
Raport pun telah kami terima di tangan masing-masing.
"Hari ini kita akan libur panjang," kata Rasyd dengan senang. "...dan aku bisa tidur lama," ucapnya dengan senang melirik Fikri. Seakan dia ingin membuat Fikri cemburu.
"Aku tidak iri dengan mu," sambung Fikri. "Mau kau bangun lama, mau kau bangun besok paginya, aku gak peduli," tandasnya dengan gamblang.
"Siapa juga yang mau membuatmu iri?" ucap Rasyd berdalih langsung sedikit menutupi rasa kecewanya karena Fikri tidak terpancing.
Aku yang mendengar perkelahian mereka tergelitik. Sedikit kepala aku putar ke belakang melirik mereka yang masih ribut.
"Itu tadi," kata Fikri. "Kau sengaja 'kan membuatku iri," pekiknya sedikit pelan. Supaya aku sedih," terangnya.
"Hahaha !" Rasyd tertawa. "Hei, kawan kenapa kau harus menangis? Hihihi!" katanya semakin geli. "...kalau kau nangis pasti kau seperti Anak perempuan." Menarik bibirnya. "Hihihi!" Tawanya semakin geli.
"Anak-anak! Sudah cukup lama sepertinya kita ini," kata Bu Dona dengan garingnya. Melirik jam tangan yang melingkar. "Bolehlah saatnya kita pulang!" seru Bu Dona. Menyusun barangnya ke dalam tas.
"Horeeeer! Kita sudah libur panjang," teriak anak-anak dengan senang. Bersorak -sorak gembira.
"Selama liburan kau kemana, Nisa?" tanya Widia. Melihat Nisa yang berdiri tepat di depan meja kami.
"Aku gak tau," jawab Nisa.
"Jadi, selama ini kau pergi kemana kalau libur?" tanya semakin ingin tahu.
"Aku kemaren ikut sama Ayah dan Ibuku ke Mekah," jawabnya.
"Waaaah, enak dong ke Mekah," sambung Widia membelalak bercampur kagum.
Aku yang mendengarnya pun semakin terharu melihatnya. Refleks aku pun ikut bahagia merasakannya.
"Enaklah, kalau jadi, kau Nisa," kata Widia langsung dengan sendu.
"Kenapa ?" tanya Nisa.
"Iya, kau pergi," jawabnya dengan lirih.
Nisa yang sudah mengerti jawaban Widia . "Jadi, kau tidak pernah bermain ?" tanya Nisa semakin ingin tahu.
"Aku di rumah saja. Ibuku tidak mengasih aku keluar bermain," jawabnya. Melirikku seakan Widia ingin menyuruh Nisa bertanya padaku kalau dia tidak percaya.
Aku yang bertemu pandang dengan Widia pun merasa sedih. Aku langsung menaikan kepala menatap Nisa.
Nisa yang seolah tidak percaya memutarkan kedua bola matanya melihatku.
"Kau Liyan?" tanya Nisa ingin tahu. Apakah nasibku sama dengan Widia juga?
"Mmm." Aku langsung tergugup. Ekor mataku pun melirik Widia yang sama juga dengannya. Aku pun diam cukup lama.
"Liyan, apa kau juga tidak boleh keluar rumah ?" tanya Nisa ingin tahu.
"Iya," jawabku singkat.
Anak-anak yang lain pun telah pergi keluar. Sekarang kelas sebagian telah kosong. Bangku pun sudah terlihat terduduk dengan diam. Fikri dan Rasyd yang bertengkar tadi pun berjalan melawati meja kami.
"Liyan, kami duluan," kata Fikri yang melihat lurus ke papan tulis, di ikuti oleh Rasyd dari belakang.
Aku yang lagi asyik cerita dengan Nisa tidak terlalu meresponnya. Aku hanya melayangkan sorot mata melihat mereka yang berjalan.
__ADS_1
"Berarti kalian tidak pernah liburan?" tanya Nisa dengan gurat wajah sedikit kasihan.
Aku mengangguk mengambil raport dari atas meja. Beranjak keluar ingin pulang.
"Liyan, kau pulang dengan siapa ?" tanya Widia.
"Aku pulang sendiri," jawabku.
"Kau berani pulang sendiri ?" tanya Septiani menyindirku.
Aku sekan gagap mendengar pertanyaan dan juga gugup melihat dirinya yang berdiri di hadapanku seakan menantang.
"Berani," jawabku singkat.
"Liyan, kau takut pulang sendiri ?" tanya Nisa yang mendadak terkejut.
Aku pun langsung memutar badan perlahan setelah mendengar pertanyaannya. "Tidak," jawabku dengan berat .
"Mana mungkin," sambung Tania.
"Iya, dia itu penakut," sambung Ecy.
"Dia itu selalu pulang mencari kawan," kata Tania selanjutnya.
"Tidak...tidak kau salah ," sela Widia sedikit membela.
"Iya, dia itu penakut," lanjut Septiani.
