Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Badut Lucu


__ADS_3

Tawa renyah adikku pun terdengar menemani langkah kami. Kamar yang sunyi sepi kini kembali ramai dengan kehadiran adikku yang super jahil dan jutek. Alih -alih dia ingin beristirahat mengikutiku, akan tetapi dia malah bertingkah konyol.


"Kak, coba lihat aku!" kata adikku.


Aku segera memutar badan ke arah adikku yang tertinggal di belakang dengan penasaran.


Tadaaa!


Adikku sontak menunjukan wajah lucunya padaku sehingga membuat gigi gerahamku terlihat dan melupakan penyakit yang singgah.


"Kapan kamu membuat wajahmu seperti itu?" tanyaku yang heran tidak tahu menahu tentang tingkahnya.


"Kakak mau tahu, ya?" Adikku tersenyum dengan bahagia karena telah berhasil membuatku tertawa.


Aku mengangguk memberi jawaban sebagai isyarat. "Tadi, 'kan kamu di samping Kakak?!" Bertanya sedikit heran.


"Kakak terlalu serius. Sampai adiknya menghilang saja, dia tidak tahu." Berdiri. "Tapi lucu 'kan, Kak?!" Tersenyum sendiri. Sok imut.


"Lucu campur kaget, tahu! Hampir saja Kakak mau pingsan, kau ini!" Mengkerucutkan bibir pucatku dengan sebal. "Wajah badutmu yang aneh ini dapat dari mana?" tanyaku.


"Aku tadi, ada lihat lipstik terjatuh di sudut." Melirik sudut lemari. "Lalu aku ambil tanpa sepengetahuan Ibu tersayang Kakak."


"Di mana lipstiknya? Kamu habis 'kan, engga?" Aku segera mendekati adikku dan mengambil lipstik yang dia pakai.


"Ini!" Adikku langsung menyerahkannya kepadaku. "Tapi aku jangan dimarahi. Aku tidak senagaja menemukannya," kata adikku dengan lirih.


"Ana, ini mungkin lipstik Ibu. Kalau sampai habis, kau coretkan di wajahmu, bagaimana ?" Menanyakan apa yang akan terjadi.


"Pasti aku akan di marahi?!" Adikku langsung menundukan pandangannya.


"Lain kali jangan pernah lakukan ini lagi, ya!" pintaku. Mengambil lipstik.


"Baiklah Kak. Aku akan mengikuti apa yang Kakak katakan." Mengayunkan tangan ke udara, melingkarkan ke leherku dan tersenyum manis. Dia begitu bahagia sekali terlihat karena telah berhasil membuatku tersenyum sedikit.


"Kakak mau tahu dari mana kau mendapatkan bedak yang tebal dan sebanyak itu?" tanyaku langsung mendesak adikku.


"Aku memakai bedak kita, Kak," jawabnya dengan spontan.

__ADS_1


"Apa?!" Aku melepaskan tangan adikku. "Bedak kita 'kan tinggal sedikit lagi." Kedua bola mataku terbuka begitu lebar. "Ayah akan memarahi kita berdua, kalau bedaknya tiba-tiba kosong, Dek." Aku langsung menempelkan tanganku di kening.


"Masih ada Kak. Tidak kosong total," balasnya. "Habis, kita tidak boleh bermain. Aku sudah jenuh," kata adikku dengan nada suara kecewa.


Adikku memutar langkah dan badannya ke samping mengambil bedak tepat di atas tempat tidur. Perlahan dia memberikannya kepadaku agar aku percaya, bahwa bedaknya benar masih ada.


Wajah sendunya menatap uluran tanganku yang mengayun mengambil bedak darinya. Gurat wajahku yang kini merasa takut segera melihat botol bedak yang berwarna putih tanpa label merk yang melingkar di badan bedak.


Aku langsung mengayunkan bedak di atas udara tepat di dekat cahaya lampu yang menyala. Bayangan bedak pun terlihat masih ada.


"Masih ada. Tapi tidak sebanyak tadi." Menurunkannya.


"Kenapa Kakak begitu ingin tahu? Kalau bedaknya habis. Ayah pasti akan membelinya lagi. Ayah tidak mungkin bertanya dulu! Kenapa bedaknya habis? Lalu dia beli." Adikku berjalan naik di atas tempat tidur duduk memutar kepalanya dengan cemberut melihatku .


"Kasihan Ayah. Ayah harus memikirkan semuanya begitu banyak biaya yang keluar nanti untuk kita. Uang kontrakan rumah sebentar lagi akan jatuh tempo. Uwa itu pasti akan datang dalam beberapa hari ini?!" Menatap nanar lurus ke depan. "Ayah hanya bekerja sebagai pembawa becak dayung. Dari mana dia akan mendapatkan uang yang banyak untuk memenuhi semuanya?! Belum lagi biaya sekolah kita...". Aku terdiam dan menjerit ingin segera keluar dari belenggu yang mengikatku.


