Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Terbongkarnya rahasia part 3


__ADS_3

Aku pun terduduk dengan sendu setelah mendengar serangan dari ayah dan ibu sambungku. Aku pikir serangan bola kasti itu akan berakhir begitu saja tanpa diketahui oleh ayahku. Akan tetapi, aku salah. Ayahku malah mengetahuinya dengan benar.


Aku yang telah selesai menghabiskan makananku dengan cara terpaksa kini bangun dari duduk.


"Liyan, duduk dulu!" Ayahku menunjukku. "Jangan pergi dulu!" kata ayahku. "Jawab dulu pertanyaan Ayah." Ayahku semakin menatapku dengan tajam.


"Ayah, aku memang tidak sengaja terlempar bola kasti itu," rintihku pada ayahku.


"Liyan, jangan membangkang. Ayah tidak suka melihat Anak yang membangkang," tegur ayahku dengan keras. "Kalau Ayah bilang katakan. Kau harus mengatakannya. Itu saja kok susah," sesal ayahku mendalam. Kau itu Anak Ayah. Jadi, sudah sewajarnya Ayah harus tahu, siapa yang melemparmu pakai bola kasti itu?" tandas ayahku bertanya.


Aku tidak bisa menyalahkan ayahku dengan selidikannya yang mendalam terhadapku. Sebagai orang tua, dia punya hak yang besar untuk melindungi anaknya. Inilah yang membuat aku diam dan tidak menyalahkan ayahku sepenuhnya. Betapa tidak?! Dari kecil hingga besar seperti ini. Ayahku tidak pernah lengah dalam menjagaku dan adikku. Dia begitu sigap melindungi kami walau hanya dari gigitan seekor nyamuk.


Inilah yang membuat dia semakin emosi. Nyamuk saja tidak boleh menggigit kami, apalagi bola kasti yang keras mengenai tubuhku yang mungil ini.


"Liyan, tidak baik menyembunyikan sesuatu yang membahayakan dirimu dari kami," ucap ibu sambungku semakin kesal melihatku. "Kau jangan main-main dengan lemparan itu! Itu bisa membahayakan dirimu sendiri," lanjut ibu sambungku merapikan meja.


"Iya, Kak. Kalau Kakak nanti tiba-tiba tidak bisa sekolah, bagaimana?" Adikku menatapku. "Kakak bisa tinggal kelas," tukasnya melirikku sambil meneguk air minum di hadapannya.


Aku pun semakin bimbang. Piring kosong yang terletak semakin kutatap dengan lekat. Sementara pikiran ini masih ingin menyembunyikannya dari ayahku. Hempasan ombak yang menghampiri seakan tidak bisa aku elakkan. Ia semakin senantiasa mengikuti hingga aku hampir terbenam.


Perlahan aku menatap lurus sambil mengatur napas yang keluar dengan hati-hati. Ayah, ibu sambung dan adikku terus saja aku pikirkan. Perkataan yang keluar dari mereka semakin aku pertimbangkan untuk menjawabnya. Putus sudah harapan bagiku untuk menyembunyikannya dari ayahku.


Siang begitu terasa panas bagiku sehingga memaksaku untuk mendinginkan diriku sendiri. Pertanyaan yang datang dari ayahku bertubi-tubi bagaikan api yang membakar ketenangan. Belum lagi timpalan pertanyaan dari ibu sambungku yang sama persis, seperti ayahku menyerangku dengan berbagai perkataan yang menyindir. Sindiran demi sindiran yang keluar tanpa menghiraukan ayahku dan hatiku. Dia seenaknya saja mengatakan itu yang berhubungan dengan uang.


Kini aku semakin depresi diam membisu sambil menatap sendok dan gelas yang berisi air di dekatku. "Kakak akan tetap bisa sekolah, kok," jawabku. Meneguk air yang ada di dalam gelas membalas perkataan adikku.


"Bagaimana mungkin Kakak bisa sekolah? Sementara Kakak sakit gara-gara lemparan itu," kata adikku.


"Dan kau tidak bisa bergerak, apalagi berjalan," ujar ayahku sambil berdiri.


"Adikmu benar," sambung ibu sambungku sambil menyapu. "Kalau kau sakit, kau itu cengeng." Dia terus melanjutkan sapuannya keseluruh ruangan.


"Di tambah lagi, kau itu masih dalam keadaan sakit," ucap ayahku berbenah diri.


"Dengar Kak, jangan menambah penyakit Kakak lagi. Mendiamkan orang yang telah melempar Kakak," tandas adikku.


Hmm! Aku menghembuskan napas melihat adikku yang sok dewasa hari ini. Dia terus saja menasihati dan mengingatkanku tiada hentinya. Semakin lama semakin banyak ocehan yang diberikan padaku.

__ADS_1


Aku yang duduk masih di tempat yang tadi, memutar kepala melihat bayangan ayahku yang bergerak. Ayahku yang tadi telah lelah menanyaiku kini beranjak mengambil sabun mandi dan membawa handuk.


