
Malam pun berlalu. Pagi yang dingin telah membangunkan aku. Selimut yang menutupi tubuhku yang lemah segera aku singkirkan. Kedua bola mata yang mengerjit telah terbuka dengan lebar.
Aku pun memutar kepala ketika aku teringat tentang adikku yang bersedih tadi malam. Bola mataku yang redup menatap adikku yang masih tertidur dengan pulas. Wajahnya yang teduh terlihat adem ketika aku melihatnya. Kesedihan yang menimpanya tadi malam seakan telah pergi menjauh darinya.
Aku yang ingin bersiap-siap untuk sekolah langsung beranjak dan membangunkan adikku yang tidur dengan pulas.
"Ana bangun! Hari sudah pagi!" Aku berteriak membangunkan adikku menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kak, sebentar lagi! Aku masih ngantuk," sahut adikku dengan suara serak. Kedua matanya masih saja tertutup.
"Nanti kita ketinggalan berangkat sekolah." Aku mendesak adikku untuk bangun.
Kedua bola matanya langsung terbuka lebar. Dia lalu duduk sambil mengucek kedua matanya dengan tangannya pelan.
"Kak, ini sudah jam berapa?" tanya adikku yang malas melihat jam.
"Jam 06 : 00 WIB," jawabku melihat jam yang tergantung di kamar kami.
"Kenapa Kakak cepat sekali membangunkanku?" Menatapku dengan setengah kesadaran. "Harinya masih gelap lagi." Melirik ke jendela membuka kedua matanya sedikit.
"Nanti Ayah marah, lagi. Kau mau?!" tanyaku mengancam adikku.
Adikku langsung hening dan menunduk. "Tidak." Dia menggelengkan kepalanya.
"Makanya, Ayo cepat bangun!" Aku segera menarik lengan adikku.
"Baik, Kak! Adikku langsung menyeret kakinya untuk turun dari tempat tidur mengikutiku dari belakang. Tidak berapa lama aku berhenti melihat adikku dan menyuruhnya lebih dulu berjalan di depanku agar aku bisa menjaganya, kalau dia tiba-tiba tertidur lagi.
"Ana! Rostermu sudah kau susun atau belum?" tanyaku mengingatkan kebiasaan buruk adikku.
"Ha!" Dia langsung memutar badan terperanjat ke belakang melihatku dengan kedua bola matanya yang lebar. "Aku tidak tahu. Aku lupa." Adikku langsung berlari memeriksa tas dan rosternya.
"Kau selalu saja lupa dengan itu!" Aku mengikuti adikku dari belakang.
"Tadi malam aku pikir sudah aku susun, Kak." Mengeluarkan isi tasnya.
"Biasakan jangan sering lupa," Aku membantu adikku mengambil buku yang dia perlukan.
Kami berdua pun terlihat sibuk. Pagi ini adalah awal yang indah. Awal aku membantu adikku menyusun rosternya. Aku yang masih saja merasa lemah akan tubuhku berdiri tegak membantu adikku agar rumah kecil kami pagi ini tidak terdengar oleh nyanyian ayahku yang menggema.
"Ana, perhatikan lagi satu per satu buku yang kamu masukan! Jangan ada satu pun yang tertinggal," kataku dengan tegas mengingatkan adikku.
"Sudah, Kak! Aku sudah memeriksanya." Adikku menyusun buku kembali.
"Coba kamu ingat-ingat! Selagi kita masih di rumah," pintaku.
Kami berdua lalu keluar menuju kamar mandi. Kedua kakiku yang lemah aku seret dengan kencang agar aku cepat sampai. Kami pun mengayun kaki dengan kencang agar cepat sampai.
"Selamat pagi Ayah, Ibu!" sapaku berjalan melewati mereka.
__ADS_1
"Selamat pagi, Nak," sahut ayahku memutar kepala melihat aku dan adikku.
Sementara ibu sambung kami yang lagi sibuk. "Apa adikmu sudah bangun?" Ibu sambung kami langsung bertanya karena tidak melihat adikku yang bersembunyi di balik tubuhku yang lemah menghindari ayahku.
"Ana ini. Disamping Liyan, Bu," jawabku menggeser sedikit tubuhku.
Ayahku yang lagi sibuk dengan aktivitas rutinnya setiap hari terlihat begitu sibuk. Dia langsung memutar kepala melihat adikku yang bersembunyi sambil mondar mandir hilir mudik kesana kemari untuk mengejar agar ayahku tidak terlambat untuk bekerja. Ayahku sibuk menyiapkan semuanya untuk sarapan pagi kami. Dia yang biasa mengerjakannya seorang diri, kali ini tidak. Pagi ini ayahku di temani oleh ibu sambungku.
Aku yang melihatnya begitu bahagia kedua bibirku yang pucat pun melengkung seketika. Melihat momen yang membahagiakan pagi ini.
Aku terus berjalan lalu mengambil handuk dan membawa sabun, seperti biasa yang kami lakukan setiap ingin mandi.