"Makanya, kita harus cepat besar, Kak. Yang paling penting adalah kita harus cepat tamat sekolah. Aku juga tidak tega melihat Ayah. Setiap hari bekerja keras membanting tulang dengan penghasilan yang tidak seberapa." Adikku seakan bersedih mengingat Ayahku yang bekerja keras dengan peluh keringat. "Belum lagi hujan. Ayah selalu kebasahan."


"Untuk itu. Kita tidak boleh membuang -buang bedak ini dengan sia-sia," tandasku mengingatkan adikku.


"Bedaknya 'kan masih ada. Coba Kakak lihat! Itu bedaknya masih banyak. Kalau bedaknya takut habis karena aku... ." Menunduk dengan nada suara lirih menelan rasa bersalah. "...aku tidak akan memakai bedak dalam beberapa hari ini."


"Tidak perlu seperti itu juga. Pakai saja, tapi ingat, jangan di buang-buang lagi!" ujarku.


"Mana mungkin aku berani memakainya kembali," rajuk adikku.


"Ana! Kamu jangan suka merajuk. Kakak minta maaf kalau salah. Kakak juga senang itu adalah usahamu untuk membantu Kakak untuk tersenyum, ya, 'kan?" Menatap adikku dengan lekat.


"Senang dari mana? Itu nyatanya, Kakak sebal melihatku." Adikku sedikit kecewa karena aku tidak menghargai kerja kerasnya yang ingin melihatku tersenyum setelah sekian lama senyum itu menghilang.


"Siapa bilang Kakak tidak senang? Kakak senang kok. Apa kamu bisa membaca hati?" Menaikan alis. "Sehingga kamu tahu Kakak tidak senang."


"Wajah Kakak tadi menunjukan," balasnya.


"Menunjukan apa Ana?" Aku menggeser tubuh mungilku yang lemah mundur ke belakang sedikit menarik bantal dan menyusunnya tinggi tepat di belakangku sebagai sarana untuk menyandarkan tubuhku yang lemah.


"Kakak lagi apa?" tanya adikku yang heran melihatku. Dia pun memutar duduknya melihatku. "Itu untuk apa, kak?" tanya adikku ingin tahu.

__ADS_1


"Untuk ini!" Aku pun menaruh bantal dan menyandarkan tubuhku. Bagaimana dengan wajah badutmu. Masih ingin di pertahankan?" tanyaku.


Hm! Sontak tangan adikku menyentuh wajahnya. Dia sepertinya sudah lupa kalau wajahnya telah menjadi, seperti topeng yang lucu. Hidungnya yang merah, seperti tomat segar untuk sambel goreng. Hahaha! Hatiku pun tertawa geli melihatnya.


"Aku sudah lupa, kalau wajahku seperti ini. Tapi aku ingin menggoda Kakakku dulu." Menyeret tubuhnya mendekat denganku sambil menempelkan bedak dan lipstik yang menor di wajahnya.


Tap tap tap!


Tawa renyah kini memenuhi ruangan kamar. Dia begitu senang menaruh tempelan bedak yang menempel dengan tebal. "Kak bagaimana? Kakak sudah terlihat cantik, sekarang aku punya teman sepermainan, hahahaha!" Tawanya semakin memekik.


"Ana!" Aku pun menjauh dari adikku yang jahil hari ini. " Nanti wajah Kakak kotor."


"Kotor itu 'kan baik, Kak." Adikku terus menghampiriku dan tidak membiarkanku lepas sedikit pun.


"Ana! Awas kau, ya! Kalau sampai Ayah pulang. Kakak akan mengadukanmu pada Ayah." teriakku.


"Adukan saja!" Mencoreti wajahku yang pucat dengan tempelan bedak yang ada di pipinya dan lipstik yang menempel juga di hidungnya.


"Kakak pikir aku takut. Nah!" Dia pun tersenyum sambil menepuk tangannya hingga bersih. Hatinya begitu senang karena telah berhasil melukisi wajah pucatku. "Aku sekarang sudah punya teman." Menatapku . "Badut baru yang imut." Senyum sumringah terlihat dengan mekar.


Wajahku kini semakin berat dan gatal. Aku menarik kain selimut adikku dan membersihkan wajahku.


Hap! Tiba -tiba adikku menangkap tanganku. Tanganku seketika terhenti.


"Kakak tidak boleh membersihkannya." Adikku melarangku. Sok hebat.


"Nanti Ayah pulang Ana. Kita akan kena marahi." Melemparkan kain untuk adikku. "Sekarang bersihkan wajahmu. Ayo cepat!" Beranjak menggeser dudukku membersihkan wajahku yang terkena noda. "Tapi, badut di rumah Kakak lumayan lucu." Menaikan kepala melihat rambut adikku yang putih karena bedak.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2