Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Teringat Ibu


__ADS_3

Sambil menyeret tiang sapu. Aku teringat langsung dengan ibu yang tadi kutemui di dalam foto.


Menunduk dengan lantai yang terus kusapu. Air mata pun menganak di pelupuk mata. Butiran bola kristal pun jatuh ke atas lantai.


"Kau menangis, iya?" tanyanya memekik.


Aku sangat takut mendengarnya tangan terasa gemetar memegang sapu. Aku takut kalau dia semakin memarahiku jika, mengetahui aku menangis.


Bibir ini pun terus kujaga ketat agar tidak mengeluarkan suara tangisan dengan lepas.


"Coba lihat. Sudah bersih atau belum!" Dia pun maju mendekat melihat bekas sapuanku.


"Hmmm!" Dia pun berdehem kasar melihat keseluruhan lantai yang aku sapu.


"Bagus! Ini sudah bersih," katanya dengan nada suara keras seakan dia mengikuti gerakku terdengar dari nada suaranya yang menembus pendengaran. "Pergi sana, belajar!" katanya dengan keras dan meninggi menyuruhku.


Lekas aku menaruh sapu kembali ke balik pintu. Sapu itu pun aku letakan dengan rapi bersandar di dinding.


Sekarang aku sudah menjalani semuanya. Aku pun harus segera belajar agar aku tidak tinggal kelas. Sakit yang mendera hingga membuat aku tidak bisa masuk sekolah semakin memeras otak.


Deg!


Sontak aku terkejut ketika aku melihat adikku dan ada segundukan bungkusan plastik hitam di dalam kamar. Penasaran aku langsung membukanya.


Deg!


Aku kembali terkejut setelah melihat adikku tersenyum jahat. Bungkusan plastik itu pun bergegas aku membukanya.


Glek !


Aku langsung menelan ludah setelah melihat isinya. Aku tidak menyangka ternyata adikku setega itu padaku. Pasir itu ternyata dari sini, pikirku dengan lirih menatapnya. Selintas pasir yang berserakan itu pun terlintas di hadapanku. Aku tercengang seakan tidak percaya ternyata ini perbuatan adikku.


"Ana!" Aku bangun dan berdiri menatapnya. "Jadi, itu semua ulahmu?" tanyaku ngotot.


Dia tidak menjawab. Dia hanya tertawa sinis melirikku. Lirikan itu sangat pedas mengiris hati. Aku yang melihat tatapannya itu semakin kecewa melihatnya.


"Kau jahat! Tega kali kau taruh di situ pasir yang banyak!" kataku dengan lirih menatapnya.


Sambil menyeringai. "Siapa dulu yang jahat?" tanya adikku seakan dia menyuruhku untuk mengingatnya. "...yang jahat 'kan, Kakak," ucapnya dengan datar bercampur bengis.

__ADS_1


Aku semakin melongo mendengar jawabannya. Rasanya ombak besar telah datang menyapu kebahagiaanku. Aku semakin pilu saat mengetahui kenyataan yang terpampang dengan jelas. Wajah ibu yang tadi pun seketika teringat olehku.


"Kakak tadi keluar mencariku, 'kan?" tanya adikku dengan senang yang melihat aku kesana kemari sibuk mencarinya. "Kasihan sekali!" katanya menertawaiku.


Buku yang terletak di atas tempat tidur pun. Aku hampiri dan mengambilnya lalu aku duduk membuka buku bercampur dengan cemoohan adikku.


"Kakak tau gak? Aku tadi di mana?" katanya berbisik di telingaku.


Aku menggeleng menjawabnya dengan jujur.


"Aku tadi di samping... ," katanya melirik dinding rumah. "...mengambil ini," tandasnya sambil menunjuk gundukan plastik dengan kedua bibirnya.


Aku semakin shock mendengarnya. Buku pun semakin erat kupegang. Kudekap sekuat-kuatnya dalam pelukanku untuk lebih menenangkan hati dan wajah ibuku pun seakan menjadi temanku saat ini.


"Tadi waktu Kakak pergi. Aku sengaja menaruhnya di atas lantai. Supaya Kakak dimarahi oleh Ibu kesayangan Kakak itu," tuturnya dengan tajam. "Aku 'kan, sudah lama tidak main pasir. Kakak juga sudah lama tidak di marahinya. Apalagi di lempar sapu, hahaha!" katanya sambil tertawa lebar dengan puas menjebakku.


