
Aku yang di papah adikku menuju tempat tidur. Merebahkan tubuh lemah ku dengan nyaman. Aku menarik selimut menutupi tubuhku yang tak berdaya. Aku atur bantal yang berada di kepalaku dengan apik.
Aku pun mulai memejamkan mataku perlahan. Lampu yang tergantung tepat di langit-langit kamar kini tetap hidup menemani tidur kami yang pulas. Lampu kamar kami tidak pernah mati saat kami tidur karena aku, anaknya takut dengan kegelapan.
Malam panjang pun berlalu dengan tenang. Tak ada suara dentuman yang menyerang ruangan rumah kami yang hampir setiap hari terdengar memecah seisi ruangan rumah yang kecil.
Rumah kontrakan kami yang kecil dan apa adanya. Dulu sering di taburi kasih sayang yang hangat dari Ayahku. Tapi sekarang semua itu telah sirna sekejap mata. Pernikahan Ayah dan wanita itu membuat semuanya berubah. Belum lagi dengan diriku yang kini terserang penyakit. Adikku yang manja tak pernah lepas dari keinginannya yang ingin menempel pada ayahku setiap hari.
Adikku tak ada tempat lain untuk bermanja selain pada ayahku. Ayahku tidak pernah keberatan atas sikap adikku yang manja. Ketika melihat adikku. Ayahku langsung teringat masa lalu tetang kepergian ibuku yang begitu cepat. Maka dari itu ayahku tak pernah lengah untuk memperhatikan adikku dan memberikan kasih sayang.
"Liyan!"
Setengah sadar dari dalam kamar ku. Aku mendengar sayup-sayup suara memanggil namaku sedikit berteriak. Aku pun mengerjitkan mataku untuk melihat keadaan.
"Liyan, bangun!" Panggil ayahku dari luar dinding kamarku.
Pagi yang telah hadir menyapaku dengan senyum merekah. Membuat ku segera menarik tubuhku untuk meregangkan otot-otot tubuhku yang kaku akibat semalam tidur. Dalam pembaringan aku belum beranjak duduk. Aku masih mengingat-ingat akan diriku yang sempat terlupa karena tidurku.
Aku yang masih menyatukan pikiran ku menatap ke sebelah ku. Melihat adikku yang masih terlelap memejamkan matanya. Aku yang jail hari ini mencolok-colok pipi adikku yang imut.
"Liyan! Apa lagi kenapa belum keluar juga!" Teriak Ayahku yang semakin kuat.
Mendengar suara ayahku yang menggelegar. Aku sontak turun dari tempat tidur menghampiri ayahku dengan membawa selimut yang menutupi tubuh ku semalaman.
"Ia, Ayah!" Dengan suara lembut aku berjalan menghampiri ayahku.
"Sudah jam berapa ini?" Kata ayahku sambil menyiapkan sarapan untuk kami.
Aku yang berada didekat ayahku diam dan melihat ke jam dinding yang tergantung.
"Cepat, banguni adikmu!" Perintah ayahku padaku.
Mau tidak mau aku harus membangunkan adikku yang masih tidur dengan pulas."Ayah,ini kan masih pagi?" Kataku dengan memelas memutarkan badanku berjalan dengan sedikit perlahan.
"Liyan, agak cepat sedikit jalan mu." Teriak ayahku sedikit dari belakang ku.
__ADS_1
"Ia, Ayah." Kataku terus berjalan.
Perlahan kakiku telah membawaku sampai ke pinggiran tempat tidur. Aku pun langsung menarik selimut adikku yang menutupi tubuhnya.
" Dek, bangun kata, Ayah!" Teriak ku sedikit pelan sambil menarik selimut nya dan mencolek kakinya.
"Eem,kak!" Adikku masih menutup matanya sambil menarik kembali selimutnya yang kini terlihat menutup tubuhnya lagi.
"Dek, ayo bangun,cepat!" Aku yang berdiri, terus menggoyang tapak kakinya hingga dia terbangun.
"Liyan! Mana adikmu?" Ayahku terus merongrong ku dengan suaranya yang menggelegar memecah gendang telinga ku yang kecil.
Aku semakin bingung melihat adikku dan ayahku. Pikiranku yang dipenuhi dengan keinginanku untuk sembuh kini terasa kusut.
