Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Awan kelabu


__ADS_3

"Kak, Ibu hanya pergi sebentar. Nanti dia pasti akan menemui kita?!" kata adikku berharap.


"Menemui kita? Menemui dimana?" tanyaku ingin tahu itu benar atau tidak.


Aku yang duduk termangu menatap dengan sendu teringat pada ibuku yang tidak bersama dengan ku lagi. Nestapa yang menderaku secara langsung menjatuhkan keceriaanku sebagai seorang anak kecil yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dan waktu bermain kini hilang diselimuti awan kelabu. Mendung yang berjalan di atasku tak kuasa menjauh pabila dia telah berjumpa dengan ku.


Sekarat langkah yang terseret menapak mengikuti alur nestapa yang gelap. Mengajariku tentang arah hidup yang bermakna. Senja terang yang memayungi bumi berteriak berlari mengejarku. Segala-galanya ingin dia hanturkan tentang kehidupan yang keras ini.


Aku hanya bisa menelan harapan yang tinggi. Suatu saat ketika aku melihat anak- anak seusiaku di luar sana aku akan mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan. Untuk detik ini begitu sedih hatiku karena aku tidak bisa berada di tempat itu. Begitu sempit rasanya batin ini ketika hatiku memanggil ibu. Sulit rasanya membendung air mata yang ingin keluar. Di tambah lagi teman - temanku ketika kami berkumpul bersama mereka begitu senang dan tertawa bergantian bercerita tentang ibu mereka. Aku hanya diam mendengar dan mendengar. Menghitung jemariku sampai selesai berulang kali. Sekan aku menunggu waktu untuk bertemu dengan ibuku.


Aku bersama serpihan harapan yang duduk termangu menunggu sesuatu keajaiban yang sukarela datang merangkulku. Sekiranya tangan malaikat itu memelukku sekedar mengusir kesedihan dan melengkapi kekuranganku yang singgah dalam kesedihanku betapa bahagianya hatiku ini. Ini semakin membuatku mengkhayal kalau aku bangun dari dudukku ibuku datang menghampiriku. Bertanya tentang sakitku kepadaku dan bertanya tentang kabar putrinya yang malang ini.


Butiran kristal pun turun bersama jeritan dan suara burung yang bernyanyi di atas jendela kamarku. Tatapan yang berkaca melirik adikku yang teronggok dengan harapan palsunya.


Berulang kali dia mengoceh membicarakan ibuku yang telah tiada. "Kak, kenapa ibu cepat kali pergi? Apa dia tidak sayang pada kita? Kita 'kan masih kecil belum bisa berbuat jahat," lanjut adikku yang masih menangis.


Pilu yang membendung membuka mulutku yang kecil ini bersuara. "Dek, kau tidak boleh bilang kalau ibu tidak sayang pada kita." Sembari memeluk adikku. "Ibu tahu kalau dia pergi kau pasti akan mengingatnya. 'Kan Ayah sudah pernah bilang kalau Ibu sedang melihat kita," tandasku.


"Berarti Ibu punya rumah, Kak?!" cetus adikku penuh dengan pertanyaan.


"Iya, seperti kata Ayah, rumah Ibu di surga. Rumahnya caaaannntik sekali." Sambil mengayunkan tangan ke udara memberi gambaran. "Rumah Ibu bisa di lihat." Aku mengatakan dengan penuh sukacita.


Adikku mendengarkan yang kukatakan dia langsung melebarkan bola matanya. "Benar Kak," sambung adikku dengan senang. "Di mana, Kak? Di mana?" Adikku berhenti menangis dan memutar badannya menghadapku. "Kak, biar kita datangi dan aku akan bilang sama Ibu, kalau kita merindukannya. Daaan, ya Kak! K koapan Ibu kembali?" Adikku kembali sendu.


Aku langsung menjawab adikku. "Dek, Ibu itu ada di bulan. Bagaimana Ibu bisa menemui kita? Mau pakai apa, coba?" Aku melihat awan.


Dari jendela kamar yang terbentang. Aku melihat awan yang begitu cerah. Sekelumit hati yang bercampuraduk pun seketika menghilang. Pikiran yang tadi kacau balau kini jernih kembali. Benang kusut yang terurai melingkari sanubariku seolah menghilang meninggalkanku.


