
Sore yang sudah setengah senja. Kami berdua masih berdiri menunggu ayah yang belum juga terlihat.
"Kenapa tadi kita lupa bawa jajan, Kak ?" tanya adikku.
Aku hanya diam saja melirik adikku. Rasa lapar yang dia tahan terlihat di wajahnya kini. Betapa pucat wajahnya yang imut itu.
"Ana, kau duduk saja," saranku.
"Kak, duduknya mau di mana?" tanya adikku lesu.
Badan jalan yang kami injak lekas kutatap melihat sekeliling. "Di sini aja!" kataku, menunjuk pohon yang berdiri.
Adikku langsung melihat bawah pohon dan juga ke atas pohon. "Kak, aku takut kena buahnya," terang adikku, melihat ke atas pohon. "Buahnya banyak. Nanti kalau jatuh kayak mana, Kak?" tanyanya.
Aku lekas menaikkan kepala mengikuti adikku melihat buahnya. "Iya, buahnya banyak. Nanti kalau jatuh kita pasti kena?!" balasku, bergeser dari bawah pohon.
Dari tadi sampai saat ini kami berdua masih berdiri menunggu. Orang-orang yang lalu lalang lewat masing-masing memutar kepala melihat ke arah aku dan adikku.
Malu itu sudah pasti terasa di dalam benak ini. Ruas jalan yang panjang dan angin yang berembus dingin belum juga mendatangkan ayah kami.
"Kak, jangan -jangan Ayah gak ingat kalau kita di sini!" cetus adikku membuatku gusar.
Sontak aku melirik ke arah adikku langsung. "Ana, itu gak mungkin," sambutku panik.
Berdiri di depan badan jalan masih saja kami lakukan demi melihat ayah yang sudah lama pergi mencari uang.
"Mana tau, Kak. Buktinya sampai sekarang Ayah belum pulang," timpal adikku enteng.
"Ana!" kata pekan berteriak menegur adikku.
"Kenapa Kakak kesal?" tanya adikku.
"Kakak gak mau lama-lama di sini," jawabku.
"Kenapa?" tanya adikku terheran.
"Karena Kakak udah lapar," jawabku langsung, melihat adikku sendiri yang sampai detik ini terlihat gelisah.
Dari sekian banyak orang yang lewat tidak satu pun dari mereka adalah ayah yang paling kami sayangi.
"Ayah, belum ada, Kak," keluh adikku kecewa.
Muka lesu yang menahan lapar menatap adikku yang sedang gelisah berdiri di tepi jalan.
"Itu Ayah," kataku langsung senang menunjuk ke ujung jalan.
"Mana, Kak?" tanya adikku, bergeser mengikuti telunjuk yang kuayunkan di udara.
"Hmm!" Adikku mengeram kesal. "Kak, itu bukan Ayah," ucapnya langsung menunduk lesu.
__ADS_1
"Kakak pikir Ayah," balasku, menunduk lesu bercampur kecewa.
Telunjuk yang tadi menunjuk dengan semangat refleks jatuh begitu saja. Kecewa melihat pinggir jalan yang kami injak.
"Kak, sebentar lagi malam," kata adikku, melihat langit.
"Iya," sambungku, mengikuti adikku melihat langit juga.
Langit yang sudah tidak lagi cerah seperti siang menggusarkan hati yang memandangnya.
"Semoga Ayah cepat pulang," kataku berdiri di pinggir jalan.
"Iya, Kak," balas adikku penuh harap.
Badan jalan yang setengah sempit tetap menjadi pilihan untuk kami dalam menenangkan diri yang gelisah karena ayah belum juga datang.
"Kalau malam Ayah belum pulang. Kita pulang aja, Dik !" ucapku sedih, melihat hari yang hampir mau gelap. Badan jalan terus kutatap sambil mengingat bahwa rumah kami dikunci.
"Kak, kalau kita pulang kita nunggu di mana?" tanya adikku.
Aku kembali bingung. "Kita jalannya pelan-pelan aja. Biar kita jumpa sama Ayah," jawabku enteng.
Ruas jalan yang panjang ditatap adikku dari ujung sampai ke ujung. "Kak, kalau kita jalan. Kita juga cepat sampainya," lanjut adikku putus asa melihat jalan.
Daun pohon yang terbawa angin pun menempel di ujung sendal jepit yang kupakai. "Kita jalannya. Jalan yang paaaling pelan," terangku bersemangat.
"Kalau gitu kita nyampenya bukan nanti, Kak, tapi besok," tandas adikku mendelik.
