
Dengan sigap aku terus melihat sekeliling dengan begitu hati-hati sehingga tak satupun ada yang terlewat olehku. Aku terus memasang kedua mataku dengan begitu membelalak.
Adikku yang begitu tergila-gila dengan bermain.Hingga saat ini dia masih belum ditemukan.
Aku dan Rahmadani pun masih terus berada dijalan. Dibawah sinar matahari yang terik. Tenggorokan dan bibir kami yang kering membuat kami sesekali singgah di warung untuk membeli minuman walau hanya sekedar es lilin. Untuk membasahi bibir dan tenggorokan kami.
"Rahmadani apa kamu tidak lelah?" Tanyaku yang berjalan disamping Rahmadani.
"Kak, sebenarnya aku lelah. Tapi aku kasihan melihat kakak mencari Ana sendiri, kak!" Kata Rahmadani.
Seketika aku pun melihatnya dengan lekat. Dia begitu simpati denganku sampai- sampai dia harus mengorbankan tubuhnya yang lelah hanya untuk menolongku. Aku pun kembali mengayunkan kakiku dengan pakaian terusan kebawah yang terbang terbawa angin.
"Rahmadani kalau kamu sudah lelah kita pulang saja."
"Engga usah kak! Aku belum lelah kak. Kasihan Ana kak. Dia kemana ya,kak? Emang tadi kakak kemana?"
"Kakak tadi pergi berobat dek! Sama Ayah kakak."
"Jadi,siapa dirumah kakak waktu Ana pulang sekolah, kak?"
"Engga ada dek!"
"Tapi kak, kenapa selama ini Ana belum ditemukan, ya? Kita sudah keliling rumah kak.Bahkan, jalan sudah kita lalui begitu banyak tapi kita masih belum juga menemukannya."
"Ia,dek kakak sudah lelah rasanya. Bagaimana? Kalau kita istirahat sebentar."
"Ia,ayo kak! Kakak kan, lagi sakit. Kita istirahat dibawah pohon itu saja kak."
Aku dan Rahmadani langsung menuju pohon yang begitu renggang tidak ada satupun daun yang rimbun. Kami duduk untuk merenggangkan otot kaki kami sambil menghela napas dan menghilangkan lelah sejenak. Dalam dudukku, aku menghadap badan jalan dengan pandangan yang masih terjaga. Melihat orang-orang melintasi jalan kecil yang ada di hadapanku.
Sesekali aku memecah kesunyian dengan melemparkan beberapa pertanyaan kepada Rahmadani.
"Rahmadani,apa kamu tidak dimarahi oleh orang tuamu? Karena kakak melihat Ibu kamu begitu cerewet." Dengan sedikit nada suara yang berat dan penuh dengan hati-hati.
" Tidak kak! Ibuku siang ini tidak ada dirumah."
"Jadi,siapa yang ada dirumah kamu?"
"Kak Widia!"
"Apa? Dengan spontan aku langsung terperanjat dengan kedua mataku membelalak.
Widia itu kakak kamu? Yang satu sekolahan sama kita."
__ADS_1
"Ia,kak. Emang kakak kenal?" Tanya Rahmadani dengan menyelidik.
" Ia, Widia itu satu kelas sama kakak,bahkan, kami itu sebangku."
"Ha! Ia kak.Berarti kita bisa dong pergi sekolah bareng, kak."
Tiba-tiba di tengah obrolan kami.Terdengar suara yang berteriak memanggilku.
"Kak Liyan!"
Aku yang bergeming sontak terkejut mendengar teriakan yang begitu kencang. Aku pun berusaha mencarinya. Aku merasa seakan adikku yang memanggilku.
Wajahku pun langsung berbinar dengan senyum lepas yang terukir dari lekukan bibir kecilku.
Andrini! Gumamku kecil.
" Kak,kakak lagi apa disini kak?" Tanya Andrini sambil mengatur duduknya didekat aku dan Rahmadani.
"Kakak lagi mencari adik kakak." Kataku dengan wajah yang di tekuk.
"Emang adik kakak dimana?"
"Kakak tidak tahu.Tapi tadi sewaktu kakak pulang dari rumah sakit. Adik kakak sudah tidak ada disekolah."
Aku pun mulai mengingat teman adikku yang lain. Didalam dudukku yang terjaga aku melihat ke Rahmadani yang tadi terlihat memelas dan diam saja.
