Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Gunting pemisah


__ADS_3

"Septiani, kau itu kenapa, ha?" tanya Widia. Kenapa kau melampiaskan kekesalanmu pada, Liyan?" Widia bertanya menampik Septiani.


"Aku tidak seperti itu! Kenapa kau menuduhku ?" tanya Septiani tidak senang.


"Itu tadi buktinya. Kenapa kau berteriak dan menepis tangan, Liyan?" Widia bertanya dengan kesal.


"Widia, aku itu cuman melepaskan tangannya. Liyan memegangku terlalu kuat jadinya, tanganku sampai sakit," sambung Widia memberi alasan.


"Alasanmu aja!" tampik Widia sambil berjalan. Mana mungkin pegangan Liyan sakit. Liyan 'kan, memegangnya tidak terlalu kuat." Widia menatap sinis Septiani sampai memasuki barisan.


"Terserah kau lah! Yang penting aku tidak melakukan itu pada, Liyan." Septiani memalingkan wajahnya.


Di tengah bel yang berbunyi hingga sampai kedalam barisan Widia dan Septiani masih bersiteru. Perseteruan yang terjadi ini, itu semua adalah gara-gara diriku yang terlalu di perhatikan oleh Fikri. Septiani sedikit iri melihatnya karena kalau dilihat dari hubungannya dengan Fikri tidak begitu akur. Mereka selalu saja bertengkar meskipun hanya dalam hal- hal yang terkecil.


Tidak seperti diriku yang terlihat baik- baik saja. Hubunganku dengan Fikri memang tidak sepenuhnya akur. Kami pernah juga bertengkar hanya gara-gara masalah sepele. Namun, aku yang telah diingatkan oleh ayahku tidak boleh bertengkar di luar tidak terlalu membesar-besarkan masalah yang terjadi dengan Fikri.


Sebagai anak ayahku yang mendapatkan didikan dan contoh di dalam keluarga kami, menjadikan aku anak yang mudah memaafkan dan meminta maaf. Inilah yang membuat aku dan Fikri serta temanku yang lainnya senang berteman denganku kecuali Tania dan Ecy yang memang dari awal tidak menyukaiku karena keadaan sosial yang berbeda.


Aku yang terlahir dari keluarga yang miskin membuat diriku di kalangan teman-temanku menjaga jarak dengan yang lain terkhusus mereka berdua. Mereka yang tidak sepadan dengan ku menjauh, bahkan tidak jarang mereka juga menghina dan mencela.


Ini bukanlah hal yang baru bagiku. Aku sudah berhadapan langsung dengan perlakuan seperti ini di rumah. Ayahku yang hanya seorang pembawa becak kerap kali dia sering dikucilkan di lingkungannya. Biarpun demikian, ayahku tetap tegar dan bijaksana.


Aku yang melihatnya langsung terkadang sedih melihat ayahku yang di pandang sebelah mata. Ayahku lah yang menjadi inspirasiku untuk menjadi anak yang tegar.


Oleh sebab itu, aku tidak boleh menjadi anak yang jahat, apalagi menjadi pendendam pada orang yang telah menyakitiku. Itu perbuatan tidak terpuji. Sebagai manusia biasa kita tidak pernah luput dari masalah dengan teman.


Setiap insan harus bisa menjadi contoh yang baik untuk diri sendiri, orang lain dan terkhusus juga adikku sendiri.


Setelah aku mengetahui kalau Septiani membenciku. Hatiku begitu sedih dan merasa tidak nyaman. Perilaku Septiani pagi ini menyadarkan aku kalau aku adalah gunting yang menjadi pemisah antara kedua teman.


Widia yang tidak menyukai Septiani sekarang malah menjadikan aku anak yang terlihat jahat di muka sahabatku sendiri dan melarang aku tidak boleh meminta maaf pada Septiani.


Aku jadi pusing di buatnya. Aku tidak tahu sekarang harus mengikuti siapa. Oleh sebab itu, aku berdiri diam di dalam barisanku sendiri. Aku menunduk dan juga menatap lurus melihat Fikri yang mengeluarkan aba-aba untuk membubarkan barisan kami.


"Kepada Ibu guru, hormat gerak, tegak gerak!" Fikri dengan sigap menyiapkannya tanpa ada masalah sedikitpun yang menghampiri.


Dia terlihat tenang dan tegas berdiri di depan kelas.


Sementara diriku yang terlihat berdiri dengan tegak masih bergulat dengan kejadian yang aku hadapi. Aku pun terus menimbang-nimbang di dalam hati kecil ini. Apakah aku mengikuti perkataan Widia ataukah ayahku?

__ADS_1


Ayahku selalu mengajarkan aku harus menjadi anak yang pemaaf dan anak yang mudah meminta maaf. Inilah yang menemaniku di dalam barisan ini sehingga membuatku membisu.


