
"Tania! Jangan coba-coba mengejek, Liyan lagi. Awas saja, kalau sampai kudengar lagi!" kata Fikri mengancam Tania.
"Aku heran melihatmu. Kenapa kau begitu membela dia? Padahal, dia 'kan orang susah, jelek, penyakitan lagi, cih." Tania seakan meludah melihatku.
"Iya. Aku heran melihatmu. Padahal 'kan, masih banyak siswa yang lain yang lebih baik dari pada dia," lanjut Ecy.
"Contohnya aku," sambung Tania memuji dirinya sendiri.
"Terserah aku," balas Fikri dengan acuh dan langsung pergi.
"Huh! Dasar Anak bodoh. Percuma ketua kelas," kesal Tania mendengus dengan ketat.
"Kenapa kau kesal begitu?" tanya Ecy. "Biarkan saja! Yang penting kita tidak berteman dengan orang bodoh," lanjut Ecy membungkam kekesalan Tania.
"Iya juga, sih. Lagian 'kan, mereka itu bukan selevelan kita." Tania kembali menyindir dengan sinis.
"Hehehe!" Ecy pun tertawa mengejek. "Hey,
Tania. Biarpun dia duduk di bawah pohon. Hidupnya tidak akan pernah berubah. Hidupnya akan tetap sama, seperti ini. Jadi, tidak perlu kau menghalangi mereka untuk pergi," sindir Ecy menunjuk diriku yang malang.
"Iya, ya! Kau benar juga Ecy," sambung Tania. "Tapi Ecy, siapa tahu itu memang benar?!" kata Tania kembali berpikir.
"Benar apanya ?" tanya Ecy keheranan.
"Iya, siapa tahu bunga itu bisa merubah dirinya?!" Tania berkata sambil menatapku.
"Itu cuman ada di cerita dongeng," ucap Ecy mengejek.
"Hahaha!" Tania pun tertawa puas mengejek sejadi-jadinya. "Suruh saja dia bawa tiang sapu untuk menyihir dirinya sendiri sekalian, hahaha!" Tania tertawa senang seakan dia tidak merasa bersalah.
"Iya, pasti lucu! Seperti Nenek tukang sihir peot, hihihi!" Mereka berdua pun semakin tertawa.
"Kalian puas, ya, sekarang menertawakan orang yang tidak berdaya," tegur Fikri tiba-tiba masuk.
"Ayo Liyan, kita pergi!" ajak Widia tiba -tiba. "Jangan dengarkan mereka. Mereka itu orang jahat," ungkap Widia sambil menarik lenganku.
"Iya," jawabku menerima ajakan Widia.
Kami berdua pun berjalan menuju pohon bunga. Tania dan Ecy yang tadi menghina dan menyindirku sekarang telah kami tinggalkan.
Matahari yang setiap saat menjadi saksi perjalanan hidupku belum terlihat hingga kini. Embun pagi yang selalu menebarkan bau basah yang melihat kesedihanku saat ini masih saja mengikutiku. Kata-kata yang menghujani diri ini, semakin berteriak hingga meneteskan air mata.
Pohon bunga kertas yang indah hanya ialah saat ini yang bisa menjadi obat penyejuk hati ini. Bawah pohon yang rimbun dan sejuk bisa menelan semua kesedihan dan gulatan hati yang merintih karena celaan yang bertubi-tubi.
Kaki yang lemah ini pun, aku ayun sampai ke tempat yang kami inginkan. Tubuh mungil ini yang belum bisa sembuh terpaksa aku latih menjadi tegar setiap detik.
Meskipun aku demikian, tapi aku masih sedikit terlihat beruntung. Keberuntungan masih berpihak kepada ku. Contohnya saja, aku di kelilingi oleh teman-teman yang sayang padaku. Di kelilingi oleh adikku dan Ayah yang selalu memberiku semangat.
Ujian hidup tidak akan pernah berlalu semudah itu apalagi, harus berakhir. Ia akan terus saja menghampiri siapa yang ingin ia singgahi. Ia bisa saja menjadi titik kelemahan ataupun menjadi guru yang mengajari aku semakin kuat dan tegar. Melatihku agar tidak cengeng dan bisa menyelesaikan masalah.
Setiap detik dan waktu, ujian yang menghampiri bukanlah menjadikan aku terlihat sia- sia. Ia malah menjadi napas kekuatan bagi mentalku agar berdiri kokoh di tengah ombak besar yang menghempas ke darat.
