
"Ya, kau benar. Tapi dek, itu pasti akan terbentur juga." Mengutarakan apa yang aku tahu.
"Aku pikir tidak, Kak," kata adikku menurut pendapatnya sambil melebarkan kedua bola mata memperhatikan dengan baik.
Perhatianku masih saja tertuju pada kepandaian adikku yang di luar prediksi. Aku menggeser posisi duduk yang terlihat lemah sedikit mendekati bantal yang telah terletak.
Kubuka kedua mata, melihat adikku yang lagi menyusun batu di atas tempat tidur. "Pasti tidak terdengar lemparannya ke mana-mana," kata adikku. Menggeser tubuhnya menyusun ke sana kemari.
Kepala langsung kuangkat, melirik adikku dengan wajah tertegun dengan kemahirannya sehingga membuatku berdecak mengaguminya, sementara dia semakin antusias ingin melempar bola.
Puk!
Suara pantulan bola yang di lempar terdengar pelan. Akan tetapi, bisa membuat batu berserakan memenuhi setengah dari tempat tidur.
"Tidak bersuara dengan kuat 'kan , Kak?" Merasa bangga tersenyum sumringah.
"Iya." jawabku.
Tangan kecilnya kembali lagi melempar bola berulang kali hingga dia bosan dan memaksa ibu sambung kami masuk ke dalam kamar untuk mencari tahu pekerjaan kami karena dia begitu penasaran dengan kami berdua yang betah berkurung di dalam kamar.
"Liyan, kenapa suara kalian tidak terdengar?" Ibu sambung kami membuka setengah tirai mencari kami.
Kedua bola matanya begitu terperanjat melihat kami dan tempat tidur penuh dengan batu yang berserakan, bahkan bantal dan guling pun susunannya sudah tidak lagi bisa di lihat menyenangkan.
"Ini ternyata kerja kalian, ya." Melihat tempat tidur yang sudah berantakan. "Hari sudah mulai sore, bukannya mandi, malah bermain kalian di sini!"
Bola yang ingin di lempar adikku seketika dia sembunyikan menutupi dengan tangan kecilnya. Kami berdua kaget dan menunduk lalu memutar badan duduk tepat menghadap ke arahnya.
"Bu, kami akan mandi," kataku mengatur nada suara agar dia tidak memarahi kami.
"Cepat!" Berdiri dengan kesal karena kami masih tetap bermain di tempat yang membuatnya tidak senang.
Ibu sambung kami langsung pergi meninggalkan kami yang masih menyusun bola dan batu yang berserakan, entah sampai ke mana.
Mulut kami berdua masih tetap diam menyusunnya. Aku mencari ke sekeliling tempat tidur sampai tidak ada satu pun yang tertinggal.
Tempat tidur yang sederhana, hari ini menjadi lapangan bermain bagi kami berdua karena ayahku tidak memberi izin untuk bermain di luar. Jadi, sebisa mungkin dengan kecerdikan adikku kamar yang terlihat apa adanya, harus bisa di jadi 'kan tempat untuk melepaskan ke gilaannya yang hobi bermain.
"Ibu kesayangan Kakak, kenapa menyuruh untuk berhenti bermain ?" keluh adikku bertanya dengan kecewa yang telah berada di sampingku mengambil batu.
"Tidak tahu. Biasanya kalau sudah sore, kita 'kan mandi." Menatap adikku sekilas kemudian aku menunduk mengambil batu.
__ADS_1
"Tapi, kenapa dia hari ini terlihat, aneh? Tidak seperti biasanya," kata adikku bertanya dengan penuh keheranan di dalam benaknya.
"Mungkin dia sudah lelah setiap hari marah-marah dan berteriak," jawabku.
"Lelah?! Itu tidak mungkin, Kak. Ibu kesayangan Kakak itu! Mana pernah lelah, setelah selesai marah-marah di sini, nanti dia pasti marah-marah di sana," ungkap adikku.
"Terkadang kemarahannya itu memang tepat, Dek. Coba perhatikan! Kalau dia itu marah, pasti kita berbuat kesalahan yang fatal." Sedikit menyindir adikku.
"Kesalahan apa? Aku tidak pernah berbuat kesalahan padanya. Kakak itu yang sering buat kesalahan," timpal adikku.
Aku terhenyak sedikit. "Kenapa Kakak?" tanyaku tidak terima dengan tuduhan adikku.
"Iya. Buktinya hari ini. Kakak pulang terlambat, malah Kakak, masih sakit, lagi!" ujar adikku. "Siapa coba yang buat kesalahan, aku atau Kakak?" Menatapku.
Wajah pucatku seketika menunduk, seperti orang yang malu akibat ocehan adikku yang terlontar hingga membuat aku merasa bersalah. Suara tidak terdengar sedikit pun, dari adikku, ketika dia melihatku langsung menunduk dengan wajah di tekuk.
