
Perjalanan kami pun,begitu panjang hari ini. Menyita waktu yang cukup lama. Terutama bagi ayahku. Angin semilir yang berhembus. Ditengah panas terik ini pun, menerpa wajahku.
Ayahku yang mengayuh becaknya. Ditengah panas matahari yang terik pun, berhenti seketika. "Ayah kenapa berhenti?" Tanyaku dengan penuh menyelidik. Aku melihat ayahku seperti, melihat sesuatu kebawah. "Ia,Ayah mau melihat. Apakah? Bannya bocor atau tidak,nak!" Ayahku pun, langsung berjongkok. Melihat ketempat yang dia curigai.
Aku melihat dari tempat dudukku. Kalau, ayahku begitu kusut terlihat dari wajahnya. Ibu sambungku yang juga duduk bersebalahan denganku. Memilih untuk turun melihat ayahku.
Dia pun, berjalan menghampiri ayahku. Berdiri tepat disamping ayahku. "Dimana,yang bocor?" Dengan seksama. Ibu sambungku memperhatikan. "Aku lihat! Engga ada!" Sambil berjongkok mengikuti seperti ayahku.
Aku pun, memperhatikan mereka yang melihat. Begitu, antusias ingin mencari tahu.
Tubuh mungilku pun, Kini terasa nyaman. Panas yang tadi menyelimuti tubuhku. Kini sudah terasa netral. Udara lepas yang begitu luas. Membuat angin berhembus.Melepaskan panas dari tubuh mungilku.
Ayahku pun, seketika berdiri. Diikuti oleh ibu sambungku yang berada disampingnya. Wajah mereka pun, terlihat begitu baik-baik saja. Wajah ayahku menggambarkan seakan tidak terjadi sesuatu kepada bannya. Semuanya aman dan bisa dikendalikan.
Ibu sambungku pun, kini berjalan menuju tempat dimana dia tadi duduk bersebelahan denganku.
" Ayah! Bannya bocor?" Tanyaku dengan penuh menyelidik.
"Tidak, nak!" Kata, ayahku yang kini bergegas mengayuh dengan cepat.
Sepanjang perjalanan. Aku mengajak sedikit pikiranku untuk terbang. Melihat suasana udara lepas yang bisa menghilangkan rasa resah dan gelisah. Didalam hatiku yang menghantuiku. Rasa sakit yang membuat hari-hariku semakin terpuruk. Sejenak hilang berlalu. Udara lepas begitu, membuatku menikmati perjalananku.
__ADS_1
Ayahku yang terus mengayuh becaknya. Kini berhenti di perempatan jalan. Aku yang terbawa alunan suara angin yang berhembus tersadar seketika. Melihat ayahku bergegas dengan terburu-buru memarkirkan becaknya dan segera pergi. Tanpa meninggal sepatah katapun. Aku pun, mengikuti langkahnya sampai menghilang.
Ayahku ternyata, sudah tiba disebuah kota. Dimana, banyak para pejalan kaki yang membawa keranjang. Ada yang kosong dan ada yang berisi belanjaan. Seketika aku pun, mendapat jawaban. Kalau ayahku Sekarang pergi pasti untuk berbelanja! Berbelanja untuk makan kami sehari-hari. Sementara, ibu sambungku turun dan meninggalkanku juga, seketika.
Aku yang bergeming di tempatku. Menatapnya dengan lekat. Dia pun, pergi berjalan. Melewati sisi jalan yang dipenuhi para pedagang yang menjajakan jualannya.
Seperti, yang aku lihat. Dia pergi menuju tempat pedagang yang berjualan pakaian. Dengan penasaran. Aku terus menatapnya. Dia pun, berhenti dan berjalan. Mengelilingi sesekali. Aku melihat dia menyentuh beberapa pakaian. Pandangannya pun, tidak beralih dari pakaian yang dia sentuh untuk kelima kalinya. Dia begitu, tertegun melihat pakaian yang dia ambil. Dia pun, sesekali mencoba. Memasangkan pakaian itu ditubuhnya. Berjalan sambil memutarkan tubuhnya dengan cermin yang dia pegang. Sesekali cermin itu. Dia arahkan ke pakaiannya. Untuk melihat pantulan pakaian yang dia pakai didalam cermin.
