
"Kita kembali pulang saja dek."
" Kakak yakin kita pulang?" Tanya Rahmadani dengan penuh penegasan.
"Ia,dek kakak yakin. Seberapa lama lagi kita berada dijalan ini untuk mencarinya. Menatap pandangan kosong kedepan dengan sedikit rasa kecewa. Kita sudah dari tadi berjalan hampir dijalan yang sama. Kita terus berputar-putar di sini saja! Tak satupun orang yang kita jumpai dia adalah adik kakak."
"Kak, itu hanya penglihatan Kakak saja. Sebenarnya, kita sudah menjalani beberapa jalan dan rumah yang tidak pernah kita lalui kak. Rahmadani.
"Kakak yakin kita mau kembali?" Tanya Andrini kembali menatapku dengan lirih.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya anggukan kepala yang bisa kuberikan sebagai jawaban untuk perkataan Andrini.
Di tengah jalan yang telah terseok-seok. Aku melangkahkan kakiku mundur. Setiap helaian napas yang keluar telah menemani perjalanan mencari adikku. Panas tubuhku telah berubah menjadi keringat dingin. Kecemasan masih saja memuncak menemani hariku saat ini.
Demi waktu yang telah terukir. Aku harus segera menghentikan permainan ini. Pencarian ku kini telah usai tiada akhir. Adikku yang malang masih belum juga terlihat. Dengan berat aku berupaya mengalahkan sakitku yang sampai saat ini masih menderaku.
Tidak ada kata yang bisa kusematkan selain pasrah dan kembali kerumah. Ayahku yang kini letih melihat kehidupannya, akan semakin cemas ketika dia melihat ku tidak ada dirumah.
Aku berjalan dengan begitu lemah hingga tungkai kakiku rasanya keram. Mataku yang berbinar kini sudah terlihat sayu karena terpaan angin yang begitu tajam menusuk wajahku.
Segera mungkin aku mengayunkan kakiku dengan kencang untuk mencapai rumah ku yang sedikit jauh. Andrini dan Rahmadani yang berjalan beriringan denganku begitu jengah kulihat. Wajahnya yang kini ditekuk menemani perjalanan mereka. Lelah sudah pasti, mereka lalui seharian bersama dengan ku. Tak ada tawa dan canda yang tersirat dari wajah mereka. Aku yang melihat pun semakin simpati atas jerih payah mereka yang membantu aku untuk menemukan adikku.
Meskipun dengan tangan kosong. Kami tetap menghargai jerih payah kami. Semuanya akan terbayar jika kami bertiga tetap tersenyum dalam kekecewaan.
"Dek, apa kalian lelah?" Tanyaku yang lemah.
" Engga kak! Kami kan sudah terbiasa kak, bermain." Andrini.
__ADS_1
" Ia,kak! Kalau kami sering bermain, kak! Bahkan, permainan kami terkadang jauh." Rahmadani.
"Terkadang kami keliling kampung kak. Hahaha!" Andrini berkata dengan majas hiperbolanya sambil tertawa riang. Andrini anaknya memang terkadang suka membesarkan pembicaraannya. Dia memang suka melihat orang yang ada disampingnya bingung dengan wajah yang penuh tanda tanya.
Aku yang mendengarnya pun seketika menarik bibir kecilku dengan wajah yang datar.
"Kak Liyan. Kakak jangan percaya! Andrini, diakan hampir sama seperti kakak. Engga pernah dikasih keluar." Rahmadani melirik Andrini dengan menyeringai.
" Aku itu, engga sama seperti kak Liyan." Andrini melirik Rahmadani dengan nakal.
" Emang kak Liyan seperti apa?" Tanya Rahmadani menggoda Andrini.
Aku pun begitu bingung melihat mereka terus berdebat dan membawa- bawa diriku. Perjalan terus berlanjut. Kaki kami pun terus kami kayuh tanpa henti. Peluh keringat terasa menetes dari pelipis membasahi pipi. Sementara, perdebatan mereka masih terus berlanjut.
Aku yang kini sudah mulai tidak kuat. Mengalihkan pandanganku ke pepohonan yang begitu rindang. Telinga kecilku masih saja mendengar nyanyian suara mereka yang terus tertawa disela-sela perdebatan mereka.
Air keringat yang menganak dipeluk mata kini mulai terasa membendung. Mata perihku pun seketika menatap nanar dengan pandangan kosong.