Kedukaan adikku masih mendalam mengenang ibuku dalam tangisannya, sekaligus bercabik dengan senyuman indah yang kini tergaris melintasi mendung yang hitam. Suara getirnya yang terdengar, seperti gemericik air kini mengalir datar melewati duka lara yang singgah.


Dia pun melihatku dan melihat apa yang kulihat. "Kak, emang bulan itu jauh, ya?" tanya adikku kembali sambil melihat langit.


"Iya. Jaaauh sekali, Dek," jawabku.


"Emang berapa hari Kak baru sampai ke sana?" tanya adikku penasaran.


Aku langsung pusing tujuh keliling memikirkannya. "Berapa hari, ya dek?" tanyaku bingung sendiri memikirkannya. "Coba besok tanyak sama temanmu yang pintar!" Aku langsung sadar menyuruh adikku. "Mana tahu temanmu pernah ke bulan?!" ledekku dengan menggelitik hati.


"Kak, temanku engga ada yang tahu tentang bulan," sambung adikku bersedih. "Bulan 'kan jauh Kak. Mau naik apa kesana? Tempatnya saja di langit. Mana belum pernah sampai kesana," lanjut adikku dengan lugas.


"Lalu, mau kayak mana kita melihat Ibu?!" tanyaku semakin garing.


Setelah itu adikku diam menatap langit cerah. Kedua netranya memandangi awan yang berjalan. "Kak, kalau saja bisa kita naik kesana. Terbang, aku pasti akan kesana." Tatapan adikku masih saja lurus kesana.

__ADS_1


"Kakak juga. Kalau Kakak bisa, seperti peri Kakak sudah menyulap tiang sapu terbang kesana. Jadi Kakak bisa bertemu dengan Ibu," tuturku dengan wajah berseri tersimpul manis ke arah adikku.


"Kakak pergi dengan siapa? Kalau seandainya bisa," tanya adikku ingin tahu.


"Sendiri," jawabku singkat.


"Sendiri? Jadi Kakak tidak akan mengajakku dan meninggalkan aku?" Adikku semakin mendelik melihatku.


"Iya. Jadi mau sama siapa lagi?" tanyaku.


"Uuhh! Kakak jahat," jawab adikku merajuk. Ya, sama aku lah, Kak!" tukasnya protes.


"Ah, engga mau! Kakak engga mau pergi bersamamu." Aku kembali bercanda menolaknya.


"Kenapa? 'Kan aku, adik Kakak satu-satunya. Masa Kakak tega ninggalin aku sendiri di sini dengan Ibu kesayangan Kakak itu!" gerutu adikku cemberut.


"Nanti, kau di sana suka kelayapan," timpalku.


"Aku 'kan kelayapan cuman sebentar. Itu pun bermain, Kak," ungkap adikku mengatakan yang sebenarnya.


"Engga mau! Maaalas! Kakak malas membawamu," celetukku.


"Berarti aku tahu kalau kalian semua tidak sayang padaku. Kalian cuman sayang pada wanita itu!" Adikku segera bangun dari duduknya dan wajahnya kembali sedih dan ngambek.


Aku lalu menarik tubuhku menjauh dari lantai yang kududuki. "Dik!" panggilku mendekati adikku.


Uuhh! Adikku bergeser dan menepisku hingga terjerembab. "Kakak jahat! Ayah juga jahat! Kalian semua jahat padaku." Adikku berteriak merengek.


"Cup, cup, cup!" Aku membujuk adikku agar tidak bersuara. "Ana, diamlah! Jangan menangis lagi. Nanti, kalau Ayah mendengarnya pasti dia akan menghukum kita berdua," ucapku mengingat mengaji. "Kalau kita salah nanti mengaji, Ayah pasti akan memarahi kita. Di situlah Ayah akan memberi hukumannya pada kita."


"Aku engga mau diam!" pekik adikku semakin menjadi.


"Aduuuuh! Jangan melawan, Dik. Kakak jadi takut nanti mengaji," bisikku dengan gusar.


