Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Penolakan


__ADS_3

Akhirnya, ayahku menghentikan langkahnya sebentar. "Nah, ini Nak! Jajannya sudah terbuka, 'kan?" kata ayahku. Berdiri memberikan jajan.


"Terima kasih Ayah," jawab adikku dengan suaranya yang manja.


Perjalanan terus kami lalui. Hari yang sudah mau senja menemani langkah kami yang pelan. Sepanjang jalan aku menikmati jajan yang sudah lama aku inginkan. Berjalan di belakang ayahku sangat menenangkan diri sambil membuka jajan berikutnya.


"Liyan, apa tadi kalian di sana bermain?" tanya ayahku, memiringkan tubuhnya sambil menoleh sekilas.


Jajan yang sudah masuk ke dalam mulut langsung tergantung. Berjalan dengan sumbatan jajan di dalam mulut melihat adikku yang tenang dan melahap jajan pilihannya.


"Iya, Ayah," jawabku merasa sedikit bersalah karena berbohong lagi pada ayahku.


"Kita main apa, Kak?" tanya adikku yang tidak mendengar pertanyaan ayah yang paling kami sayangi.


Jajan yang masih berada di dalam mulut mendadak terhenti dan menahan tenggorokan agar tidak menelannya. Gugup dan gagap itulah yang menyerang langkah yang panjang ini. Sekarang aku terjebak lagi di antara adik dan ayah yang sama -sama tidak tahu.


"Kak, kita 'kan beli jajan," ucap adikku yang menyangka kalau aku tidak tahu. "Ayah, kami 'kan beli jajan," kata adikku dengan polos pada ayahku yang sedang mengawasi kami dari orang-orang yang melintasi jalan setapak.


"Iya, Nak. Ayah tau kalian beli jajan dan makan jajan," tutur ayahku lembut. Menarik lengan adikku berjalan di pinggir.


Jajan terus kukunyah dan menghabiskan jajan yang satu lagi. Saat ini aku melampiaskan semua kekesalan dengan jajan yang ada di dalam genggaman.


"Ayah, kalau Ayah tau kami beli jajan, kenapa Ayah nanya lagi?" keluh adikku kesal mengasih ayahku pertanyaan yang berhubungan dengan kerabatnya.


Setengah jalan sudah kami lalui. Sekilas aku memutar badan melihat ke belakang untuk menatap jalan yang sudah kami lewati setelah sekian lama berjalan.


"Ayah, kalau kami bermain, nanti baju kami jadi kotor," paparku sambil mengulum jajan di dalam mulut.


Berjalan bertiga masih saja terdengar menginjak jalan yang terbentang. "Kalau kotor 'kan bisa Ayah cuci, Nak," sahut ayahku dari depan memandu jalan.


"Ayah, nanti kalau kotor Ayah capek," sahut adikku dengan ramah. Sok dewasa.


Jalan yang sudah kami lalui bersama ayah dan adikku terlihat seperti perjuangan yang mengesankan.


"Ayah, aku masih lapar juga," rintihku mengiba.

__ADS_1


Kedua kaki terus berjalan hingga lelah tidak lagi terasa menghantui diri yang sudah lama menunggu ayah yang sangat kami sayangi. Tidak banyak kata yang keluar sepanjang jalan yang sepi.


"Sebentar lagi kita sudah sampai," kata ayahku, melihat lurus ke depan.


Langkah kaki pun sudah mulai terasa lelah. Namun, rumah yang sudah lama kami tinggalkan kini terlihat menyambut kami. Rasa lelah yang menyerang tubuh mungil yang lemah ini semakin terobati ketika pintu rumah sudah terlihat.


"Kak, sudah malam," kata adikku memelas, melihat rumah yang terbuka.


"Kakak lelah, Dik," ucapku. Berdiri di depan pintu sambil melihat awan yang sudah mulai menggelap.


Berdiri di depan pintu adalah kebiasaan kami sebelum masuk. Ingin bermain di luar juga kebiasaan kami sebelum masuk senja. Halaman yang sudah lama tidak di sapu sedikit pun tidak terlihat kotor seperti biasa.


"Kak, kalau kita di luar dulu... ," kata adikku menggantungkan omongannya sambil memutar kepala melihat baju dan halaman.