"Ia, Ayah... ini lagi dibangunin!" Teriak ku dari dalam kamar.
"Apaan,sih kak!" Kata adikku dengan sedikit kesal. " Dari tadi kakak ribut aja! Berisik kak!" Gerutu adikku yang kesal dengan mendengus.
"Bangun dek! Ini sudah pagi. Kamu kan mau sekolah." Kata ku terus melihat adikku yang memiringkan badannya sambil menutup telinganya dengan bantal.
Aku yang melihat adikku begitu sulit untuk bangun. Menyeret kakiku ke sudut tempat tidur.
" Kak, sudah jam berapa?" Tanya adikku spontan duduk dengan membuka kedua matanya dengan lebar. " Ha! Kak." Sambil menatap ku dengan tajam.
Aku pun sontak terperanjat dan beranjak dari tempat ku.
" Kakak tidak tahu dek!" Sambil mengangkat bahu ku dengan wajah tertekun.
Adikku pun langsung menepis selimutnya dan turun keluar kamar melihat jam. Dengan langkah yang tergesa-gesa dia menabrak pinggiran pintu kamar kami. Sambil menstabilkan kedua bola matanya. Melihat lurus kedepan.
" Ana, kamu baru bangun?!" Tanya ayahku kepada adikku.
"Ia, Ayah!" Kata adikku dengan pelan.
"Mau sekolah nya kau?!" Tanya ayahku dengan menyelidik. " Kayak mana lah kau ini. Mau sekolah tapi lama bangun." Kata ayahku dengan datar.
__ADS_1
Aku yang masih lemah pun terpaksa menyeret kakiku keluar menghampiri ayahku dan adikku.
"Ana, apa kau tidak dibangunin oleh kakak mu?!" Tanya ayahku sambil melirikku.
Adikku hanya diam dan berjalan dengan mengabaikan ucapan ayahku. Wajahnya begitu jutek. " Dibangunin Ayah!" Kata adikku dengan datar sambil mengambil handuknya yang tergantung di dapur.
" Ana, Cepat nanti kamu terlambat." Ayahku sambil menyusun piring yang telah di cucinya.
Sementara, ibu sambungku yang belum terlihat oleh ku. Semakin membuat ku tanda tanya besar. Aku pun menelusuri setiap ruangan rumah kami yang kecil.
"Liyan, kemari,nak!" Panggil ayahku dengan lembut.
Aku berjalan perlahan menghampiri ayahku yang begitu sibuk setiap pagi. "Ia, Ayah."
" Cepat makan! Baru minum obat mu!" Ayahku sambil memberikan piring ke tangan ku.
Spontan aku menyambut piring dari ayahku. Mataku yang menatap nanar melihat sarapan yang telah siap di masak ayahku.
" Liyan, obat mu masih ada?" Kalau sudah habis kasih tahu." Kata ayahku yang telah selesai menyusun piring nya.
" Masih Ayah." Kataku sambil mengambil nasi dan lauk untuk sarapan.
Adikku yang masih mandi belum terlihat juga.
Setelah aku selesai mengambil sarapan aku mengambil gelas mengisi air minum ku. Aku pun menyeret kaki lemahku dengan membawa piring dan gelas yang berisi air minum ke ruangan depan kami.
Aku menyilakan kakiku duduk dilantai. Piring yang berisi nasi dan lauk aku letak dihadapan ku beserta gelas. Dengan perlahan aku menyuapkan nasi ke dalam mulut ku sambil menguyah dengan perlahan. Aku yang malas untuk makan terpaksa menghabiskan nasi ku hingga tak bersisa.
Ayahku yang berdiri menatap ku dari dapur. Wajahnya yang begitu letih memperhatikan nadi yang aku makan.
" Liyan, sudah habis?!" Tanya ayahku ingin tahu.
" Sudah, Yah!" Kataku dengan menyuapkan sendok kan terakhir. Dengan mengambil gelas yang terduduk di sampingku aku pun meneguknya seketika.
Tidak berapa lama aku selesai makan. Tiba-tiba adikku masuk. Adikku yang kini bersiap-siap untuk pergi sekolah. Berjalan dengan kencang menuju kamar dan memakai seragam nya.
__ADS_1
Bersambung.....