
Amarah ayahku begitu menghantam semua kebahagiaan, merenggut keceriaan sebagai seorang anak. Kesalahan dalam tindakan memilih antara sahabat dan orang tua membuatku terbelenggu dalam cengkraman emosi yang mencabik tubuh mungil ini. Tamparan kata yang keras membuat tubuh mungil lemah ini bagai terkena peledak yang menghancurkan puing-puing tanpa sisa. Hanya air mata yang di harapkan menjadi penyelamat diri ini.
Demi diri yang lemah, hanya Untaian doa yang bisa aku panjatkan sebagai penguat untuk bertahan. Sakit yang melelahkan membuatku semakin frustasi. Rumah yang tegak berdiri hanya menjadi musuh yang menahanku setiap saat. Kegelapan yang menaungi diriku setiap waktu menjadi pengekang yang membuat tubuh mungil lemah ini semakin terkungkung
tak berdaya
Ingin sekali aku pergi berlari jauh meninggalkan semua kegelapan yang mengekang tubuh mungil ini. Membawa tungkai kaki yang lemah beristirahat dari kebekuan yang menimpa.
Lelah sudah aku lalui semua, tawa kecil yang kusematkan cukup menjadi penyemangat bagi diri yang terkulai.
Udara malam yang lepas, begitu ramah menemaniku seorang diri. Seakan ia turun menghampiri dengan membawa secercah pelukan hangat, menyapa tubuh mungil lemah ini dan tersenyum tulus.
Makan malam bersama telah selesai, obat yang menjadi sandaranku telah duduk dengan manis di atas meja. Berharap tangan lemah ini segera meraihnya bersama tungkai kaki yang tak berdaya. Lintasan amarah ayah dan ibu sambungku masih terekam indah di memoriku yang seakan-akan bisa mengahempaskanku kapan saja.
Suasana hati yang masih pilu, melihat adikku tertawa bahagia dengan I'ROQ yang di benamkan di dada bersama mukena yang terpasang menyelimuti tubuh kecilnya.
Napas yang berat dan mata yang sembab menemaniku duduk di lantai. Lalu aku melihat ia berjalan melalui diriku, menghampiri pintu kamar.
"Ngapain kakak, kok diam saja!" Sapa adikku. Melihat dan mengerjapkan mata.
"Engga ada." Jawabku dengan pelan. Melihat lantai.
Bersama kesedihanku, adikku pun memutar badan dan mengurungkan langkah. Ia terlihat begitu lirih menatapku yang masih terpukul.
"Jangan sedih kak! Nanti kakak sakit." Ucap adikku. Duduk melihatku dengan wajah sendu.
Selimutan kata-kata masih membungkus wajah pucatku yang polos. Butiran kristal masih membulat di pelupuk mata. Getaran bibir kecil yang pucat mengeluarkan suara getir.
Bersama sembilu! Aku teronggok dengan kesuraman mendengar panggilan ayahku yang membangunkan tubuh lemah dengan refleks.
"Ia Ayah." Jawabku berjalan kencang. Menghampiri.
"Ambil I'ROQmu! Bawa ke sini!" Perintah ayahku dengan tegas. Mendelik.
"Ba-Baik Ayah." Jawabku dengan terbata dan takut. Menunduk sambil meremas jemari.
Selangkah kemarahan ayahku menghampiri kembali. Serangan yang semakin lama semakin menghancurkan kedamaian.
Sorot mata ayahku yang tajam menyayat langkah hingga berdarah. Betapa tidak! Setiap aku ingin berjalan mata ayahku selalu terlihat di lantai yang kuinjak.
Menjerit hati ini ketika kuambil I'ROQ dan membenamkan di dada kecilku. Bagaimana tidak? Wajah ayahku sudah terlihat di cover I'ROQ yang akan kuambil, sungguh menyedihkan, untuk diriku malam ini! Kenapa bisa bersedih? Karena kesalahan yang aku buat tadi, akan menjadi bumerang untukku malam ini. Menangis dalam hati, diam berdiri beberapa saat sambil menatap I'ROQ dengan lekat.
Kesedihan yang mendalam memutar badan berjalan dengan segunung ketakutan duduk menghampiri ayahku, balutan mukena suci menutupi kesalahanku dengan indah.
"Ini Ayah." Ucapku pelan. Meletakkan I'ROQ di atas rekal.
"Cepat buka!" Perintah ayahku tegas. Dengan wajah datar.
