Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Wajah kepiting rebus


__ADS_3

Aku terharu mendengar ungkapan Widia. "Aku tahu selama ini kau telah menganggapku seperti saudaramu sendiri," ungkapku.


"Itu kamu tahu." Widia terus membantuku mengecat gambaranku dengan rapi. "Liyan, kau sudah siap ini. Sekarang ayo kita kumpul!" ajak Widia dengan segera.


"Ayo! Aku juga sudah tidak sabar melihat nilai dari hasil gambaranku ini," cetusku.


Kami pun lalu beranjak berjalan membawa buku gambar kepada bu Damanik. Sesampainya di depan, tepatnya di meja bu Damanik aku dan Widia menyerahkan buku gambar yang telah siap aku buat.


Bu Damanik yang baik hati dia menyambut kami berdua dengan senyum ramah sumringahnya yang menggetarkan hati. Melihat senyuman itu rasa lelahku akibat penat yang menyelubungi hati dan pikiranku karena rasa minder yang mendalam seakan tidak pernah terjadi. Rasa minder tadi yang memasuki perasaan ini seketika hambar meninggalkan diri ini tanpa bekas sedikit pun.


Bu Damanik dengan senyuman yang terukir terlihat lembut juga meskipun, wajahnya terlihat galak. "Liyan sudah siap, Nak?" Dengan lembut Bu Damanik bertanya. "Gambar yang kau buat ini bagus sekali. Ibu sangat suka melihatnya." Tatapan Bu Damanik seakan terpana dengan basa basi yang langsung keluar mengisi ruangan yang sepi.


"Sudah Bu," jawabku dengan senyum.


"Siapa yang menggambarnya?" Bu Damanik menatapku dan Widia secara bersamaan.


"Kami suka menggambar Bu. Jadi, kami yang menggambarnya." Widia langsung menjawabnya sambil menyerahkan buku.


"Letakkan saja di sini!" pinta Bu Damanik menunjuk meja kosong tepat di hadapannya dengan menjentikkan telunjuknya.


Kami berdua segera menaruhnya. Sesudah itu, aku dan Widia kembali ke bangku. Sebelum aku mendapati bangkuku, Tania dan Ecy kembali mengusik kedamaian dengan cibirannya yang kurang senonoh bahkan, terdengar acap kali kasar dan tidak sopan.


"Bu, si Liyan sudah siap? Gambaran siapa yang paling cantik, Bu?" tanya Tania sambil menyarahkan buku gambar.


"Mana yang kau gambar?" tanya Bu Damanik melihat kearah Tania dan buku gambar yang di bawanya tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Tania.


"Ini Bu." Tania menyarankannya. "Cantikan punya saya ' kan, Bu?!" Tania menanyakan itu kembali dia seakan berharap mendapat pujian.


"Iya," jawab Bu Damanik sebagai seorang guru.


Meskipun demikian, kata-kata Tania yang terdengar kasar hingga menghentikan denyut jantungku dengan spontan tidak bisa merubah setiap keinginanku. Air mata terkadang jatuh dan tidak jarang juga sering menjerit. Namun, semangatku tetap berteriak menguatkan diriku dari mereka yang tidak menyukaiku. Dalam hal ini, mentalku yang telah porak-poranda terus di uji sampai mana aku bertahan untuk semua ini.


Ternyata, sikap diam dalam berteman tidak semua di nilai baik oleh orang yang berada di samping kita. Ada kalanya kita harus melawan dan bersuara demi keadilan untuk diri kita sendiri. Dengan kata lain, kepedihan bukanlah dari akhir kisah hidup yang panjang.


Untuk itu, aku tetap harus bertahan menatap jalan yang lurus dengan masa depan yang akan membawaku menjadi lebih baik.


Kedua kaki yang lemah ini harus kuat berjalan di atas kerikil dan duri yang membentang luas. Tubuh mungil yang lemah ini juga harus tetap kuat dan tegar ketika ombak besar datang menghempas dengan dahsyat. Mata yang sayu ini yang penglihatannya terkadang terang dan terkadang gelap juga tidak boleh kalah oleh sengatan matahari yang panas turun ke bumi.

__ADS_1


Jejak kaki yang membekas di lantai menemani langkah menuju bangku tertekuk dengan kuat. Omelan Tania menyelimuti seluruh jiwa ragaku di tengah tawa bahagia dari sebagian temanku karena nilai mereka begitu bagus dan mereka pun mendapat pujian dari bu Damanik atas kreasi mereka menggambar dengan baik masih terdengar berbisik.


Bergulir tawa dari mereka yaitu, teman-temanku, seketika itu pun senyumku tersimpul manis tertarik dengan rapi dari bibirku yang pucat karena merasakan hati yang mendadak bisa melepaskan semua perih yang membelenggu di dalam benakku.


"Eh, Liyan kita sebentar lagi pulang," bisik Widia dengan pelan.


"Iya." Aku mendongak melihat langit yang telah berubah dari lubang jendela kelas yang kecil.


Aku melihat Widia yang berjalan beriringan dengan ku refleks mengikutiku dengan heran Widia melihat langit juga. Kedua bola matanya yang penuh tanda tanya. "Kok, kau lihat ke atas?" tanya Widia semakin bingung.