Aku semakin miris melihat wajah adikku yang bengis itu dan suara tawanya pun semakin mengiris batin ini yang bisa kulakukan hanyalah mencengkram jemariku dengan sekuat-kuatnya untuk menahan rasa sakit karena serangan adikku sendiri.


"Kakak berteriak di sana, seperti orang gila mencari -cariku, lari ke sana kemari, hahaha!" lanjutnya semakin tertawa lagi.


Aku semakin sendu menunduk melihat ujung kakiku yang tergantung.


"Ana, kau tidak suka kalau lantainya bersih ?" tanyaku polos ingin tahu.


"Mmm!" Adikku diam sambil berpikir. " 'Kan lantainya memang kotor," sambung adikku.


"Gak! Lantainya bersih. Sudah Kakak sapu tadi," kataku dengan lantang.


"Tadi aku lihat berpasir, kok," tandas adikku. Mengukuhkan pendapatnya.


Aku tidak menyangka kalau adikku tega berbuat seperti itu. Pasir dengan mudahnya dia serakan di lantai yang bersih.


"Ana, kapan kau serakan pasir itu?" tanyaku ingin tahu.


"Tadi Kak," jawab adikku langsung. Dia pun memutarkan badannya tepat ke arahku. " Tadi Kak... ," kata adikku sambil menyeret kakinya duduk di atas tempat tidur. "...waktu Kakak pergi mencariku," tandasnya.


Deg !


Aku semakin lesu mendengar penuturan adikku. Tatapanku bercampur air mata yang membendung di pelupuk mata.

__ADS_1


"...pas Ayah tidak ada. Ya, sudah aku curahkan saja di lantai," terang adikku dengan gamblang dengan gurat wajah tanpa merasa bersalah.


Aku semakin shock mendengar kenyataannya. Ternyata adikku memang sengaja melakukan itu sebagai pembalasan dendamnya untuk ku. Aku tidak habis pikir mendengar kenyataan yang keluar dari mulutnya.


Dia sekarang telah berubah derastis. Dia tidak seperti adikku yang dulu lagi ketika aku menajamkan tatapan melihatnya . Wajahnya yang lembut dan penuh kasih sayang itu tidak terlihat lagi sekarang.


Semua seakan semu terlihat. Sekarang tidak lagi ada celah untuk bisa berbaikan, sepertinya dengan adikku, pikir ku. Itu terus saja terlintas dari ingatanku.


"Kakak tau gak sebenarnya, tadi aku ingin mencurahkan pasirnya semua," kata adikku memberitahunya. "Tapi, karena aku mendengar suara kaki jadi, gak jadi, kucurahkan semua," tuturnya melemparkan pandangan sembarang ke arahku. Menyeringai.


Penjelasan adikku semakin membuatku depresi. Aku serba salah. Rasanya aku seperti makan buah simalakama.


"Dari pada aku dimarahi oleh Ibu kesayangan Kakak itu. Lebih baik Kakak yang dimarahi," cetusnya dengan terus terang.


Aku sangat terhenyak mendengar kenyataannya. Buku yang kupegang dan ingin kupelajari pun tidak jadi. Aku semakin lirih mendengarnya, bola mata pun semakin berkaca-kaca karena aku terkejut melihat adikku yang ternyata sudah jahat.


Aku seakan masih belum percaya mendengar dan melihatnya. Namun, aku kembali bangun dari khayalan yang berbisik, kalau apa yang kulihat adalah salah. Namun, itu semua ambigu. Kenyataan adikku memang telah berubah jahat. Bahkan dia dengan tega dan sengaja mencurahkan pasir di atas lantai yang telah kusapu bersih. Padahal dia tahu kalau lantai itu telah kusapu.


"Kak, aku hanya bermain, kok," dalih adikku membingungkan diriku. Tersenyum tipis menertawaiku. Sinis.


"Ana, jangan bermain pasir di dalam rumah," kataku dengan polos.


Adikku semakin menyeringai menertawai perkataanku. Dia seakan menari-nari di hadapanku yang terlalu naif.


"Aku tadi kepingin main pasir di dalam rumah. Di lantai yang udah Kakak sapu," katanya dengan seenaknya.


Hati yang mendengarnya langsung miris. Aku langsung menunduk malu mendengarnya. Aku tidak mengerti, kenapa adikku bisa berubah sejahat ini? Rasanya ini semua berawal dari kejadian yang kemaren. Adikku begitu iri terhadapku.


Aku langsung melihat buku sambil mengingat wajah ibuku yang lembut itu. Wajahnya seakan menjadi penenang bagiku yang sedang dilanda masalah.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya! 🙏🥰

__ADS_1



__ADS_2