
Aku hanya diam dan termangu melihat serangan yang menjama saat ini. Ia begitu tersenyum, tertawa puas setelah bisa membuatku diam membeku dan tidak bisa berkutik. Melemparkan semburan panas pada diriku yang lemah sehingga membuat kedua bola mata yang redup terjaga dengan waktu yang cukup lama.
Dalam penjagaan kedua bola mataku yang lemah, tiba -tiba aku mendengar suara asing menyapa dari luar.
"Assalamu'alaikum." Terdengar sapaan dari depan pintu.
Seketika aku dan adikku terperanjat dan memutar kepala sambil bertemu tatap dengan wajah tanda tanya berselimut cemas.
"Ayah," Aku sedikit terperanjat.
"Wa'alaikumussalam Ayah," jawab adikku dengan suara manjanya. Mengunyah nasi yang tinggal sedikit lagi.
Ayah kami pun, masuk dan melepas sepatu yang dia kenakan sambil menyusunnya dengan rapi tepat di balik pintu. Menatap adikku sambil tersenyum kemudian menatapku sekilas.
"Wa'alaikumussalam," jawabku pelan, sambil menunduk kemudian memutar kedua bola mata melihat gerak ayahku yang berjalan ke dapur.
"Di mana Ibumu?" tanya ayahku. Mencari dengan memutar kepala melihat ke kamar dan ke luar.
Aku dan adikku seketika bertemu pandang. "Kami tidak tahu, Ayah," jawab adikku singkat.
"Tidak tahu?!" Menatap kami dengan penuh tanda tanya. Sedikit mendelik. "Kenapa tidak tahu?" Dengan penasaran. "Apa kalian tidak ada di rumah?" tanyanya kembali menatapku dengan tajam.
Tatapan ayahku seperti menyuruhku menjawab pertanyaannya sehingga aku menunduk seketika dan gemetar.
"Benar! Ayah kami tidak tahu. Ayah jangan memarahi kami," pinta adikku dengan memohon lembut.
"Ayah belum selesai bertanya. Lagi pula. Siapa yang akan memarahimu?" balas ayahku dengan datar.
Aku yang duduk di depan adikku, melirik ayahku dalam tundukanku. Ayahku yang berdiri di sudut pintu tengah masih menatapku dengan kesal.
"Lalu! Ayah kenapa melihat kami seperti, itu?" tanya adikku ingin tahu. Memasukan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Ayah hanya, melihat kau dan Kakakmu. Apakah baik-baik saja?!" Berjalan mengambil gelas dan menuang air.
"Mengapa Ayah mengkhawatirkan kami?" tanya adikku. Menatapku dengan gurat wajah begitu takut, kalau aku akan di marahi oleh ayahku.
"Jadi, Ayah tidak boleh, menanyakan keadaan Anak Ayah?!" Berjalan dan duduk di kursi yang sering dia duduki.
"Boleh Ayah," sahut adikku dengan senyum manis. "Apalagi Ayah menanya 'kan, uang jajan Ana?! Hehehe!" gurau adikku dengan candaan malu. Nyengir. Menatap ayahku.
Sementara, aku yang duduk di depan adikku perlahan memutar badan menghindari tatapan ayahku yang mematikan.
"Bukankah Ayah tadi sudah memberimu uang jajan?!" lanjut ayahku dengan penuh penekanan dengan suara meneguk air.
"Sudah Ayah," jawab adikku dengan lesu.
"Lalu?!" Berhenti sejenak. "Apa uang jajanmu kurang?" tanya ayahku kembali ingin tahu.
Adikku hanya diam dan aku pun, memutar badanku kembali menghadap mereka.
"Tidak Ayah," jawab adikku singkat.
"Baguslah," kata ayahku. "Berarti kau telah mengerti keadaan ekonomi kita," tandasnya menatap adikku.
Sementara, aku sedikit bergeser dari adikku. Diam seperti patung, tanpa sepatah kata pun, yang keluar dari lidah keluhku. Aku hanya diam memutar otak mengingat permainan.
"Iya! Ayah," jawab adikku kembali dengan singkat. Menatapku dengan penuh keheranan kenapa ayahku tidak memarahiku.
"Ana pergilah hantar piring kotormu ke tempatnya! Susun dengan rapi!" seru ayahku dengan perintah yang lembut. "Ayah juga akan pergi untuk membersihkan diri, Ayah." Meletakan gelas. Berdiri.
"Apakah Ayah tidak sholat?" tanya adikku membuka topik pembicaraan baru.
"Ayah sudah sholat tadi, di Masjid," jawab ayahku tegas. Berjalan dan menghilang dari balik pintu.
Aku dan adikku yang bertemu tatap pun, saling lempar pandang penuh tanya.