"Sudah besar pun penakut," cecar Ecy. Mengejek.
Aku semakin malu mendengar keroyokan mereka. Sekejap mata aku merasa terpojok oleh mereka yang tidak menyukaiku.
"Tidak, tidak, tidak usah," kataku langsung menolaknya.
"Kenapa Liyan?" tanya Nisa.
"Dia takut kau nanti menculiknya," timpal Tania, menyeringai.
"Iya, dia takut kalau kau nanti membawanya jauh," sambung Ecy .
"Liyan, kau kira aku penculik, hahaha !" kata Nisa tertawa lucu.
Aku semakin terkepung oleh ribuan pertanyaan Nisa dan cecaran Tania serta Ecy.
"Liyan 'kan, punya Adik," kata Widia.
"Iya, pasti dia akan pulang dengan Adiknya itu," timpal Septiani.
Setelah mendengar semuanya aku tidak mau lagi berlama-lama di dalam kelas. Secepat mungkin aku mengayun kaki dan meninggalkan mereka yang masih berdiri.
"Liyan, kenapa kau tadi tidak melawan Septiani ?" tanya Widia tiba-tiba dari belakang.
Aku langsung mengatur langkahku sedikit pelan.
"Padahal tadi aku sudah menunggumu," sambung Widia. "Kalau kau tadi melawannya pasti dia kapok," ucap Widia melihat lurus ke depan.
Aku seketika terdiam seakan itu benar, pikirku. Aku harus sesekali memberanikan diri untuk melawan Septiani.
__ADS_1
"Kau terlalu baik Liyan. Diam digituin," kata Widia kesal.
"Aku takut kalau nanti dia mengadu pada Ayahku," jawabku membuka mulut.
"Terus tadi, kenapa kau gak mau diantar Nisa pulang ?" tanya Widia kembali ingin tahu.
Aku sejenak diam dan mengingat ayahku.
"Aku takut kalau Ayahku marah lagi," jawabku.
"Hahaha !" Widia tertawa seakan dia merasa aneh mendengar jawabanku. "Liyan, mana mungkin Ayahmu marah," katanya. Sok tahu.
Aku sedikit tertawa juga melihat Widia yang berlagak sok tahu menahu tentangku.
Aku terus berjalan melawati jalan yang tidak asing lagi untuk aku dan Widia.
"Widia, Ayahku akan marah. Nanti pikir Ayahku, aku pergi bermain lagi," ungkapku dengan lesu. Menatap ujung sepatu yang sobek.
"Ayahmu memang galak Liyan. Aku saja takut melihat Ayahmu," ungkap Widia menerangkan.
Aku langsung tercengang mendengar yang dikatakan oleh Widia.
"Makanya kata Ayahku jangan sering -sering bermain dengan mu," lanjutnya dengan santai.
Sontak aku terkejut mendengar pengungkapan Widia yang jujur.
"Jujur Liyan, Ayahku melarangku supaya tidak dekat -dekat denganmu," cetusnya semakin menghenyak.
Seseram itukah Ayahku sampai -sampai orang berkata seperti itu, pikirku. Aku kembali berjalan kencang di tengah ocehan Widia yang terus menjelekan ayahku.
"Ayahku juga sudah jarang berteman dengan ayahmu. Apalagi di dalam pengajian, katanya begitu!" Widia melirikku dengan lirih.
Aku semakin terhenyak. Raport yang kupegang semakin kuat aku pegang. Aku ingin sekali menyuruh Widia menutup mulutnya tapi aku tidak bisa karena kami adalah teman dan Widia juga adalah anak yang mudah tersinggung.
Aku semakin menatap lurus ke depan. Ingin rasanya aku menelan yang kulihat.
"Liyan, maaf 'kan aku, ya. Kalau aku menyinggungmu," katanya dengan lirih. "Tapi itu memang benar," lanjutnya kembali. "Makanya, Adikmu jarang bermain ke rumah kami lagi. Karena Ayahku melarangnya," ucapnya menerangkan.
Kejujuran ini begitu pahit untuk kuterima. Aku sekarang semakin malu menatap diriku sendiri di depan cermin, apalagi di hadapan teman-temanku.
"Widia, Ayahku tidak galak, kok," kataku membela ayahku.
"Mana mungkin," kata Widia menyangkalnya.
"Mungkin, kok. Sedangkan sama kami saja dia baik," kataku dengan penuh penekanan.
"Liyan, itu hanya sama kamu saja," terangnya.
"Sama orang juga Ayahku tidak jahat," timpalku semakin kesal melihat Widia yang ngotot menjelekan ayahku.
"Iya, memang sama orang lain baik. Tapi samamu 'kan gak Liyan?" ungkap Widia melemparkan pertanyaan padaku. Seakan dia terjebak dengan ucapannya.
Aku semakin terjepit mendengarnya. Perkataan Widia sebagian membenarkan. Tapi itu tidaklah mutlak.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...