"Ayah ingin mandi dulu. Ayah akan menanyakan itu lagi padamu, Liyan. Setelah Ayah selesai sholat." Ayahku keluar berjalan ke sumur untuk mandi.


Sementara ibu sambung dan adikku terlihat sibuk dengan diri mereka sendiri. Ibu sambungku yang tadi menyapu seluruh ruangan kini telah menyusun piring kotor yang akan di cuci ayahku sehabis sholat Dzuhur.


Lain halnya dengan adikku, dia yang tadi duduk menikmati bubur jagung dua porsi kini bangun dan menghantarkan piring dan gelasnya ke dapur.


"Liyan, suruh adikmu untuk menghabiskan air minumnya," kata ibu sambungku sambil menyimpan sapu di balik pintu.


"Iya Bu," jawabku.


Aku yang tadi masih berkabung dengan diriku sendiri. Terpaksa mengangkat kepala melihat adikku. "Ana, habiskan minummu!" seruku memberitahu.


"Kak, ini 'kan, sudah aku minum," jawab adikku berdalih.


"Iya, tapi belum habis." Aku berdiri sambil mengambil piring kotorku dan gelas dan melirik ibu sambungku.


"Kak, air minumnya pahit," ucap adikku menghampiri aku.


"Ya, pahit Kak," kata adikku memberi tahu dengan penuh penekanan. Aku tidak suka air minum pahit," gerutunya.


"Yaaa, namanya juga air mineral. Mana mungkin manis," sanggahku berjalan ke dapur.


"Kan ada jug yang manis, Kak," kata adikku memberi tahu.


"Oohh! Itu air gula kalau yang manis," balasku. Meletakkan piring kotor.


"Iya itu maksudku, Kak," ucap adikku sambil mengayunkan telunjuknya ke udara sebagai isyarat membenarkan yang kukatakan.


"Kenapa kau tadi tidak meminta itu pada Ayah?" tanyaku memutar badan kembali berjalan ke ruang tengah.


"Aku tidak tahu, Kak," jawab adikku dengan sendu. "Lagi pula, Ayah tadi terlalu sibuk mengurusi Kakak," tandas adikku yang berjalan di sampingku. "Kakak sih, tidak mengatakan yang sejujurnya pada Ayah," sesal adikku.


"Biasanya 'kan, Ayah tahu kalau kau suka air gula." Aku melihat adikku yang berjalan bersamaku.


"Kakak 'kan tahu, bagaimana Ayah?" Adikku menatap lurus. "Ayah tidak suka kalau aku meminum-minuman yang manis. Katanya, nanti gigiku sakit." Adikku mengatakannya seakan memperagakan logat bicara ayahku yang tegas dan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


"Hahaha! Jadi, itu! Kasihan sekali adik Kakak, hahaha!" Aku tertawa mendengar keluhan adikku.


"Liyan, Ana! Jangan mengejek Ayahmu!" pekik ibu sambung kami yang bersiap untuk istirahat sejenak.


Kami berdua pun terus berjalan memasuki pintu kamar yang sering kami jadikan tempat bermain dan tempat beristirahat karena rumah kami tidaklah begitu besar sehingga banyak terdapat ruangan yang bisa di jadikan tempat bermain dan beristirahat. Tapi ini rumah kami hanya kecil yang menyisakan dua ruangan yaitu, ruangan tengah dan ruangan dapur. Dan juga dua ruangan kamar yang dimana adalah kamar ayahku dan satu kamar kami.


Hari -hari kami hanya kami habiskan di kamar ketika kami di dalam rumah. Pada saat bermain pun kami menghabiskannya di dalam kamar. Baik itu bermain boneka, lempar bola kasti dengan batu dan juga bermain gambaran. Terkadang juga adikku yang jahil dan banyak akal dia suka membuat ide baru untuk bermain.


"Kak, emang yang melempar bola kasti itu, siapa?" tanya adikku di tengah kelengahanku.


"Tania," jawabku dengan tenang.


"Apa Kak?!" Kak Tania." Adikku menatapku dengan kedua bola matanya lebar.


"Siapa Liyan namanya, Tania?!" sahut ayahku dari luar dinding kamar kami bertanya.


"Ups!" Sontak aku pun terkejut dan menutup mulutku langsung.


"Ana, kenapa kau menanyakannya kembali? 'Kan Ayah jadi mendengarnya," sesalku tiada berguna.


Sesalku sekarang sudah terlambat. Ayahku sudah mengetahuinya. "Iya, Ayah," jawabku pelan.


Ayahku hanya bergeming. Suara balasan pun tidak terdengar sedikit pun darinya. Aku yang melihat adikku merasa cemas untuk esok hari. "Ana, apakah Ayah akan mendatanginya ke sekolah?" tanyaku menatap adikku dengan penuh tanda tanya.


"Aku tidak tahu, Kak," jawab adikku merasa bersalah. "Kak, maaf ',kan aku, ya!" Adikku mengatupkan tangannya ke udara.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya! 🙏🥰


__ADS_1


__ADS_2