"Kenapa Ayah mendiamkan Kakak, seperti tadi?" tanya adikku dengan keheranan. "Padahal Kakak sudah berbuat kesalahan," ujar adikku. "Apa Ayah sudah berubah?" Menatapku dengan kebingungan yang melanda. Sehingga dia tidak memarahi Kakak lagi." Memainkan piringnya dengan pelan.
"Entahlah, Dek! Kakak juga tidak tahu," jawabku dengan ambigu. Menatap nanar dengan lirih.
"Kenapa wajah Kakak, seperti itu? Seharusnya Kakak itu senang, karena Ayah tidak suka marah-marah lagi," cetus adikku.
"Kakak lagi mengigat Ayah yang seperti biasanya?!" Menatap adikku sambil mengingat tentang Ayahku.
"Seperti biasanya apa, Kak?!" tanya adikku semakin heran. Mengerjitkan alisnya menatapku dengan lekat.
"Di waktu mengaji," dalihku pelan.
"Di waktu mengaji?!" Pikir adikku dengan heran dan semakin tidak tahu. Menatapku dalam.
"Eem!" Mengangguk sebagai isyarat memberi ke pastian.
"Aku tidak mengerti maksud kakak?! Semakin Kakak lama pulang. Kakak semakin terlihat dalam kebodohan." Menunduk dengan lemas.
"Maksudmu apa sih Dek?! Siapa yang bodoh? Kakak tidak berada dalam kebodohan, tahu?! Huh!" Mendengus kesal. "Kau saja yang tidak mengerti maksud Kakak." balasku dengan kesal.
__ADS_1
"Lalu! Yang sebenarnya seperti apa?" tanya adikku mencari tahu sambil memutar-mutar piringnya.
Seketika aku memasang wajah cemberut yang lesu. "Ayah pasti akan melampiaskan kemarahannya, nanti. Di saat Kakak mengaji," sambungku dengan lirih. Menatap nanar dengan pandangan kosong. "Makanya, Ayah tidak marah sekarang."
Seketika adikku tersentak mengangkat kepala dan menatapku dengan sendu.
"Ya, elah, Kak! Kakak gitu aja panik," timpal adikku dengan cuek. "Kakak itu, tidak akan mengaji," tandasnya. "Karena Kakak, 'kan sakit."
tuturnya.
"Kau jangan memberi Kakak harapan." Menatap adikku dengan kesal. "Mana mungkin, Ayah tidak mengajari, Kakak mengaji," sambungku. "Setahu Kakak! Perinsip Ayah, kalau Kakak sudah sekolah harus mengaji. Ayah pasti akan, menyuruh Kakak untuk mengaji malam ini?!" lanjutku. "Mustahil rasanya. Ayah meliburkan Kakak untuk mengaji, walaupun Kakak masih sakit. Yang, iya nya . Ayah akan memaksa Kakak." Menatap adikku yang tenang.
"Kak! Kalau Kakak di marahi oleh Ayah, kasihan sekali, Kakak," Menatapku yang lagi gundah. "Kalau begitu biar aku yang memberitahu kepada Ayah, kalau Kakak tidak usah mengaji. Biar Kakak tidak di marahi," balas adikku tersenyum manis.
"Jangan, Dek! Jangan lakukan itu. Kakak takut, nanti Ayah akan berpikir, kalau Kakak telah mengajarimu berkata, seperti itu," tolakku- dengan lembut. Menatap adikku dengan memohon.
"Kakak tenang saja! Ayah tidak akan menolak permintaanku," usulnya dengan penuh keyakinan.
Huh! Aku hanya mendengus membuang napas ke udara.
"Lagi-lagi kau bilang, seperti itu! Dari mana, Ayah mengikuti keinginanmu lagi ?!" Menatap adikku yang terlalu percaya diri. "Semenjak kau berbuat kesalahan tidak masuk sekolah. Dari situ. Ayah sudah tidak mendengar 'kan mu lagi!" sindirku dengan jelas .
"Kak! Itu 'kan kemaren. Bukan hari ini," kata adikku dengan sejuta keyakinan. "Kalau yang kemaren. Ayah mungkin sudah lupa, Kak! Aku yakin itu! Apalagi di saat Ayah melihat air mataku," katanya dengan keyakinan penuh.
"Yang kemaren, sama yang sekarang. Itu sama bagi Ayah," Menatap adikku sedikit memendam kekesalan. "Apa bedanya, cuman jarak sekian hari." Menatap ke luar dengan semberaut.
"Kakak berdo'a saja, agar Ayah tidak marah sama Kakak," ucap adikku. "Kalau Ayah sudah marah.." Seketika adikku terdiam. "...aku pasti akan kena marah," Menatap lirih ke lantai.
Seketika, aku terdiam menatap adikku yang kalut. Dia seolah memendam kekesalan. Mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku semakin terhenyak dengan kesalahan yang tanpa sengaja aku buat. Napasku rasanya sesak seketika.