Ayunan tangan lemah pun mulai membuka lembaran demi lembaran, bibir kecil yang pucat mulai melafazkan dengan suara getir dan berat. Bola mata yang tidak bisa membuka lebar dengan sempurna, melihat lurus senjata yang menakutkan terletak di atas lantai tepat di depan rekal.
Jantungku pun rasanya ingin terhenti, meskipun dengan malu. Lirikan mataku yang jahat mengintai ayahku yang duduk di sampingku yang mengajariku mengaji.
Rasa takutku malam ini membuatku menuntaskan semuanya dengan mulus. Tak ada satupun kesalahan huruf yang kubuat ketika kulafazkan, semua aman dan bisa terkendali. Ketakutan yang menyelimuti menjadi penyelamat bagiku.
Konsentrasi penuh kuputar di dalam kepala mengingat huruf yang akan kulafazkan.
Lirikan mata yang melihat ayahku untuk melindungi diriku dari amarahnya, terlihat begitu kagum melihat ku malam ini. Amarah yang menyelimuti wajah senjanya menepi sesaat.
Sekalipun ayahku memarahi dengan sepuasnya ia masih mempunyai sisi baik kepadaku yaitu, di saat aku melafazkan huruf dengan benar.
Betapa kebahagiaan malam ini begitu mendukungku meskipun, hanya sesaat. I'ROQ yang aku baca malam ini seakan mendengar jeritanku sehingga ia menjadi penolong untukku malam ini.
Jiwa gemetar yang memuncak menghilang ketika suara ayahku yang senja terdengar di telingaku.
"Kau begitu fasih nak! Mengucapkan hurufnya malam ini!" Ucap ayahku dengan wajah bahagia. Mengambil rotan. "Sekarang tutup I'ROQmu ! Jangan lupa minum obatmu!" Perintah ayahku. Bangun dari duduk.
"Ia Ayah." Jawabku dengan datar. Menutup I'ROQ.
Saatnya kesedihanku hilang walaupun hanya sesaat. Tawa sumringah pun terbentuk dengan penuh di wajah yang pucat.
Betapa senangnya hatiku saat ini! Aku memutar badan berjalan meninggalkan tempat pengajian.
__ADS_1
I'ROQ kecil yang berada di dalam genggaman, kuletakan di dalam tempat penyimpanan dengan rapi. Mukena yang tergerai menutupi tubuh lemah, kugantung dengan rapi. Kamar yang sepi seakan tersenyum melihat kebahagian yang tercipta padaku saat ini.
Lagi-lagi, aku harus segera keluar dari kamar untuk menghampiri obat yang akan menjadi penyelamat diriku kembali. Meskipun hati ini sudah menjerit karena pahit yang ia berikan setiap saat. Akan tetapi, aku harus meminumnya, kalau tidak ibu sambung dan ayahku pasti akan marah besar yang akan melemparkan tubuh lemahku lagi.
Walaupun demikian, aku tetap bertahan dengan sempurna menahan pahit obat yang aku minum yang bisa berubah menjadi madu untuk kesehatanku. Sebaliknya, jika aku tidak meminumnya, aku akan menjadi tahanan lagi di rumah.
Sambil merapikan pakaian, aku memutar badan keluar dari kamar menghampiri adikku yang telah duduk bersila bersama sepiring nasi. Perutku yang bernyanyi menghirup aroma makanan dari piring adikku, membuatku memutar langkah gontai berjalan ke dapur dengan kencang.
"Liyan, kau mau ngapain?" Tanya ibu sambungku. Dari balik pintu dapur.
"Mau makan Bu." Jawabku dengan tersentak. Berhenti.
Meskipun aku masih dalam keadaan sakit, ia begitu sinis melihatku dan menyeringai.
"Baru tadi sore kau buat kesalahan sekarang kau sudah tersenyum." Sindir ibu sambungku. Menyeringai.
Tumpukan es kembali menimpa diriku sehingga meleburkan senyumku kembali. Duri yang tadi menepi dengan sempurna, menempel kembali bersama hembusan badai yang datang menghampiri.
"Ia Bu! Aku lapar!" Ucapku pelan dengan gugup. Menunduk.
"Lapar kau bilang! Gara-gara kau, aku di marahi oleh Ayahmu!" Bisiknya di telingaku dengan penuh penekanan. "Ayahmu begitu memuakan! Kau tahu gara-gara apa, Hem!" Lanjutnya dengan tajam. "Gara-gara aku memarahimu, cih!" Serang ibu sambungku dengan pelan dan tajam.
Badai semakin menenggelamkan tawa kecilku. Memeras air mata hingga membanjiri pipiku.