Batu yang tadi berserakan kini telah berhasil kami susun di sudut dinding kamar. Aku dan adikku kembali merapikan tempat tidur dan menyusun bantal dan guling sampai rapi seperti semula.
"Setelah selesai, kita akan mandi, Kak," kata adikku tanpa merasa bersalah.
"Iya," sahutku berlapang dada atas sikap adikku yang telah menyindirku.
Selanjutnya, aku menaikan tubuhku yang lemah berdiri setelah batu yang di susun telah habis, kemudian aku memutar badan dan mengayunkan kaki untuk mandi.
"Bajumu tidak perlu dirapikan, kita 'kan mau mandi." Memutar badan berjalan menghampiri adikku.
"Aku tidak suka berantakan, Kak."
"Tapi, tolong merapikannya sambil berjalan saja, biar cepat, Dek," pintaku dengan lembut. "Nanti kita ke sorean."
"Nanti Ibu kesayangan kakak, marah lagi." sambung adikku. Mengangkat sedikit kepala berjalan ke dapur, mengambil sabun mandi dan handuk.
"Kakak tidak mandi, Dek." Membantu adikku membawa peralatan mandi.
"Kakak takut semakin panas, ya?!" kata adikku, telah mengetahui kondisiku sebelumnya. Berjalan mengikuti langkahku hingga kami berjalan beriringan.
"Iya Dek. Nanti Ayah dan Ibu marah lagi," balasku dengan lugas.
"Kakak itu terlalu memikirkan tentang Ayah dan Ibu tersayang Kakak. Aku jadi heran, apa Kakak tidak lelah sering memikirkannya? Kalau aku Kak, di tuntut untuk seperti Kakak, aku tidak sanggup." kata adikku.
"Mau bagaimana lagi, Dek. Kakak tidak ada pilihan lain. Jangan 'kan dirimu yang lelah melihatnya. Kakak saja, kalau di tanya tidak ingin, seperti ini lagi," tandasku.
__ADS_1
"Kenapa lama sekali Kakak sembuhnya?" tanya adikku dengan lirih, penuh keheranan terus berjalan ingin sampai ke kamar mandi.
Aku hanya menatap adikku, memberi jawaban sambil menggeleng dengan pelan, kalau aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri.
"Kakak terlihat bingung, pfttt," kata adikku menahan tawa.
"Bingung! Ya memang Kakak lagi bingung. Setiap hari harus di tahan di rumah." Menghentikan langkah di depan pintu kamar mandi.
"Sesekali, coba bilang pada Ayah. Biar Kakak di kasih keluar rumah," saran adikku membuka pintu kamar mandi lalu masuk.
"Bicara pada Ayah rasanya letih, Dek. Tidak akan pernah di dengar olehnya. Selalu ada saja alasannya yang bisa membuat Kakak terjebak dengan kemauan Kakak sendiri." Menyerahkan sabun pada adikku dari depan pintu.
"Hahaha! Kakak saja sih, yang terlalu takut pada Ayah. Coba Kakak sesekali memberontak pada Ayah," usul adikku. Mengeluarkan sedikit kepalanya menatapku dengan senyum ledekan mencoba untuk menggoda keberanianku sambil menaikan alis.
"Apa?!" Kedua bola mataku terbuka lebar dengan refleks. "Huuh! Kau sengaja, ya, menjebak Kakak lagi." Berdiri cukup jauh di sebelah dinding kamar mandi dan melihat pintu yang tertutup.
"Kenapa Kakak mendengus seperti itu? Aku benar 'kan, Kak." Kembali mencoba menggodaku dengan ledekannya yang membuat dia semakin senang.
"Kakak tidak mendengus, kok." Mencoba menutupinya dari adikku.
"Ouwh! Baguslah Kak. Berarti aku bisa sering- sering, seperti itu," timpal adikku terus tertawa puas karena telah melihat diriku yang malu.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Kehidupan Alisha Fakhira seketika berubah, saat dirinya dijadikan sebagai pelunas hutang keluarganya. Iyaa gadis kecil yang baru beranjak 16 tahun itu dipaksa menikah pada seorang rentenir yang memiliki 4 Istri dan Alisha, menjadi istrinya yang 5. Akan tetapi statusnya sebagai istri hanya berlangsung satu hari saja. Karena diimalam pertamanya, sang suami malah meninggal dunia.
Karena telah dituduh sebagai pembawa sial. Alisha di usir oleh keempat para istri sang rentenir. Bukan hanya mereka saja yang mengusir dirinya. Bahkan keluarganya, juga ikut mengusir dirinya. Karena merasa bingung akhirnya Alisha memutuskan pergi ke kota, untuk mengadu nasib disana.
Bagaimanakah kehidupan Alisha dikota?
__ADS_1
Akankah ia menemukan cintanya disana? Yuk ikuti ceritanya, In shaa Allah tak kalah seru dengan novel author yang lainnya loh