Aku pun mulai memutar kedua bola mataku. Mengasah pikiranku dengan tajam agar semua yang ku lalui hari ini termasuk dalam pencarian adikku segera usai. Aku pun beranjak mengayunkan kembali kakiku perlahan. Dengan sigap Rahmadani dan Andrini pun ikut membantuku.
"Kak, ayo coba kita lihat ditempat permainan anak-anak lain kak."
"Permainan anak-anak lain? Emang dimana itu dek?" Aku mengajukan pertanyaan yang tidak pasti untuk dijawab oleh Andrini dan Rahmadani.
" Aku juga tidak tahu kak. Tapi yang jelas kita cari saja sampai ketemu kak." Andrini.
Mendengar perkataan Andrini yang begitu optimis membuat aku sedikit ada keraguan. Karena aku tahu kalau adikku bermain kakinya begitu panjang. Dia terkadang tidak mengingat waktu. Apalagi untuk makan mengganjal perutnya, sekalipun tidak akan dia hiraukan.
Hari semakin siang perutku yang sejengkal pun mulai merasa lapar. Suara nyanyian dari perut kecilku pun kini mulai terdengar dengan jelas.
"Kak, kakak pulang dulu,ayo!" Ajak Andrini yang berjalan di sampingku.
"Dek, sebentar lagi."
"Tapi kak, perut kakak tadi berbunyi aku dengar, kak." Andrini.
__ADS_1
" Ia kak, kita pulang saja. Kakak kan lagi sakit." Rahmadani.
"Ia kak, nanti kakak sakit lagi.Emang kakak engga takut Ayah kakak marah sama kakak." Kata Andrini dengan khawatir.
" Tapi, adik kakak belum pulang.Kasihan Ayah Kakak pasti khawatir tentang adik kakak." Kataku dengan lirih menatap udara lepas.
Aku pun melirik ke Andrini dan Rahmadani yang berjalan beriringan bertiga.
"Kak,coba kakak lihat di sana ada anak yang lagi bermain sepeda. Siapa tahu adik kakak ada di sana." Andrini menunjuk sebuah jalan sempit yang sering digunakan anak-anak bermain.
Aku pun melangkahkan kakiku menuju anak-anak yang bermain sepeda. Aku melihat begitu banyak anak yang berkumpul melihat mereka bermain. Dengan wajah yang mulai ketat aku memaksa tubuh mungilku untuk melihat ketempat anak yang tertawa begitu bahagia aku lihat.
Mereka tak ada kelelahan sedikitpun terlihat dari raut wajahnya. Langkahku pun sampai sudah dan menghampiri mereka.
" Apa kalian melihat adik kakak?" Tanyaku dengan lugas.
"Oh! Adik kakak yang bernama Ana kan kak?" Tanya salah seorang anak dari mereka.
"Ia,apa kalian melihatnya?" Tanya Rahmadani yang berdiri di sampingku.
"Ia, tadi aku melihatnya."
"Dimana?" Tanya Andrini dengan penuh menyelidik.
"Ia, aku tadi lihat sewaktu pulang dari sekolah.Tepatnya didepan gerbang. Dia berjalan dengan anak kelas lain. Coba aku ingat dia! Siapa dan dimana rumahnya?" Dia pun mulai mengingat dengan keras anak yang berada dalam satu sekolahan.
"Ia, coba ingat-ingat!" Kata Andrini.
"Apa kamu tahu dimana rumahnya?" Kata Rahmadani dengan melihat kearah anak itu dengan serius.
" Maaf kak, aku lupa!" Katanya dengan lirih.
Seketika aku pun mulai menyerah.Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi harus berjalan sepanjang hari di tengah panasnya matahari.
Aku pun memutarkan badanku dengan begitu cepat.
" Kak,bagaimana sekarang? Apa kita harus mencari lagi atau pulang kak?" Tanya Andrini yang begitu sedih melihatku.
Mendengar perkataan Andrini aku diam dan menatap lurus kedepan dengan tubuh yang sudah tidak bersahabat baik dengan ku. Aku masih terus berusaha mengingat sambil berjalan ntah, kemana? Yang jelas tujuanku hari ini sudah sirna.
Keyakinan yang begitu bulat tadi tertanam pada diriku. Bahwa, aku akan menemukan adikku yang manja kini tidak ada lagi. Kini hanya untaian tangan kosong yang bisa aku bawa pulang.
Bersambung....
__ADS_1