Sehingga tubuh lemah yang lapar kembali menjerit dalam luapan emosi.
"Kau tahu! Kalau kau dan adikmu itu, tidak ubahnya seperti sampah jalanan yang di buang tak ada harganya! Jangankan semut, lalat saja tidak mau hinggap menghampirimu!" Serang ibu sambungku. Mendelik.
Semakin aku diam, ia semakin mencengkram diriku yang lemah. Tidak hanya itu ia juga suka menyindir dan menghardikku. Ingin sekali aku mengadukan semua ini kepada ibuku. Jeritan hati yang merintih semakin membuat batinku tertekan.
Sampai saat ini ia masih terus menghardikku tanpa terdengar oleh ayah dan adikku.
"Apa kau akan menangis sepanjang hari, ha?!" Lanjutnya dengan nada suara sedikit menekan dengan wajah pias yang ketat dan di selimuti kekesalan mendalam.
"Tidak Bu." Jawabku dengan suara terbata menahan segugukan. Menggigit bibir dan meremas pakaianku dengan kuat.
"Lalu kenapa kau masih berdiri diam di situ?!" Serang ibu sambungku kembali. Dengan sorot mata yang tajam. "Ambil nasimu dan duduk di situ!" Perintahnya dengan keras. Menunjuk sudut dinding. "Sekarang kau mau makan di mana? Di sini atau Di sana!" Sambung ibu sambungku dengan berbisik. Menunjuk dengan kedua mata.
"Makan di sini." Jawabku pelan dengan bibir bergetar yang kutahan dengan kuat. Berjalan dengan takut dan menunduk dengan tangan yang masih mencengkeram pakaian dengan kuat.
"Ba-Baik Bu." Jawabku dengan terbata. Berjalan. Duduk di sudut dinding dan melepaskan cengkraman baju sambil menghapus air mata.
Setelah aku menjatuhkan tubuh mungil yang lemah ini. Entah kenapa? Aku terbayang wajah ibuku yang belum pernah aku lihat. Wajah sendu seakan ia melihat ke pedihanku saat ini. Padahal ia tidak pernah hadir di dekatku. Apalagi, menyapa di dalam mimpi. Rasanya, mustahil kalau ibuku kini berdiri di hadapanku, menemani di dalam derita yang membuatku dilema, bahkan terbilang hampir frustasi.
Sebelumnya, aku hanya mendengar tentangnya begitu singkat dari ayahku. Tak pernah terlintas olehku untuk mengetahuinya lebih dalam lagi.
Air mata yang menganak di pelupuk mata begitu menenggelamkan pipiku yang pucat. Membasahi pakaian sederhana yang tergantung di tubuh.
Pandangan kosong yang menyerupai cahaya seakan menerangi jiwaku yang mendung. Setiap saat aku selalu di kekang oleh mendung yang membaut langkah menjadi buta dan bisu.
Akibatnya, membuatku selalu tertekan.
Celah memilukan membuatku diam dan melemparkan pandangan kosong ke depan sampai tidak melihat kalau ibu sambungku telah berdiri di samping dengan sepiring nasi di tangannya.
"Liyan!" Panggil ibu sambungku dengan sedikit keras. Melihat tajam.
Mendung yang menghampiri menjauh seketika. "Ia Bu." Jawabku pelan. Menunduk dan menghapus air mata.
"Kau menangis lagi?" Tanya ibu sambungku menyelidik. Memegang piring.
"Engga Bu." Jawabku dengan kebohongan. Melihat ujung kaki.
Dengan kebohongan yang besar demi menutupi jeritan hatiku malam ini. Membuat ia tidak begitu percaya dengan apa yang kubilang sehingga ia menatapku dengan wajah begitu mencurigai.
"Ini makanlah!" Sungut ibu sambungku. Dengan wajah datar.
Tangan kecil lemah meraih piring yang berisi nasi.
"Kau makan di situ! Jangan bilang sama Ayahmu kalau kau menangis! Tandas ibu sambungku. Kesal.
"Ia Bu." Jawabku. Melihat nasi dengan mata merah dan hidung yang berair.
__ADS_1
Mata lirih dan penuh dengan sesak, aku menatap nasi dengan mendung yang menaungi . Seandainya, malam ini aku tidak menangis pasti laparku sudah terobati dengan segera.
Jeritan hati ternyata menjadi obat bagi lapar yang menyerang. Air mata menjadi penawar haus dan membasahi tenggorokan yang kering.
Bayangan tadi yang menjadi keluh kesah telah pergi menghilang bersama jejak yang menakutkan.