Seketika aku pun sayup-sayup mendengar teriakan Fikri yang membubarkan barisan.


"Bubar barisan jalan!" Fikri pun berdiri membubarkan barisanku dan Widia terlebih dahulu.


"Liyan, ayo cepat, masuk!" Widia memasak menarik lenganku.


"Widia, tunggu sebentar. Aku akan menunggu Septiani di sini!" Aku melepaskan tanganku dari Widia.


"Apa?" Widia terperanjat dan melongo melihatku. "Kau mau menunggu Septiani di sini!" Widia mengulangi kembali ucapanku dengan penuh penekanan.


"Iya," jawabku tanpa berpikir.


"Liyan. Dia itu sudah jahat padamu. Kau tahu 'kan, tadi apa yang dilakukannya, ha?" Widia menatapku dengan tajam.


"Tidak Widia. Aku tidak mau... ". Tiba-tiba aku tidak melanjutkan yang ingin kukatakan. "Septiani..., Septiani..., tunggu!" Aku mengejarnya.


"Septiani aku minta maaf, ya! Karena gara- gara aku tanganmu jadi sakit." Aku menatap Septiani yang tidak mau melihat wajahku.


"Septiani, kau dengar aku tidak!" kataku sambil berjalan disampingnya.


"Liyan, kau tidak perlu minta maaf pada Septiani," tegur Widia melarangku sambil mengikutiku dari belakang.


Akan tetapi, aku terus saja berjalan di samping Septiani. "Septiani, kau ... ." Aku terdiam menatap lirih diriku sendiri karena Septiani begitu membenciku dan meninggalkan aku.


"Liyan, sudahlah!" kata Widia berdiri di belakangku. "Sudah, jangan lagi meminta maaf padanya." Widia menatapku dengan lirih sambil menarikku berjalan ke bangku. "Dia itu tidak akan mau memaafkanmu," cetus Widia.


"Tapi 'kan, kita berteman," kataku melihat Widia. Kata Ayahku, aku tidak boleh bertengkar dengan siapapun di luar." Dengan polos aku berkata. "Widia, kalau sampai Ayahku tahu, kalau aku bertengkar di luar, Ayahku pasti akan menghukumku." Aku menjelaskannya.


"Tapi kali ini 'kan, Ayahmu tidak tahu. Lagi pula, ngapain kau minta maaf yang salah 'kan, Septiani bukannya kau, Liya!" Widia dengan senang mengatakannya. "Dan teman kita bukan dia saja," kata Widia dengan ketus agar aku mau mengikuti yang dikatakannya.


"Tapi 'kan, kita berenam bersahabat, Widia." Aku menatap bangku Septiani yang jauh dariku.


"Liyan, itu tidak jadi masalah, kalau sekarang kita bersahabat cuman berlima," ucap Widia.


"Tidak! Aku akan tetap minta maaf pada Septiani. Karena dia marah gara-gara aku," kataku menolak ucapan Widia.


Bangku sekolah yang aku duduki pun terasa hampa karena persahabatan kami sudah mulai retak. Netraku terus saja menatap lurus ke depan dengan kosong. Suara Septiani terdengar seakan dia telah melupakan aku dan persahabatan kami.

__ADS_1


Tawanya begitu renyah terdengar bersama Solihin dan yang lainnya. Sementara Widia semakin bersikeras melarangku untuk meminta maaf pada Septiani.


"Liyan, ingat, ya! Jangan pernah minta maaf pada Septiani." Widia terus saja mengatakannya. "Kita masih banyak teman yang lain. Hilang Septiani, pasti datang teman baru?!" Widia menatap lurus menyeringai ke depan. "Bagaimana Liyan, kau setuju?" tanya Widia.


"Tidak!" jawab Fikri dari belakang.


"Apa? Fik... ." Widia terhenti.


"Assalamualaikum Anak -anak!" Bu Dona pun masuk dan duduk.


Widia pun langsung memutar badannya menatap lurus ke arah Bu Dona. "Wa'alaikumussalam, Bu." Kami pun menjawab salam Bu Dona serempak.


"Fikri!" panggil Bu Dona.


"Iya Bu," jawab Fikri.


"Apa ada tugas kita?" tanya Bu Dona sambil membuka tas.


"Tidak Bu," jawab Fikri.


"Baiklah, Nak. Sekarang kita lanjutkan pelajaran berikutnya." Bu Dona pun membuka buku.


"Anak- anak selesaikan tugas sambungan yang kemaren. Jangan ada yang berisik!" kata Bu Dona dengan tegas.


Pelajaran Bu Dona pun kembali menenteramkan hatiku yang bersedih. Latihan yang menguras otakku untuk berpikir membuat aku melupakan sejenak masalah yang terjadi.


Pergulatan hati dan pikiranku semakin kacau. Aku saat ini merasa bagaikan gunting pemisah antara dua sahabat.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman -teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏


__ADS_1


__ADS_2