Tidak lama aku dan Widia pun, telah sampai di bawah pohon bunga yang menjadi inspirasi bagi hidupku. Dimana teman-temanku telah menunggu. Mereka ada yang berdiri dan ada juga yang duduk.
"Liyan, kau lama sekali. Sebentar lagi bel akan berbunyi." Septiani berjalan menghampiriku.
"Kau tahu dari mana?" tanyaku.
"Dari Solihin," jawab Septiani langsung.
"Apa? Dari Solihin." Aku menatap Solihin yang seakan berpura -pura tidak mendengar.
"Iya. Dia bilang sebentar lagi bel berbunyi." Septiani kembali mengatakan sambil melihat Solihin yang berbicara dengan Rasyd.
__ADS_1
"Eh, iya. Fikri dimana ?" tanya Widia.
"Dia di sana." Solihin langsung menjawab pertanyaan Widia.
"Dia engga mau di sini," kata Rasyd melirik Septiani.
"Ooh! Aku dan Widia hanya mengangguk setelah melihat lirikan Rasyd ke arah Septiani.
"Ya sudahlah! Jangan di bahas lagi. Sekarang aku mau duduk dulu." Aku langsung menjatuhkan tubuh mungilku yang lemah di atas bongkahan semen-semen kecil yang di susun oleh Fikri dulu.
Bongkahan semen ini masih tersusun rapi, seperti sediakala. Aku melihat tidak ada perubahan sedikit pun. Terkhusus bongkahan yang sering aku duduki. Bongkahan ini terlihat sama, persis menghadap ke arah pintu kantor yang dimana banyak terlihat bunga yang mekar dan indah.
"Tempat dudukku masih tetap, ya! Seperti dulu." Aku melihat bongkahan semen yang aku duduki.
"Jelas dong Liyan. Fikri 'kan, sering ke sini," balas Rasyd.
"Fikri sering duduk di sini, ya?" tanyaku.
"Iya," jawab Rasyd. Dia sering duduk di sini. Apalagi, kalau dia sudah lelah di suruh oleh guru. Dia pasti duduk di sini untuk bersembunyi." Solihin menimpali dengan sesuka hatinya.
"Jadi, Fikri suka bermain petak umpet juga," sambung Septiani setelah mendengar pernyataan Solihin. Septiani tersimpul manis seakan dia menemukan senjata ampuh untuk melawan Fikri jika mereka bertengkar. "Mmm! Berarti aku punya senjata untuk melawannya, hihihi !"ungkap Septiani tertawa geli.
"Fikri itu tidak henti-hentinya membuat masalah," celetukku menatap lurus dengan sebal.
"Iya Liyan. Dia memang suka melihat kita berdiri kembali. Itu yang di bilangnya," lanjut Solihin.
"Apa?" Aku terperanjat mendengarnya. Menatap Solihin seketika.
"Iya. Katanya, dia merindukan berdiri menghormat tiang bendera," sambung Rasyd seakan memancing emosiku. "Hahaha!" Rasyd pun tertawa.
"Enak aja! Kalau dia mau berdiri. Dia berdiri saja sendiri," cetus Widia dengan geram.
"Iya, aku engga mau menemani dia lagi berdiri," sela Septiani.
"Malah, jam istirahat masih lama lagi," sambung Rasyd dengan senang memanasi Septiani.
Seketika wajah Septiani pun berubah menjadi api yang membara. Sorot matanya yang tajam menatap lurus melebar.
"Fikri," gumamku panik karena melihat Septiani yang marah dengan Fikri.
Sementara Fikri yang berdiri menatap Rasyd dan Solihin yang tertawa puas karena telah berhasil membuat Septiani marah. "Ini bakalan jadi perang besar," kata Solihin dengan senang.
"Awas kau, kalau sampai Fikri mendengarnya. Bisa habis kita." Rasyd menatap lirih ke arahku.
"Liyan, kau kenapa ?" tanya Rasyd keheranan
"Fikri," bisikku pelan.
"Eh, emang Liyan, kenapa ?" tanya Solihin yang belum menyadari keberadaan Fikri.
"Fikri goblok," cetus Rasyd keras di telinga Solihin. "Ptff!" Solihin langsung menutup mulutnya.
"Bagus, ya! Kau jelekkan aku di depan teman-temanku." Fikri menatap Solihin dan menghampirinya.
