
"Kau selalu membuat Kakak menyusun ini!" gerutuku terus sambil mengambil mainan. Mainan adikku yang berserakan telah aku susun semuanya tanpa tersisa satu pun.
Malam yang larut. Aku yang telah memejamkan mata untuk beristirahat dari lelah akibat bermain sepanjang hari kini telah beranjak pergi meninggalkan aku. Malam dan rembulan malam yang indah pun telah pergi menjauh dan tidak lagi menemaniku bermain.
Pagi hari yang selalu menjadi awal yang indah bagiku telah menyambut dengan suka cita. Senyum, tawa, serta sedih akan di tentukan oleh awal pagi ini. Pagi hari adalah pagi yang indah. Di mana aku selalu bangun lebih dulu sebelum adikku dan tidak lupa juga setelah itu aku membangunkan adikku dari tidurnya.
"Ana, ayo bangun!" panggilku sambil menarik selimut yang menutupi tubuh ini. "...sudah pagi, Dik. Nanti kita terlambat." Aku menarik lengan adikku untuk duduk.
"Kak, harinya dingin sekali," kata adikku. Menggeliat dan masih memejamkan mata.
Adikku yang setiap pagi sangat sulit di bangunkan terpaksa aku semakin menarik lengannya dan berbisik di telinganya. "Ana, Ayah sudah berdiri di situ memanggilmu." Aku dengan tawa geli bercampur kesal menggelitik telinganya dengan ujung kain.
"Ana, sebentar lagi kita ujian," ucapku. Mengganggu adikku.
"Kak, itu masih lama," sungut adikku mengerjitkan mata.
"Ana, jangan buat Kakak di marahi oleh Ayah," kataku melirik adikku. "...Ayah sudah bangun dan sudah mema... ." Aku sontak terkejut dan refleks mundur kebelakang.
"Apa Kak?" Adikku tersentak. "Ayah...!" Adikku refleks langsung bangun dan melebarkan kedua bola matanya.
Aku yang terlempar duduk ke belakang menatap adikku dengan bengong. Aku langsung tersenyum bahagia di dalam hati karena adikku telah berhasil membuka kedua matanya dengan lebar. Tapi aku juga sebal karena adikku. Aku jadi terkejut dan terlempar ke belakang hingga aku duduk seperti orang bodoh.
"Kak, ayo kita mandi!" ajak adikku menarik selimutnya. Dia pun bergegas langsung turun sambil berdiri. "Ayo, Kak cepat!" Adikku mengayun tangannya ke udara dan menungguku. "Kak, jangan duduk saja." Adikku terus memaksa dengan segera berjalan memutar jalan keluar dan meninggalkan aku sendiri di kamar.
Tempat tidur yang masih menjadi tempat persinggahanku sementara ini. Tempat aku sejenak mengatur napas dengan tenang untuk menghilangkan rasa keterkejutan di dalam diriku ini.
Adikku yang telah pergi lebih dulu terdengar berbicara dengan ayahku yang sedang bersiap-siap untuk mencari nafkah. "Kakak, masih di kamar, Yah," terdengar suara adikku sampai ke kamar berbicara pada ayahku.
Seketika aku langsung bergegas turun dari tempat tidur dan menghampiri ayah dan adikku. Tempat tidur yang masih berantakan terpaksa aku tinggalkan hanya untuk mengejar pelajaran yang telah menanti di sekolah.
Udara pagi yang berembun. Bekas siraman hujan yang mengguyur semalam kini terlihat menutupi setengah bumi yang luas. Kaki yang telah mulai bersahabat sedikit demi sedikit aku seret dengan kencang. "Selamat pagi Ayah," sapaku melewati ayahku yang lagi sibuk berbenah merapikan seisi rumah yang masih berantakan.
"Selamat pagi juga putri Ayah," jawab ayahku. Memutar kepala sedikit melihat langkahku.
Ayahku yang sering bersiap-siap ketika menyambut pagi tidak pernah sekali pun terdengar mengeluh. Keluh kesah tidak ada di dalam prinsip hidup ayahku. Dia terlihat sangat kuat dan tegar. Aku yang melihat jerih payah ayahku sesekali tidak ingin membuat ayahku bersedih. Aku juga tidak bisa berbuat sesuatu yang membuat ayahku kesal. Walaupun sesekali aku terkadang membuat kesalahan.
Aku yang berjalan mengejar adikku melihat lurus ke depan dan memanggilnya. "Anaaa!!!" Aku menjerit dari belakang memanggilnya dan mengayun kaki ini dengan kencang.
"Iya Kak," sahut adikku berhenti dan memutar badan ke belakang melihatku. "Kak, kenapa lama sekali?" tanya adikku dari balik embun yang bertaburan menutupi wajahnya dengan buram.
"Kakak baru bangun," balasku menyindir adikku.
"Hahaha ! Kakak nyindir aku, ya?" tanya adikku sambil tertawa.
"Siapa yang menyindirmu?" Aku berlari mendekati adikku yang berhenti.
" Ana, jalanmu cepat sekali," tukasku menjatuhkan tubuh setengah di udara sambil memegang kedua lutut. Aku yang sedikit lelah menghela napas dengan sesekali.
