Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Melihatmu Bahagia


__ADS_3

"Sssttt!" Aku menutup mulut adikku dengan tanganku. "Jangan teriak-teriak! Nanti Ayah mendengarnya."


"Kalau Kakak tidak membuang balon itu, aku akan teriak lagi," kata adikku menunjuk balon yang terletak.


"Kakak janji. Kakak engga akan memecahkannya lagi. Hihihi!" Aku tertawa geli menutup mulut.


Aku yang duduk dekat adikku setelah bertengkar sangat bahagia karena keakuran kami kembali terjalin. Ini lah kami setelah beberapa saat bertengkar secepat itu pula kami kembali baikkan. Tidak butuh waktu yang lama buat kami untuk meredakan kemarahan yang tersulut.


Adikku yang duduk bersama dengan ku telah melepaskan kekesalan yang tersimpan di dalam hatinya. Sekarang dia telah tersenyum dengan ringan. Beban yang tadi membuatnya berkutat tidak lagi bersemayam di dalam sanubarinya.


Kelegaan pun seakan membuatku melupakan masalah yang telah terjadi. Secara langsung aku yang memecahkan balon hingga membuat adikku terkejut tidak lagi gusar atas teriakkan adikku karena dia telah menutup mulutnya dengan rapat.


Sekarang hatiku merasa tenang masalahku kini telah terbang menghilang. Masalah yang tadi datang tanpa meminta izin dariku kini telah pergi tanpa berpamitan. Ia juga tidak meninggalkan bekas luka tanpa alasan. Jika aku meminta, aku akan menjauh darinya. Saat aku rindu dengan ibuku aku melihat yang membahagiakan aku.


Aku telah mencoba untuk menghindar dari kisah yang tidak sempurna. Namun, masalah itu seakan menjadi cerita yang menarik yang telah menapaki setiap ruang ke hidupanku. Bagaimana kertas putih yang polos tersobek tanpa bekas kasihan?


Wajah pucatku kini telah menghakimi diri yang tidak bersalah menghadapi kerasnya dunia. Aku yang tidak mengetahui dengan pasti jalan hidup ini. Betapa perihnya ketika aku harus bisa menyelesaikannya dan berjalan mencari jalan keluarnya menghadapi kerasnya dunia.


Torehan senyum yang manis pun masih saja menghiasi wajah kami berdua. Aku yang merasa membaik pun melupakan ke piluan batin yang merenggut jiwaku. Adikku sudah mulai tersenyum garing melihat boneka yang menjadi obat hati baginya dan dia pun membuang balon yang teronggok menatapnya dengan geli.


Push!


Balon yang masih utuh pun terbang memutari kami berdua dengan bermain - main. Balon biru yang menyerupai warna awan yang sering kutatap untuk melihat ibuku membuat pikiranku melayang kembali.


Pandanganku begitu lekat melihat balon yang terbang terbawa angin mengitari kepalaku. Hati suciku pun tersenyum bahagia merasakan kehadiran ibuku duduk bersama dan melihatku.


"Dik, balonnya cantik, ya?!" Aku bertanya melihat balon.


"Iya Kak. Warnanya seperti warna awan. Tapi kalau pecah kita bisa terkejut juga," timpal adikku.


"Ya pasti?! Mana ada balon pecah tidak kuat." Aku menyela omongan adikku.


"Ya, Kakak benar. Kalau balonnya pecah pasti kuat?!" Adikku pun menatap balon yang tidak mau diam.


"Lalu, apa masalahnya?" tanyaku.


"Cuman satu Kak. Kalau dia mau pecah dia minta izin dulu," imbuh adikku dengan melawak.


"Hahaha !" Aku pun tertawa terbahak. "Minta izin dulu?! Ini bukan dunia dongeng. Hahaha !" Yang balon itu bisa bicara," ujarku.

__ADS_1


"Setidaknya dia terbang keluar. Baru kemudian pecah. 'Kan enak Kak. Jadi kita pun tidak jantungan." Adikku menatap bonekanya kembali.


Bibir pucatku pun kini masih tersimpul dengan manis mendengar ocehan adikku yang ambigu. Dia seakan menganggap balon itu, seperti yang dia inginkan.


"Hahaha !" Tawa pun seketika menggelitik hatiku.


Adikku dengan tenangnya mengatakan, "Iya 'kan, Kak? Memang benar 'Kan?" Seharusnya balon itu kalau dia mau pecah keluar dulu, jangan di sini!" Adikku menatap balon yang telah terletak di lantai dengan sebal.


"Hihihi!" Tawa menggelitik kembali menyertaiku.


Aku melihat adikku terus saja menggelengkan kepala tidak habis pikir mendengar omongan yang keluar dengan lugasnya.


"Kakak dari tadi tertawa terus. Yang aku bilang lucu ya, Kak?!" Adikku bertanya bingung melihatku.


