
Barisan pun di bubarkan. Aku pun masuk ke dalam kelas. Berjalan memutar bola mata ini melihat meja dan bangku.
"Liyan, kenapa kau membawa tas?" tanya Tania mendadak menghentikan langkahku.
Aku sontak terkejut mendengarnya. Refleks aku menatap Tania dengan pucat . Bibir ini bergetar setelah melihat sorot matanya yang penuh dengan penghinaan ini. Menatap sinis.
"Liyan, kau mau mencontek, ya?" tanya Ecy menyambung pertanyaan Tania. Menyeringai bercampur mengejek menatapku.
Aku langsung sadar dan teringat tas yang tersandang di pundak. Aku lalu malu menatap diriku sendiri saat melihat lurus ke depan.
"Iya Liyan, kita 'kan ujian. Kenapa kau bawa tas?" timpal Septiani bertanya.
"Aku lupa kalau ujian," jawabku menunduk malu.
"Hahaha !" Tania dan Ecy pun tertawa puas menertawaiku."Liyan, kau tidak sabaran , ya?! Memakai buku baru, mungkin?" ledek Tania menatap tas yang tersandang.
Malu bercampur sedih pun aku telan pahit-pahit hari ini. Selintas perkataan lewat menyerang diriku yang baru masuk kelas.
"Liyan, aku jadi tidak percaya, kalau rankingmu itu benar," kata Ecy menatap ke atas langit-langit kelas berpikir.
Aku terus berjalan bersama tas tersandang. Seketika aku menutup kedua bola mata mengingat pak Sukri yang tadi bertanya. Aku rasanya malu bercampur geli. Pantasan pak Sukri melakukan hal yang aneh tadi. Menyuruhku mengeluarkan seluruh isi tasku, pikirku.
Aku semakin menunduk dan tidak bisa menatap dengan tegak lurus. Kaki ini semakin gontai bercampur lemas berjalan menghampiri bangku ujian.
"Liyan, taruh tasmu di atas meja," kata Fikri tegas bercampur kesal.
Aku mengangguk berjalan sambil melepas tas dan meletakan di atas meja. Meja yang telah tertulis nomor ujian terpampang jelas di depan mata. Bangku yang terduduk diam di depan meja menyapa dengan hangatnya.
"Anak-anak, duduk yang rapi!" kata Guru pengawas memberi perintah dengan tegas.
"Baik, Bu," jawab kami serempak.
Bu guru yang menjadi pengawas kami pun, hari ini membagikan soal ujian ke meja kami masing-masing.
"Ini soal ujianmu!" katanya menyerahkan selembar soal di hadapanku.
"Iya Bu," balasku mengangguk. Mengambil soal lalu melihat dan membacanya dengan teliti.
"Fikri, apa kau sudah dapat soal ujian?" tanya ibu itu. Berdiri di depan mengawasi kami .
"Sudah, Bu," jawab Fikri.
"Bagus. Dan kau Rasyd?" tanyanya kembali ketika melihat ke arah meja Rasyd.
"Sudah juga, Bu," teriak Rasyd menjawab.
"Lalu, kerjamu apa di situ?" tanya Guru pengawas heran. Mengerutkan kening.
"Engga ada, Bu," jawab Rasyd. Lekas duduk dengan rapi. Di ikuti oleh mataku yang meliriknya.
__ADS_1
"Jangan ada yang mencontek, ya. Apalagi membawa kopek-an," tandasnya memberi peringatan.
"Iya Bu," jawab kami serempak, di ikuti oleh diriku juga, sekilas melirik ke arah tas yang terletak di atas meja.
"Oh," terdengar suara Tania. "Bu! Liyan membawa tas," ungkap Tania memberi tahu.
Aku langsung gugup bercampur panik. Tas yang terletak dia atas meja pun aku lirik dengan tajam.
"Apa?" Guru pengawas pun terkejut seakan dia lengah dalam mengawas. Dia pun memutar kepalanya melihat ke arah mejaku. "Liyan, itu tas apa?" tanyanya setelah tersadar dari kelengahannya.
"Ini tas saya, Bu," jawabku pelan bercampur takut.
"Liyan, apa kau gak tau, kalau hari ini ujian?" tanya guru pengawas. Berdiri di samping meja menatap dengan tajam.
"Tau, Bu," jawabku pelan bercampur rasa bersalah menunduk.
"Sekarang, taruh tasmu ke depan!" katanya dengan nada suara penuh penekan. Menggerakan kepala ke samping kiri sebagai isyarat menunjuk meja.