"Kak, kenapa Kakak berlari?" tanya adikku. "Nanti Kakak sakit lagi," ujar adikku. Berdiri sambil memegang sabun.
"Ana, Kakak tidak akan sakit. Sekarang ayo... !" Aku menganyunkan tangan ke udara dan melangkahkan kaki secepat mungkin.
Udara pagi yang dingin akibat bekas hujan yang turun dan bercampur dengan embun membuat jalanan yang kami lalui di depan tertutupi oleh embun yang bertebaran.
Dingin yang menembus kulit putih ini semakin kedinginan dan membekukan bibir ini untuk bersuara. Air mandian yang telah tersedia di dalam ember yang setiap hari di penuhi oleh ayahku telah terlihat bergenang di dalam ember yang lebar.
Aku dan adikku pun bergantian mandi hingga kami pun bersih dan harum. Setelah kami selesai membersihkan tubuh ini. Kami berdua pun bersiap -siap untuk berangkat ke sekolah sama seperti biasanya.
Pakaian seragam sekolah yang telah terletak rapi satu per satu kami pakai. " Ana, hari ini kita berangkat cepat, ya!" pintaku pada adikku yang telah selesai memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Kenapa Kak?" tanya adikku. Menoleh ke arahku sekilas.
"Karena Kakak piket," jawabku sambil mengambil tas.
"Emang Kakak piket tiap hari senin, ya?" tanya adikku ingin tahu. Mengambil tas yang tergantung.
"Iya," jawabku. Memeriksa buku sekolah yang akan kubawa.
"Kak, bukannya menyapu setelah pulang sekolah?" tanya adikku. Melihat ke samping tepat ke arahku.
Aku diam sejenak mendengarnya. "Dik, Kakak memang sudah menyapu," jawabku. "...tapi Kakak mau cepat sampai ke sekolah," kataku dengan jujur. Menatap adikku dengan gurat wajah berharap.
"Kakak selalu ingin cepat sampai ke sekolah," kata adikku dengan wajahnya yang manyun. "... padahal di sekolah belum ada orang... ." Adikku menatapku. "...masih sunyi, Kak!" ungkap adikku langsung.
"Tapi kakak takut terlambat," ungkapku langsung.
"Kakaaak!!!" jerit adikku dengan gerutuan kecil. Mengayunkan kaki dengan kencang.
"Ana, tunggu !!!" teriakku berlari kecil mengejar adikku.
"Kakak bilang Kakak takut terlambat, 'kan?!" lanjut adikku dengan suara yang menggema di udara. "Hahaha ! Akhirnya, Kakakku ngos-ngosan juga mengejar Adiknya." Tawa adikku dengan senang sambil menunjuk dirinya sendiri.
Adikku yang tertawa dengan puas melihat lariku semakin senang meninggalkan aku dengan tawanya yang menggema di udara.
Aku pun semakin mengayun kakiku dengan kencang mengejar adikku yang ingin segera sampai ke sekolah.
"Kakak 'kan yang nyuruh cepat-cepat," teriak adikku dengan tersenyum memutar badan melihat ke arahku.
Aku yang melihatnya semakin kesal di buatnya. Dia sangat senang membuatku gusar dan berkutat dengan lelahku sendiri.
"Ana, awas kau nanti, ya!" teriakku dengan ancaman kecil pada adikku.
Aku yang terus berlari dan adikku yang kini telah sampai memutar kepala melihatku yang telah sampai tepat berdiri di belakangnya.
"Palingan kedua Anakmu bertengkar," potong ibu sambungku setelah mendengar pertanyaan ayahku.
Pagi yang awal hari yang baik buatku kini telah rusak sebab ibu sambungku terlalu ikut campur dalam hal yang sepele. Mendengar ibu sambungku setelah mengatakan itu. Aku dan adikku pun bertemu pandang melangkah masuk. Gurat wajah dan sorot mata pun yang penuh tanda tanya saling melempar pandang dengan pertanyaan masing-masing tersirat di dalam hati yang terlihat dari gurat wajah kami masing-masing.
"Seharusnya kau tidak pantas mengatakan itu," timpal ayahku.
Aku dan adikku yang telah lama berniat ingin cepat berangkat sekolah terdiam mematung setelah mendengar ocehan ibu sambung kami.
"Liyan, Ana... !" panggil ayahku dengan sorot mata yang tajam seakan ayahku mengulangi pertanyaan kembali dan dia ingin kami segera menjawabnya.
"Ayah... ." Aku melirik adikku yang membuat tatapan kami bertemu pandang.
"... kami cuman bercanda," jawabku.
"Bukan bertengkar Ayah," sambung adikku juga.
"Jadi, suara yang terdengar itu. Suara apa?" tanya ibu sambungku. Mendelik.
"Itu cuman suara tawa saja," jawabku. Melihat ke bawah.
Aku dan adikku yang telah sampai di depan pintu dapur perlahan berjalan melewati mereka berdua sambil menunduk seperti orang asing yang baru memasuki kawasan baru yang pelik.