Baru beberapa menit, aku tiba di rumah. Aku sudah mendapat serangan empuk yang spontan menembus relung hatiku yang polos.
Serangan, hardikan telah menyambut langkahku di depan pintu.
Rasanya hidupku kacau hari ini, tidak ada sedikit harapan yang menggantung yang bisa menjadi pegangan sebentar.
Adikku yang duduk tepat di depanku, kini telah beranjak, mengayun kakinya melangkah ke dapur sambil membawa piring kotor dan gelas.
Perlahan dia berjalan sambil menghela napas.
Terdengar dari helaan napasnya. Dia tidak habis pikir dengan kehidupannya hari ini yang kacau dan kusut seperti benang.
Aku hanya bisa merintih sambil memangku masalahku dan menggantungkannya di pundak. Jeritan hati semakin membuatku frustasi sehingga aku terlihat, seperti orang yang kalap.
"Liyan!" Terdengar suara panggilan yang mengagetkan dari balik dinding kamar.
Aku yang lagi meremajakan tubuh yang lemah dan pikiranku yang kusut, seperti benang. Menyeretku spontan turun dari tempat tidur.
"Iya, Bu," jawabku yang telah mengetahui, kalau yang memanggil adalah ibu sambungku. Dengan tergagap aku langsung membuka tirai penutup pintu kamar.
Berjalan dan menatap sambil menetralkan tubuh lemahku yang panik.
"Apa Ayahmu sudah pulang?" tanyanya. Menatapku.
"Su-sudah, Bu," jawabku terbata sambil meremas jemari. Menatap dengan wajah takut.
"Lalu, di mana Ayahmu?!" Menatapku dengan menyelidik.
"Lagi di kamar mandi bersih-bersih," timpal adikku dengan menyela pembicaraan. Berdiri sambil mengilap tangan.
Seketika wajah ibu sambungku yang pias terlihat menggerutu, mendengar timpalan adikku dari belakang.
Rasanya ingin sekali dia mengeluarkan kata-kata serangan untuk adikku. Memutar kepala sedikit sambil meremas jemari dengan keras.
"Liyan! Apa Ayahmu tadi, tidak memarahimu?" tanyanya ingin tahu.
"Tidak ,Bu," jawabku dengan singkat.
Mendengarnya dia begitu tidak percaya. "Tidak memarahimu?! Kenapa? Apa Ayahmu telah berubah kepadamu?" Menatap dengan penuh keheranan. "Maksudku. Apa dia telah sayang padamu, sama seperti adikmu? Yang selalu di sayanginya. Bahkan, tidak pernah salah, sedikit pun," sindirnya.
"Baguslah! Kalau Ayah sayang pada Kakak," potong adikku dengan lembut.
"Iya, kau benar! Jadi, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan di rumah ini," timpal ibu sambungku.
"Tapi, Liyan. Apa kau tahu, kalau Ayahmu memang sudah berubah?!" Menatapku dengan pertanyaan yang menyerang.
Mendengar pertanyaan yang begitu konyol. Membuat adikku terheran, "Apa". Menatap wajahnya terperanjat di cermin.
Aku begitu bingung, entah harus menjawab apa? Karena untuk diriku sendiri, aku belum tahu dengan pasti, apakah ayahku benar-benar berubah atau tidak?
Tatapan ibu sambungku semakin mengiris hatiku sehingga membuatku cemas tak bertuan.
Ingin rasanya, aku lari secepat kilat bersembunyi di dalam bumi yang magic.
__ADS_1
Meninggalkan semua keluh kesah yang begitu bahagia menyambut dengan tangan terbuka.
Namun, ibu sambungku masih tetap sama, dia tetap berdiri. "Kenapa kau diam saja?" Menunggu jawaban dariku.
Aku semakin terlihat gugup. "Aku tidak tahu, Bu?!" Aku memberi jawaban tanda tanya yang berakhir membingungkan diriku sendiri.
"Lalu kena...?" Ibu sambungku menghentikannya.
"Mungkin Ayah lupa," potong adikku membelaku. "Ayah ' kan, pikirannya terbagi. Bukan untuk Kakak saja, pikirannya," timpal adikku. Membuat aku semakin ragu.
"Kalau Ayahmu lupa, itu tidak akan lama," serangnya kembali melempar pandangan sinis.
Ibu sambungku begitu kesal dan dia terlihat, seperti menggigit kedua gerahamnya dengan kuat. Memutar sedikit kepala, menoleh adikku yang berdiri di depan cermin.
Aku semakin khawatir, mendengar lempar sambutan kata-kata dari mereka berdua, seperti orang yang saling tuding menuding.
