudengar lagi.Malam dan siang aku pun tidak mengetahuinya. Kapan akan tiba? Hanya bayangan gelap yang kulihat di setiap ruangan. Bergerak hiruk pikuk dalam kesunyian yang membalut tubuh mungilku.


Pohon -pohon yang rimbun di sekolahan kini tak lagi terlihat oleh kedua bola mataku yang indah.Lekukan jalan raya yang panjang kini hilang terbawa angin.Angin pagi yang berhembus dingin tidak lagi menyentuh tubuhku.Kulit putihku kini tak lagi terkena terpaan sinar matahari.


Bangku sekolah yang nyaman tak lagi disapa oleh ku.Mejaku yang sering ku gunakan untuk menulis tak lagi terjamah oleh jemari kecilku.Pakaian seragamku kini tersimpan rapi ditempatnya.Peralatan sekolahku dan tasku tergantung rapi.Tersenyum di paku yang kokoh menatap ku.

__ADS_1


Teman-teman permainanku di rumah terkadang datang hanya untuk sekedar menyapaku yang lagi terbaring tak berdaya.Teman- teman sekelas aku datang untuk melihat kondisiku yang lemah dan menanyakan kabar, kapan aku akan sembuh dan bisa bersekolah lagi? Tempat pembaringan ku setiap hari aku mengisinya dengan tidurku yang lelap.Tubuh lemahku tidak pernah absen untuk beristirahat.


Bersambung.....


__ADS_2