"Anakmu itu selalu berbuat yang tidak-tidak," celetuk ibu sambungku. "...mau mandi pagi saja selalu ribut," lanjutnya semakin meninggi.
"Mereka itu masih Anak-anak. Jadi, sudah sewajarnya mereka itu berteriak, bertengkar dan tertawa," sambung ayahku dengan lembut.
__ADS_1
Aku yang mendengarkan mereka berdua masih berbicara memutar kepala sedikit menoleh ke belakang. Ayah dan ibu sambungku masih membicarakan kami sambil menyiapkan sarapan. Telah sekian lama aku meninggalkan mereka dan sampai kini mereka masih berselisih paham. Aku dan adikku telah sampai di ruang kamar berantakan.
"Ana tempat tidur masih berserakan." Aku langsung melirik ke arah tempat tidur sambil memegang tirai sehelai dengan tangan kananku.
"Kak, ya sudah kalau begitu kita bersihkan sekarang saja," kata adikku. "... sebelum kita lupa," imbuh adikku. Menyikap rok sekolah dan naik ke tempat tidur. "Kak, rapikan sebelah sana!" perintah adikku menunjuk ujung tikar dengan bibirnya.
Aku pun langsung merapikan seperti yang di perintahkan oleh adikku. Tikar dan bantal yang berserakan entah kemana kini kami rapikan dengan serapi mungkin.
"Ana, sudah rapi." Aku melihat dari sudut ke sudut tempat tidur.
"Ayo Ana! Kita berangkat sekarang ke sekolah." Aku langsung turun dari tempat tidur segera mengambil tas dan lari langsung keluar.
"Liyan, Ana sarapan dulu," ucap ayahku memutar badan sambil melirik kami.
Ayahku yang sedang berjibaku dengan sarapannya dan dengan segelas teh juga tidak mengizinkan kami untuk langsung pergi.
"Kalian itu makan dulu," kata ayahku sambil melirik piring yang telah terhidang tepat di atas meja.
"Kalian jangan engga makan, Liyan." Ibu sambungku memutar badan. "... nanti kalian sakit." Ibu sambungku melirik ke arahku seakan dia menyindir aku.
Aku dan ibu sambungku yang bertemu pandang langsung terdiam menunduk dengan wajah yang memelas. Aku tidak tahu kenapa ibu sambungku begitu sering menyindirku. Aku merasa kini tidak bisa berkomentar apapun.
"...kalau kalian sakit, uang Ayah kalian akan habis," terangnya seakan tidak merasa bersalah sedikit pun.
Aku yang terhenyak akan kata-katanya berjalan perlahan mendekati meja sambil mengangkat kepala melihat ayahku yang meneguk segelas teh. Ayahku yang membenamkan bibirnya ke dalam mulut gelas menaikkan pandangannya sedikit melihatku. Ayahku seakan tidak tega melihatku atas ucapan ibu sambungku. Aku yang mengambil sarapan yang telah tersedia.
"Seharusnya itu tidak menjadi urusanmu," kata ayahku protes. "...kalau mereka sakit, ya sudah menjadi kewajibanku untuk mengobatinya," lanjut ayahku menatap ibu sambungku dengan gurat wajah tidak senang.
Aku yang sedikit mendengarnya. "Ayah, kami berangkat dulu." Aku langsung memakai tas ransel dan mencium punggung tangan ayahku.
"Assalamualaikum Ayah," kata adikku setelah selesai mencium punggung tangan ayahku.
"Ibu, kami pergi, ya," ucapku pada ibu sambungku sambil mencium punggung tangannya juga dan melihatnya dengan tatapan sedikit takut.
"Ana, salam... !" suruhku pada adikku. Meliriknya yang berdiri tepat di sebelahku.
"Kakaaak!" Adikku menggerutu sebagai isyarat menolak suruhanku. "...aku 'kan tidak pernah menyalamnya," keluh adikku.
"Tapi, Dik... ." Aku terdiam lalu menatapnya dengan sedikit tajam.
"Kakak, kalau pun pernah itu cuman sekali 'kan?" bisik adikku. Menatapku dengan bertanya sebagai tanda mengingatkan aku tentang itu.
Seketika aku tidak bisa lagi berucap apapun. Aku sekarang hanya bisa diam dan berangkat dengan memelas menelan kecewa atas ucapan adikku yang baru dia ungkapkan padaku.
Perselisihan antara ayah dan ibu sambungku semakin hari semakin terjadi. Rumah yang sederhana ini pun di penuhi oleh pekikkan yang tidak ada habisnya. Setiap saat perselisihan selalu kudengar hingga membuat aku tidak bisa tersenyum dengan leluasa.
"Ana, jalan ini masih sunyi," kataku sambil menatap lurus ke sekeliling.
"Kak, namanya masih pagi," sahut adikku. Melirikku.
Perdebatan yang terjadi tadi masih terngiang-ngiang di telingaku hingga saat ini. Di dalam perjalanan pun aku terus melamun sambil melangkah dengan pelan.
"Ana, kenapa Ayah dan Ibu sering bertengkar ?" tanyaku.
"Mana aku tahu Kak," jawab adikku dengan ketus.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...