"Biasanya, aku melihat matahari, kalau katanya, kita mau pulang," sambungku. "Jadi, setiap aku melihat matahari lagi aku langsung tahu, kalau kita akan pulang." lanjutku kembali.


"Kau pandai, ya! Caranya kayak mana?" tanya Widia ingin tahu.


"Ya, aku tidak tahu kayak mana caranya." jawabku.


"Lalu kau tahu dari mana?" tanya semakin penasaran.


"Ayahku setiap dia bicara tentang sholat dia melihat matahari," jawabku apa adanya.


Kami berdua pun terus berlanjut mengikuti ayunan kaki yang melangkah. Sorak-sorai gembira dari temanku pun terdengar memenuhi setengah ruangan. Mereka terlihat begitu senang dan bahagia karena mendapat pujian manis dari bu Damanik.


Seperti itulah teriakan gembira yang keluar dari mereka masing-masing. Ada yang merangkul temannya karena bahagianya. Ada yang memutar buku gambarnya dan ada juga yang melemparnya pelan ke atas dan juga untuk diriku sendiri. Aku begitu terperangah melongo melihat nilaiku sendiri layaknya seperti, orang udik yang baru pertama kali melihat sesuatu yang baru yang belum pernah dia lihat. Kedipan sedikit pun tidak tergerak dari bola mataku yang sayu.


Aku masih saja membukanya berulangkali untuk melihat nilaiku yang tidak seperti biasanya. Aku sendiri tahu bagaimana nilai menggambarku selama ini yaitu, selalu mendapat nilai enam atau pun tujuh sangat jelek sekali rasaku, ketika aku melihatnya.


Tapi kali ini jauh berbeda, aku mendapat nilai di atas tujuh yaitu, kadang delapan dan kadang sembilan, Wow! Itu sudah cukup untuk menghilangkan semua kesedihanku dan menyembuhkan semua penyakitku. Senyum yang jarang terlihat kini tersimpul dengan manis.


"Iyah, Liyan!" ucap Fikri menggodaku dengan candaan. "Dapat nilai bagus." Fikri kembali menggodaku. "Langsung senyum-senyum, biasanya tidak pernah senyum." Fikri menatapku jenaka dengan alisnya yang naik ke atas sedikit, ketika aku melihatnya dari ekor mataku. "Ini langsung senyum." Fikri terus saja dari belakang membuatku tersipu malu.


"Selama ini tidak pandai menggambar. Hari ini dia pandai," celetuk Widia melirikku dengan lirikan lucu sambil melemparkan pandangan ke arah Fikri.


"Iyakan?!" Fikri kembali berucap sambil memasuki bangkunya.


Sementara, aku dan Widia telah terlebih dahulu memasuki bangku kami dan menaruh buku yang kami bawa di atas meja. Wajah kepiting rebusku masih terlihat membenarkan yang di bilang oleh Fikri dan Widia.


"Ciee, dia langsung menaruh bukunya itu di atas meja." Widia masing senang membuatku malu.

__ADS_1


"Biasa aja," balasku dengan singkat.


"Ah, yang benar," sahut Fikri dari belakang.


"Entar bohong!" ledak Rasyd menggodaku. "Kalau pun kau senang Liyan itu tidak jadi masalah. Kita akan merayakan kesenanganmu," lanjut Rasyd kembali menyahut dari belakang.


"Iya 'ka... ." Tiba -tiba Widia terdiam.


"Anak-anak! Pelajaran kita telah selesai. Kalian semua sangat memuaskan, gambar yang kalian buat semuanya bagus-bagus. Apalagi gambar Fikri," tutur bu Damanik. "Sangat bagus. Pemandangannya begitu indah."


"Fikri 'kan memang pandai menggambar, Bu. 'Kan Ayahnya pintar melukis, Bu," sambung Solihin.


"Bukan itu saja. Liyan pun hari ini gambarnya bagus juga," ungkap bu Damanik mengangguk seakan dia tidak percaya.


Puk puk puk! Suara tepuk tangan pun terdengar bergemuruh bagaikan menyambut seorang bintang papan atas.


"Iya, Bu," sambung Septiani dengan wajah terperanjat setelah mendengar bu Damanik mengatakan gambar yang aku buat bagus.


"Baguslah Bu, berarti Liyan ada kemajuan," kata Pudan langsung nimbrung.


"Dan juga kalian semua adalah murid Ibu yang pintar. Tidak ada satu pun dari kalian yang gambarnya jelek, semua bagus-bagus. Hari ini, Ibu senang sekali mengisinya ke buku nilai." lanjut bu Damanik dengan wajah berbinar.


Betapa senang hatiku hari ini. Di samping aku mendengar kata ejekan yang menyindir kekurangan dan kelemahanku. Aku juga mendengar kata pujian yang menyanjungku yang bisa merubah luka menjadi segelintir senyuman yang indah.


Aku hanya diam menunduk malu karena godaan dari teman yang begitu menyayangiku. Mereka begitu peduli dan simpati terhadapku bahkan, mereka selalu mencurahiku kasih sayang sehingga aku adalah teman yang begitu beruntung.


Kasih sayang mereka tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata apalagi, untuk di balas. Rasanya, sebesar apa pun balasan yang aku berikan itu tidak akan bisa membayar semua kebaikan dan kasih sayang mereka. Aku juga tidak bisa melupakannya.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi, like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2