
Liyan adalah anak kecil yang penuh dengan perjuangan mulai dari sakit yang mendera maupun tanggung jawab terhadap adiknya. Dia anak kecil yang selalu dituntut untuk menjadi kakak yang menjadi contoh untuk adiknya. Setiap kali Liyan selalu mengalah demi sang adik.
Liyan Laiyina
Ana adalah anak yang manja yang cerewet dan bertingkah, seperti oran dewasa serta menjadikan air matanya sebagai senjata. Ana yang selalu merindukan ibunya yang sudah meninggalkannya sedari dia masih kecil. Dia yang selalu mendapat kasih sayang dari ayahnya semenjak kepergian ibunya yang membuat dia tidak menyukai siapapun merebut kasih sayang ayahnya.
Dia anak yang suka bermain di luar rumah. Dia juga anak yang kecil yang pemberani dan takut akan kebijakan dari sang ayah dan juga selalu pandai membela kakaknya.
Ana Yumna
Tiyo satiyo
__ADS_1
Ayah, dia adalah orang tua yang bijaksana, tegas dalam mendidik kedua putri kecilnya yang berbeda karakter. Tegas dan tidak pernah mau main-main dalam aturan yang telah dia terapkan. Namun, dia juga mempunyai jiwa penyanyang terhadap kedua putri kecilnya, meski berbeda cara. Di balik tubuhnya yang kurus dan wajah yang tirus dengan kumis dan berewokan tipis.
Lain halnya dengan Lofya, anak Bp kesayangan Liyan yang di beli oleh Fikri diam-diam untuknya yang sengaja dia selipkan di dalam mainan anak Bp Liyan yang dia beli pada waktu itu di dalam sekolah.
Anak Bp kesayangannya itu sangat menjadi mainan kesayangannya yang tidak pernah dia lupakan setiap hari. Dia selalu menjaga Lofyanya itu karena dia suka dengan bentuknya. Lofya yang dia gemari tanpa terpikir olehnya adalah pemberian dari Fikri ketiak Liyan melihat tulisan di belakang anak Bp itu ketika sudah tergunting.
Berkisah tentang Lofya yang ingin pergi ke London.
"Ayah, apa kita jadi, pergi ke London?" tanya Lofya ketika membuka pintu menyambut ayahnya pulang.
"Apa kata Ibumu? Apa yang seperti kau inginkan?" tanya ayah Aldrian sekali lagi.
"Kenapa?" tanya Aldrian memutar badan ke belakang sambil menaruh tas di atas sofa. Duduk menjatuhkan tubuhnya agar segera rileks.
"Aku tidak tahu, Yah " jawab Lofya memutar badan melihat ke pintu.
__ADS_1
"Selamat siang semuanya," sambut ibu Jeren dan adik Lofya yang bernama Calwa. Berjalan sambil membawa belanjaan yang banyak.
"Ibu, kenapa banyak sekali?" tanya Lofya membelalak terkejut. Menatap belanjaan yang terletak di atas meja. Di mana tempat sang ayah menduduki sofa.
"Bukankah kita mau pergi, Kak?" sambut Calwa melayangkan pertanyaan padaku, melihat ibunya yang mengatur belanjaan.
"Apa? Kita jadi, pergi!" teriak ayah Aldrian terkejut sambil membelalak.
"Iya, Ayah kita jadi, pergi. Mana mungkin batal," celetuk Calwa menatap dengan lekat.
"Benar jadi?" tanya Lofya terheran mengingat tiket pesawat yang ditemukannya di dalam laci. Berlari memeluk ibu yang menepati janjinya. "Terima kasih Ibu, muaaach." Berdiri memeluk dari belakang.
"Jadi, dong sayang. Ibu mana mungkin melupakannya," ucap Jeren langsung menoleh ke arah Lofya.
"Berarti kita harus segera bersiap-siap," kata Ayah Aldrian meninggalkan sofa dengan senang. "Jangan sampai kita ketinggalan pesawat lagi!" cetus ayah Aldrian berjalan menaiki tangga.
__ADS_1
Lofya, ibu Jeren serta Calwa pun menoleh ke arah ayah Aldrian yang senang. "Coba lihat Ayah, Bu! Ayah dan sangat senang sekali," kataku dengan bahagia.
"Hahaha!" Mereka bertiga pun tertawa bahagia melihat ayah Aldrian yang begitu senang.