Bergegas aku mengambil tas dan menaruhnya di atas meja guru. Tas yang penuh dengan kejadian di hari ini pun teronggok di atas meja.
"Hahaha !" Teman-teman yang lain pun menertawai kebodohanku saat ini.
"Huuuu!" Teriak seluruh murid.
"Mungkin dia mau mencontek, Bu," kata Tania berteriak keras.
"Hahaha !" Tawa yang lain menggema.
"Juara, kok nyontek," ucap Ecy mengejek yang bercampur tuduhan.
"Ecy...diam!" tegur Bu pengawas keras.
Ujian bercampur ejekan pun hampir mau selesai. Aku yang menjawab soal dengan serius, terusik dengan panggilan Widia yang mengarah ke telinga.
"Liyan, ayo kita kumpul!" ajaknya berbisik.
"Aku belum siap," jawabku pelan berbisik meliriknya.
Raut mukanya pun seketika memelas setelah mendengar aku belum siap. Dia pun memalingkan pandangannya seketika seakan melihat Septiani, Solihin dan yang lain.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia ini begitu rumit bagiku. Aku seakan kewalahan menjawabnya. Berulang kali aku mengingat satu soal yang terlewat olehku akibat aku sering libur karena sakit.
Otak semakin di peras dengan kuat rasanya hingga aku sesekali menelan ludah untuk menenangkan diri. Belum lagi aku masih terbayang dengan kejadian yang kualami dengan pak Sukri. Aku begitu malu ketika pulang nanti menatap wajahnya.
Aku tersadar karena Tania yang tiba-tiba melayangkan teguran dan ejekan terhadapku.
"Anak-anak, waktu sudah habis! Cepat kumpulkan sekarang !" pinta Bu guru yang bertugas mengawas kami.
Mau tidak mau aku pun menjawab soal yang menjadi kendala berat untuk ku tadi. Bergegas aku pun mengumpulkannya.
__ADS_1
"Liyan," tegur Fikri.
"Iya Fikri," kataku menjawab tegurannya.
"Soalnya tadi ada yang sulit 'kan?" tanya Fikri.
"Iya," jawabku singkat.
Aku pikir aku saja yang mengalami kesulitan, rupanya Fikri juga. Aku menatap Fikri yang telah meninggalkan aku dari belakang.
"Hai, Liyaaaan...," sapa Tania, di ikuti oleh Ecy berdiri di sampingnya. "...ini tasmu...! Ambil!" kata Tania dengan gurat wajah mengejek. Menjatuhkan tasku tepat ke lantai.
Baugh!
Aku pun menangkapnya langsung. Tas yang ingin terjatuh itu pun kini kutangkap dengan kedua tanganku.
"Oh, ternyata dia pandai menangkap," kata Ecy dengan nada suara mengejek bercampur wajah sinis.
"Ecy!" teriak Fikri dan Widia. "Jangan ganggu Liyan," seru mereka melarang keras.
"Haa," sahut Ecy dengan nada suara datar mengejek.
"Liyan itu teman kami. Jadi, jangan ganggu dia," timpal Rasyd.
Aku langsung diam tercengang mendengar dan melihat yang ada di hadapanku. Tas ransel yang setengah lusuh pun aku pegang dengan kuat.
"Iiiis, mau kali kau memegang tasnya," cibir Ecy. Mengejek tasku.
"Aku nanti cuci tangan," sentak Tania mendengar Ecy yang mengejeknya. Melirik sinis Ecy.
Aku pun semakin terjepit di tengah mereka. Tas sekolah yang setengah lusuh pun aku peluk dengan erat. Aku khawatir kalau tas ini rusak. Aku sangat sedih melihatnya. Tania dan Ecy begitu lancang mengambil tas dan menjatuhkannya.
"Aku juga tau, tasnya itu jelek dan bau," sambung Tania keras di telinga Ecy. Kesal bercampur sebal.
"Tania, Ecy," tegur Widia langsung. "Liyan cuma punya tas itu. Untuk sekolahnya," katanya.
"Yaaela, kasihan sekali, cik ,cik,cik," kata Tania berdecak mengejek.
Aku masih diam menunduk memeluk tas seerat mungkin, di ikuti oleh kedua bola mata melirik lurus ke depan tepatnya ke arah Septiani.
Aku sangat terkejut ketika melihat Septiani menertawaiku dari bangkunya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Teman-teman jangan lupa mampir ke novel teman aku, ya! 🙏🥰