Adikku terlihat begitu tenang, seperti orang yang tidak bersalah. Wajahnya terlihat rileks dari dalam cermin.
Decakan kekesalan ibu sambungku semakin menyulut amarah yang membuat wajahnya memerah.
"Itulah adikmu! Selalu menyela pembicaraan, agar dia terlihat, sebagai pahlawan kesiangan yang membelamu," cecarnya . Menyeringai.
"Mentang, Ayahmu selalu mengikuti ke inginannya. Dia jadi Anak yang besar kepala." Menatapku dengan kebencian pada adikku.
Aku semakin gemetar di hadapannya. Tungkai kaki yang lemah, ingin terkulai rasanya seketika.
Dia masih saja bersikukuh. "Apa Ayahmu sudah lama pulang?" tanyanya dengan penuh menyelidik.
"Tidak, Bu," jawabku.
Seketika, dia memutar badan menjauh dariku. Seketika tubuh lemahku bernapas dengan lega.
Adikku yang berdiri menyisir rambut di cermin, sepintas melirik ibu sambung kami yang melangkah dan adikku langsung menghampiriku segera.
"Kak! Kenapa dia terlihat marah sekali. Seperti menyimpan kebencian yang dalam, Kak," Menatapku dengan sendu. "Aku jadi takut, Kak melihatnya," Memanyunkan wajah.
"Kalau kau takut. Kenapa kau tadi menjawabnya?!" keluhku menatap adikku sembari menyandarkan tubuh lemah ke dinding.
"Makanya, Kak. Aku tadi menjawab tidak menatapnya," balas adikku. Mengikutiku.
Adikku yang sedikit galak, ternyata membuatku tergelitik dengan ketakutannya terhadap ibu sambung kami.
"Kakak pikir, kau begitu pemberani," ledekku dengan senyum. "Sampai-sampai, kau berani untuk menyela pembicaraannya."
"Itulah, Kak. Demi Kakak keberanianku hadir," celetuknya dengan ringan. Mengerjitkan alis.
Seketika aku menarik bibir pucat dengan rileks. Tersenyum simpul melihat kelucuan adikku yang spontan menggelitik hati.
"Kakak tahu engga. Sewaktu aku tadi menyela pembicaraannya. Aku begitu gemetar, Kak. Rasanya, aku mau masuk ke dalam cermin dan tidak usah keluar lagi," ucap adikku.
Mendengar kejujuran adikku. Membuyarkan semua kekalutan yang menghiasiku. Wajah pucatku pun, berubah menjadi gemilang, ceria seperti mentari pagi yang bersinar tanpa mendung.
Tawa kecil pun, terdengar dari aku dan adikku yang melempar guyonan dengan garing hingga mengocak perut.
"Kak! Kalau Kakak lihat wajahku tadi yang sebenarnya...pasti Kakak tertawa?!" lanjutnya dengan tersimpul manis. Mengingat kejadiannya.
"Kalau pun, Kakak melihatmu. Mana mungkin, Kakak bisa tertawa," ujarku. "Kau tidak tahu, wajah Kakak, seperti apa?" Mendengus sedih.
"Emang, wajah Kakak seperti, apa?" Menatapku dengan gemas. "Mmm! Pasti seperti kepiting rebus, ya?! Hahaha!" Seketika tawanya pun pecah dengan bahagia karena telah berhasil meledekku.
Masalah yang memenuhi wajah pucatku tadi, seperti lembaran ujian. Kini terbang selembar demi selembar.
"Kak! Biar Kakak tahu. Kalau Kakak di marahi tadi, itu lucu sekali terlihat, hahaha!" Tertawa renyah. "Seperti siput kehilangan rumah." Menampakan gerahamnya.
"Kau ini!" Memukul pundak adikku pelan. Tersipu malu.
"Kak! Seandainya Kakak berdiri di depan cermin. Pasti Kakak malu. Melihat diri Kakak sendiri," ledeknya dengan tawa senang.
Menatap udara kosong dari pintu yang terbuka. Melirikku dengan melengkungkan bibirnya dan membuang ke salah pahaman yang mendera.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung....
Wanita yatim piatu yang berusia 20 tahun itu pun harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya telah mengetahui jika cintanya telah dikhianati oleh sepupunya sendiri tepat dihari pernikahannya akan tiba.
__ADS_1
Dengan dirinya yang mengidap penyakit kanker yang ganas yang akhirnya mengharuskan dirinya terjebak dalam sebuah ikatan pernikahan kontrak dengan seorang Pria yang umurnya tujuh tahun lebih tua darinya.
Untuk biaya pengobatan penyakit ganas yang ia derita, ia harus menahan rasa sakit sekaligus siksaan batin ketika sadar jika dirinya hanya akan menjadi Istri dan Menantu yang tak dianggap dari keluarga Pria yang terkenal akan kejamnya.