Sesekali aku menatap Rahmadani dan Andrini yang berjalan di sampingku. Dengan wajah yang lesu dan tubuh yang kini sudah tidak bersahabat. Aku berusaha menopang kuat tungkai kakiku agar tetap bertahan diatas bumi yang panas. Tubuhku yang tidak begitu sehat terlihat kini mulai remuk. Ingin rasanya aku menghempaskan tubuhku untuk mengurangi rasa sakit yang aku derita.
" Kak, kakak Kenapa?" Tanya Andrini yang tepat di sampingku sambil memegang tubuhku dengan kuat.
"Tidak apa-apa dek." Aku sambil menahan tungkai kakiku agar tidak jatuh terkulai.
"Kak, tapi aku lihat sepertinya kakak aku lihat mau terjatuh." Rahmadani terus memegang aku juga dengan sigap.
Aku yang kini sudah mengalami perubahan yang tidak sewajarnya membuatku semakin frustasi akan keadaanku.
__ADS_1
"Kak, kalau kakak tidak kuat.Kita berhenti saja di tempat ini kak!" Andrini pun langsung memutarkan badannya sambil menyeret ku duduk dibawah pohon.
"Tapi,dek kakak harus pulang sekarang." Aku terus memaksa dengan menggerutu.
"Kak,bagaimana? Mungkin Kakak bisa pulang. Sementara kakak tadi mau terjatuh." Rahmadani terus menghalangi aku untuk melanjutkan perjalanan.
"Kakak tahu dek! Tapi kakak takut kalau Ayah kakak nanti semakin panik melihat kakak tidak ada dirumah. Sementara, kakak kan lagi sakit." Dengan wajah yang sendu.
" Ia,kak! Kami tahu,tapi kami nanti takut kalau kakak terjatuh. Kami pasti takut, kak!" Rahmadani.
"Apalagi Ayah kakak galak,maaf kak!" Andrini sambil menarik telinganya sedikit.
Aku pun menatap mereka berdua dengan diam.Tak banyak kata-kata yang bisa aku ungkapkan dengan ketakutan mereka. Akhirnya aku mengikuti kemauan mereka yang begitu kasihan melihat kondisiku. Aku pun merebahkan tubuhku dibawah pohon yang begitu sejuk. Panas tubuhku rasanya kini hilang seketika. Tungkai kakiku yang rasanya mau roboh kini netral kembali. Seakan aku mendapatkan aliran tenaga baru. Andrini dan Rahmadani yang duduk tepat di belakangku menjadi sandaran untuk tubuhku yang lemah.
Mereka begitu terjaga dalam membantu kondisiku saat ini. Sesekali ujung rambut mereka yang terikat mengenai wajahku terbang terbawa angin.
Rambutku yang panjang sebahu membuat leherku terasa begitu geli karena terkena ujung rambutku. Baju terusan yang kupakai kini sedikit terasa terbang terbawa angin yang bertiup.
Tapak kakiku yang kecil terasa dingin. Sekalipun, aku berada ditengah matahari yang terik. Sekujur tubuh mungilku kini terasa dingin bagaikan direndam didalam air es. Bibir ku kini mulai terasa keluh. Lidahku pun rasanya tak mampu untuk bergerak. Aku menahan rasanya dingin dengan menggigit kedua geraham ku dengan kuat.
Lambaian tangan Andrini dan Rahmadani kini terasa lembut menyentuh kulit kepalaku yang tipis. Sesekali mereka melontarkan guyonan kecil hanya untuk menyemangati aku.
Tawa riuh mereka pun terdengar masuk kedalam telingaku dalam keadaan ku yang setengah sadar. Aku pun berusaha melawan kedua mataku yang akan mulai meredup. Aku mencoba menjaga mataku agar tidak tertutup. Tapi, sesekali Andrini dan Rahmadani begitu antusias menjagaku. Mereka sesekali juga mengajakku berbicara agar aku tidak menutup mataku.
"Kak, coba lihat itu kak! Diatas langit ada awan yang biru." Mereka dengan sengaja menggunakan kata-kata yang begitu menggelitik hatiku agar aku tertawa bahagia.
"Kak, kakak jangan menutup mata ya, kak. Nanti kakak tidak tahu ini siang ataukah malam. Hahaha!" Mereka tertawa jenaka melihat ku.
__ADS_1
Mereka memang terlihat seperti meledekku. Tapi, aku tahu itu hanya semata ingin membuat ku terjaga. Agar aku tetap membuka kedua mataku yang begitu berat. Siang semakin berlalu. Tubuhku yang terbaring kini aku ayunkan untuk segera berdiri dari pembaringanku.
Bersambung.....