Aku yang melihat tanpa berkedip sedikitpun, jengah! Jemari kecilku pun, tanpa sadar menyentuh sebuah plastik yang terletak berdekatan dengan tempat dudukku. Aku langsung tersentak dan mengalihkan pandanganku dari ibu sambungku seketika. Dan melihat apa? Yang tersentuh olehku. Aku penasaran dan meraih plastik yang terbungkus itu dengan mengayunkannya ke udara.
Seketika, tangan kecilku terhenti! "Liyan! Apa yang kamu pegang?" Aku pun, memalingkan wajahku kearah sumber suara. Aku pun, terdiam dan menyerahkan plastik yang terbungkus itu kepada ibu sambungku."Oh! Ini obat kamu!" Katanya, sambil mengambil plastik itu dan duduk di sampingku. "Ini jangan kamu pegang! Nanti terjatuh dan hilang." Dia pun, meletakkannya diatas pangkuannya.
"Ayah,kenapa lama sekali?"
"Ia,tadi banyak yang membeli,nak! Jadi padat. Dengan suara paraunya dan wajah lelahnya. Terlihat begitu, sedikit basah karena peluh keringat.
"Ya,sudah! Ayo kita cepat pulang sekarang! Kasihan Ana. Nanti, dia pulang sekolah bagaimana? Tidak ada orang dirumah.Mana mungkin, dia bisa masuk kedalam rumah. Rumah kita kan terkunci dan kuncinya kita bawa.Kata ibu Sambungku memotong pembicaraan.
Ayahku pun, bergegas secepat mungkin. Aku melihat belanjaan yang teronggok di depanku. Begitu banyak!
Ibu sambungku pun, sesekali aku lihat. Dia melihat ayahku yang fokus mengayuh becaknya. Dengan tatapan yang menyimpan sebuah kegelisahan. Dia melihat ayahku berulang kali. Dengan sesekali, aku dengar dia menarik napas kasar. Pandangan yang lurus kedepan.
__ADS_1
Aku yang diam duduk dengan manis . Menikmati panjangnya perjalan dengan aroma pasar yang baunya tidak sedap.
Sepanjang jalan yang kulihat semakin lama semakin bertukar dengan seiring berjalannya becak yang dikayuh oleh ayahku. Tak terasa kini sebuah tanda pun, terlihat olehku. Tanda khusus yang menunjukkan rumah kami.
"Apakah adikmu sudah pulang?!" Tanya ayahku yang pertanyaan, itu ditujukan terhadapku.
Aku yang berada disamping ayahku. Hanya diam! Aku tidak memberikan jawaban apapun. Hanya kedua mataku yang bisa aku tujukan kepadanya.
Ibu sambungku yang mendengarnya pun, "Kalau menurutku, sudah! Kitakan sudah lama pergi. Tadi, kita pergi dari jam 08.00 WIB. Dan sekarang sudah jam 11.30 WIB. Ya,pasti sudah pulanglah dia." Dengan suara begitu sedikit menekan.
"Ia,ya! Kasihan, anakku!" Menatap nanar kedepan jalan dengan pandangan kecemasan.
Aku yang duduk diatas becak. Hanya diam. Mendengarkan mereka berdua bicara. Meskipun,sesekali aku beralih pandang dari mereka berdua. Suara kecilku pun, kini mulai terdengar dengan terengah. " Aku takut! Dia ngambek, Ayah!" Menatap ayahku dengan menyimpan sejuta rasa penyesalan karena gara-gara aku sakit semaunya jadi, berantakan. Aku menatap seluruh badan jalan. Untuk melihat. Apakah? Masih ada adikku dari murid yang masih tersisa. Berjalan!
Dari tempat duduk. Aku melihat anak yang memakai seragam sekolah. Mereka tertawa lepas. Berjalan ramai-ramai sambil merangkul temannya satu sama lain. Dengan langkah yang diatur dengan rapi.
Ayahku pun berhenti dan mendorong becaknya ke tepian jalan. Dia bergegas menghampiri sekolahan adikku. Dan aku melihat dari kejauhan. Ayahku berbicara dengan seseorang yang dia temui ditempat itu. Mereka menunjuk kedalam gerbang sekolah sesekali.
Aku melihat tidak berapa lama. Ayahku pun pergi. Dia berjalan begitu lesu. Aku yang sedari tadi memperhatikan anak-anak yang berjalan. Tak satupun dari mereka. Aku melihat adikku.
Bersambung.....
__ADS_1