
Aku dan adikku pun masih di depan pintu menunggu kedatangan ayah kami dari Masjid. Bumi pun sudah saatnya berputar menuju porosnya yang lain. Sedikit menjauh dari sinar matahari yang panas terik.
"Kak, kakak belajar nyusun mainan dari mana? aku engga pernah lihat,kak," adikku ingin tahu.
" Apa kamu mau belajar?" Tanya ku dengan senyum.
" Lalu, kak sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya adikku.
" Lakukan saja, apa yang ingin kamu lakukan," dengan datar. " Tapi, ingat jangan diluar batas, nanti Ayah marah," memberi peringatan terhadap adikku.
Seketika ia mengerutkan keningnya menatap ku, seakan ia tidak suka dengan ucapan ku.
Dari ucapan ku, aku sudah bisa mengetahui kalau adikku tidak menyenanginya.
" Kak, Ayah," Dengan wajahnya yang tadi kurang senang akan ucapanku. Hilang ketika ia melihat ayahku yang berjalan. Spontan adikku berlari mengejar ayahku yang terlihat masih begitu jauh.
Kaki kecilnya begitu sigap melangkah seperti orang yang menerobos musuhnya. Dari tempat aku berdiam diri ia begitu gembira sehingga tawa lepasnya memenuhi bumi yang luas.
Mereka berdua pantas terlihat seperti teman. Apalagi ketika mereka berdua bertengkar tidak butuh waktu lama mereka sudah akur Kembali.
Sekarang banyak orang tua yang tidak mau mengajak anaknya sebagai teman. Terkadang faktor dari kewibawaan mereka yang takut runtuh ketika berteman dengan yang tak seusia dan sederajat dengan mereka.
Namun, itu tidak berlaku untuk ayahku. Ayahku sendiri apabila anak-anaknya menjauh dari dia serasa hidupnya seperti tak bersemangat.
Apalagi kalau ayahku tidak melihatku ada dirumah setiap dia pulang kerja. Hidupnya begitu tak berati. Jika, ayahku melihat ku sedikit menentang nya ia selalu menuntut haknya terhadap diriku. Sehingga langit-langit rumah kami ramai.
" Ayah, kita sudah sampai," Senyum adikku yang merekah menghiasi wajah polosnya.
" Ia, nak! Sekarang kita makan," dengan nada suara hangat ayahku.
" Kak, aku cepat, kan larinya," seakan adikku memamerkan betapa gembiranya dia hari ini dengan larinya yang kencang menghampiri ayahku.
__ADS_1
" Liyan, mana Ibu mu," kata ayahku dari dapur yang sibuk menyiapkan makan siang.
" Ayah!" Sambil mengikuti ayahku yang lagi sibuk. " Ia,nak." Sahut ayahku tanpa menatap adikku yang tiada lelah mengikutinya. " Itu, bukan Ibu Ana, kan Yah!" Dengan sedikit menahan suaranya pelan. Seketika ayahku terdiam dengan ia refleks menghentikan langkahnya. " Dari mana kamu tahu, nak?" Tanya ayahku yang begitu penasaran.Mata adikku yang menatap ayahku nanar dengan gurat wajah sendu. " Ana, Ayah tanya kamu tahu dari mana?" Seakan ayahku ingin mendengar kan dengan jelas keluar dari mulut adikku. " Engga! Ana tau aja," dengan ketus adikku menjawabnya. " Mana mungkin anak Ayah tidak tahu," Wajah ayahku yang lembut begitu penuh penekanan kini memaksa adikku untuk berkata jujur. "Liyan!" Pekik ayahku dengan sorot mata yang tajam.
Aku yang sedikit lengah spontan terperanjat menatap ayahku dengan gelagapan. Seakan diriku begitu terasa gugup mendengar pekikan ayahku dan sorot matanya yang tajam menatapku.
Seolah ayahku menaruh kecurigaan nya terhadapku akan ucapan adikku yang begitu terdengar bodoh. " I- ia, Ayah," dengan terbata wajahku begitu terlihat seperti orang yang ketakutan. " Bukan Ayah, bukan, kak Liyan," spontan aku menyelamatkan diriku.
" Lalu siapa? Apa ada orang lain yang mengatakan seperti itu? Kalau bukan orang rumah ini!" Dengan penuh penekanan.
Seketika aku menyandarkan tubuhku didinding.
" Ayah, bukan kakak yang bilang," tandas adikku memberikan penjelasan kepada ayahku. " Ayah, yang bilang Ibu itu sendiri," Kata adikku dengan ketegasan yang memelas.