Aku masih tersimpul tipis melihat adikku. "Habis, kau lucu, sih!" Ungkapku mencubit pipi adikku yang gemas.


"Lucu dari mana, Kak?" tanya adikku yang tidak merasa, seperti yang kukatakan. "Kakak asal ngomong aja lah, kalau bicara. Bicara itu yang jelas, Kak. Masa adiknya yang manis ini di bilang lucu." cibir adikku. "Padahal yang lucu itu 'kan badut. Hihihi!" Tawa adikku seakan dia mengingat kejadian waktu itu.


"Nah, itu benar. Jadi Kakak salahnya di mana? Kakak memang benar 'kan? Berarti Kakak tidak salah dong, kalau Kakak bilang kau itu lucu," ujarku pada adikku yang berkali-kali menimpali apa yang kukatakan.


Dengan kedua pipinya yang cabi itu wajah merah kepiting rebusnya pun tertoreh dengan jelas. "Iiihhh! Kakak," gerutu adikku malu. Sok imut. Memutar badan sambil cemberut. "Hari ini Kakak sudah membuatku malu!" sungutnya mengeluarkan kembali tingkahnya yang julit.


Tidak ada lagi yang bisa membuatku ceria kecuali melihat senyum adikku. Melihat dia bermain dengan tenang. Ruangan yang kosong pun seakan terasa, seperti kerumunan orang-orang yang gembira.


Semenjak kami beranjak besar terutama setelah kami mengetahui bahwa ibu kami telah tiada di situlah kami mulai perlahan belajar untuk menjadi anak yang kuat dan tetap mempertahankan persaudaraan kami.


Maka sebesar apapun yang mengguncang kami. Kami tidak boleh melepaskan persaudaraan ini sekalipun itu harus membuat dari salah satu kami ada yang mengalah.


Mengalah bukankah hal yang termudah untuk dilakukan karena kita harus bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Itu lah yang saat ini berusaha aku tempa di dalam hidupku.


Aku yang terus di tuntut sebagai anak pertama harus bisa menyelaraskan perdebatan dan persaudaraan. Sejak dini aku telah di ajari oleh ayahku untuk menjadi anak, seperti itu agar aku kelak mempunyai bekal mental yang kuat dalam menaungi kehidupan ini.


Maka dari itu sudah sewajarnya aku lebih mendewasan sikapku agar aku kelak bisa menjadi contoh bagi adikku. Sama seperti saat ini ketika adikku sering merajuk bahkan sampai membaut aku dilema, aku harus menyikapinya dengan tenang.


"Dik, kau itu lucu bukan maksud Kakak mengejekmu. Tapi kau pandai membuat orang tertawa terutama Kakak." Aku menatap adikku sendiri.


"Tapi Kakak jahat. Masa Kakak sama 'kan aku dengan badut. Uuuh! Badut 'kan jelek rambutnya aja keriting, sementara rambutku 'kan tidak." Adikku mengambil kaca kecil yang terletak pas sekali di dekat kami.


Aku kembali bertanya karena tidak menyadari kaca itu terletak di situ. "Dik, itu kaca dari mana? Kakak belum pernah melihat kalau di bawah ini ada kaca," kataku menatap adikku yang menatap wajahnya di kaca.

__ADS_1


"Ha?! Adikku melihatku dengan terkejut. "Kakak belum pernah melihat kaca ini?" Adikku bertanya sambil menatapku.


"Iya." Aku langsung menjawabnya.


"Kak, ini kaca Ayah," kata adikku dengan tenang.


"Kaca Ayah?" Aku kembali bertanya.


"Iya," jawab adikku.


"Kau dapat dari mana? Kalau Ayah tahu kacanya ada padamu, Ayah pasti marah," sambungku.


"Ayah tidak akan marah. Aku tahu itu 'Kak. Kakak jangan khawatir!" Adikku semakin memegang kaca itu dengan kuat.


"Sekarang Ayah tidak akan marah. Karena Ayah belum tahu kacanya hilang," kataku mencemaskan adikku agar dia segera mengembalikan kaca itu.


"Aku rasa, Ayah tidak akan tahu, Kak. 'Kan Ayah hari ini tidak jadi kerja," ujar adikku dengan senangnya.


"Iya," sambungku.


"Terus kenapa Kak?" tanya adikku.


"Tiba -tiba, nanti Ayah teringat kaca ini, bagaimana?" Aku bertanya pada adikku. "Ayah pasti akan berteriak dengan keras."


Adikku langsung menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung memikirkan ucapanku.


"Tapi, mana mungkin aku mengembalikannya." Adikku mengatakannya dengan cemas. "Ayah pasti di kamar. Kalau aku masuk, tiba-tiba nanti Ibu kesayangan Kakak itu datang, dia pasti akan memarahiku karena telah mengambil kaca ini." Adikku semakin cemas sambil melihat kaca yang di pegang olehnya.


.


.


. Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya.😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya!😊

__ADS_1



__ADS_2