Akhirnya, aku harus segera menghabiskan semua makanan yang telah tersedia di dalam piring. Tidak hanya itu, aku harus juga bisa menetralkan kesedihan yang menimpa batinku saat ini demi melewati ayah dan adikku. Menyembunyikan serapat mungkin seperti kejadian waktu itu di rumah sakit.
Sesekali aku melirik ayah dan adikku yang duduk di ruang depan bersama ibu sambungku. Entah kenapa mata kembali melihatnya? Dan membuat nasi melihat kesedihanku lagi.
Gerakan tangan lemah mengayun dengan perlahan meraih sendok dan menyuapkan nasi ke dalam mulut. Tetesan air mata kecil pun mengalir bersama mulut yang terbuka menelan nasi.
Biarpun aku masih teronggok di sudut dapur seorang diri, tapi suara ayah masih terdengar sayup di telinga, berbisik berbicara tentang diriku yang begitu menakjubkan hatinya malam ini dengan kajian yang aku baca tadi! Suara senjanya terdengar bersama tawa bahagia yang garing.
Oleh sabab itu aku harus memperlihatkan wajah ceria tanpa air mata di hadapannya. Mengurung semua duka malam ini di dalam hatiku yang dalam. Tak boleh terlintas sedikitpun oleh aku menatap dengan pandangan kosong.
Malam semakin larut, nasi yang aku makan masih terduduk manis di hadapan dengan sempurna. Tak ada korekan dalam yang terlihat di dalam piring.
Kegusaran pun timbul kembali mengingat ayahku yang terlintas mengatakan, jangan lupa minum obatmu !
Seketika aku memaksa diriku untuk memakan nasi sampai habis sampai membuatku tersedak, sehingga aku meneguk air mineral yang ada di dekatku.
Apa yang aku lakukan saat ini membuat kegilaan yang terus bersemayam di dalam hatiku. Membuang semua jeritan bersama anganku yang memilukan.
Tawa renyah dari adikku terdengar begitu menetralkan sembilu yang menusuk kalbu hingga berdarah. Seakan-akan membuatku terlahir kembali tanpa masalah. Wajah sumringah pun mulai menemani awal baruku.
Lalu, aku kembali melihat setumpuk nasi yang masih menggunung kemudian menyuapkannya kembali, perlahan sampai habis.
"Kenapa kakak belum siap makan?" Tanya adikku. Tiba-tiba berdiri menghampiri.
"Kakak baru makan." Jawabku singkat. Melihat adikku.
"Tapi, tadi kakak ke dapur kan sudah lama?" Tanya adikku menyelidik. Mengerutkan kening.
Walaupun adikku masih kecil dan polos, ia bisa juga bersikap seperti orang dewasa yang pandai menyelidiki setiap yang ia curigai.
Tak heran kalau saat ini ia curiga dan menatapku dengan lekat. Raut tanda tanya melingkar di wajah polosnya dengan penuh, sehingga membuatku diam dan memalingkan wajah pucatku melihat nasi.
"Itukan! Engga bisa jawab." Timpal adikku. Dengan wajah seakan meledek yang di hiasi dengan menjebak.
"Benar dek!" Sambungku. Meneguk air sambil membenamkan wajah di mulut gelas yang lebar.
"Masa ia, kakak jangan bohong, nanti Ayah marah lagi! Emang kakak engga takut!" Timpal adikku.
Apa! Bagaimana mungkin Ayahku tahu sementara aku tidak memberi tahu siapapun.
.
.
.
Teruntuk semua teman-teman yang telah bersedia memberikan like, komentar, favoritnya aku ucapkan terimakasih! Semoga kita semua di beri kesehatan! 🤗🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung.....
Sambil nunggu Author update,
Yuk! Baca novel punya teman Author!
Di jamin, enggak nyesel deh setelah baca!
🥰
Lahir dari rahim yang sama, hari, bulan dan tanggal yang sama. Bahkan wajah mereka pun sangat mirip.
Meskipun begitu, Amman dan Ammar memiliki watak yang jauh berbeda. Amman adalah pria pekerja keras dan penyayang, sementara Ammar adalah sosok pria yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa menghiraukan betapa sulitnya bekerja.
__ADS_1
Memiliki banyak kesamaan selain watak, ternyata kedua pria kembar itu juga memiliki tipe wanita yang berbeda.
Keduanya juga tidak terlalu akrab, lalu bagaimana jadinya jika kekasih Amman menikah dengan Ammar dan begitupun sebaliknya?