Aku pun mengerutkan bibir pucatku merasa menyesal karena telah berkata seperti itu. Aku yang masih lemah hanya bisa diam. Aku tidak bisa memaksa adikku, seperti yang aku inginkan.


Bough!


Adikku kembali menepis tanganku dengan kuat, akhirnya tubuhku yang lemah begitu keras terhempas kelantai. Serta Merta aku pun terlihat, seperti orang bodoh.


Aaaaagh! Jeritku merasakan sakit. "Kakak minta maaf, kalau membuatmu kesal," ungkapku segera berdiri mengakui kesalahan.


Adikku segera melihatku. Dia pun tidak menyangka tepisannya yang ingin memisahkan aku darinya telah membuatku tersungkur ke lantai.

__ADS_1


"Sakit ya Kak." Adikku langsung menjatuhkan tubuhnya menolongku. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Kak," sesal adikku memukul perasaannya sendiri. "Aku pikir itu pelan, Kak." Kedua lengannya mengatup di udara dengan wajah bersalah.


"Tidak perlu khawatir, Dik. Kakak baik-baik saja, kok!" Bangun dari lantai dengan nada suara yang berat.


Auwgh! Aku sedikit mengerang kesakitan ketika aku meluruskan punggungku. Ototku terasa begitu lembam. Lantai yang aku lihat seakan membekas karena benturan yang keras.


"Ana, kau sengaja ya mendorong, Kakak?" tanyaku kembali.


Adikku menunduk melihat lantai. Dia tidak bisa mengangkat kepala melihatku dengan getir, dia pun bersuara. "Mana mungkin, aku dengan sengaja mendorong, Kakakku," kata adikku menunduk dengan gurat merasa bersalah.


"Lantas yang tadi itu apa? Kalau bukan kau senagaja mendorongnya!" rancauku menahan suara keras yang ingin keluar.


"Aku cuman mau ikut dengan Kakak," dalih adikku. "Kakak menolaknya," cetusnya dengan hati yang gundah. "Padahal yang aku punya cuman, Kakak dan Ayah. Tapi kalian tidak mau dengan ku lagi." Nada suara lirihnya pun semakin mengusik air mata.


"Itukan cuman bercanda. Engga ada yang serius. Kakak tidak mungkin meninggalkanmu sendiri, apalagi Ayah! Ayah itu lebih sayang dengan mu dari pada Kakak." Aku menampik perasangka buruk adikku yang ambigu.


Setelah beberapa menit aku dan adikku bersiteru dengan kesalah pahaman ini. Ruangan kamar kami pun hening tanpa tercipta canda tawa yang memenuhi ruangan kembali.


Perdebatan yang tidak bermakna ini merusak suasana hati. Aku kembali memutar badan ke arah jendela yang terbuka. Tirai yang tertutup pun tidak bergerak sama sekali. Suara langkah kaki ayah dan ibu sambung kami yang telah susah payah mengasuh kami tanpa pamrih tidak lagi terdengar.


Rumah kontrakan yang tadi ramai dengan pekikan suara, senyap kini. Aku semakin lama berdiri di depan jendela, membelakangi adikku melihat langit yang katanya, di sana ada surga tempat ibuku tinggal. Embusan angin yang bergulir masuk dari celah-celah dinding dan pintu menerbangkan rambutku yang indah.


"Langit dan bulan," gumamku penuh penekanan. "Aku setiap malam melihat bulan belakangan ini. Tapi aku tidak pernah melihat Ibuku memanggilku," ungkapku pada diriku sendiri dengan lirih.


Siang hari yang panas begitu terasa menyengat di wajahku. Sinarnya yang menyilaukan kini menggerahkan diriku yang membuatku memutar pandangan. Bayangan dengan gerakan perlahan mengayun di udara menyihir netraku yang melihatnya. Aku lantas memutar kembali untuk melihatnya karena penasaran, ternyata adikku bermain dengan bonekanya.


Aku langsung tersenyum, melupakan perselisihan antara aku dan adikku tadi. Ketenteraman pun langsung menghampiri melihat boneka adikku yang lucu. Adikku pun demikian juga dia terlihat adem.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya! 😊🙏


__ADS_1


__ADS_2