Sontak Solihin pun terkejut dan langsung mencari celah untuk menghindar. "Eh, sebentar ya! Aku mau ke sana dulu. Aku lupa kalau Pak Duan tadi memanggilku." Solihin memutar badan langsung kabur.
"Huh! Datang orangnya kau langsung kabur. Dasar penakut," pekik Rasyd melihat Solihin lari terbirit-birit.
"Emang kalian menceritaiku, ya?" tanya Fikri pada Rasyd seakan tidak mengetahuinya.
"Mmm! ... ." Rasyd pun memutar pikirannya untuk mencari celah menghindar dari pertanyaan Fikri.
"Fikri, jangan marah-marah kau 'kan ketua kelas," kataku menghalangi Fikri untuk memarahi Rasyd.
__ADS_1
"Terus kalau aku ketua kelas, kenapa?" tanya Fikri kembali bertanya padaku.
"Ketua kelas harusnya lebih sabar lagi," sindir Septiani.
"Septiani benar Fikri. Kau harus lebih sabar lagi," sambungku.
"Benar kawan. Kau 'kan ketua kelas idola. Dari kelas satu sampai kelas tiga kau selalu memegang peringkat ketus kelas." Rasyd berusaha menawan tawanya yang ingin keluar sambil merangkul Fikri dan menaikkan alisnya.
"Lagian Liyan tidak bisa mendengar suara keras," tutur Widia.
"Iya Fikri. Aku takut dengan suara keras," ungkapku sambil menatap Fikri.
"Benarkah itu?"tanya Fikri langsung terkejut. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku dari awal," lanjut Fikri melihatku.
"Ngapain harus di beritahu padamu. Emang sepenting itu dirimu bagi Liyan,"kelakar Septiani dengan ketus.
"Iya, emang aku 'kan, orang penting," balas Fikri balik. "Aku ini ketua kelas lebih penting darimu, hix," lanjut Fikri membuang muka dari Septiani.
"Fikr... ." Septiani pun langsung menghentikan ocehannya.
"Daaaahhhh!" kata Fikri dan Rasyd melambaikan tangan ke udara meninggalkan kami.
"Liyan, lihat temanmu itu. Keterlaluan, emang dia siapa? Cih," Septiani dengan kesal melampiaskan amarahnya padaku.
"Kau itu apa-apaan, sih! Kenapa kau melampiaskannya pada Liyan. Dia 'kan tidak ada hubungannya," celetuk Widia membelaku.
Teng! Teng ! Teng!
Bel pun berbunyi. Bawah pohon bunga yang teduh yang biasanya menjadi penenang bagiku, kini malah sebaliknya. Omelan dan umpatan pun tercipta dengan jelas di bawah pohon bunga ini. Ketenangan yang tadi ingin aku cari di sini malah menjadikan teriakan keras antara Fikri dan Septiani.
Sirna sudah keceriaanku hari ini. Semuanya telah menjadi abu yang beterbangan kemana-mana oleh tiupan angin.
Tawa puas dari Tania dan Ecy terlihat dari jauh. Mereka berbisik sambil menunjuk ke arah kami dan melihat pertengkaran yang terjadi ini. Mereka seakan puas rasanya karena secara tidak langsung sakit hati mereka tadi telah terbalaskan.
Senyum sumringah pun terlihat menatap ke arahku ketika kami bertemu pandang. Wajah Tania dan Ecy terlihat begitu jelas mengejekku.
"Rasain, kamu," jerit Tania dan Ecy dengan puas menjatuhkan diriku.
Sementara Widia dan Septiani yang masih di sampingku masih saja terdengar berdebat. Aku yang mengetahui ucapan Tania dan Ecy yang menyakitkan memalingkan wajahku dari mereka langsung melihat kedua temanku yang masih bersiteru.
"Widia, Septiani sudah! Hentikan! Aku berteriak. "Bel sudah berbunyi. Kita harus segera mengambil barisan." Aku menarik lengan mereka berdua.
"Liyan, hentikan!" teriak Septiani menepis tanganku.
Sontak aku langsung terkejut dan berhenti melihat Septiani yang berlaku kasar padaku.
" Septiani," gumamku menatapnya tajam.
"Liyan, kalau kau mau berbaris. Berbaris saja sana, sendiri!" teriak Septiani dengan penuh kebencian.
"Septiani! kau itu apa-apaan, sih!" teriak Widia tidak senang.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya ! 🙏🥰
__ADS_1