"Kenapa kau melihat bajumu?" tanyaku menunduk heran melihat adikku yang berdiri.


"Bajuku ada yang kotor, Kak," jawab adikku, melihat sekeliling baju.


"Kalau kotor ganti yang baru saja. Ayah 'kan tidak pernah marah kalau kau yang menukar baju," saranku.


Hal yang mencengangkan menggelitik hati melihat gelagat adikku yang kembali mulai ingin bermain seperti yang dulu. Selangkah kaki kecilnya yang lincah maju keluar dari pintu.


"Ana, ayo masuk!" teriakku mengajaknya yang sudah ingin bermain seperti sedia kala.


"Kakak masuk aja duluan!" seru adikku melayangkan tangan ke udara sebagai penolakan akan ajakanku. "Aku masih mau di sini melihat ayam, Kak," tutur adikku. Berdiri membelakangiku.


"Liyan, jangan ada keluar rumah, ya!" pinta ayahku berteriak dari dapur. "Ini sudah maghrib. Nanti kalau kalian di luar banyak setan," lanjutnya mengatakan yang dia ketahui.


"Ayah, kami cuma di sini aja," sahut adikku berteriak keras memberitahu ayah kami yang sangat mencemaskan kami kalau kami lari dari hadapannya.


"Tapi ini sudah maghrib, Nak," teriak ayahku tegas. "Ayah tidak suka kalau kalian keluar rumah maghrib-maghrib kayak gini," cetus ayahku yang mengisi ruangan kamar dengan suara yang menggema di langit-langit rumah.


Melihat adikku yang tidak mendengarkan malah membaut aku terpaksa berbohong lagi pada ayahku untuk menutupi adikku yang sudah dikasih tahu.


"Ayah, kami gak jauh-jauh. Kami udah masuk kok, Yah," sahutku keras. Berdiri di depan pintu sambil menunggu adikku memutar kepala melihat ke belakang tepat melihat ke arahku yang sedang menunggunya sedari tadi.

__ADS_1


"Cepat masuk dan tutup pintunya, ya!" teriak ayahku kembali dari dalam .


Desakan ayahku semakin membuatku gusar dan tidak mengerti berbuat apa untuk mencegah adikku yang sangat menyukai bermain di luar rumah.


"Kak, buahnya banyak, ya," canda adikku memancing emosi yang menganak di dalam diri.


"Ana , masuk! Kau gak dengar Ayah udah memanggil kita," desakku mengigit geraham dengan kuat.


Dengan asyiknya dia semakin berjalan mengambil ranting kayu dan mencoret tanah dengan sesuka hatinya. Hati memang senang saat aku menghampirinya. Dia sama sekali tidak lagi merasa sedih akibat dari yang terjadi tadi.


"Ana, kau gambar apa lagi?" tanyaku. Berdiri melihat ranting kayu yang berputar dia atas tanah.


"Kak, aku gambar ini," jawab adikku ringan. Memutarkan ranting sepanjang gambar belum selesai.


Tatapan semakin lekat aku arahkan untuk melihat yang dia gambar. "Ana, kau suka sekali menggambar di sini!" ujarku dengan penuh tanda tanya.


"Karena di sini dingin, Kak," jawab adikku singkat. Memutar terus ranting sampai membentuk yang dia inginkan.


Ranting terus berputar memenuhi bawah pohon yang adem. "Ana, sekarang kita masuk. Ayah udah menyuruh dari tadi," bisikku. Berdiri melihat sebuah wajah.


"Kau gak mau masuk. Kita udah lama gak bermain di luar, Kak," sesal adikku melanjutkan bentuk wajah yang terlukis.


"Tapi, Dik, kita 'kan baru keluar bermain di kasih Ayah," sambungku, menarik lengan adikku.


"Kakak," teriaknya menepis lenganku. "Aku gak mau masuk. Kalau Kakak mau masuk ya, Kakak saja," tolak adikku kasar. "Aku mau di sini. Aku bosan di dalam rumah," tandasnya, menolak tubuh mungilku hingga ingin terjerembab ke tanah.


Deg!


Aku langsung lemas dan terkejut melihat adikku yang kembali kasar terhadapku. Bingung bercampur heran aku berdiri mematung melihat perubahan sikapnya yang tiba-tiba berubah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2