Adikku yang mengikuti langkahku dari belakang hanya diam dan memegang handuknya.
"Kak, paginya dingin sekali," kata adikku membuka suara sedikit berat.
"Iya. Embunnya terlalu banyak." Kedua mataku melihat embun yang menutupi jalan.
"Kakak mandi?" tanya adikku sedikit mencemaskan kesehatanku.
"Belum tahu," jawabku memikirkan pertanyaan adikku.
"Sebaiknya Kakak tidak usah mandi," saran adikku.
"Kenapa?" tanyaku.
"Tapi, kalau kita mandi pagi akan sehat dan segar." Aku spontan menarik sedikit bibirku. "Kata Ayah seperti, itu," tandasku.
"Itu tidak jadi masalah Kakak mau mandi atau tidak. Asalkan Kakak sanggup." Adikku menyerahkan semuanya kepadaku. "Kakak ingat, kalau sampai Kakak sakit... ." Adikku melirikku. "... tidak akan sekolah," tandasnya.
"Sepertinya Kakak sanggup," balasku. Kami berdua pun terus berjalan menghampiri kamar mandi yang berjarak dari rumah kami. Kedua tanganku yang lemah memegang sabun dan handukku.
Tidak terasa kami telah sampai. Aku pun masuk dan meletakan sabun yang aku bawa. Tanganku yang lemah juga telah menggantungkan handuk agar tidak basah terkena percikan air.
"Kak mandinya cepat, ya! Aku sudah kedinginan," seru adikku.
"Iya," jawabku. "Kakak tidak akan lama ,kok. Kakak juga kedinginan." Aku langsung mengambil gayung dan menyiram tubuhku.
Bur bur bur!
Air begitu cepat aku siramkan ke tubuhku yang lemah. Dingin yang menembus kulitku terasa begitu menyiksa hingga membuatku membeku, seperti air es yang menyiram dari atas.
"Cepat Kak! Aku sudah lelah. Nanti kita terlambat. Kakak takut 'kan, kalau kita terlambat," desak adikku berteriak.
"Ini Kakak sudah siap." Aku buru-buru mengilap tubuhku dan memakai baju.
Jeglek!
Aku langsung membuka pintu kamar mandi. Melihat adikku yang berdiri menunggu. "Kenapa Kakak lama sekali?" tanya adikku sedikit kesal. "Aku sudah lelah berdiri."
__ADS_1
"Sekarang aku akan mandi. Kakak jangan tinggalkan aku. Aku tidak berani di sini sendiri." Raut wajah adikku berubah membungkuk memohon.
"Iya, Kakak tidak akan meninggalkanmu sendiri. Kakak juga takut pulang sendiri," sambungku.
"Takut kenapa, Kak?" tanya adikku ingin tahu.
"Takut di marahi Ayah," tandasku.
"Bukannya sayang Ayah telah berpindah?" tanya adikku.
"Maksud kamu, apa Ana?" tanyaku dengan heran.
Bur bur bur!
Adikku pun mandi dengan buru -buru. Dia tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun untuk berbicara. Dia seakan menikmati air dingin yang membasahi tubuhnya.
Sekian menit berlalu, aku menunggu adikku. Dia pun keluar sambil membawa sabun dan handuk. Dia juga telah mengganti pakaiannya sama seperti yang kulakukan untuk menutupi tubuh dari dinginnya udara pagi.
"Kak! Ayah sudah berubah dengan cepat," kata adikku kembali yang masih berkubang dengan sedihnya.
Refleks aku memutar kepala melihatnya. "Dari mana kamu tahu? Kalau Ayah berubah." Menatap lurus ke depan sambil berjalan.
"Semalam Ayah begitu senang memarahiku," kata adikku dengan lirih.
Aku kembali diam dan menatap jalan yang aku lalui. Tubuh lemahku kembali mengusik ketenanganku. Dia mulai menjalar masuk kedalam tubuhku yang dingin.
Langkah kakiku yang gontai pun kini ingin terkulai sehingga membuatku harus menahannya agar aku tidak jatuh terjerembab.
"Aku takut, kalau Ayah tidak menyayangiku lagi. Dan aku tidak akan ada teman lagi untuk bercerita." kata adikku.
Diriku yang sudah mulai lemah masih saja di ajak oleh adikku berbincang. Bibirnya yang cerewet terus saja mengomel tiada henti meratapi kesedihannya tadi malam.
"Kalau Ayah tidak menyayangiku. Lalu siapa lagi yang akan menyayangiku?" Adikku bertanya kepadaku.
"Kakak akan selalu menyayangimu. Berhentilah bersedih karena kalau kau bersedih, Kakak akan sedih." Kedua bola mataku menatap adikku.
Adikku begitu bahagia. Dia langsung tersenyum simpul menatapku. "Kalau Kakak sayang padaku? Siapa yang akan menyanyangi Kakak?" tanya adikku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1