Aku seperti ingin terlempar mundur ke belakang. Adik yang manja selama ini sekarang sudah hampir mau berubah jadi monster.
"Ya, engga la, Dik," bantahku lembut. "Kita nyampeknya hari ini juga," lanjutku dengan ringan.
Angin semakin berembus. Daun-daun yang kering pun semakin banyak beterbangan menempel di kedua kaki. "Kalau bisa. Kakak udah menjumpai Ayah kerja," gumamku pelan sambil melihat ke sana ke mari.
"Aku juga kayak gitu, Kak," sambung adikku yang ternyata mendengarkannya.
Dengan wajah memelas bercampur depresi aku memutar kepala melihat ke arah adikku yang sudah gelisah.
"Kak, ternyata gak enak kalau kita gak punya Ibu," sesal adikku, menatap tanah dengan lirih.
Glek!
Menelan ludah itulah yang kulakukan ketika itu mengusik pendengaranku. Rasa kaget dan tidak percaya dengan yang kudengar semakin membelalakkan kedua mata .
"Bukannya kemaren kau gak suka?" tanyaku. Aku kembali mengingat masa lalu penolakan adikku tentang itu.
"Maksudku Kak, Ibu kita yang sebenarnya. Bukan dia," lanjut adikku polos dan enteng.
Terkejut kembali sekali lagi itu yang terjadi saat ini. Aku pikir adikku menyesali yang telah terjadi. Namun, sayang dia ternyata merindukan ibu kami yang telah tiada.
__ADS_1
"Ibu sudah lama pergi," sambutku menunduk sedih. "Jadi, gak usah diingat lagi," saranku.
"Itu untuk Kakak. Kalau aku gak!" tolak adikku.
Udara sore yang dingin menerpa ujung kaki ini sampai terasa dingin. Entah apa penyebabnya kenapa ayahku belum pulang juga. Dari sekian banyak orang yang berjalan melintasi kami satu pun wajah mereka tidak ada menunjukkan wajah ayah kami.
Perjalanan sore yang membuat kami berdiri di pinggir jalan menunggu sang ayah ternyata membuahkan hasil yang manis.
"Ana, itu Ayah!" kataku dengan senang menunjuk ke ujung jalan.
"Mana Kak?" tanya adikku yang sudah tidak sabar ingin pulang. Berlari mendekat sambil mengambil ranting kayu yang kering.
"Hmm!" Adikku mengeram kecewa.
"Kenapa, Dik?" tanyaku, melihat adikku yang menulis-nulis tanah dengan ranting.
"Itu bukan Ayah nanti, Kak," jawabnya sedikit putus asa.
Melihat kekecewaan adikku. Aku menaikkan kepala sambil mengesahkan yang kulihat. "Itu Ayah, Dik," ucapku menegasakan yang kulihat padanya.
Kembali adikku menaikkan kepalanya. "Iya Kak. Itu adalah Ayah," ucap adikku senang. "Kak, bentar lagi kita pulang dan aku bisa jajan," teriak adikku bahagia.
"Ayah!" panggilku senang, melihat becak ayahku yang mulai mendekat.
Wajah lelahnya langsung terlihat senang. "Kalian sudah lama, Nak?" tanya ayahku dari atas becak, membelok ke tempat ayahku menyimpan becak.
"Ayah, kita pulang, ya!" ajak adikku lekas.
Ayahku yang turun dari becak, memutar kepala melihat kami dengan senyuman lelahnya. "Nak, emang kalian sudah permisi pulang?" tanya ayahku dengan polosnya, menutupi becak dengan terpal.
Raut muka yang penuh dengan rahasia saling bertemu tatap. Diri kami masing-masing tersirat ingin menyembunyikan semuanya dari sang ayah.
"Ayah, mereka sudah istirahat," kataku mengalihkan sambil menetralkan suasana ayahku yang sudah lelah.
"Apa, Nak?" tanya ayahku agak terkejut. Berhenti dengan gurat wajah penuh tanda tanya melihatku.
Sontak aku sedikit gemetar. Namun, diriku yang lihai akhirnya, bisa menetralkan suasana hati yang akan terlihat jelas di wajah.
"Iya Ayah. Bibi itu lelah, Yah. Jadi, kami tidak mau mengganggunya," jawabku langsung dengan hati yang berkecamuk.
"Ayah kami 'kan sering bertengkar. Jadi, kami gak mau masuk ke dalam. Nanti kami ribut di situ!" sambung adikku yang lumayan cerdas.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1