" Ia." Kata ayahku dengan meminta pembenaran akan ucapan adikku.
"Ia Ayah! Ibu itu yang bilang, begini Ayah, mulai besok kau panggil aku "Ibu," penuh penekanan yang begitu mendalam dengan melakukan gerakan seperti yang disampaikan wanita itu adikku memperagakannya. Sehingga ia terlihat seperti orang yang sedang berakting seperti seorang artis. "Ia Ayah makanya, Ana engga mau memanggil dia Ibu." Kata adikku dengan lantang. " Berati dia bukan Ibu Ana, kan Ayah."
Hanya diam yang bisa diberikan ayahku sekarang sebagai jawaban atas adikku yang tidak mau kalah. " Tapi, nak itu tidak baik," memberikan pencerahan terhadap adikku. "Jadi, kamu memanggilnya, kayak mana?!" Tanya ayahku yang ingin tahu.
" Terpaksa bagaimana?" Ayahku ingin tahu.
" Kalau dia meminta dipanggil "Ibu" ." Menatap ayahku sekilas.
Tanpa merasa bersalah adikku masih berjalan dengan rileks dan tanpa beban di wajah bersalahnya.
Ayahku diam sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah anaknya.
" Liyan, mulai besok ingatkan adikmu kalau dia buat masalah lagi." Ayahku yang semakin jenuh dengan tingkah adikku melepaskan semaunya tanggung jawab kepada ku.
Aku yang semakin tak menentu akibat sakit ku. Hanya melongo dengan kekosongan yang menemaniku.
__ADS_1
Tubuh lemahku pun terpaksa bertahan ditengah perbincangan yang belum juga usai.
"Liyan, jawab pertanyaan ayah,"menatap ku dengan sorot mata berharap kejujuran dari diriku.
Melihat sorot mata ayahku. " Ayah, Iii**," ketakutan yang kini menderaku seakan menahan suaraku untuk keluar.
" Liyan, kenapa kau seperti orang yang ketakutan?" Melirik ku dengan tajam.
Aku melihat adikku yang begitu tenang dengan wajah yang memohon pertolongan nya. Adikku hanya bergeming melihatku tanpa melakukan apapun. Di sisi lain ayahku masih terus menatap dan menunggu jawaban atas pertanyaan nya.
" Ayah makanan nya mana?" Menghampiri ayahku sambil memohon kepada ayahku untuk mengambilkan piring.
" Ayah." Panggil adikku dengan pelan kemudian adikku menatap ku. " Istri Ayah itu, tadi pergi keluar." Kata adikku dengan tandas.
Deg, seketika aku menatap adikku dengan mendelik. Seakan pikiranku yang di penuhi masalah sakitku seperti lembaran kertas ujian. Membuatku terperanjat dengan keberanian adikku yang membuat ku menatap seakan, tidak percaya kalau adikku mengatakan itu.
" Sudah lama dia pergi," tanya ayahku dengan ingin tahu menatap adikku dan aku dengan tajam.
Mungkinkah dia akan pulang. Pikiranku yang panik menatap nanar keluar.
" Sudah pulang?" Tanya nya sambil masuk tanpa mengucapkan salam.
Ayahku yang sedang menikmati tugasnya menyiapkan semuanya. Memutar badannya kebelakang dan melihat kearah sumber suara. Kedua matanya spontan mendelik. Wajahnya kini terlihat seakan tidak percaya kalau wanita yang dinikahinya berbuat seenaknya, keluar rumah tanpa meminta izin dan pulang tidak mengenal waktu.
Wajah paruh baya ayahku pun seketika kesal yang berusaha ia redam. " Darimana saja kau," spontan ayahku memutarkan badannya membelakangi dia. Sorotan matanya yang tajam aku lihat ketika aku mengambil nasi ku.
Adikku yang tadinya jauh dariku kini menghampiri tubuhku yang lemah. Tubuhku yang sakit tapi, aku tutupi dari semuanya seakan mereka melihat ku baik -baik saja.
" Kak," Mengangkat kepalanya dengan menaikkan sedikit alisnya sebagai isyarat menunjuk ke wanita yang seperti musuhnya.
Seketika aku menepis tatapan adikku dengan mengerjapkan kedua mataku. Sebagai isyarat menyuruh adikku diam.
__ADS_1
Ayahku begitu terlihat kesal dan kecewa. Setiap kali dia kembali dari mencari nafkah istri yang kini mulai dicintainya membuat dia semakin frustrasi.
Bersambung....